
Alea bangun lebih pagi dari biasanya. Gadis itu tidak langsung menukar bajunya dengan pakaian berolahraga setelah menyelesaikan sholat subuhnya. Tidak seperti biasanya ia memulai aktivitas dengan menguras keringat sembari menghirup udara segar di pagi hari, kali ini ia langsung memulai harinya dengan berkutat di dapur. Menyiapkan sarapan bagi dirinya sendiri juga suaminya. Meski ada koki yang selalu menyiapkan sarapan ala hotel bintang lima setiap harinya, Alea selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk suaminya. Begitu pula untuk makan malamnya.
"Tumben, Non Al jam segini sudah di dapur," sapa Bi Mimah melihat Alea yang mulai menyibukkan diri dengan berbagai bahan makanan juga penggorengan.
"Iya Bi, al ada wawancara kerja pagi ini. Jadi mesti lebih awal nyiapin sarapan buat Mas Ravka," ucap Alea dengan senyum yang lebih ceria dari pada biasanya.
"Non Al kelihatan ceria sekali hari ini,"
"Aku seneng banget Bi, karena Mas Ravka ngizinin aku buat kerja,"
"Bibi ikut seneng dengernya Non," ucap Bi Mimah seraya menyungginkan senyum. "Bibi perhatikan Non Al kelihatan beda. Semakin cantik," puji Bi Mimah tulus.
"Iya Bi? Kemaren Al di permak abis-abisan sama orang suruhan Mama," ucap Alea sambil merengut.
"Non Al bisa aja, kaya jeans aja di permak," kekeh Bi Mimah. "Oia Non, Kalo memang Non Al ada perlu biar Bibi minta koki saja yang menyiapkan sarapan buat Den Ravka dan juga Non Al,"
"Ga apa-apa Bi, masih keburu juga kok kalau Alea menyiapkan sarapan terlebih dahulu. Lagipula Al ga mau sampai melalaikan tanggung jawab Al sebagai seorang istri. Padahal Mas Ravka sudah berbaik hati mengizinkan Al bekerja,"
"Den Ravka itu beruntung banget punya istri seperti Non Alea. Perhatian banget sama suami. Walau di rumah ini banyak pelayan dan koki, semua kebutuhan Den Ravka, Non Al tangani sendiri," puji Bi Mimah lagi.
"Ekhemm... " suara deheman dari seseorang yang tengah memasuki dapur membuat Bi Mimah gelagapan.
__ADS_1
Wajah wanita paruh baya itu memerah karena malu telah membicarakan majikannya. Ia menoleh dan mendapati Ravka tengah mengambil minuman dingin dari lemari es.
"Mas Ravka sudah selesai jogingnya?" pertanyaan dari Alea membuat Ravka menajamkan pandangannya kepada Alea.
Saat Ravka jogging pagi ini, ia tak mendapati istrinya itu berceloteh mengganggu disampingnya. Membuat semangat pria itu berolahraga menurun tiba-tiba dan langsung menghentikan rutinitas paginya dan beranjak pulang. Ia kemudian mendapati istrinya itu malah asik di dapur. Ravka memperhatikan Alea yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajan di atas kompor.
"Oia Mas, ini sarapan sudah hampir siap. Mas Ravka mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?"
"Memangnya kamu tidak tahu apa yang aku lakukan setelah berolahraga?" ucap Ravka dingin.
"Ya siapa tau Mas Ravka mau makan dulu," jawab Alea santai. "Oia Bi, tolong ini semua dibawa ke meja makan yah," perintah Alea kepada Bi Mimah.
"Aku buatkan kopi dulu Mas," ucap Alea merasa tidak terganggu dengan tatapan suaminya.
Ia menyadari kalau sedari tadi Ravka terus memperhatikannya. Namun Alea tak menggubrisnya. Ia terus melanjutkan aktivitasnya menyiapkam sarapan dan lanjut menyeduh kopi. Alea tengah berlomba dengan waktu sehingga tidak menghiraukan sikap Ravka yang terus menatapnya intens.
Merasa diabaikan, Ravka berlalu dari dapur dan memasuki kamarnya. Menjatuhkan dirinya diatas sofa dalam kamarnya. Mood-nya sudah berantakan sepagi ini. Rasanya malas sekali meski hanya sekedar membuka situs berita bisnis. Rutinitas pagi setelah jogging yang hampir tidak pernah ia lewatkan semasa hidupnya. Membaca berita internasional yang dapat mempengaruhi pergerakan saham perusahaannya, menjadi rutinitas wajib yang harus ia laksanakan. Sekadar untuk menjadi bahan pertimbangan ketika ia membuat keputusan dalam memgambil kebijakan bagi keberlangsungan perusahaan ke depannya.
Suara derik pintu bergeser mengalihkan perhatian Ravka dari layar android yang dipegangnya. Ia menatap Alea yang bergerak cekatan menyiapkan pakaian kerjanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Ravka tak dapat menekan rasa penasarannya saat Alea mematut dirinya di depan cermin.
__ADS_1
Gadis itu tampak memilih pakaian untuk dirinya sendiri setelah menyiapkan pakaian kerja bagi Ravka. Tak sulit bagi Alea memilihkan baju kerja untuknya. Semalam saat pulang dari makan malam bersama Ravka, Ibu mertuanya sudah memberikan kejutan baginya di dalam kamar. Di tempat tidurnya sudah tergelatak pepper bag berisi bermacam pakaian dari yang santai hingga formil ada disana. Bahkan tak hanya pakaian, Alea mendapati berbagai macam tas branded dengan harga fantastis sudah nangkring bersama beberapa kotak berisikan heels memenuhi sudut kamarnya.
"Aku hari ini ada interview kerja Mas," jawab Alea masih menyerasikan baju yang pantas untuk ia kenakan saat wawancara kerja pertamanya.
"Baru semalam kamu mengatakan mau kerja, dan sekarang kamu sudah ada jadwal interview?" tanya Ravka menahan geram.
"Sebetulnya aku sudah ada beberapa jadwal interview kerja dalam minggu-minggu ini,"
"Jadi untuk apa kamu meminta izin kalau kamu ternyata sudah melamar pekerjaan sebelum itu," ucap Ravka sinis.
"Aku mendapat tawaran kerja melalui kampusku. Semua tawaran kerja itu masuk setelah aku wisuda kemarin. Perusahaan-perusahaan yang mengajakku bergabung sepertinya tidak mau membuang waktu dan langsung meminta waktu untuk interview," ucap Alea menjelaskan.
Jawaban Alea membuat Ravka diam tak menemukan kata untuk mendebat istrinya. Ia kemudian berlalu dari hadapan Alea dan masuk ke dalam kamar mandi. Pemuda itu tidak mengerti apa yang menjadi penyebab ia merasa kesal. Apa karena hilangnya celoteh gadis itu yang selalu setia menemaninya jogging? atau karena diabaikan saat berada di dapur? atau mungkin melihat gadis itu berdandan sepagi ini untuk menjadi santapan para pria di luar sana?
Ravka mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berharap dinginnya air itu mampu meresap hingga ke dalam otaknya yang sudah mendidih karena kesal pada dirinya sendiri. Ia merasa semakin tak dapat mengontrol emosi dan pikirannya karena perempuan cantik di luar sana.
Kenapa aku jadi mikirin dia sih? terserahlah apa yang mau dilakukan terhadap hidupnya. Toh aku ngebiarin dia ada disini hanya supaya bisa mendapat bukti kelicikannya. Kalau saja ada sedikit titik terang soal kejadian malam itu, ga akan aku nahan dia ada di rumah ini. Siyal - Maki Ravka dalam hati seraya meremas rambutnya frustasi.
Bukannya mendapat apa yang ia cari, justru ia yang hanyut dalam pesona gadis itu. Keberadaan Alea di sekitarnya setiap hari seolah menjadi candu yang meresap ke dalam jiwanya tanpa ia sadari. Sehingga tatkala gadis itu menjauh sedikit saja, mampu membuat harinya kehilangan warna.
Bagaimanapun caranya aku harus segera menuntaskan masalah ini. Sesegera mungkin aku harus membuat perempuan binal itu berlutut memohon ampun karena sudah mengahancurkan hidup ku - Ravka mengusap wajahnya berkali-kali dengan air melalui shower yang mengucur dengan derasnya.
__ADS_1