
Ravka menuntun Alea memasuki kamar setelah melewati barikade penghuni rumah setibanya mereka di kediaman keluarga Dinata. Untung saja, saat melewati pintu utama, Ravka langsung pasang kuda-kuda dengan mengatakan Alea butuh beristirahat dan tak boleh diganggu untuk sementara waktu.
Sikap tegasnya itu membuat semua wajah yang menanti kedatangan mereka menyuratkan kekecewaan. Akan tetapi, mereka menyadari, bahwa hari yang dilalui oleh Alea cukup berat hingga membuat mereka dengan rela mempersilahkan Alea ke kamarnya tanpa bisa menuntaskan rasa penasaran yang bersarang di hati. Tak terkecuali Sherly yang harus bersabar memperoleh kesempatan untuk menghujat gadis yang selalu membuatnya naik pitam.
"Kamu istirahat aja, ya. Aku harus menemui Kakek terlebih dahulu. Tidak usah menungguku. Mungkin aku akan lama berada di ruang kerja Kakek. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan," ucap Ravka setelah mandi dan mengganti pakaiannya.
"Maaf yah Mas .... karena aku, pekerjaan kamu jadi tebengkalai," ucap Alea tertunduk lesu.
"Hei .... ini semua bukan karena kamu. Ini murni kesalahan pria tak bermoral itu. Jadi tidak usah menyalahkan dirimu sendiri," ucap Ravka seraya memperhatikan wajah Alea yang masih tertunduk.
"Beristirahatlah. Ingat jangan keluar kamar sebelum aku mengizinkannya. Jangan juga membiarkan orang lain melewati pintu itu selain aku. Aku mau kamu beristirahat, okay," seru Ravka yang diangguki oleh Alea.
Toh Alea juga sudah merasa penat. Titah suaminya tentu dengan senang hati akan ia jalankan. Ia juga sudah tak sabar ingin memejamkan kelopak matanya yang mulai terasa berat.
"Aku pergi dulu, beristirahatalah," ucap Ravka sebelum ia membenamkan bibirnya di puncak kepala Alea.
Namun, pemuda itu seolah lupa dengan perintahnya sendiri. Ia mengalihkan ciuman itu kepada bibir lembut Alea. Menyesap bibir merekah yang seolah memanggil untuk dijamah. Tak ketinggalan dengan bujuk rayu yang dilayangkan tangan Ravka pada tubuh lelah Alea, mengirimkan sengatan-sengatan yang membangkitkan gairah.
"Oh, shit," umpat Ravka setelah puas memagut bibir yang terasa manis di lidahnya. "Aku benar-benar harus menemui Kakek secepatnya. Lagipula kamu butuh istirahat,"
Ravka mengusak rambutnya kasar menahan gejolak yang sulit sekali di redam. Rasanya tubuhnya selalu bereaksi cepat saat sedang berduaan dengan Alea. Gadis itu telah menjadi heroin bagi tubuhnya yang sudah mereguk kenikmatan bercinta. Membuat ia menginginkan lebih setiap waktu.
"Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk beristirahat. Karena setelah aku kembali, aku tidak akan membiarkan kamu beristirahat," bisik Ravka penuh makna ditelinga Alea, mengirimkan gelenyar disekujur tubuh gadis itu yang selalu menyukai apa yang dilakukan oleh sang suami pada tubuh polosnya.
Ravka mengecup pipi Alea sebelum benar-benar meninggalkan istrinya seorang diri dalam kamar. Merasa tak sabar menanti Ravka memenuhi janjinya.
********
Ravka menarik nafas panjang sebelum memasuki ruang kerja Kakek Bayu. Ia sudah bisa menebak apa yang akan ia hadapi dalam ruangan itu. Sikapnya hari ini sudah pasti menimbulkan masalah besar yang membuat pria sepuh itu gusar.
"Selamat malam, Kek," sapa Ravka sesaat setelah melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Kakek Bayu.
Disana ia melihat Nino sudah berada di sofa sedang berbincang dengan Kakek Bayu. Namun, obrolan keduanya berhenti seketika saat mendengar suara Ravka memenuhi udara.
__ADS_1
"Kemarilah," ucap Kakek Bayu menoleh pada Ravka.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Kakek Bayu setelah Ravka mendaratkan bokongnya di sofa panjang di sebelah Kakek Bayu.
Ravka mengangkat tangannya, memutar pergelelangan tangan kanannya menggunakan tangan kirinya. Ada rasa sakit berdenyut saat ia memutar-mutar pergelengan tangannya. Ia kemudian mengepal dan merentangkan telapak tangannya hingga beberapa kali. Ada rasa perih yang masih menyisa saat ia menggerakkan tangan kanannya itu, tapi ia mengabaikan rasa perih tersebut.
"Aku baik-baik saja, Kek," jawab Ravka acuh.
Sakit tangan yang dideritanya memang tak sebanding dengan rasa puas setelah menghajar lelaki yang berani kurang ajar kepada istri dan adiknya itu. Ia tak terlalu memperhatikan luka di tangannya. Ketika Kakek menanyakan kondisinya, barulah ia menyadari tangannya sudah mulai membengkak.
"Apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan?" tanya Kakek Bayu sejurus kemudian.
"Kek, dia sudah berani menyakiti istriku. Aku bahkan sangat ingin menghabisinya," ujar Ravka dengan amarah yang coba ia tahan.
Kakek Bayu hanya menghela nafas pasrah. Melepaskan segala beban melalui nafas yang dihembuskannya dengan kencang.
"Kamu harus belajar mengontrol emosi mu Rav. Orang seperti kita harus menjaga sikap di tempat umum. Ada banyak mata yang menyoroti semua tindak tandukmu dan bersiap menjatuhkan mu di setiap kesempatan,"
Ravka hanya menundukkan pandangannya saat Kakek Bayu mulai menasehatinya. Ia sudah paham betul maksud yang diutarakan Kakeknya itu. Sejak mulai bergabung di perusahaan, kakek sudah mewanti-wanti agar ia menjaga sikap di hadapan publik. Ada banyak orang yang mengincar peusahaan mereka, hingga bersedia memanfaatkan segala cara untuk menjatuhkan Ravka.
"Tidak akan terulang Kek, Ravka janji," ucap Ravka tanpa berani menatap wajah Kakeknya.
"Dewan komisaris meminta rapat dadakan esok hari. Kakek harus menggunakan segala kemampuan untuk meyakinkan mereka, kalau apa yang telah kamu lakukan tidak akan berdampak pada saham perusahaan," Kakek bayu menjeda ucapannya.
Ia menarik nafas perlahan untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya. Ia sudah cukup renta, sehingga fisiknya sudah tak lagi bisa untuk diajak bekerja san berfikir berat. Diambah dengan penyakit saraf yang sudah beberapa tahun terakhir di deritanya, membuat Kakek Bayu tak lagi mampu berbuat banyak untuk perusahaan yang telah ia rintis. Hanya Ravka lah harapan satu-satunya untuk meneruskan perusahaan. Sementara perusahan sebesar itu tentu melibatkan banyak orang di dalamnya yang memiliki berbagai kepentingan.
"Semenjak Kakek benar-benar melepaskan perusahaan, tidak semua pemegang saham berpihak pada Kakek lagi. Ada beberapa orang yang sudah membawa pengaruh buruk pada para investor di peruaahaan kita. Sehingga kita tidak bisa bertindak gegabah,"
"Kami sudah membaca gelagat pembelotan dari beberapa direksi, Kek," sambar Ravka. "Saya dan Nino butuh bantuan Kakek untuk memilih orang-orang yang betul-betul loyal terhadap Kakek dan perusahaan. Kita harus mengatur strategi agar bisa tetap beberapa langkah di depan orang yang kami duga berniat tidak baik. Tapi kami belum tahu pasti motifnya, apakah ingin menjatuhkan atau mengambil alih perusahaan," lanjut Ravka menjelaskan.
Kakek Bayu tampak tak terkejut mendapati laporan dari Ravka. Pengalamannya jatuh bangun mendirikan perusahaan membuat ia peka pada apa yang terjadi pada perusahaannya meski tak lagi duduk di kursi panas.
"Sebelum kita membahas persoalan perusahaan, Kakek perlu tahu bagaimana dengan orang yang sudah kamu hajar sampai babak belur?"
__ADS_1
"Saat ini orang itu sudah mendapat perawatan terbaik di salah satu rumah sakit swasta, Kek," sambar Nino.
Berteman lama dengan Ravka membuat ia juga ikut memanggil Bayu dengan sebutan Kakek. Nino memang sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga. Hanya saja, semenjak pemuda itu bekerja di perusahaan milik Dinata Group, ia menjaga jarak dari keluarga itu. Ia seakan berusaha menempatkan diri seperti seharusnya. Orang yang bekerja dan akan terus mengabdi pada keluarga Dinata.
"Apa maksudmu dia mendapat perawatan terbaik di Rumah Sakit? Kamu seharusnya menyeret baji*gan itu ke penjara. Biarkan dia mendekam sampai membusuk disana," hardik Ravka.
"Sorry Rav, tapi Kakek bener. Lu tadi udah kelewatan. Gue ga mungkin laporin dia. Karena kalau sampai gue ngelaporin dia, lu juga akan dituntut," jelas Nino dengan sabar.
"Bisa-bisanya lu ngebiarin dia bebas setelah apa yang dia lakukan ke keluarga gue?" Ravka mengepalkan tangannya kencang. Wajahnya tampak murka dengan apa yang disampaikan oleh Nino.
"Sabar Rav. Gue ga bilang ngelepasin dia gitu aja. Masalahnya Lu sendiri yang udah mengacaukan semua yang udah kita persiapkan untuk kasih dia pelajaran," jawab Nino santai.
"Tapi lu liat sendirikan apa yang udah dia lakuin ke Alea?"
"Ya gue tahu. Makanya gue ambil keputusan sendiri mengenai masalah ini. Gue tau pikiran lu lagi ga jernih sekarang," jelas Nino masih dengan gaya santainya. Tak sedikitpun ia terpancing dengan amarah yang diperlihatkan dengan gamblang oleh Ravka.
"Begini Rav .... gue lepasin dia dari tuntutan, dengan syarat dia juga ga akan pernah nuntut elu, jadi impas. Ga ada masalah lagi diantara kalian. Tapi kita masih bisa jeblosin dia ke penjara. Bukti-bukti kejahatan yang pernah dia lakukan masih tersimpan dengan baik. Hanya saja bukti itu tidak akan kita pakai untuk menekan ataupun mengancam Rama. Bukti itu akan kita pakai untuk menyeret dia ke penjara,"
"Masalahnya ga ada satu laporan pun yang masuk ke polisi. Bagaimana bisa kita memakai itu untuk menyeret dia ke penjara?!" ujar Ravka berang.
"Tapi dari sekian banyak korban, beberapa diantaranya pasti ada yang bersedia menjadi saksi. Urusan ini pasti lebih mudah karena Rama sudah tak punya orang kuat yang bersedia melakukan segala cara untuk menutupi semua aksi bejad nya. Lu lupa, kalo Ayahnya sekarang sedang mendekam dipenjara? Dia sudah tak punya jalan untuk melawan, makanya dia nekad,"
"Kakek rasa Nino benar. Kakek setuju dengan semua rencana Nino,"
"Tapi selama bajin*an itu belum dipenjara, Alea dan Sandra akan berada dalam bahaya, termasuk Tiara dan juga Mama," sambar Ravka.
"Kita masih bisa mencari solusi untuk itu," jawab Nino.
**********************************************
sambil nunggu up mampir yah ke karya temen aku.. seru loh ceritanya
__ADS_1