
"No, ada hubungan apa Ravka sama Alea?" tanya Zai yang masih melongo menatap kepergian Ravka dan Alea.
"Tanya aja sana sama orangnya," jawab Nino cuek.
"Ih seriusan. Lu pasti taukan ada hubungan apa diantara mereka?!" desak Zai lagi.
Disebelahnya Farash juga menunggu jawaban Nino dengan detak jantung tak beraturan. Tak mungkin mereka hanya sebatas atasan dan bawahan kalau sampai Ravka seberani itu menggandeng Alea. Gadis itupun tampak tak keberatan digeret keluar restoran begitu saja.
"No, ga mungkin kan Alea pacaran sama Ravka?! Masa iya Ravka secepat itu move on dari Sherly? Lu tau sendiri kan bagaimana cintanya Ravka sama Sherly," Zai tetap tak patah arang mendesak Nino untuk mengatakan yang sebenarnya.
Desakan Zai membuat Nino merasa harus segera menghindari dari temannya itu. Bisa-bisa ia keceplosan bicara kalau terus di desak seperti itu.
"Dah ah, gue cabut dulu. Bisa-bisa boss murka kalau gue ga balik-balik kantor," ucap Nino melupakan sikap formal yang sedari tadi dijaganya. Pemuda itu terlalu senang sehingga tak menyadari masih ada Farash disana.
Nino kemudian langsung meninggalkan Zai dan Farash tanpa menoleh lagi. Melihat kepergian Nino, Zai langsung mengejarnya. Rasa penasaran yang menggelayut, meminta dituntaskan segera. Kalau tidak, bisa-bisa ia tidak akan tidur nyenyak malam ini.
Hal serupa juga dirasakan oleh Farash. Penasaran akan hubungan gadis yang menyelinap ke dalam hatinya sejak lama dengan atasannya itu, membuat perasaannya kacau tak menentu. Ada rasa menyesal saat dulu ia tak berani memperjuangkan Alea. Namun, saat tekad itu sudah ia tanamkan dengan kuat dalam hati, justru kini hal itu seperti sia-sia belaka.
"Aku harus memastikannya langsung dari Alea hari ini juga. Kali ini aku tidak akan menyerah begitu saja," gumam Farash penuh tekad.
Ia kemudian turut meninggalkan restoran dengan perasaan berkecamuk. Beragam pertanyaan bercokol di kepalanya. Dengan wajah pias tanpa semangat Farash memacu mobilnya kembali ke kantor.
******
"Gimana tadi rapatnya? sukseskan?" tanya Vika saat melihat Alea sudah menempati meja kerjanya kembali.
"Ya gitu deh. Orang aku disana ga ngapa-ngapain Mbak. Aku cuma ngeliatin doang," sahut Alea dengan tak bersemangat.
Wajahnya menggelantung beban yang dapat terlihat dari sekilas pandang. Gadis itu dengan malas-malasan membuka komputernya di atas meja.
"Bagus kan berarti tadi lu ngikut rapat. Bisa buat pengalaman. Besok-besok kalo di suruh ikut rapat lagi, lu udah ga kaget," ucap Vika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di depannya.
"Hmm.... " jawab Alea masih dengan lesu.
__ADS_1
"Lu kenapa sih? Pak Farash ga suka sama hasil kerja lu?" Vika menghentikan pekerjaannya.
Wanita yang usianya sudah cukup matang itu tahu bahwa gadis di hadapannya ini seperti tengah menyimpan beban. Tak ada salahnya jika ia mencoba mencari tahu. Siapa tahu bisa mengurangi beban gadis itu.
"Ga kok Mbak. Ga apa-apa," jawab Alea seraya memaksakan senyum di wajahnya.
"Ga apa-apa kok muka lu lipet seribu gitu. Udah cerita aja, ga apa-apa. Gue bisa simpen rahasia kok," ucap Vika mencoba meyakinkan Alea.
"Hmm.... Sebenernya aku lagi pusing persoalan pribadi Mbak. Ga ada hubungannya sama kerjaan kok," Alea menjawab masih dengan memasang senyum yang dipaksakan menghiasi wajahnya.
"Persoalan pribadi juga masalah Al. Gue bisa jadi pendengar yang baik kok. Yah, mungkin gue ga bisa kasih solusi, sih. Tapi seenggaknya lu punya temen buat sharing. Biar ga bikin nyesek di dada," Vika memberi nasehat.
Alea berpikir sejenak. Ia tak mungkin menjadikan kondisi rumah tangganya sebagai bahan konsumsi publik. Bagaimanapun rumah tangganya hanya ia dan suaminya yang boleh tau. Tapi godaan untuk bercerita juga tak kalah menarik. Dia masih harus belajar banyak dari orang yang lebih berpemgalaman. Mungkin dia bisa mempercayai Vika. Apalagi Vika sepertinya orang yang baik dan tulus.
"Sebenernya aku lagi bingung sama sikap suami aku Mbak," tutur Alea ragu.
"Suami? Lu udah Nikah?" Vika mendelik kaget. "Bukannya lu itu freshgraduate yah?"
"Iya aku baru lulus sih. Tapi aku udah nikah dari sebelum wisuda. Ya tapi nikahnya juga baru Mbak. Belom empat bulan," jawab Alea lagi.
Alea hanya memasang wajah datar saat di ledek oleh Vika.
Anget dari mananya Mbak, Dingin iya. Saking dinginnya bisa bikin beku hati - rutuk Alea dalam diam.
"Gue kasih tau nih ya, yang namanya rumah tangga itu ga akan pernah mulus kaya mukanya artis korea. Pasti ada aja deh masalahnya. Ibarat kata dua kepala dijadiin satu, ya mana bisa. Berantem mulu yang ada kalau kitanya sama-sama ga mau ngalah," nasehat Vika.
Wanita itu sudah kembali menenggelamkan diri dengan layar komputernya. Ia berbicara sembari menarikan jemari tangannya di atas tools komputer.
"Emang waktu nikah, Mbak Vika sama suami ga saling cinta?" tanya Alea mulai tertarik mendengar kisah Vika.
"Ga cinta darimananya? Orang kita pacarannya aja sampe empat tahun. Tapi ya gitu deh, pacaran sama nikah itu beda. Kitanya harus lebih sabar. Terutama kita perempuan. Laki-laki itu cara berpikirnya ga sama kaya kita yang lebih bayak melibatkan hati," ucap Vika santai.
Saling cinta aja bisa berantem mulu yah? Gimana nasib aku yang nikahnya sama-sama kepaksa? - raut murung seketika Alea bingkai di wajahnya.
__ADS_1
"Dulu gue kira karena kita kelamaan pacaran, makanya pas nikah udah berasa hambar. Berharap punya anak bisa bikin kondisi membaik. Tapi ujung-ujungnya sama aja. Ada aja masalah baru," Vika melanjutkan ceritanya.
"Terus gimana caranya supaya ga berantem mulu Mbak?"
"Yah ngapain berantem kalau ujung-ujungnya cuma bikin sakit hati. Kalau masih cinta yah jalanin aja," Vika menerawang ke beberapa tahun belakang. Mengingat bagaimana ia mempertahankan pernikahan yang tak seperti bayangannya. Bak cinderalla yang berakhir bahagia.
"Happily ever after itu cuma ada di dongeng. Kamu tetap harus terus berjuang membuat rumah tanggamu bahagia. Kuncinya jangan banyak menuntut. Introspeksi diri. Kalau kamu sudah melakukan yang terbaik maka kamu akan mendapatkan yang terbaik pula. Begitu juga sebaliknya," Vika menasehati.
Pikiran Alea melayang, mengingat pesan-pesan yang selalu ditanamkan oleh orang tuanya. Tak jauh berbeda dengan yang Vika katakan padanya. Seandainya Ibunya masih ada bersamanya kini, mungkin wanita itulah yang akan memberi nasehat padanya. Menguatkan dirinya agar tegar menjalani hidup yang penuh liku. Betapa beruntungnya mereka yang masih memiliki orang tua, pikir Alea.
Ah mungkin Allah sengaja mengirimkan Mbak Vika sebagai pengganti orang tua yang bisa memberiku nasehat - Alea melemparkan senyum penuh syukur sudah berbicara pada Vika.
"Makasaih yah Mbak, kamu tuh udah bikin aku jadi tenang," ucap Alea seraya melemparkan senyum tulus kepada Vika.
Vika menoleh pada Alea. Melihat senyum indah gadis itu menularkan kehangatan yang membuatnya ikut tersenyum. Ia kemudian menggeret kursi beroda yang tengah di dudukinya mendekat kepada Alea.
"Gue kasih tips sama lu. Menjaga keromantisan setelah menikah itu harus. Sebisa mungkin tiap hari ciptakan keromantisan diantara kalian. Itu bisa meminimalisir emosi negatif yang bisa buat kalian berantem," Vika kemudian mencondongkan tubuhnya lebih mendekat kepada Alea. Membisiki telinga gadis itu dengan lembut. "Lu kan masih penganten baru nih. Kalau berantem, ajak aja suami lu naek tempat tidur. Semua masalah bisa beres dalam sekejap," Vika mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Rasa panas menjalari pipi Alea. Wajah Gadis itu bersemu merah saat menyadari maksud ucapan Vika. Pembicaraan mengenai hal itu masih jauh dalam kamus Alea. Pernikahannya bukanlah pernikahan biasa pada umumnya. Jangankan bicara soal hubungan intim suami dan istri, berbicara dengan suaminya layaknya pasangan normalpun sepertinya sulit terlaksana.
"Muka lu biasa aja kali Al. Udah kaya gadis perawan aja lu," Vika tersenyum mengejek. "Kalau udah nikah ngomongin begituan udah ga tabu. Mumpung lu masih penganten baru. Nah gue, nikahnya aja udah hampir delapan tahun. Pake trik begituan udah ga mempan," Vika terkekeh geli.
"Mbak Vika bisa aja," Alea berkomentar menutupi rasa malu yang menyergapnya.
Entah kenapa selintas muncul bayangan bagaimana jadinya kalau samapi Ravka menuntut kewajibannya yang satu itu. Gadis itu bergidik ngeri bercampur geli. Ada untungnya juga Ravka tak menyukainya, pikir Alea. Jadi ia tak perlu memikirkan lebih jauh persoalan yang satu itu.
"Udah ah, bentar lagi jam pulang kantor. Gue mau nyelesain kerjaan gue dulu. Ga mau lembur. Soalnya udah janji pulang on time sama laki gue hari ini," Vika kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan fokus.
Alea juga menepiskan pikirannya yang sudah mulai melantur. Ia kembali fokus untuk menghadapi setumpuk data yang harus ia pelajari dan kerjakan. Hingga tak disadarinya karyawan di ruangan divisnya meninggalkan meja kerja mereka satu persatu.
"Al, gue balik duluan yah. Jangan lupa saran gue tadi," Vika beranjak dari kursinya seraya mengedipkan sebelah mata pada Alea.
Mengingatkan gadis itu akan perbincangan beberapa saat lalu. Alea hanya membalas Vika dengan lamabaian tangannya. Ia juga mulai mebereskan barang-barangnya. Hari ini sebaiknya ia pulang tepat waktu agar bisa memikirkan permintaan Ravka esok hari.
__ADS_1
"Al, aku mau bicara sama kamu," suara seorang pria yang sudah familiar di kupingnya menyapa.
Alea menghentikan aktivitasnya sesaat. Menahan jantungnya agar bisa berirama dengan tenang. Dia sudah mengira, cepat atau lambat ia harus menghadapi pria itu. Akan tetapi, ia tak menyangka secepat ini.