
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Alea. Meleleh begitu saja mengaliri pipinya. Ia tak menyadari bahwa kebaikan Ravka akhir-akhir ini hanya karena mengasihani dirinya. Bahkan Ravka berniat melepaskannya. Padahal ia baru saja membayangkan masa depan yang lebih baik bagi pernikahannya, tapi sayangnya itu hanyalah sebatas angan semata. Ia kembali meremas dadanya yang terasa pedih menusuk kalbu.
Ya Allah bukankah memang kau telah mengabulkan do'a-do'a ku? Memberiku kesempatan meraih mimpi-mimpiku. Lagipula Mas Ravka dan keluarganya juga sudah tak membecnci aku lagi. Tapi kenapa sekarang terasa menyakitkan? - ucap Alea dalam tangisannya.
Tanpa semangat, Alea menyeret kakinya untuk kembali ke kamarnya. Rasanya ia tak sanggup menatap Ravka untuk sekarang ini. Ia tak mau Ravka bisa membaca isi hatinya melalui raut wajah yang tak pernah bisa ia tutupi. Wajah yang sering kania bilang, tak ubahnya jendela yang terbuka lebar. Sangat mudah mengintip isi di dalamnya seperti apa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dilla menghampiri Alea saat gadis itu melintasi ruang tengah hendak kembali ke kamarnya.
"Mama," buru-buru Alea menghapus air mata yang menggenang di kedua matanya.
"Kamu kenapa sayang? Cerita saja pada Mama kalau kamu sedang ada masalah," ucap Dilla seraya menarik tangan Alea ke dalam genggaman tangannya.
"Al tidak apa-apa, Ma," jawab Alea bingung mencari jawaban yang masuk akal sebagai alasan.
"Tidak apa-apa kok menangis?" tanya Dilla lagi.
"Al cuma teringat sama orang tua Tua Al, Ma. Al kangen rumah. Boleh Al pulang ke rumah Bibi?"
"Kalau kamu butuh liburan, Mama akan sampaikan sama Ravka untuk mengajak kamu liburan kemanapun yang kamu mau. Bagaimana?"
"Al hanya mau pulang ke rumah Bibi, bolehkan Ma?" tanya Alea dengan nada memelas. Saat ini dia hanya ingin menghindari Ravka. Bagaimana mungkin Dilla justru memberikan pilihan liburan bersama sang suami?
"Tentu saja boleh, Al. Tapi apa kamu yakin mau pulang ke rumah Bibimu? Bagaimana kalau Mama temani kamu jalan-jalan?" Dilla berusaha membujuk.
"Kamu ada masalah dengan Ravka?" tanya Dilla saat tak mendapati jawaban dari Alea. Wanita paruh baya itu khawatir kalau menantunya itu berselisih paham dengan anaknya.
"Enggak Ma. Al ga ada masalah apa-apa dengan Mas Ravka. Al hanya kangen rumah,"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Kamu akan pulang berapa lama?"
"Hanya dua hari saja kok Ma. Minggu sore Al sudah akan kembali kesini," jawab Alea dengan mengurai sedikit senyuman di bibirnya.
"Baiklah sayang. Tapi biarkan Pak Dito mengantarmu yah, Nak,"
"Baiklah, Ma," jawab Alea cepat. Semakin cepat ia menghindari Ravka akan semakin baik. Jadi apapun yang disarankan oleh Ibu mertuanya akan Alea ikuti asalkan ia bisa segera pergi dari rumah ini.
"Kamu hati-hati yah sayang. Ingat jangan lama-lama di rumah Bibimu, segeralah pulang. Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja pada Mama," ucap Dilla seraya menepuk-nepuk lembut tangan Alea di genggaman tangannya, sebelum melepaskan genggaman tangan gadis itu demi merelakan kepergian menantu yang mulai ia sayangi layaknya anak sendiri.
Sesungguhnya ada kekhawatiran menggerayangi bahwa gadis itu akan pergi selamanya dari rumahnya. Padahal ia belumlah memperlakukan Alea sebagaimana mestinya. Ia ingin diberi kesempatan memperbaiki kesalahannya di awal pernikahan Alea dan Ravka. Akan tetapi, ia percaya bahwa gadis itu tak mungkin berbohong. Ia pasti akan kembali ke rumah ini minggu besok sesuai janjinya.
********
Alea duduk merenung di dalam mobil yang dikendarai oleh Dito. Sesungguhnya ia tidak benar-benar ingin pulang ke rumah Bibinya. Ia hanya asal mengucap pada Ibu mertuanya agar diizinkan keluar rumah untuk sementara waktu. Tapi sejujurnya sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk kembali ke rumah Paman dan Bibinya, mengingat saat ini pasti ada Farash disana. Akan semakin memperumit masalah jika ia sampai bertemu dengan Farash. Hingga saat ini dia belum mengatakan yang sebenarnya pada pria itu.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel sementara waktu. Menenangkan diri hingga ia sanggup menata hati untuk menemui suaminya.
"Kita ga jadi ke Perumahan Villa Garden, Non? Kata Ibu tadi saya disuruh mengantar Non Alea kesana," tanya dito heran.
"Ga pak. Kita ke Labera Hotel saja. Tapi saya mohon jangan katakan apapun pada Mama yah, Pak. Jangan katakan kalau pak Dito mengantarkan saya ke hotel," ucap Alea sarat permohonan pada supir yang sudah sering mengantar Alea bepergian.
"Baik Non," ucap Dito tak mau turut campur masalah majikannya. Toh tugasnya hanyalah mengantar majikannya itu hingga tempat tujuan dengan selamat. Yang lainnya ia tak perlu tahu.
Alea meraih telpon genggamnya, mencari nomor Ravka yang tersimpan di memori telpon. Ia mengirimi suaminya pesan permohonan maaf karena pergi dari rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia juga mengatakan akan kembali esok minggu, agar suaminya tak perlu mencarinya.
Tapi mungkin sesungguhnya Mas Ravka tidak akan mencari atau kehilangan aku. Jadi untuk apa sebenarnya aku meyakinkan dia kalau aku akan segera kembali - ucap Alea cemberut setelah mengirimkan pesan pada suaminya.
__ADS_1
Gadis itu kemudian mengutak atik ponselnya. Melihat nama-nama yang tertera di dalam ponsel itu. Tak banyak memori yang tersimpan disana. Ia tak punya banyak teman dekat. Hanya ada beberapa hanya teman SMA yang sudah tidak saling berhubungan. Ada juga teman semasa kuliah yang juga tidak terlalu dekat. Ia akhirnya menekan tombol yang memperlihatkan nama seseorang yang selalu ia bisa andalkan untuk menemaninya dikala lara.
"Hallo," sapa suara diseberang sana seperti tidak fokus menerima panggilan telepon dari Alea.
"Assalamualaikum, Kan"
"Waalaikumsalam, Kak Alea," jawab suara diaeberang sana yang baru menyadari siapa yang menghubunginya. "Ada apa Kak? tumben Kakak telpon jam segini?"
"Aku mau minta ditemenin kamu, malam ini bisa?"
"Kakak lagi dimana emang?"
"Lagi di jalan mau ke hotel,"
"Ngapain ke hotel?" pekik kaget Kania membuat Alea menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku cuma lagi males di rumah,"
"Kak Al ga kenapa-napa kan?" tanya Kania dengan nada penuh kekhawatiran.
"Ga kok. Kakak ga kenapa-napa. Cuma butuh refreshing aja,"
"Yaudah, kakak shareloc aja yah. Nanti aku nyusul kesana. Aku sekarang masih di kampus ada beberapa hal yang harus aku kerjain sebelum kesana nanti. Kak Al tungguin aku, okay?!" Kania menekankan suaranya saat meminta Alea menunggunya.
"Okay. Nanti kakak whatsapp kamu tempatnya yah. Asaalamualaikum," tutup Alea mengajhiri panggilan teleponnya.
"Waalaikumsalam," jawab suara Kania dari seberang sana.
__ADS_1
Alea kemudian melemparkan tatapannya pada pemandangan di luar sana. Entah kenapa ia suka sekali memperhatikan jalan ketika mobil sedang melaju. Menerawang jauh melewati batas cakrawala.