
Setelah kepergian Beni yang menyeret Dandy setengah memaksa untuk menemaninya berburu gadis-gadis cantik yang bisa ia ajak untuk kencan semalam, Ravka menjatuhkan tubuhnya di atas pasir pantai di sebelah Fiki sembari memainkan pasir halus itu dengan tangannya. Pandangannya sejurus ke depan memandang birunya langit bertahta sekumpulan awan menggumpal.
"Hai bro," sapa Zai mendekati Ravka.
Ravka menoleh sekilas pada Zainal yang tampak canggung. Ia sedikit mengerutkan dahi saat melihat temannya itu menyapa. Terasa aneh dan tak biasa saat pria yang biasanya bersikap sesuka hati, kini berbasa basi.
"Gue mau minta maaf soal Alea," ucap Zai yang bisa menebak tatapan heran Ravka.
"Soal apa nih?" tanya Ravka santai.
"Itu masalah waktu kita meeting itu, sama soal kemarin. Gue ga tau kalau dia udah nikah sama Lu, jadi .... "
"Udah ga usah dipikirin." Ravka memotong ucapan temannya itu. " Yang penting sekarang Lu udah tau. Untuk itu gue ngajak kalian semua kesini, biar kalian tau. Tapi kalau setelah ini lu berani deketin bini gue, itu artinya lu cari mati," ancam Ravka dengan wajah serius.
"Eits, sabar Bro. Gue ga mungkin lah deketin Alea kalau udah tau dia bini Lu," sambar Zai yang sudah mulai mengurai kecanggungannya.
Ketiganya berbincang sejenak, melepas canda tawa setelah lama tak bersua. Kesibukan masing-masing membuat mereka terkadang tak punya waktu meski hanya untuk bertemu. Saat bersama seperti sekarang, kenangan masa lalu ketika remaja yang tak punya beban menyelip diantara perbincangan.
Setelah beberapa saat, Ravka bangkit berdiri menghampiri Alea. Ia turut merebahkan diri diatas Hammock yang sedang di tempati Alea. Alea memiringkan tubuhnya memberi ruang bagi Ravka berbaring di sebelahnya. Pemuda itu kemudian melingkarkan lengannya di tubuh Alea seraya memejamkan mata menikmati embusan angin yang merayunya untuk lelap barang sejenak.
"Mas .... " bisik Alea pelan.
Ravka tampak bergeming di sisinya, mengurungkan niat Alea membangunkan suaminya. Ia ikut terpejam menikmati suasana. Entah sudah berapa lama mereka tertidur dengan saling memeluk di bawah tatapan semua orang yang berlalu lalang.
Saat membuka matanya, ia mendapati Kania dan Rifzan sedang berkejar-kejaran di pantai. Sementara Ines sudah membenamkan tubuhnya di dalam gundukan pasir bersama Dandy yang entah sejak kapan sudah kembali. Tak jauh dari sana Fiki dan Rizka juga tampak memadu kasih. Berpelukan erat dibawah rindang pepohonan. Hanya Beni yang tampak kesal duduk sendiri termenung menatap mereka yang berpasangan seraya menggerutu kesal.
"Ah siyal. Tau gini kemaren mending gue sewa LC sekalian deh buat nemenin gue," rutuk Beni yang masih dapat ditangkap oleh telinga Alea, menghadirkan senyum tipis menahan tawa.
"Mas, udah siang nih. Aku laper," rengek Alea membangunkan Ravka dari lelapnya.
"Hmm?" gumam Ravka yang masih termakan bujuk rayu tiupan angin yang mengajak ia terpejam lebih lama.
"Laper," rengek Alea kembali.
__ADS_1
Ravka mengangkat tangannya melirik jam yang berdetak di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan tengah hari. Sejalan dengan teriknya sang surya yang mulai menggigit kulit.
Kania yang juga mulai merasakan teriknya mentari kembali ke tepi pantai sambil terengah-engah di susul Rifzan di belakangnya.
"Udah ah Kak, capek. Panasnya udah mulai berasa," ucap Kania masih ngos-ngosan.
"Emang dari tadi udah panas banget. Kaliannya aja yang keasikan kaya bocah ampe ga sadar matahari udah diatas noh," celoteh Beni dengan kesal.
Sontak Alea terkekeh melihat tingkah teman suaminya yang tak kalah kekanakannya.
"Bilang aja lu sirik. Ga punya gebetan Lu ya?" ledek Rifzan yang disambut lemparan ranting kecil yang dari tadi dimainkan oleh Beni ditangannya.
"Emang kak Rifzan punya?!" sambar Kania menertawakan Rifzan yang memalingkan wajahnya menghindar dari lemparan ranting Beni.
"Kamu," jawab Rifzan santai membuay Kania tersipu malu.
"Adik aku masih kecil kali Rif," ucap Alea menanggapi seloroh Rifzan.
"Kamu juga masih muda dinikahin sama Ravka," balas Rifzan tak mau kalah.
Memiliki kekasih yang terbilang muda, tak terpaut jauh usianya dengan Alea, membuat Dandy harus mengikuti kemauan Ines yang terkadang masih kekanakan. Bermain-main dengan pasir layaknya anak kecil.
"Bukannya kita ada jadwal makan siang di dolphin cruise yah?" tanya Rizka mengingatkan mereka semua.
"Oh iya, lupa gue. Dimas pasti udah bete nungguin kita ga muncul-muncul di dermaga." Ravka menepuk jidatnya pelan seraya bangkit dan turun dari hammock lalu membantu Alea turun dari sana.
Mereka lantas berlarian menuju dermaga seraya tertawa lepas. Tak ada ada lagi Ravka yang kerap menjaga image dengan kesan dingin. Bahkan jika orang-orang memperhatiakn mereka, tak terlihat bahwa para lelaki itu sudah menginjak usia tiga puluh tahun.
"Wow, ini sih keren banget, Kak," celetuk Kania saat makanan sudah terhidang di depan mata.
Mereka kini tengah duduk di atas geladak sebuah cruise yang berlayar ke tengah lautan setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit lamanya.
Saat suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya, para gadis itu tak henti menganga terkagum-kagum melihat puluhan lumba-lumba mengelilingi kapal mereka. Berloncatan bergantian mencipratkan air yang memukul lautan. Sebuah latar belakang indah untuk menyantap makan siang istimewa.
__ADS_1
"Berenang bareng lumba-lumba seru kali ya," celetuk Alea tiba-tiba.
"Ga .... Ga boleh. Kamu mau berenang bareng lumba-lumba tanpa persiapan? Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ini laut bukan kolam renang," sergah Ravka menimpali celetukan Alea.
"Ih Mas, aku kan cuma berandai-andai aja." Alea memutar bola mata jengah mendapati respon suaminya.
"Kenapa harus berandai-andai? Kalau kamu memang menginginkannya aku akan meminta Dimas untuk mempersiapkannya. Tapi tidak hari ini. Lagipula aku sudah menyiapkan dinner spesial setelah kita kembali ke Villa," ucap Ravka santai.
"Kamu serius, Mas? Aku beneran boleh berenang bareng lumba-lumba?" Alea membukatkan kedua bola matanya terperangah.
"Tapi tidak hari ini. Aku harus meminta Dimas untuk menyiapkannya terlebih dahulu biar safety," jawab Ravka tanpa mengalihkan pandangannya dari piring di hadapannya.
Pemuda itu bahkan tak menyadari kalau Alea sudah menatapnya dengan penuh kekaguman yang menggelora di dada. Tanpa Ia sendiri sadari, Alea mendaratkan bibirnya pada pipi Ravka dengan kecupan yang terdengar lantang. Sontak Ravka menghentikan kegiatan makannya. Bibir pria itu melengkung sempurna menikmati perlakuan spontan Alea di hadapan teman-temannya, dengan wajah yang merona.
"Wuih, Lu bisa tersipu malu juga yah, Rav. Kaya cewek aja," kekeh Fiki yang tak mau melepas kesemoatan untuk meledek Ravka.
"Sumpah Rav, muka lu kocak amat udah kaya tomat mateng di pohonnya," tambah Zai yang ikut terbahak.
Alea menoleh ke arah suaminya yang memeang sudah tampak memerah merata di seluruh wajahnya.
"Beneran Mas, muka kamu merah banget. Kamu ga apa-apa?" tanya Alea khawatir.
Dengan polosnya Alea menyentuh punggung tangannya di dahi Ravka memeriksa suhu tubuh lelaki itu yang justru semakin membuat wajah Ravka memerah menahan malu.
Derai tawa membahana seketika melihat kelakuan sepasang suami istri tersebut. Semua orang di meja itu terkecuali Ravka dan Alea terbahak-bahak seraya memegang perut. Bahkan para wanita sudah mengelurkan air mata yang tak tertahan di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa.
**********************************************
buat yang ga bisa masuk GC aku juga ga fau yah itu kenapa.. tapi besok aku coba tanya ke pihak MT yah.. mudah2an bisa segera masuk ke GC biar kita bisa sing berinteraksi dan saling kenal lebih deket..
oia seperti biasa aku mau promoin karya temenku yah.. siapa tau ada yang suka
__ADS_1