Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 62# Kapan Resepsi?


__ADS_3

"Ravka, kapan kamu akan mengadakan resepsi pernikahanmu dengan Alea?" Seru Bayu tiba-tiba dengan sorot mata menjurus pada Ravka.


"Kenapa Kakek tiba-tiba membicarakan hal ini sekarang?" kedua alis Ravka tampak menyatu di pangkal hidungnya.


"Kakek rasa sudah saatnya kamu mengumumkan pernikahan kalian kepada rekan bisnis kita, Rav. Kakek tidak mau kalau sampai pernikahan kalian dijadikan bulan-bulanan media,"


"Hmm.... Maaf Kek, aku bukannya mau mengesampingkan hal ini," balas Ravka menjawab todongan Kakek Bayu yang tak pernah diduganya. "Hanya saja pagi ini Nino mengirimi ku file yang sangat penting. Jadi sepertinya beberapa waktu mendatang aku akan sangat sibuk menangani urusan kantor. Jadi aku belum bisa memikirkan hal lain untuk saat ini," lanjut Ravka lagi.


Pantas saja tadi Mas Ravka tiba-tiba terlihat begitu serius dengan lapotop-nya - Alea membatin.


Sepertinya ada sesuatu hal serius yang harus Ravka tangani segera. Membuat pemuda itu tak mengalihkan fokusnya dari layar laptop tadi, sehingga ia terpaksa menunggu Ravka mengangkat kepala dari laptop tersebut cukup lama, pikir Alea lagi.


"Kau tidak perlu menggunakan urusan kantor sebagai dalih," sambar Alex. "Kantor baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali," ucap Alex seraya tersenyum mengejek.


"Sudahlah Lex, biarkan saja Ravka. Mungkin dia hanya merasa malu memamerkan istrinya pada kolega Kakekmu," Erika menimpali.


Disebelahnya, Sherly menepiskan senyum samar saat Alea dijadikan bahan ejekan oleh mertuanya. Lagipula Sherly sangat yakin alasan sebenarnya Ravka menolak mengenalkan Alea kepada publik lebih karena pemuda itu tidak menganggap Alea sama sekali. Terlebih ia sering melihat interaksi keduanya seolah berasal dari dua dunia berbeda yang dipaksa tinggal di bawah satu atap yang sama. Mereka pasti tidak akan pernah saling cocok satu sama lain, pikir Sherly senang.


"Tentu saja bagimu perusahaan baik-baik saja. Wong kamu sering berada di luar kantor, sehingga Ravka-lah yang harus menangani semua persoalan perusahaan yang menjadi tanggung jawab kamu," ujar Dilla seraya mencebik kepada Alex.


"Saya tidak menanyakan pendapat kalian. Saya sedang berbicara dengan Ravka," seru Bayu tegas membuat suasana hening seketika.

__ADS_1


"Aku betul-betul tidak bisa memikirkan hal lain untuk saat ini Kek, ada beberapa urusan yang menjadi prioritasku saat ini," pikir Ravka kembali pada deret-deret angka yang diterimanya tadi pagi. Angka-angka yang sangat terasa janggal dan tidak masuk akal.


Belum lagi persoalan Rama yang tidak mudah untuk diselesaikan. Akan jauh lebih mudah bagi Ravka jika menghadapi pesaing bisnis, bahkan yang kuat sekalipun. Namun, kali ini ia berhadapan dengan birokrasi dan kebobrokan hukum yang sangat mudah dimanipulasi, apalagi menyangkut salah satu pejabat di negeri ini. Terutama pejabat korup yang mempunyai segala macam cara untuk mempertahankan posisinya hingga mereka tak mudah untuk dijatuhkan.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan terhadap pernikahanmu Ravka?" desak Bayu tak mau menerima alasan cucunya itu.


Bayu merupakan salah satu orang terpandang se-Asia karena kerajaan bisnis yang dibangunnya. Ia tidak akan membiarkan salah satu cucunya terlibat skandal terkait pernikahan rahasia yang dilangsungkannya. Sampai saat ini, Bayu belum membicarakan perihal kelanjutan hubungan Ravka dengan gadis yang saat ini tertunduk di samping cucu kesayangannya itu.


"Aku rasa sebaiknya biarkan Alea yang mengaturnya Kakek. Urusan seperti itu jauh lebih baik jika wanita yang mengerjakannya. Aku akan menyetujui apapun yang alea putuskan untuk resepsi pernikahan kami," jawab Ravka santai.


Sherly membulatkan matanya mendengar penuturan Ravka. bagaimana mungki Ravka justru mempercayakan hal itu pada Alea. Hatinya bergejolak seketika. Ketenangan hatinya menguap seketika saat Ravka seolah tam mempermasalahkan pernikahannya diketahui publik.


"Hmmm," gumam Derry sebagai bentuk dukungan terhadap istrinya.


"Kamu tenang saja Al, Mama pasti akan membantu kamu untuk menyiapkan resepsi pernikahan yang istimewa," ucap Dilla antusias.


"Aku punya kenalan Wedding Organizer yang dapat dipercaya. Mereka top banget. Aku yakin mereka bisa mewujudkan impian pernikahan Kak Alea," ucap Tiara terlihat ikut antusias.


Mata Alea berkaca-kaca menyadari betapa keluarga Ravka saat ini seperti telah menerima ia seutuhnya menjadi bagian dari keluarga mereka. Namun, Alea tetap merasa enggan jika harus mengadakan resepsi pernikahan sekarang.


"Apa itu perlu, Ma?" tanya Alea lirih.

__ADS_1


Jujur saja, Alea sebetulnya tidak menginginkan resepsi pernikahan mewah atau semacamnya. Baginya ijab kabul yang dihadiri keluarga dekat itu sudah cukup. Meskipun saat ijab kabulnya waktu itu, hanya dihadiri oleh keluarga Alea serta tetangga sekitar rumah bibinya. Namun, bagi Alea itu sudah lebih dari cukup. Karena hakikat menikah adalah bagaimana mereka mengarungi kehidupan baru mereka bersama.


"Jadi maksudmu itu tidak perlu? supaya tidak ada yang tahu kalau kamu sudah menikah dan masih dianggap sebagai perempuan lajang?" sambar Ravka seraya melepaskan sendok di tangannya. Ia menatap gadis itu lekat, menunggu jawaban yang akan Alea lontarkan.


"Bukan begitu Mas, aku hanya merasa kalau ini akan terlihat aneh. Kita sudah menikah empat bulan tapi baru akan merencanakan resepsi pernikahan. Aku hanya tidak ingin memberikan bahan bagi orang-orang di luaran sana menggunjingkan kita,"


"Itu urusan mereka kalau mau menggunjingkan kita. Tapi akan jadi urusanku kalau diluaran sana para pria masih mendekatimu karena mengira kau masih lajang," ujar Ravka masih menatap Alea intens.


Wajah Alea bersemu merah saat Ravka seolah menunjukkan kecemburuan di depan keluarga besarnya. Ada rasa malu sekaligus senang secara bersamaan. Alea merasa malu pada Kakek Bayu dan juga kedua mertuanya. Namun, ia juga senang karena dengan begitu ia berharap Sherly tak lagi mencoba menggoda suaminya. Alea menyadari perempuan itu terlihat masih penuh harap saat menatap suaminya.


"Yah Papa rasa, ucapan Alea ada benarnya. Tak hanya orang-orang di luaran sana. Para media juga pasti akan menyoroti pernikahan kalian dan akan menguliti kalian hidup-hidup," sambar Derry membela Alea.


"Tapi Papa Bayu juga benar Pa. Ravka seharusnya sudah mulai mengenalkan istrinya pada kolega-kolega kita,"


"Sudahlah Dilla, suamimu benar. Kalian memang harus menyembunyikan rapat-rapat apa yang menyebabkan Ravka terpaksa menikahi Alea," sambar Erika yang tak menyiakan kesempatan untuk mengacaukan suasana.


Sejak memasuki rumah keluarga Dinata ia memang tak menyukai biduk rumah tangga adik iparnya itu dengan istrinya. Ada perasaan iri yang terus menggelayuti sejak dahulu hingga sekarang.


"Sudahlah, kita bahas lagi ini lain waktu. Biarkan Ravka dan Alea membicarakannya terlebih dahulu dan menyampaikan pada kita apa yang mereka inginkan. Tapi mulai sekarang sebaiknya kamu pikirkan persoalan ini lebih serius, Rav. Jangan sampai ada isu yang tidak baik tentang kalian beredar di luaran sana," ucap Bayu mengakhiri perbincangan pagi mereka.


"Baik Kek," jawab ravka santai.

__ADS_1


__ADS_2