
Ravka menarik tangan Alea agar bangkit dari duduknya dan mengajak gadis itu mengikuti alunan lagu yang sudah berganti menjadi untaian kata milik Ed Sheeran yang bertajuk Perfect. Sebuah lagu yang menggambarkan kehidupannya kini. Begitu sempurna, dengan segala cinta yang ia miliki dan ia dapatkan dari sang istri. Kini Ravka bisa menegakkan kepala, menantang segala halang rintang yang menghadang dalam membangun rumah tangga bahagia.
Ravka menuntun Alea mengikuti irama musik dengan hentakan kaki perlahan. Meletakkan kedua tangannya pada pinggang ramping Alea dan menuntun lengan gadis itu ke bahunya. Belum habis sebuah lagu dimainkan, Ravka sudah menghentikan dansa yang tengah mereka lakoni. Ia tak kuasa menahan gejolak keinginan memagut bibir ranum yang siap untuk dibelai. Suasana romantis yang tercipta membuatnya langsung mencecap rasa Alea melalui pagutan lembut bibirnya.
"Lihatlah keluar, apa kamu menyukainya?" bisik Ravka saat ia melepas pertautan dua bibir yang menyatu.
Ia kemudian menggeser tubuhnya agak menyamping, agar Alea dapat menyaksikan apa yang terpampang di luar sana.
"Mas, ini sungguh indah sekali," ungkap Alea dengan binar bahagia memancar dari kedua manik matanya.
Gemuruh jantung Alea bertalu-talu di dalam dada saat menyaksikan pemandangan indah yang disuguhkan. Dua penyelam tadi, ternyata belum menyelesaikan aksinya. Keduanya mengeluarkan segenggam demi segenggam kelopak mawar yang mereka tebar sembari berenang. Membuat kelopak-kelopak bunga itu meliuk, berlari saling berebutan mencapai permukaan, dengan latar semburat jingga membias dari tepi langit menembus hingga kedalaman lautan.
Sang Surya mulai bergerak perlahan menuju peraduannya dan mengharap Sang Rembulan mengganti tugasnya menempati singgasana di ujung cakrawala. Bersinar di kegelapan malam menemani para pemimpi dalam buaian.
"Apa kamu tahu, aku sangat menyukai keindahan warna langit saat matahari terbenam." Ravka berbisik di telinga Alea yang sudah menyandarkan tubuhnya pada tubuh lelaki itu.
Ravka memeluk erat tubuh Alea dan meletakkan tangannya pada tangan Alea diatas perut gadis itu.
"Aku juga sangat menyukai sunset. Warna jingga yang memenuhi langit terlihat indah. Terutama hari ini. Keindahananya berlipat ganda saat aku menyaksikannya dengan cara berbeda, di temani seseorang yang berarti dalam hidupku," ungkap Alea seraya merebahkan kepala di dada sang suami.
Menyesap perasaan damai yang merasuk perlahan ke dalam hati. Puas menyaksikan kebesaran Ilahi, Alea memutar tubuhnya membenamkan kepala di dada bidang suaminya seraya memeluk erat tubuh Ravka.
__ADS_1
"Terimakasih, Mas. Untuk semua yang sudah kamu lakukan hari ini. Aku sungguh-sungguh bahagia dan merasa Allah menyayangiku teramat sangat, dengan menjadikanmu sebagai takdirku."
Ravka kembali menarik dagu istrinya saat mendengar perkataan yang meluncur dari bibir mungil di hadapannya. Kembali di sesapnya dengan sepenuh hati bibir yang telah membuatnya serasa terbang melayang, menari bersama bintang-bintang.
"Mas, kita masih berada di tempat umum," desis Alea saat Ravka sudah membebaskan bibirnya.
"Kamu lihat saja, tak ada yang perduli dengan keberadaan kita. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing," ucap Ravka seraya menunjuk penghuni restoran yang lain dengan dagunya.
Di belakang sana Alea dapat melihat mereka memang disibukkan dengan urusan masing-masing. Tetap dengan formasi yang sama. Ines dan Dandy saling berpelukan menatap ribuan kelopak bunga yang bergerak diantara ikan-ikan kecil. Rizka bahkan melakukan hal yang sama dengan dirinya dan Ravka. Saling memadu kasih melalui pertautan bibir dengan sang tunangan tanpa menghiraukan sekitar.
Tak jauh dari sana, Rifzan tetap dengan aksinya mendekati Kania sambil menikmati santapan yang dihidangkan oleh pelayan. Sementara Beni memberengut karena harus terjebak dengan Dimas. Membincangkan hal yang sepertinya tak menarik bagi lelaki itu. Menghadirkan lengkungan tipis di bibir Alea menyaksikan Beni yang memasang wajah masam sepanjang hari.
"Masih ada satu lagi yang ingin aku bicarakan dengan mu," ucap Ravka menuntun Alea kembali menempati kursi mereka.
"Al," Ravka memulai kata setelah menarik nafas panjang dan memghemnuskannya perlahan. Menetralkan hati yang kembali bergemuruh. "Aku tahu, kamu kecewa dengan sikapku kemarin," imbuh lelaki itu hati-hati.
Alea kembali menautkan alis merasa heran dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh suaminya. Ia tak mau kebahagiaan hari ini dinodai dengan segala pikiran buruk kejadian kemarin. Meski ia berusaha membuang jauh segala pikiran negatif yang bersarang di kepala, tapi tak dipungkiri hatinya merasa kelu akan sikap suaminya. Ia pikir Ravka akan dengan senang hati dan bangga memperkenalkannya sebagai istri. Namun, hal itu hanya angan semata.
"Pada awalny aku memang berniat mengenalkan mu pada semua rekan bisnis ku pada acara kemarin." Ravka memulai penjelasannya.
Alea hanya memasang wajah datar mendengar ucapan suaminya. Ia memang membutuhkan penjelasan untuk menenangkan hati yang terlanjur terombang ambing.
__ADS_1
"Hanya saja, aku sudah mendapat kabar kalau acara itu akan banyak dihadiri tamu undangan dan berbagai media. Aku rasa itu bukan saat yang tepat untuk mengumumkan pernikahan kita. Aku tidak ingin kamu dianggap tak memiliki arti, karena mengumumkan pernikahan kita pada acara pernikahan orang lain," Ravka menjeda kaliamatnya lagi, menarik nafas sebelum kembali pada penjelasan yang panjang.
"Lagipula aku tidak mungkin meluruskan pikiran orang lain satu persatu yang mengira kamu hanya sebagai teman kencanku saja. Setelah resepsi Alexander, kita masih akan bertemu orang lain di kesempatan lain yang akan menanyakan hal yang sama. Itu sangat tidak efektif, Al. Bahkan hal itu hanya akan memberikan bahan gunjingan bagi orang-orang yang lebih suka berfikir negatif. Karena aku tak pernah mengakui istriku secara resmi."
Wajah datar Alea perlahan menyunggingkan senyum. Ia tak pernah berfikir sejauh itu. Hidup dikalangan kaum jetset membuat segala sikap yang suaminya lakukan harus diperhitungkan secara matang. Ia akan memikirkan akibat yang ditimbulkan dari sikapnya. Membuat Alea tersadar akan kesalah pamahan yang menggayut di hati.
Tak semestinya ia berkutat dengan pikiran buruk tentang suaminya. Apalagi mengenai dirinya sendiri. Apa yang dilakukan oleh Ravka bukan karena menganggapnya tak layak untuk diakui, tapi justru untuk melindunginya dari gunjingan dan ceomooh orang-orang. Manik mata Alea kembali berkaca-kaca dipenuhi haru yang membuncah di dada.
"Maaf Mas, aku sudah salah paham. Aku kira kamu malu mengakui ku sebagai istri," aku Alea kepada Ravka.
"Karena itu kamu selalu menampakkan wajah sedihmu dan mengabaikanku?!" sergah Ravka membuat Alea semakin salah tingkah.
"Maaf Mas, aku salah," ucap Alea lagi.
"Kamu sendiri yang bilang, kalau apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita harus dilandasi dengan keterbukaan dan saling percaya. Tapi kamu sendiri yang tidak terbuka padaku. Kamu menyimpan rasa sakit dan kecewa mu sendiri," seru Ravka dengan tatapan menguhunus, "Bagaimana kalau aku tidak menyadari apa yang membuatmu sedih? Bisa saja kamu akan terus menyimpannya seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja, dan justru akan berakibat buruk pada pernikahan kita."
"Aku janji, Mas. Mulai sekarang aku akan mengatakan apapun yang aku fikirkan dan aku rasakan kepada kamu. Aku tidak akan lagi menyimpannya sendiri," tutur Alea dengan pasti.
Ia sadar apa yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Tak seharusnya ia terpuruk karena pikiran buruknya sendiri. Seandainya sejak awal ia membicarakan hal ini dengan suaminya, tentulah ia tak perlu berkubang dengan segala sesak yang mendera. Sesak yang seharusnya tak pernah ia rasakan sejak awal jika saja rasa percaya pada suaminya lebih besar dari pada rasa rendah diri yang selalu menghantui dan mengiringi setiap langkahnya.
**********************************************
__ADS_1
Mampir karya temen aku yah sambil nungguin up..