Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 114# Bukan Kebetulan


__ADS_3

Ravka mengerjapkan matanya perlahan seraya meringis. Lengannya terasa kebas dan kesemutan. Ia menoleh kesamping, dilihatnya Alea tengah dibuai mimpi dengan wajah damai menghiasi.


Ravka membelai pipi gadis itu lembut sebelum menggerakkan lengannya perlahan dan menjatuhkan kepala Alea ke atas bantal. Gadis itu tak terusik sedikitpun dengan apa yang dilakukan oleh Ravka. Ia sepertinya benar-benar kelelahan hingga tertidur begitu nyenyak. Dikecupnya sekali lagi pipi mulus sang istri.


"Hmmm .... " gumam Alea dalam lelapnya.


Gadis itu mulai merasa terganggu dengan kelakuan sang suami, hingga Ravka tersenyum geli.


Ravka melongokkan kepalanya ke atas nakas. Ia menengadahkan kepala sedikit, saat memperhatikan detak jarum jam yang terus berputar tanpa lelah. Sudah hampir pukul empat pagi. Biasanya sang istri sudah membangunkannya pada jam-jam seperti sekarang. Gadis itu hampir tak pernah absen mengajaknya mengucap syukur dengan menghadap Sang Khalik di sepertiga malam terakhir.


"Tidurlah lagi, masih ada waktu hingga azan subuh. Aku tak akan mengganggu mimpi indah mu." Ravka menyibakkan rambut Alea yang menutupi wajahnya saat gadis itu menggerakkan kepala, merasa terganggu akan ciuman Ravka di pipinya.


Ravka menyingkap selimut yang membalut tubuhnya, mengambil kaos dan celana pendek yang berserakan dilantai kemudian mengenakannya. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia meraih botol minum yang selalu tersedia di kamar. Namun, botol itu sudah kosong hingga pemuda itu terpaksa keluar kamar menuju dapur untuk mengisi ulang botol minumnya.


"Mas Alex," ucap Ravka saat melihat kakak sepupunya itu berjalan di lorong menuju kamarnya.


Ravka menghentikan langkah menuju dapur. Ia membawa kakinya mengarah ke tempat Alex yang berjalan agak sempoyongan.


"Hati-hati, Mas," seru Ravka menahan Alex, saat pria itu terhuyung hampir jatuh.


"Lepaskan Rav. Satu botol tidak akan membuatku kehilangan kesadaranku. Pergilah dari hadapanku," seru Alex seraya menghentakkan tangan Ravka dengan kasar.


"Bukankah kamu sudah mengehentikan semua kebiasaan burukmu ini? Kenapa sekarang kamu mulai lagi?!" seru Ravka tak memperdulikan celoteh Alex. Ia menggeret kakak sepupunya itu menuju kamar lelaki itu.


Ravka mengernyitkan hidung saat mencium aroma dari mulut serta tubuh Alex yang menguarkan bau asam tak sedap.


"Sudahlah, apa pentingnya buat mu? Toh aku sudah seperti ini sejak dulu. Kenapa baru sekarang kau ambil pusing dengan kelakuanku? Apa sekarang kau merasa seperti kakek, berhak mengatur-atur hidupku yang tidak kalian sukai?" seru Alex dengan mata memerah lantaran terlalu banyak meneguk minuman beralkohol.


"Kami semua tidak pernah membencimu terutama Kakek. Kami hanya tidak menyukai sikapmu yang seperti ini. Kamu sudah cukup umur untuk mulai memikirkan masa depanmu sendiri. Hentikan kebiasaan burukmu bersenang-senang tak berfaedah," ujar Ravka lagi.


"Pintar ceramah kau sekarang, heh?!"


"Mas, kalau kamu terus seperti ini, bagaimana Tante Erica bisa menjalani masa tuanya dengan tenang? Begitu juga Kakek yang setiap saat selalu mengkhawatirkan kamu."


"Kau tidak perlu takut, aku masih bisa menjalankan perusahaan. Aku akan menyelesaikan masalah perusahaan secepatnya."


"Bukan perusahaan yang ku khawatirkan, Mas. Saat ini masalah diperusahaan sudah mulai bisa diatasi. Toh sebagian besar investor kakap, sudah melabuhkan dukungannya pada kita."

__ADS_1


"Lantas apa lagi masalahmu? Kalau soal Bambang, kau tunggu saja. Cepat atau lambat orangku pasti akan menemukannya. Setelah itu, kita bisa membalas semua perbuatan Ferdy," ucap Alex menahan geram saat mendesiskan nama Ayah mertuanya itu.


"Bagaimana dengan Sherly?" tanya Ravka membuat Alex semakin menajamkan sorot matanya.


"Jangan pernah kau sebut nama ja*ang itu lagi dihadapanku," sergah Alex kasar.


"Bagaimanapun dia istrimu, Mas. Sah secara hukum dan Agama."


"Persetan dengan itu semua," hardik Alex.


"Kamu menikahinya dengan cara yang baik. Maka selesaikanlah dengan cara yang baik pula. Jangan buat dendam masa lalu menjadi berkepanjangan."


"Tidak usah menceramahiku. Aku sama sekali tidak membutuhkannya."


Ravka menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Meski Alex tampak sangat sadar dan bisa diajak bicara layaknya orang waras, tapi sedikitnya alkohol mempengaruhi pikiran lelaki itu. Tak ada gunanya mengajak Alex bicara serius saat ini.


"Terserah padamu Mas. Kamu sudah cukup dewasa menentukan jalan hidupmu sendiri. Tapi saat kamu bersedia menikahi seorang wanita, suka atau tidak, dia sudah menjadi tanggung jawabmu." seru Ravka lagi. "Ingatlah satu hal, jangan melakukan kebodohan seperti yang aku lakukan. Aku terlalu diliputi kemarahan dan kebencian hingga membuang logika di kepala. Setelah itu, hanya penyesalan yang kudapatkan. Meski sekarang semua sudah baik-baik saja, penyesalan itu masih membayangi."


"Apa maksud ucapanmu?"


"Setiap apa yang terjadi bukan karena sekedar kebetulan. Semuanya bisa terjadi atas izin Allah. Bercerminlah dan temukan jawabannya." Ravka menepuk pundak kakak sepupunya sebelum meninggalkan lelaki itu mematung di depan pintu kamarnya.


**********


Alea menajamkan pendengarannya seraya mempercepat gerakan tangan yang tengah terangkat ke atas kepala. Ia mengikat rambutnya tinggi menjadi seperti kuncir kuda.


"Lepaskan aku .... " teriakan Tiara kembali menyapa telinga Alea.


Bergegas Alea mendekati kamar adik iparnya itu. Ia kemudian mendorong pintu kamar Tiara yang sudah sedikit terbuka.


Ditengah kamar ia melihat Sandra yang tengah menggeret kaki Tiara agar sang empunya kaki turun dari tempat tidur. Alea memarik nafas lega, saat pikiran buruknya tak terbukti. Ia hanya menyaksikan dua gadis kekanakan yang sedang bertengkar. Entah apa yang mereka pertengkarkan.


"Kak Al, ayolah tolong aku," ucap Sandra terengah-engah saat ia menangkap siluet Alea yang sudah berbalik hendak meninggalkan kamar Tiara.


Alea kembali mebalikan badannya dan mengahmpiri Sandra yang wajahnya sudah memelas memohon pertolongan. Sementara Tiara masih membungkus tubuhnya dengan selimut hingga menutup kepalanya.


"Sebenarnya apa yang kalian ributkan, ha?" tanya Alea menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kak Tiara sudah mengingkari janjinya. Dia bilang mau membantuku. Tapi lihatlah sekarang dia malah ga mau bangun," rengek Sandra yang tak digubris oleh Tiara.


"Memangnya kamu mau minta tolong apa?" tanya Alea lagi.


"Aku mau ngedeketin Kak Nino. Ini kesempatan bagus, mumpung dia lagi nginep disini. Udah lama banget Kak Nino ga pernah nginep disini," celoteh Sandra menghadirlan kerutan dalam di dahi Alea.


"Kenapa semua orang menyukai pria konyol itu? Okelah dia emang ganteng. Tapi gantengan juga suami ku," Batin Alea bingung bagaimana harus menanggapi Sandra.


Jangan sampai Sandra juga meminta bantuannya untuk mendekati asisten suaminya, pikir Alea. Menghindar dari permintaan Sasya saja sudah membuat Alea tak enak hati, apalagi jika harus menolak permintaan adik iparnya itu.


"Kenapa kamu ga minta tolong sama Kak Al saja sih?" teriak Tiara dari balik selimut.


Sontak Alea membulatkan matanya mendengar saran dari Tiara. Baru saja ia merapalkan mantera agar tak diseret-seret dalam permintaan gilanya Sandra, Tiara justru memberikan ide gila tersebut.


Alea menggelengkan kepala memikirkan keinginan Sandra. Entah apa yang dipikirkan gadis belia itu. Umurnya baru melewati tujuh belas tahun, tapi menyukai pria matang berusia tiga puluh tahun.


"Aku mana berani minta tolong Kak Al. Bisa di gorok sama Mas Ravka yang ada. Tadi aja baru mau nanyain Kak Al, Mas Ravka udah bilang aku ga boleh ganggu istrinya," keluh Sandra sebal.


"Kapan Mas Ravka bicara seperi itu?" tanya Alea seraya mendelik kaget.


"Baru saja, sewaktu aku mau membangunkan Kak Tiara, aku lebih dulu ke kamar Kak Al dan bertemu Mas Ravka di depan kamar kalian."


Baru kali ini Alea bersyukur dengan keposesifan suaminya. Sikap posesif Ravka kali ini menyelamatkan Alea dari situasi yang mengharuskannya makan buah simalakama.


"Ayolah Kak, tepati janjimu. Aku tidak akan berhenti mengganggumu sampai kamu mau membantuku," gerutu Sandra.


Tiara menyingkap selimut yang menutupi wajahnya hingga ke bagian dada. Gadis yang terlihat mengenakan tanktop itu menghela nafas pasrah.


"Okay ... okay, biarkan aku mencuci muka ku dulu. Puas?!" desis Tiara sebal yang dibalas cengiran lebar oleh adik bungsunya.


Tiara berusaha memasang wajah sedatar mungkin, menutupi gejolak yang menerjang hati. Menguatkan diri agar bisa melewati hari ini tanpa drama yang membumbui.


**********************************************


sambil nunggu up bisa intip ini dulu yah...


__ADS_1



__ADS_2