
"Apa semua sudah siap?" Tanya Ravka mengalihkan perhatian Nino. Pemuda itu memperhatikan gerak jarum jam di tangan kanannya. "Kalau kita berangkat lebih lama lagi, bisa-bisa kita sampai setelah acara dimulai. Dan itu bisa membuatmu kehilangan sebagian gajimu bulan ini," Seru Ravka kepada Nino.
"Gue rasa udah Boss. Tadi nakhodanya bilang boat akan siap dalam lima belas menit. Dan sekarang sudah lewat lima belas menit," Jawab Nino santai tidak terintimidasi dengan ancaman Ravka. seminggu terakhir atasannya itu memang seringkali emosian dan marah-marah. Hal tersebut membuat Nino menjadi kebal dengan berbagai ancaman yang keluar dari mulut teman sejak kecil yang kini menjadi orang yang memberikannya penghasilan setiap bulan.
"Yaudah kalau gitu mau nunggu apalagi? Kita berangkat sekarang," Seru Ravka.
"Tunggu bentar Boss. Ehm.... " Nino menggantungkan suaranya seperti tidak berani meneruskan kata-katanya.
"Kenapa? Buruan ga usah bertele-tele,"
"Kita tunggu bentar lagi yah. Soalnya tadi Diva sama Hesti telpon gue. Katanya mereka mau ikut ke resor Bidadari bareng kita. Yah lu tau sendiri kan, sewa boat saat ini lagi susah. Udah pada dicarter sama undangan yang hadir buat acara nanti malam disana. Jadi yah gue ga tega pas mereka mohon-mohon minta ikut bareng," Ucap Nino tampak ragu. Khawatir mendapat respon negatif dari Ravka yang akhir-akhir ini emosinya tidak stabil.
"Ya udah, katakan sama mereka untuk segera. Kalau terlambat sedikit saja, kita akan berangkat tanpa mereka," Ucap Ravka.
"Mereka sudah dikawasan ancol kok," Jawab Nino.
Ravka kemudian melambaikan tangannya kepada salah seorang pelayan restoran yang tadi melayani mereka. Saat pelayan itu sudah tiba di dekat meja mereka, Ravka mengeluarkan dompetnya. Menarik dua lembar uang kertas dari sana dan menyerahkannya kepada pelayan tadi. "Ambil saja sisanya buat kamu," Seru Ravka kepada pelayan itu yang spontan melebarkan bibirnya sumringah.
"Terimakasih banyak Tuan," Ucap Pelayan itu sembari membungkukkan badannya, memberi penghormatan kepada pelanggan yang sudah rela berbaik hati memberikan tips yang lumayan besar untuk ukuran seorang pelayan restoran. Alea memperhatikan pelayan itu yang menampakkan binar senang menghiasi kedua matanya.
__ADS_1
Ternyata dia dermawan juga - Alea membatin tatkala melihat Ravka dengan gampangnya memberikan tips kepada pelayan yang jumlahnya bahkan lebih besar dari harga kelapa yang harus dia bayar.
"Sekarang tunjukkin ke gue boat-nya ada disebelah mana," Ucap Ravka kepada Nino.
"Siap Boss," Nino memimpin langkah mereka menuju speadboat yang tadi sudah ia sewa. Ia berjalan di depan diikuti oleh Ravka yang mensejajari langkahnya.
Sementara dibelakang dua pemuda itu, Alea tampak kembali kepayahan mengimbangi langkah keduanya sambil menggeret koper.
"Cowok kok ya ga ada yang gentle apa? Masa ga ada yang nawarin bawain koper ini sih. Paling ga jalannya di pelanin dikit kek," Gerutu Alea selama perjalanan.
Beruntung letak Speadboat tidak jauh dari lokasi restoran yang tadi mereka sambangi, sehingga membuat Alea tidak perlu berlama-lama merasa kesulitan.
Alea terperangah ketika memasuki speadboat yang sangat mewah tersebut. Hanya untuk perjalan singkat ke pulau bidadari saja menggunakan speadboad yang mewah seperti ini, sungguh pemborosan pikir Alea. Dia jadi bertanya-tanya, sekaya apa sebetulnya keluarga suaminya itu.
Alea berjalan menuju sudut living Room untuk meletakkan koper yang dibawanya. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dalam toilet yang ternyata sangat nyaman meski diatas sebuah kapal. Di bukanya keran yang terletak di westafel dalam toilet itu, untuk kemudian menyegarkan wajahnya dengan guyuran air yang ditampung dengan kedua belah tangannya yang mungil.
"Huhhh segernya," Gumam Alea setelah beberapa kali meraup wajahnya dengan air dingin dari keran. Setelah itu Ia mengambil make up yang dibawa di dalam tas tangan kecil yang sedari tadi ia sandang. "Sebaiknya touch up dikit, biar cantik," Alea memoles wajanya menggunakan two way cake serta mengaplikasikan lipstik dengan warna cerah di bibirnya.
"Hmmm.. lumayan lah. Mudah-mudahan Aku ga malu-maluin buat Mas Ravka," Gumam Alea lagi. Ia kemudian keluar toilet setelah merapikan gaunnya yang sedikit acak-acakkan.
__ADS_1
Saat keluar toilet, Mata Alea menyapu semua sudut Living Room. Tampak suaminya tengah duduk santai di sofa dengan diapit dua wanita bertubuh sexy. Kedua wanita itu tampil dengan dandanan yang glamor nan elegan. Memperlihatkan bahwa mereka bukankah wanita sembarangan.
Tentu saja mereka juga berasal dari kalangan atas. Gaun yang mereka kenakanpun memperlihatkan bahwa gaun tersebut berkualitas sangat baik dengan harga yang juga sepadan. Apalagi tas yang diletakkan diatas meja kayu di depannya. Alea memperhatikan tas branded tersebut dan membandingkan dengan tas yang sedang disandangnya, sangat jauh dari kata sepadan.
Seketika Alea mencelos, hatinya seakan mengkerut di tempatnya dan membuat dadanya terasa sakit. Ia merasa rendah diri ketika membandingkan penampilan dua wanita yang sangat terlihat sekali sedang berusaha menarik perhatian suaminya dengan penampilannya sendiri.
"ehemmm...." Alea berdehem memberi tanda keberadaannya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa seberang suaminya. Namun, tak seskitpun Ravka menggubris kehadirannya. Seolah Alea hanyalah laron yang tak ada artinya dan dibiarkan terbang disekitarnya. Bahkan rasa terganggupun tidak pria itu tunjukkan atas kehadirannya. Membuat Alea semakin merasakan nyeri di dada.
Masih mending dia marah atau kesel sama aku daripada tidak diperdulikan sama sekali - Alea termenung dengan wajah cemberut. Gadis itu kemudian melemparkan tatapannya ke sembarang arah, menjauh dari penampakan dua wanita yang tengah menggoda suaminya.
"Ravka, gimana kalau nanti malam aku temenin kamu?" Tanya Seorang wanita sembari mengusap tangannya di lengan Ravka.
"Aku juga bersedia kok nemenin kamu. Biar kamu bisa tunjukin kepada Sherly kalau kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada dia," Ucap wanita yang lain lagi.
"Aku ga habis pikir, bisa-bisanya Sherly menikah dengan Alex?"
"Iya Rav, aku juga kaget loh waktu dateng ke nikahan kalian kemaren. Kok malah Alex yang duduk di kursi pelaminan?"
Seketika jantung Alea terlonjak. Beruntung ia masih dapat menahan rasa kagetnya hingga orang-orang yang duduk diseberangnya tidak dapat membaca raut wajahnya yang terkejut.
__ADS_1
Apa maksudnya ucapan perempuan itu? Apa seharusnya Ravka yang menikahi perempuan bernama Sherly itu? Atau jangan-jangan perempuan yang menampar Mas Ravka saat di hotel waktu itu adalah Sherly? - Pikiran Alea berkelabat kemana-mana. Mengarungi memori kepalanya yang sangat sedikit memyimpan informasi tentang keluarga Dinata. Ia mengingat kalau Bi Mimah memang mengatakan tentang pernikah Alex, Kakak sepupu Ravka dengan perempuan bernama Sherly. Tapi gadis itu sama sekali tidak menduga kalau perempuan yang dimaksud adalah tunangan Ravka sebelum perempuan itu memutuskan pertunangan mereka.
"Bisa bahas yang lain aja," Hardik Ravka ketus turut mengagetkan Alea yang tengah menyusun puzzle kehidupan suaminya sebelum mereka terpaksa menikah. Namun, sayangnya kepingan puzzle yang dimilikinya sangatlah sedikit sehingga membuat Alea kesulitan mencari jawaban atas pertanyaan yang bercokol di kepalanya.