
"Gue duluan yah Al," ucap Vika seraya berlalu dari meja kerjanya di samping Alea saat jam menunjukkan pukul lima petang.
Tak hanya suara Vika yang memenuhi udara di dalam ruangan divisi Business Analys. Keriuhan terjadi setiap jam pulang kantor. Meski mereka tak terlalu akrab satu sama lain secara personal, tapi kekompakan tim di divisi Business Analys cukup menjadi panutan untuk divisi lainnya di BeTrust. Satu persatu meneriakkan ucapan perpisahan sebagai penutup hari, sebelum melangkahkan kaki dengan riang kembali pulang ke istananya masing-masing.
Sementara Alea masih betah bermain-main dengan ponselnya sembari menunggu pesan singkat dari Ravka. Setelah menghabiskan waktu makan siang bersama Ravka, suaminya itu sempat mengatakan bahwa hari ini mereka akan pulang bersama. Jadilah dia hanya mengotak atik ponselnya sembari menunggu, ketika ia hanya tinggal seorang diri di dalam ruang kerja divisi Business Analys.
"Al, bisa kita bicara?" sapa suara yang terdengar sendu di telinga Alea.
"Kak Farash?!" ucap Alea seraya menatap lelaki dihadapannya yang tampak mengguratkan kesedihan di raut wajahnya. "Mau bicara apa, Kak?" tanya Alea kemudian.
Farash terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum ia mengeluarkan suara melalui bibirnya yang bergetar.
"Apa betul gosip yang aku dengar?" suara pemuda itu terdengar berat saat bertanya.
"Gosip? gosip apa?" Alea balik bertanya.
"Bahwa .... " Farash menghela nafas sebelum melanjutkan suara yang seolah tertahan di tenggorokannya.
Ia tak tahu apa yang membuatnya terasa sulit untuk bertanya. Apakah pertanyaan itu sendiri yang sudah cukup membuatnya syok, ataukah karena ia tak siap dengan jawaban yang akan diberikan oleh gadis yang menjadi mimpinya itu.
"Hmmm ..... " gumam Alea menunggu Farash melancarkan suaranya. Alea menarik kedua alisnya, melihat kegugupan yang nyata terlihat dari wajah pemuda dihadapannya saat ini. Pemuda yang dulu pernah mengisi hatinya, tapi berusaha ia tangkis. Kini ia bisa melihat pemuda itu dengan tatapan yang lain, tatapan dengan perasaan tulus seorang adik kepada kakaknya.
"Bahwa .... Kamu sudah menikah?" tanya Farash akhirnya berhasil meloloskan suaranya yang tercekat.
__ADS_1
Wajah Alea seketika membeku, ia tak menyangka secepat itu gosip akan menyebar saat ia berani mengakui statusnya di hadapan rekan kerja. Meski tak dapat dipungkiri, bahwa hal ini cukup membantu untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Farash. Ia tak perlu melewati kecanggungan dan kegugupam saat harus mengatakan hal sebenarnya kepada Farash. Saat ini ia tinggal menjawab pertanyaan sederhana dari pria yang selalu ia akui sebagai kakak sepupunya meski tak pernah ada pertalian darah diantara mereka.
"Maaf Kak, kalau aku sudah mengecewakanmu dengan menutupi statusku. Tapi iya .... Aku memang sudah menikah," jawab Alea lega setelah berhasil mengatakan yang sebenarnya kepada Farash.
"Tapi kenapa Al? kenapa selama ini kamu tidak pernah mengatakan apapun padaku?" sorot mata lelaki itu tampak begitu terluka.
Perasaan meyanyat hati yang dipancarkan dari pendar matanya yang meredup, mengirimkan sinyal kepedihan di hati Alea. Ia pernah sekali melihat wajah itu, wajah yang begitu terluka saat mereka sama-sama harus membuang rasa cinta yang tumbuh di dalam dada. Namun, kini perasaan terluka itu terlihat berlipat ganda menggelayut di pelupuk mata. Hal inilah yang membuat Alea selalu urung mengatakan hal yang sebenarnya kepada Farash. Ia tak tega jika harus kembali melihat dengan mata kepalanya sendiri, lelaki itu kembali jatuh terpuruk. Namun, ini kenyataan yang harus Farash hadapi cepat atau lambat.
"Maaf Kak, aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu," ungkap Alea seraya menundukkan pandangannya.
"Tapi kenapa Al? Apa karena kamu juga sama sepertiku? Kamu juga mencintaiku kan Al?" desak Farash putus asa yang tersirat dalam nada suaranya.
"Maaf Kak, tapi aku sudah berkali-kali mengatakan padamu. Rasa sayangku padamu tak lebih dari rasa sayang seorang saudara," ucap Alea tanpa ragu.
"Tapi aku sungguh mencintaimu Al. Tak adakah sedikit rasa cintamu untukku?" ucap Farash lunglai mencoba berjuang dengan sedikit asa yang tertinggal.
"Aku mencintai suamiku, dengan segenap hatiku," ucap Alea tegas.
"Apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa memahami apa yang aku rasakan untukmu? Aku bersedia melakukan apa saja hanya demi dirimu. Bisakah kamu memahaminya, sedikit saja?" ucap Farash lirih.
"Kak aku mohon berhentilah .... berhenti bersikap seperti ini. Aku mohon padamu, mengertilah bahwa jalan kita sudah berbeda," Alea menarik nafas perlahan. Menyeka setitik air yang menggenangi di sudut matanya. Ia tak bisa melihat orang yang begitu dekat dengannya selama bertahun-tahun jatuh terpuruk dihadapannya. Lelaki dihadapnnya ini sudah menjaga dan melindunginya dari kekejaman paman dan bibi, hingga ia harus berkorban menjauh pergi. Kini ia kembali disaat kehidupan Alea sudah tak lagi sama.
"Takdir kita tidak untuk bersama. mungkin Allah sudah menyiapkan perempuan yang jauh lebih baik untukmu," lanjut Alea berupaya membuat Farash bisa mengerti.
__ADS_1
"Tapi Al .... " Farash mendekat kepada Alea. Berupaya menggapai lengan gadis itu. Secepat kilat Alea menarik tangannya agar tak dapat disentuh oleh Farash.
Hati Farash semakin teriris, mendapati penolakan gadis itu ketika ia berniat menggapainya. Ia teringat semua sikap gadis itu dulu. Bagaimana biasanya Alea bergelayut manja di lengannya. Berbicara dengan suara yang menggetarkan jiwa. Kedekatan yang tak pernah menghadirkan kecanggungan. Atau tapapan mata yang tak pernah menyiratkan kasihan, melainkan rindu mendalam. Semuanya berkelabat dimata Farash menjadi sebuah kenangan yang menggema di kepala. Akan tetapi, kini Alea bahkan tak memberikan ruang bagi pemuda itu untuk menyentuhnya meski hanya seujung kuku.
"Cukup Kak, semakin kamu nekat aku bahkan akan sulit menganggapmu kakakku. Aku menginginkan kita seperti dulu. Bisa berdekatan sebagai Kakak dan adik. Selayaknya Kak Farash dengan Kania. Kita masih bisa bersama sebagai saudara," ucap Alea sarat permohonan.
Farash hanya terpaku mendengar penuturan gadis manis yang ia cintai sejak lama. Tak ada lagi kata yang dapat ia ungkapkan untuk menggapai hati Alea. Ia sudah pasrah kehilangan cinta yang selalu ia jaga.
"Bolehkan aku memelukmu, untuk terakhir kalinya? Mungkin setelah ini, aku tak akan sanggup berdekatan denganmu lagi seperti dulu. Aku berjanji, aku akan berusaha membuang rasa cintaku padamu dan menggantinya menjadi rasa sayang sebagai seorang Kakak,"
Alea terlihat meragu. Ia memang sudah biasa memeluk Farash sebagai seorang saudara. Sudah sejak lama ia tak lagi memakai hati saat berdekatan dengan Farash. Karena sejak lama pula rasa cinta yang tumbuh ia bunuh perlahan dan menggantinya dengan perasaan sayang sebagai saudara. Tapi saat ini, lelaki dihadapannya ini berniat memeluknya bukan sebagai adiknya. Melainkan ucapan perpisahan kepada wanita tercinta, menghadirkan ragu tersemat dalam dada. Namun, ia juga tak tega jika harus menolak permintaan Farash.
"Aku tidak mengizinkannya," suara seorang pria memecah kesunyian yang tercipta antara Alea dan Farash.
Alea tersentak menyadari Suaminya sudah berdiri tepat dibelakang Farash. Sementara Farash terpaku menatap Ravka yang tampak murka. Wajahnya dipenuhi aura gelap yang siap menerkam.
**********************************************
maaf yah kalau up date belom bisa teratur.. masih riweh dengan berbagai hal di dunia nyata. Jadi susah ngehalu.. wkwkwkwkkk
btw sambil nunggu bisa nih baca karya temen baikku... ceritanya seru buat diikuti..
__ADS_1