
Sandra meremas jemari tangan Tiara yang duduk disebelahnya. Saat ini mereka sedang berada di kursi penumpang bagian belakang bersama Alea. Sementara di kursi penumpang bagian depan kemarahan Ravka tampak masih membayangi pemuda itu. Sandra duduk mengkerut di tengah-tengah antara Alea dan Tiara. Ada ketakutan yang terselip di dadanya saat mereka sudah semakin mendekati rumah keluarga Dinata. Ia tahu kekecewaan Ayah dan Ibunya tentu akan membuat ia merasa semakin bersalah karena telah berbohong.
Tiara menyadari apa yang dirasakan oleh adiknya itu. Ia berusaha memberikan dukungan dengan mengusap lembut tangan Sandra yang masih meremas tangannya kirinya.
"Kak, apa kamu akan mengatakan kejadian ini pada Mama dan Papa?" tanya Tiara ragu.
"Tentu saja aku akan mengatakannya pada Mama dan Papa," jawab Ravka ketus.
"Kak, bisakah kalau kita tidak mengatakannya pada mereka? Lagipula Sandra tidak apa-apa," Tiara mencoba membujuk Ravka.
Bagaimanapun Sandra memang bersalah, tapi Tiara yakin kalau Sandra sudah mendapat pelajaran dari kejadian hari ini. Kalau sampai orangtua mereka mengetahui kejadian ini, mereka pasti akan memarahi Sandra.
"Tidak apa-apa katamu? Apa kamu tidak lihat bagaimana kondisi Sandra tadi? Dia sangat shock. Kamu bisa bayangkan kalau tadi tidak ada Alea disana? Dan ya, Sandra memang tidak terluka. Tapi bagaimana dengan Alea? Apa kamu tidak bisa melihat apa yang terjadi pada Alea? Kalau saja tidak ada yang menolong mereka tepat waktu, aku tidak tahu bagaimana kondisi mereka sekarang. Kamu masih berani bilang tidak apa-apa?" Ravka memutar tubuhnya dengan sempurna menghadap Tiara di kursi belakang.
Mata Ravka menatap tajam gadis yang tertunduk lesu, menyadari bahwa memang tidak seharusnya dia berbicara seperti itu. Seolah menyepelekan apa yang telah terjadi.
"Aku akan baik-baik saja, Mas. Bukankah kamu bisa menangani masalah ini sendiri, Mas? Jadi, untuk apa memberitahu masalah ini kepada para orangtua?" sambar Alea turut berupaya meyakinkan Ravka.
"Apanya yang baik-baik saja? Pipimu baru kusentuh sedikit saja, Kamu sudah meringis. Lagipula ini masalah penting, orangtua tentu harus mengetahuinya," ucap Ravka tegas tak mau dibantah. "Kalian berdua tidak usah membela Sandra. Walaupun aku tahu Sandra cukup shock akan kejadian ini, tapi bagaimanapun dia tetap bersalah. Jadi dia harus berani mempertanggungjawabkan kesalahannya dihadapan Mama dan Papa. Kamu mengerti Sandra?" Ravka menatap lurus wajah Sandra yang masih tampak pucat pasi.
"A-aku mengerti Mas. Aku akan mengakui kesalahanku dan meminta maaf untuk itu,"
"Bagus kalau kamu mengerti. Karena Mas tidak mau kamu tumbuh sebagai gadis manja yang tidak bertanggungjawab. Mas sungguh tidak percaya kalau kamu ternyata tidak bisa menjaga dirimu sendiri," alis Ravka terlihat menyatu dipangkal hidungnya yang bangir. "Bagaimana bisa kamu pergi dengan seorang pria ke sebuah Villa tanpa memberitahu orangtua dan keluargamu? Bahkan sampai berbohong untuk itu," ucapan Ravka membuat ketiga gadis itu terdiam dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Mereka menyadari apa yang dikatakan oleh Ravka itu bemar adanya. Ditambah lagi mereka cukup lelah malam ini. Jadi tidak perlu harus mendengar ocehan panjang Ravka kalau sampai berani membantah omongan pemuda itu. Masing-masing daribmereka memilih keheningan yang menemani sisa perjalanan mereka.
__ADS_1
******
Ravka menggandeng Alea memasuki kamar mereka, setelah tadi lebih dari satu jam mendengar celoteh para orang tua akibat kejadian hari ini yang menimpa Sandra dan Alea.
Karena kelakuan adik bungsunya itu, semua orang ikut terseret dimarahi Ayah dan Ibu serta Kakek Bayu. Untung saja tidak ada Erika di rumah, sehingga tantenya itu tidak bisa memperpanjang masalah ini dan menahan mereka lebih lama untuk dimarahi. Sementara Alex dan Sherly sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Tentu saja Ravka tak perduli akan itu.
"Sekarang kamu mandi dulu dan istirahat. Aku kebawah sebentar," ucap Ravka lembut.
Kelembutan dalam nada suara Ravka membuat hati Alea bergetar. Entah kenapa akhir-akhir ini ia bisa merasakan perhatian suaminya itu. Baik sikap dan tutur kata pria itu membuat Alea luluh akan daya pikat yang sudah lama menggayut dihatinya. Namun, selama ini ia berusaha untuk tidak terperosok pada pesona itu. Ia selalu berusaha menumbuhkan rasa sayang pada suaminya, agar bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri dengan ikhlas.
Akan tetapi ia bisa meyakinkan dirinya untuk tidak mengharap hal serupa diberikan oleh sang suami. Sayangnya, sikap Ravka akhir-akhir ini membuat benteng yang sudah dibangunnya menjadi rapuh. Parahnya lagi, saat ia menyadari, hatinya sudah luluh lantak penuh pengharapan balasan cinta dari suaminya. Namun ketika mendengar pemuda itu hanya mengasihani dirinya, membuat hati yang lemah itu hancur berkeping-keping.
Mengapa rasanya sesakit ini Mas? Kenapa kamu baik padaku? Aku lebih suka kalau kamu bersikap dingin padaku. Sehingga aku bisa menjaga hatiku agar tidak merasaka sakit sebegini perihnya - tangis Alea kembali menderas di kedua pipinya.
Perlahan Alea melangkahakan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Menenggelamkan diri dengan segala rasa yang bercampur aduk memenuhi rongga dadanya, hingga membuat gadis itu seolah sulit untuk bernafas.
"Kemarilah," pria itu tersenyum manis seraya menepuk ranjang, meminta Alea duduk disebelahnya.
Hati Alea bergetar hebat melihat senyum manis itu.
Hanya dengan melihatmu tersenyum manis seperti itu, kenapa rasanya bisa membahagiakan sekaligus menyakitkan seperti ini Mas? - rintih Alea dalam diam.
Ravka kembali menepuk kasur empuk disampingnya, saat Alea masih berdiri kaku di depan pintu kamar mandi. Alea tersadar dari lamunannya dan membalas senyum sang suami. Ia kemudian menuruti permintaan pria itu untuk duduk disampingnya.
Setelah gadis itu duduk, Ravka memgambil handuk kecil yang sudah ia letakkan es batu di dalamnya di atas nakas dekat tempat tidur. Ia meraih dagu gadis itu, memutar wajah Alea agar menghadap tepat ke arah pandangannya. Dengan gerakan lembut, Ravka mengompres kedua pipi Alea dengan es batu.
__ADS_1
"Shhh..." ringis gadis itu yang masih merasakan perih saat pipinya disentuh.
"Sakit banget ya?" Ravka mengelurakan pertanyaan retorika yang ia sudah tahu pasti jawabannya.
Sorot matanya ikut sayu seperti turut merasakan perih yang dirasakan oleh gadis itu. Diliriknya sudut bibir Alea yang terdapat luka kecil dengan darah membeku disana, membuat suasana hati pemuda itu seketima memburuk.
"Akan aku hajar bajing*n itu hingga dia bisa merasakan sakit berkali lipat dari yang kamu rasakan," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Ravka karena tak lagi bisa menahan geram yang menyiksanya, tatkala melihat bagaimana perbuatan Rama terhadap gadisnya.
"Tidak ada gunanya membalas kejahatan dengan kejahatan serupa. Kamu hanya akan mengotori tanganmu saja, Mas. Cukup beri dia pelajaran agar dia tak mengulangi perbuatan bejatnya terhadap perempuan," sambar Alea.
"Kamu itu kenapa selalu baik pada orang yang bahkan sudah berbuat jahat kepada kamu?" tanya Ravka mengunci manik mata hazel dihadapannya.
Ravka menatap mata Alea dalam, tatapan yang penuh rasa bersalah bahwa ia juga telah berbuat jahat pada gadis sebaik Alea. Gadis yang menumbuhkan benih cinta yang tak dapat ia sangkal dan ia enyahkan begitu saja dari dalam hatinya. Tatapan mata Ravka menyiratkan sejuta rasa. Rasa bersalah, berganti cinta yang mendamba, kemudian sendu tak berdaya.
Sementara dibawah tatapan mata suaminya, hal serupa juga menyeruak di lubuk hati Alea. Tangan Ravka yang masih menggantung di dagunya membuat Alea tak dapat menghindari sorot mata sang suami yang menatap tajam ke kedalaman matanya. Sorot mata yang tak dapat Alea terka, tapi menghadirkan gelora dalam jiwa.
**********************************************
Maafken author yang membuat galau.. dari kemaren sibuk pindahan jadi ga sempet pegang hp, cuma sempet kasih kabar di group..
untuk sementara slow up date dulu yah, minimal 3-4 hari kedepan sampe rumah daku rapih tentram damai aman terkendali... heheheeee
pokoknya aku usahain up tiap hari.. tapi ga janji.. up atau ganya aku kasih kabar di group aja yah.. lagi riweh bener samoe jarang banget pegang hp..
doakan di rumah yang baru moodnya okeh terus jadi biar berloncatan terus inspirasi buat nulis..
__ADS_1
Happy reading yah semuanya.. luv u forever