
"Cukup Sherly, kamu jangan keterlaluan," Hardik Ravka seraya mendorong tubuh Sherly menjauhinya.
"Ravka aku mohon, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku masih sangat mencintai kamu," rengek Sherly dengan manjanya.
Mata Ravka tiba-tba menyadari pintu ruangannya yang terbuka. Pemuda itu mencari-cari keberadaan orang yang membuka pintu ruangannya. Ia menangkap siluet pria dan wanita yang tengah berlari dari depan ruangannya.
Oh Shit.... Alea. Dia pasti kesini membawakan makan siang - umpat Ravka dalam hatinya.
Dengan segera pemuda itu berlari keluar mengejar Alea.
"Ravka kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku," teriak Sherly yang tak dihiraukan oleh Ravka.
Pria itu melihat dari kejauhan Nino menghalangi jalan Alea memasuki lift yang sudah terbuka. Hingga akhirnya Nino menggeserkan tubuh memberi jalan bagi Alea memasuki lift. Ravka semakin mempercepat langkahnya agar bisa menggapai Alea sebelum gadis itu berhasil masuk ke dalam Elevator.
"Kamu mau kemana?" Ravka menghentikan langkah Alea. Menarik gadis itu menjauhi lift saat ia hampir menginjakkan kakinya masuk ke dalam alat angkut vertikal tersebut.
"Mas tolong lepasin aku," ucap Alea memohon.
Ravka tak memperdulikan permintaan gadis yang berusaha menghindar dari tatapan suaminya itu. Ia terus menarik lengan Alea untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangannya. Untung tadi ia sempat menangkap siluet Alea dan Nino saat pintu ruangannya terbuka. Kalau tidak, mungkin Alea pasti sudah meninggalkan ruangannya dengan kondisi salah paham.
Bella sempat terperangah saat melihat atasannya menggandeng gadis yang menunduk dalam hingga ia tak dapat memperhatikan dengan seksama wajah gadis itu. Namun, tadi ia sempat melihat di lehernya tergantung id card karyawan perusahaan BeTrust saat pertama gadis itu hendak memasuki ruangan bersama Nino.
Sekretaris Ravka itu menatap wajah Nino yang setia mengekor pasangan yang berjalan bergandengan di depannya. Akan tetapi, Nino hanya menampilkan ekspresi datar dan tak memperdulikan pertanyaan Bella yang ia lemparkan melalui sorot matanya.
"Sekarang kamu keluar dari ruanganku. Aku mau makan siang bersama istriku," Hardik Ravka pada Sherly.
Alea seketika mendongakkan kepalanya menatap Ravka saat pemuda itu mengakuinya sebagai istri. Matanya membeliak seakan tak percaya dengan ucapan Ravka. Dadanya bergemuruh dengan dentuman yang memenuhi rongga dadanya.
"Ravka, kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini. Kamu tidak bisa lebih memilih perempuan seperti dia dibandingkan aku," teriak Sherly lantang.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Tentu saja aku bisa. Dia istriku, dan kamu hanya masa laluku. Tentu saja aku akan lebih memilih dia daripada kamu," jawab Ravka tegas penuh keyakinan dengan masih menggenggam Alea dengan erat. "Sekarang pergilah dari sini. Sebaiknya ini terakhir kalinya kamu memasuki ruanganku. Kamu seharusnya pergi menemui Mas Alex karena dialah suamimu, bukan aku,"
"Ravka dengarkan aku," ucap Sherly dengan nada penuh permohonan seraya menarik tangan Ravka yang bebas.
Spontan Ravka menepis tangan wanita itu yang berusaha menggapainya. Ia menyipitkan matanya menatap Sherly dengan tajam. Mengirimkan sinyal tidak suka yang sengaja ia perlihatkan dengan jelas.
"Sekali lagi kuperingatkan. Pergilah dari sini dan jangan pernah mengganggu aku lagi. Atau aku akan mengatakan semua kelakuanmu ini kepada Mas Alex," ancam Ravka.
"Kamu akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan hari ini padaku," seru Sherly seraya meninggalkan ruangan Ravka dengan menggeram kesal.
Ravka tak memperdulikan Sherly yang berlalu. Ia mengalihkan tatapannya pada wajah Alea yang sudah kembali menunduk.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar," ucap Ravka santai seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelum ini.
"No, tolong bawakan peralatan makan kemari," perintah Ravka pada asiatennya itu.
Ravka kemudian membawa Alea duduk di sofa dalam ruangannya. Pemuda itu meraih bungkusan yang dibawa oleh Alea. Membuka isinya dengan tatapan penuh antusias.
"Yang satu lagi buat Nino," ucap Alea pelan.
Gadis itu sudah tak kehilangan minat untuk melanjutkan makan siang. Meski ia mendengar sendiri bahwa Ravka menolak Sherly, tapi tetap saja tak bisa mengembalikan suasana hatinya yang sudah terlanjur kacau.
Pernyataan pemuda itu yang menyebutkannya sebagai istri sempat membuat Alea tersanjung, tapi tetap tak bisa mengembalikan harapannya yang sudah memudar. Ia menyadari ucapan Ravka itu hanyalah sekadar untuk memprovokasi Sherly. Alea merutuki hatinya yang menuntut lebih. Seharusnya ia sudah cukup senang dengan perlakuan Ravka belakangan ini, tapi ia menginginkan Ravka benar-benar menganggapnya sebagai seorang istri.
"Kamu kenapa?" tanya Ravka lembut. Alea hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Tidak usah menghiraukan Sherly, dia memang sudah kehilangan akal," ucap Ravka berusaha menenangkan Alea. Namun, gadis itu sama sekali tak bergeming. "Aku pastikan setelah ini, dia tidak akan berani berbuat nekat seperti tadi lagi,"
Ravka mendekat kepada Alea yang masih menundukkan pandangannya. Meraih dagu gadis itu dan memaksakan wajah cantik itu mendongak menatapnya. Mata Ravka mengunci mata Alea yang sudah berkaca-kaca. Melihat ke kedalaman mata indah yang menyiratkan kesedihan mendalam disana. Hati Ravka diselimuti kegundahan saat menatap lekat manik mata hazel yang menyimpan kegelisahan di dalamnya. Dorongan untuk mengusir kabut kegelisahan dimata gadis itu menyeruak begitu saja dalam pikiran Ravka. Secara impulsif laki-laki itu mengusapkan jemarinya di dagu wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
Mata Ravka beralih pada bibir Alea yang merekah di bawah tatapannya. Mengundang pemuda itu untuk merengkuh bibir mungil itu menyatu pada bibirnya.
"Boss, ini peralatan makannya," ucap Nino tiba-tiba membuat Ravka gelagapan.
Reflek ia melepaskan tangannya di dagu Alea. Membuang tatapannya menghindari tatapan Alea. Nino yang tak menyadari teriakannya sudah mengganggu kedekatan antara Ravka dan Alea menghempaskan tubuhnya di sofa seberang kedua pasangan itu.
"Ngapain lu ikut duduk disini?" tanya Ravka kesal.
"Mau ikut makan," jawab Nino santai seraya meraih satu kotak makanan yang hendak ia pindahkan ke piring yang sudah ia letakkan di meja dihadapannya.
"Siapa yang ngajak lu ikutan makan? Sana keluar," usir Ravka.
Ganggu aja - rutuk Ravka dalam hatinya.
"Ini satu buat gue kan, Al?" suara riang Nino membuat Alea sedikit teralihkan dari kedekatannya dengan Ravka. Alea menganggukan kepala menjawab pertanyaan Nino.
"Ga ada buat lu, sana balik ke ruangan lu. Kalo makan di luar sana," ucap Ravka seraya menyambar kkat makan di tangan Nino.
"Ini ada tiga kotak Boss. Lu makan satu kotak juga cukup, ga bakalan bisa lu ngabisin dua kotak sekaligus. Pelit amat," Nino ngedumel.
"Emang gue ngegaji lu kurang gede? Sampe ga mampu beli makam sendiri. Mau cari kerjaan yang gajinya lebih gede aja?" Ravka memasang tampang menantang.
"Oke, gue cabut," Nino mengangkat tangan menyerah.
"Mau kemana, No? Udah disini aja sih," ucap Alea kikuk.
"Sorry Al, gue kayanya mending makan di restoran aja deh. Cari aman," ucap Nino seraya beranjak dari duduknya. Nino kemudian melangkah keluar ruangan. "By the way, thanks yah udah mau bawain gue makan, biarpun ada yang cemburu tuh, lu nyiapin makanan buat gue," teriak Nino sebelum menghilang di balik pintu.
Wajah Alea memerah dari pipi hingga telinga mendengar ledekan Nino. Begitupula dengan Ravka, yang jadi salah tingkah.
__ADS_1
Sialan emang Nino. Udah ganggu sekarang bikin gue jadi mati kutu - umpat Ravka dalam hati.
Keduanya kemudian menghabiskan makan dalam diam karena sama-sama tak kuasa mengusir rasa canggung yang menerpa. Hingga akhirnya Alea kembali keruangannya dengan membawa debaran jantung yang tak mau berirama dengan tenang.