
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Ravka memutar tubuhnya menghadap Tiara yang duduk di kabin belakang mobil.
"Aku juga ga tau pasti, Mas. Tadi Sandra telpon sambil nangis-nangis, dia minta aku segera jemput dia ke Cisarua," ucap Tiara gelisah di tempatnya. Matanya tak bisa fokus menatap satu titik, berkeliaran mencari kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dialami Sandra di Cisarua.
"Sebaiknya kamu bicara sekarang. Sudah terlambat kalau kamu mau menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi. Bagaimanapun, Mas Akan tetap tahu nantinya," delik Ravka tajam. Pemuda itu menyadari pasti sesuatu hal yang besar terjadi pada Sandra, sehingga Tiara bisa sebegitu gelisahnya.
"Kata teman Sandra yang bicara padaku di telpon, San-sandra hampir saja dilecehkan,"
"Apa?!" seru Ravka hampir berteriak. "Kenapa tidak bilang dari tadi? No, lebih ngebut lagi jalannya," perintah Ravka pada Nino yang sedang mengendalikan laju mobil.
"A-aku juga belum tau pasti, Mas. Soalnya tadi Sandra cuma nangis. Dia masih dalam kondisi shock," ucap Tiara ragu-ragu. "Temannya yang mengambil alih handphone dan berbicara denganku. Dia bilang Sandra hampir saja menjadi korban pelecehan. Tapi aku udah keburu panik dan cuma menanyakan dimana keberadaan mereka. Aku langsung mematikan telpon dan belum menghubungi Sandra lagi," jelas Tiara lagi.
"Bagaimana Sandra bisa di Cisarua malam-malam begini?"
"Seharusnya dia sekarang sedang di rumah Dina. Dia minta izin menginap di rumah Dina," Tiara menggigit bibirnya.
Tiara bisa melihat wajah Ravka semakin menggarang. Ekspresi kakak lelakinya itu benar-benar menakutkan, membuat Tiara semakin menciut ditempatnya. Dia sangat tahu, setelah ini mereka akan sulit mendapatkan kebebasan karena ulah Sandra yang berbohong. Apalagi kebohongan itu sudah mengakibatkan kekacauan besar seperti ini. Temannya Sandra tadi memang mengatakan hampir, yang berarti kejadian buruk tidak sampai menimpa Sandra. Hanya saja itu tetap akan berbuntut panjang. Kakak lelaki satu-satunya itu pasti akan ketat mengawasi mereka. Belum lagi menghadapi orang tua dan juga kakeknya nanti. Ditambah membayangkan kejadian ini akan menjadi santapan empuk bagi Erika untuk meremehkan Ibunya.
Tiara menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan berusaha mengusir ketegangan yang melelahkan raga. Ia harus memusatkan pikirannya pada hal-hal positif dan meyakini bahwa kondisi Sandra baik-baik saja. Itu akan jauh lebih baik untuk ia bisa melewati detik demi detik hingga mereka sampai di Cisarua.
***********
Sandra menangis sesenggukan. Sedu sedan gadis itu terdengar pilu. Tak hanya ketakutan yang melingkupinya. Ia bahkan masih bisa memvisualkan kejadian yang dialaminya barusan dengan sangat detail saat ini. Meski berusaha mengenyahkan kejadian yang hampir merenggut kehormatannya, tapi segala bayangan akan kejadian tadi terus menari di pelupuk mata.
__ADS_1
Ia masih dapat merasakan ringisan Kakak iparnya saat tergolek lemah tak berdaya di lantai. Menahan sakit saat kepalanya membentur tembok. Darah segar mengalir di kedua sudut bibir Alea.
"Sudah Sandra tenanglah. Sebentar lagi Kak Ara pasti sampai sini untuk menjemput kamu," hibur Dina, teman satu sekolah Sandra yang juga mengikuti kegiatan klub kampus kekasih mereka.
Sandra dan Dina memang sempat berbangga hati karena bisa mengencani pria dewasa menurut kacamata mereka. Pria yang sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah itu terlihat hebat untuk dipamerkan. Namun, sekarang tidak lagi. Kejadian ini tak hanya akan berimbas pada hubungan Sandra dengan kekasihnya. Tentu saja hal ini juga akan berimbas pada hubungan Dina dengan kekasihnya. Ia sudah pasti akan memutuskan jalinan kasih diantara mereka. Janlian kasih yang belum layak diarungi gadis seusia mereka.
"Tenang San... Sekarang sudah tidak apa-apa," hibur Dina lagi seraya memeluk Sandra dan menggosok-gosok punggung gadis yang masih terisak pilu.
"Aku... aku..." isak Sandra tak dapat meneruskam bicaranya.
Sandra patut bersyukur karena Kakak iparnya menjadi tameng bagi dirinya. Kalau tidak, entah apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak menyangka kalau pria tampan bertubuh tegap dengan rahang keras berkarakter, serta kulit hitam manis yang menambah kesan macho itu ternyata memiliki kelakuan tidak semenarik penampilannya. Ia begitu terpesona pada Rama yang terlihat layaknya Taylor Lauthner, bintang film hollywood kesayangannya. Tapi sayangnya, pria itu sungguh bengis. Ia melihat sendiri bagaimana sorot mata pria itu penuh nafsu saat melihat seorang wanita tergolek tak berdaya. Tak ubahnya binatang yang sedang menatap mangsa. Ia memang layak disandingkan dengan bintang, pikir Sandra yang masih setia membanjiri kaos Dina dengan air matanya.
Beruntung saat pria itu hendak menyentuh Alea, serombongan orang menggebrak pintu dan menghentikan niat busuknya. Kania datang membawa serombongan anak laki-laki menerjang ke dalam gudang disusul oleh sebagian mahasiswi yang mengekori. Setelah itu Sandra terkulai lemah di dalam pelukan seorang perempuan yang tidak dapat ia kenali. Ia tak lagi mampu merekam kejadian setelah itu. Ia hanya memperdulikan bahwa saat itu, ia dan Alea sudah bisa lega karena lepas dari marabahaya.
Seketika Tiara menghambur kepada Sandra. Mendekap gadis itu yang terlihat berantakan. Mata Sandra sudah bengkak akibat tangis yang tak berhenti. Begitupula dengan hidungnya yang terus mengucurkan air sederas air matanya. Rambut nya sudah kusut masai tak beraturan. lengan baju gadis itu terlihat sobekan disana sini hingga ke bagian dadanya. Didekap oleh sang kakak tercinta membuat Sandra tak menghentikan tangisnya. Ia justru semakin menambah keras isak tangis, mengadukan nasib yang baru dialaminya melalui sedu sedan.
"Katakan apa yang terjadi pada kamu San?" tanya Tiara melepaskan pelukannya.
Tiara memperhatikan Sandra dengan seksama seraya mengelus dan merapikan rambut adiknya dengan jemari tangannya.
"Apa yang terjadi dengan Sandra? Kenapa dia sampai seperti ini?" gelegar suara Ravka mengagetkan Sandra dibawah tatapan Tiara.
Sandra kemudian menolehkan kepalanya ke asala suara. Disana ia melihat Ravka melemparkan tatapan tajam kepada salah seorang Mahasiswi teman Rama.
__ADS_1
"Tenang dulu Mas, kita bicarakan ini baik-baik," ucap Mahaaiswi itu tergugu merasa terintimidasi dengan superioritas yang sengaja ditunjukkan oleh Ravka.
"Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang melihat kondisi adikku seperti ini?" Ravka semakin meninggikan suaranya.
Emosi berkelabat diwajahnya. Ingin rasanya Ravka mengobrak abrik tempat ini sebagai pelampiasan.
"Jawab aku sekarang, apa yang kalian lakukan pada adikku?" hardik Ravka kepada pria yang berdiri terpaku disebelah mahasiswi tadi. Tak kurang dari lima orang teman kampis Rama mengjerut ditempatnya masing-masing menyaksikan kemarahan yang dimuntahkan Ravka.
"Cepat katakan, apa yang kalian lakukan pada adikku?" Ravka meraih kerah baju pria yang bentaknya.
"Tenang Mas, kami bisa menjelaskannya. Sandra tidak sempat diapa-apakan," seorang Mahasiswi berusaha menenangkan Ravka.
"Kau bilang tidak sempat diapa-apakan? Lalu bagaimana kau menjelaskan kondisi yang dialami Sandra sekarang?" Ravka melepaskan cengkramannya pada pria yang sudah gemetar dibawah tatapan tajam Ravka.
Pria yang tengah dicekam oleh emosi itu, mengalihkan kemurkaannya pada perempaun yang menyela demi menenangkan Ravka. Tapi sayangnya, justru semakin menyulutkan emosi pria tersebut.
"Maaf mas, saya mohon maaf atas kejadian tidak mengenakkan ini. Kami bisa memahami kemarahan Mas akan kejadian ini. Tapi saya mohon anda untuk bisa tenang. Kita tidak akan bisa berbicara dengan baik kalau anda seperti ini," salah seorang Pria maju menghadapi Ravka.
Sikap pemuda itu tampak tenang hingga menularkan ketenangan serupa pada lawan bicaranya. Perlahan Ravka meresapi setiap ucapan pria dihadapannya itu. Pria itu benar, ia tak akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik jika ia tak dapat mengontrol emosinya.
**********************************************
InsyaAllah part selanjutnya menyusul agak siangan yah.. jangan lupa like n komen tiap part yah.. dukungan like n koment kalian bisa mempengaruhi kenaikan level aku.. semakin naik level author jadi semakin semangat nulis.. hehehee
__ADS_1
Happy reading.. luv u all