
Alex memasuki sebuah kelab malam di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sudah lama ia tak menginjakkan kakinya di tempat hiburan malam yang penuh dengan hiruk pikuk para pencari kesenangan dunia.
Hingar bingar di dalam ruangan itu mampu membunuh kesepiannya dikala ia sedang nelangsa. Namun, ia pernah berjanji, lebih kepada dirinya sendiri untuk tak lagi menyentuh dunia malam saat memutuskan berkeluarga. Ia bertekad akan meninggalkan kehidupan kelam ketika telah menikah dan menyelubungi keluarganya dengan cinta. Setidaknya itulah yang ia harapkan saat Sherly datang padanya meminta untuk dinikahi.
Namun, disinilah ia sekarang. Kembali menyelami dunia remang penuh kenistaan. Hentakan musik yang dimainkan DJ tak mampu membuat hatinya terisi kesenangan. Pikirannya melayang, menerka sejauh mana takdir mempermainkan hidupnya. Ataukah ini karma baginya karena terlalu sering menjadikan wanita sebagai bahan mainan, hingga kini ia yang dipermainkan oleh wanita? pikiran Alex terus berkecamuk.
"Hi Lex, kemana aja? udah lama ngilang?" Tepukan dari seorang kawan lama mendarat di pundak Alex.
"Hi Ndri .... " jawab Alex tak bersemangat menjawab sapaan Andri temannya yang merupakan pemilik dari kelab malam yang tengah disambanginya ini.
Mata pemuda itu berlarian kesana kemari, memperhatikan segala sudut club. Hari belum terlalu larut, hingga kelab malam tersebut masih tampak lengang. Hanya beberpa orang saja yang terlihat melantai.
"Kusut amat muka lu," ucap Andri menghenyakkan tubuhnya di kursi bar sebelah Alex, "Don, wishky .... " ucap Andri pada bartender yang tengah asik dengan shaker set-nya meramu minuman pesanan para tamu.
"Minum?" tanya Andri pada Alex.
Alex hanya mengangkat gelas berisi soft drink ditangannya. Ia tak berniat menenggak alkohol malam ini. Apalagi di tempat seperti ini. Sudah dapat dipastikan, ia akan berakhir dengan buruk jika berani menyentuh alkohol di dalam club. Ia selalu berakhir one night stand dengan seorang perempuan yang tak pernah dikenalnya jika berani memasukkan minuman haram itu ke tubuhnya. Alex bahkan tak mengenal oara oeremouan tersebut kecuali hanya untuk satu malam yang terkadang tak diingatnya sama sekali akibat pengaruh buruk alkohol.
"Tumben lu ga minum?" ucap Andri seraya memainkan gelas berisi whisky yang baru saja diserahkan oleh seorang bartender yang bekerja dengan sangat cekatan.
Tak sampai semenit yang lalu ia masih memegang shaker set ditangannya. Namun, kini tangannya telah selesai mencemplungkan satu bongkah besar ice cube ke dalam gelas whisky pesanan Andri.
"What's up bro? lu ngilang berapa bulan, muncul-muncul muka lu kusut begitu," tanya Andri lagi.
"Kacau hidup gue Ndri," ucap Alex spontan seraya menyisir rambutnya menggunakan jari tangan.
"Bukannya lu baru habis married? masalah sama bini lu?" cecar Andri lagi.
"Entahlah, mungkin cuma gue yang nganggep pernikahan ini serius," ucap Alex.
Pikirannya melayang pada saat Sherly mendatanginya beberapa bulan lalu. Perempuan itu memohon dan menghiba agar Alex bersedia menggantikan posisi Ravka sebagai mempelai pria di hari pernikahannya.
__ADS_1
"Mas Alex, aku mohon tolong aku Mas. Aku tahu kamu tidak pernah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, jadi tidak akan ada yang akan mempermasalahkan jika kamu menggantikan Ravka untuk menjadi pendampingku," mohon Sherly kala itu.
"Kamu gila Sher? Aku ini sepupunya Ravka. Mana mungkin aku begitu saja menggantikan posisi Ravka untuk menikahimu?" tolak Alex.
"Karena kamu sepupunya Ravka, Mas. Tidak akan banyak orang yang curiga ketika aku justru bersanding dengan kamu di pelaminan. Aku terlalu sakit jika harus menikah dengan Ravka. Tapi aku juga tidak mau kalau sampai kegagalan pernikahan ini mempermalukan keluargaku," Sherly semakin ngotot dengan permintaannya.
"Pernikahan bukan sebuah permainan Sher, pernikahan butuh komitmen," ucap Alex tegas.
"Aki siap untuk berkomitmen dengan kamu Mas," sambar Alex cepat.
"Aku tidak mau dijadikan pelarian Sherly," seru Alex lagi.
"Aku berjanji akan berusaha untuk mencintai kamu Mas, sejak saat ini. Kasih aku kesempatan untuk membuktikannya padamu Mas,"
"Bagaimana kalau aku yang tidak bisa mencintai kamu?"
"Aku akan menunggu. Aku akan berusaha membuat kamu bisa mencintaiku. Tapi kalau pada akhirnya kamu tidak mencintaiku dan memilih wanita lain untuk mengisi hatimu, aku akan mundur. Setidaknya kamu sudah memberikanku kesempatan dan menyelamatkan harga diri keluargaku."
"Mas, kalau kamu bersedia menikahiku, bukan cuma wajah keluargaku yang terselamatkan dari rasa malu. Tapi Kakek Bayu juga Mas. Aku mohon Mas pikirkanlah," Sherly semakin gencar mengaduk hati Alex saat melihat pria itu mulai bergeming.
Wajah merana dan kesakitan yang Sherly perlihatkan membuat Alex iba. "Tapi ada syaratnya jika kamu mau kita menikah," ucap Alex akhirnya.
"Apapun Mas syaratnya. Aku akan berusaha untuk memenuhinya," senyum merekah di bibir Sherly, membuat hati Alex tiba-tiba berdesir.
Ia mulai merasa tertarik dengan tunangan adik sepupunya itu. Perempuan ini tentulah gadis baik-baik. Karena rela mengorbankan masa depan yang tak jelas di depan mata demi menutupi aib keluarga.
"Aku ingin kita serius menjalani pernikahan ini. Kamu dan aku akan berusaha membuat pernikahan ini berhasil. Aku tidak mau mempermainkan pernikahan Sher," ucap Alex yang tak menyadari telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kehancuran.
Sherly mengangguk dengan sangat yakin, membuat Alex merasa hari itu adalah saatnya ia untuk menghentikan petualangannya.
Pikiran Alex kembali mengawang, mengingat senyum merekah Sherly yang selalu ditujukan untuk dirinya. Meski ia menyadari Sherly masih menyimpan cinta yang dalam untuk Ravka. Namun, ia menyadari tak mudah bagi Sherly untuk melupakan hubungan yang terjalin cukup lama. Ia berusaha memaklumi dan memberi waktu bagi Sherly menghapus nama Ravka dihatinya. Untuk itulah ia setuju saat perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu mengajak berlibur keliling dunia agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain lebih dekat hingga bisa menumbuhkan rasa cinta di hati keduanya. Alex baru menyadari betapa naif dirinya kala itu.
__ADS_1
"Udah bro, ga usah terlalu dipikirkan. Hidup cuma sekali, nikmatin aja bro," ucap Andri menarik Alex dari lamunan panjangnya.
Hati Alex tiba-tiba bimbang. Ia tak tahu, apakah harus mempercayai hati kecilnya yang selalu menuding dirinya sendiri yang sudah begitu naif. Ataukah masih ada harapan bagi kehidupan rumah tangganya yang masih seumur jagung. Ia tak akan mebiarkan dirinya larut dalam kebimbangan. Ada satu hal yang harus ia pastikan dari temannya yang satu ini. Untuk itulah ia sekarang berada disini.
"Sorry Ndri, gue kesini sebetulnya mau nanya sama lu. Lu kenal cowok ini?" tanya Alex seraya memperlihatkan layar ponselnya pada teman disebelahnya.
Beruntung ia pernah berswafoto dengan pria yang diakui Sherly sebagai saudara sepupunya. Ia harus mencari bukti dengan mencari tahu sosok pria itu terlebih dahulu. Namun, ia tak mungkin menanyakn hal itu langsung kepada Sherly atau keluarganya. Sebagai seorang pemilik bebebera kelab malam yang tersebar di seluruh wilayah jakarta, tentu Andri mempunyai jaringan pertemanan yang luas dari berbagai kalangan dan profesi.
Andri memperhatikan wajah di dalam ponsel itu dengan seksama. Wajahnya menyiratkan tanda tanya besar.
"Dia coba ganggu pernikahan lu?" tanya Andri dengan kerutan dalam tercetak di dahinya.
"Lu kenal dia?" tanya Alex antusias.
"Of course gue kenal lah sama ni cowok. Dia emang terobsesi banget sama bini lu?"
"Terobsesi gimana?"
"Lu ga tau kalau dia mantan bini lu sebelum dia jalan sama adek lu?"
"Mantan kekasih maksud lu?"
Andri mengiyakan ucapan Alex dengan isyarat wajahnya yang mencebik seraya mengedikkan bahu.
"Dia kayanya ga terima diputusin bini lu yang lebih memilih jalan sama Ravka. Dia masih terus ngejar-ngejar Sherly. Sorry nih ya, gue beberapa kali mergokin dia masih mesra-mesraan waktu Sherly masih jalan sama Ravka," ucap Andri santai.
**********************************************
ne boleh dimampirin yah karya baru temenku...
__ADS_1