Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
Part 104# Ancaman


__ADS_3

Ravka terlihat begitu kesal setelah mematikan sambungan video dengan istrinya. Ia kemudian melampiaskan kekesalannya pada bantal lembut yang berisi bulu angsa dengan meremasnya kasar. Wajahnya menahan geram saat menyadari kedua adik perempuannya menetertawakan dirinya habis-habisan lantaran baju tak layak pakai tersebut.


Sialnya, bayangan sang istri mengenakan lingerie merah cerah, menari-nari di kepala. Lekuk tubuhnya yang sexy, mengintip malu dari balik baju yang menutupinya dengan samar. Membakar gairah yang berkobar dalam dada. Membuat bagian tubuhnya yang sensitif bereaksi dengan sangat cepat.


"God, damn it," umpat Ravka seraya menepuk kepalanya sendiri berusaha menyingkirkan pikiran kotor yang tiba-tiba melintas di kepala.


Pemuda itu kemudian menggulingkan tubuh ke sisi tempat tidur dan meraih gagang telpon yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur. Dengan segera ia menekan tiga buah tombol yang menghubungkan dirinya dengan kamar di sebela.


Sementara di kamar sebelah, Nino tampak santai mengutak-atik chanel televisi. Seharian ini ia cukup lelah menjalani aktivitas yang tidak ada habisnya, hingga cukup menguras tenanga. Saatnya ia men-charger energi dalam tubuh dengan menikmati waktu bersantai seorang diri.


Deringan telpon tiba-tiba, membuat Nino menghembuskan nafas kesal. Tak ada yang tahu dimana ia berada malam ini kecuali dirinya sendiri dan si Boss yang super cerewet, meski ia laki-laki tulen. Hal itu menandakan hanya ada dua kemungkinan, kalau tidak pihak hotel tempat ia menginap yang menghubunginya, itu pastilah panggilan telpon dari Ravka. Keduanya pasti membawa masalah bagi dirinya.


"Kesini lu sekarang," hardik Ravka tanpa tedeng aling dari seberang telepon, membuat Nino menjauhkan gagang telepon tersebut dari telinga.


Belum sempat Nino menjawab, nada telpon terputus semakin memekakkan telinga. Pemuda tersebut hanya bisa menarik nafas panjang, sebelum beranjak dari kenyamanan menikmati pelukan dingin, guling dan kasur empuk.


"Ada apa lagi Boss, udah malem ini. Gue juga butuh istirahat," keluh Nino kesal saat sudah berhadapan langsung dengan Ravka.


"Lu beli apaan, buat bini gue?"


"Gue ga beliin bini lu apa-apa. Ga usah Ge Er deh Boss. Siapa juga yang mau kasih bini lu sesuatu?!" balas Nino tak kalah sewot.


"Itu apaan, si baju ga layak pakai kaya begitu? Kan itu lu yang beli?"


"Nah loh, kenapa jadi salah gue?"


"Itu lu yang beli apa bukan?" Delik Ravka tajam membuat Nino sedikit menciut.


"Yah gue yang beli, tapi lu kan udah tau?!"


"Tau darimananya?" hardik Ravka mulai tak sabaran.


"Yah kan gue bilang, Boss lu kalau mau ngasih bini hadiah, jangan yang terlalu umum. Jangan yang standar. Lah terus lu suruh gue cariin. Yaudah gue cariin," jawab Nino santai.


"Tapi kenapa lu ga bilang itu isinya?"


"Kan gue udah nanya elu. Mau diliat dulu ga isinya? Lu bilang ga perlu. Yaudah gue suruh si Bella langsung bungkus lah."


"Gila lu, itu yang bungkus si Bella?" Ravka berteriak seraya melempar bantal di dekatnya ke arah Nino.


Sontak Nino menangkap bantal tersebut dengan gerakan reflek. "Yah mana bisa gue di suruh bungkus kado. Yah gue suruh Bella lah,"

__ADS_1


"Lu emang bener-bener yah, No. Lu mau matiin karakter gue di depan sekretaris gue? Ga bisa apa lu nyuruh pelayan tokonya aja yang bungkusin?"


"Yah kan gue mau kasih lihat lu dulu,"


"Gue ga minta jawaban elu. Pertanyaan retorika b*go," hardik Ravka. "Lagian elu kok bisa-bisanya sih milihin hadiah yang aneh-aneh gitu?"


"Come on Boss, muka lu nafsuan kalo lagi liat bini lu. Gue kan cuma ngebantu biar kalian jadi semakin romantis," jawab Nino santai.


"Gelo lu. Lu tau ga, masalahnya pas Alea buka itu bungkusan kado, Tiara sama Sandra ngeliatin. Abis gue dikatawain," omel Ravka kesal.


Spontan Nino terpingkal-pingkal membayangkan reaksi kedua adik Ravka saat melihat hadiah pemberian pemuda itu untuk istrinya.


"S*alan, dia malah ikut ngetawain," lagi-lagi Ravka melemparkan bantal kepada Nino.


Namun, kali ini semua bantal yang bisa ia jangkau dilemparkannya dengan kencang kepada sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu. Nino hanya bisa menangkis lemparan bantal yang diterimanya secara bertubi-tubi seraya terkikik geli.


"Terus hadiah yang gue pilih, lu kemanain?" seru Ravka galak setelah puas melempari Nino.


"Yah mana gue tau. Lu udah pikun apa gimana sih? Kan gue udah kasih dua-dua hadiahnya ke elu?"


"Emang iya?" Ravka memutar bola matanya mengaduk memori yang tersimpan rapi di dalam kepala.


Pemuda itu tersentak saat menyadari bahwa ia memang membawa pulang dua buah kotak hadiah dan meletakkan keduanya di dalam lemari.


Padahal Ravka rasanya sudah tak sabar ingin melihat reaksi Alea saat membuka hadiah pilihannya. Ia juga berniat mengklarifikasi soal lingerie itu kepada sang istri. Meskipun tak dipungkiri, ia cukup menyukai hadiah pilihan Nino. Ravka sudah berasa panas dingin, tak sabar meminta Alea mengenakan lingerie itu. Pasti Alea akan terlihat cantik dan menawan.


"Kenapa gue lagi-lagi mikirin kesana sih? Si*lan emang nih si Nino," maki Ravka lagi dalam hati.


"Bos udah kan ini. Gue mau istirahat, capek. Males gue ngelihat muka mesum lu," ucap Nino membuat Ravka makin kesal pada Nino.


"Ngomong apa lu barusan?" sergah Ravka.


"Idih, ngaku aja deh. Barusan lu mikirin Alea make lingerie itukan?!" ledek Nino.


"Bulan ini semua lembur dan bonus lu di potong."


"Eh .... eh ..... Ga gitu dong Boss. Ga fair itu namanya. Bulan ini hampir tiap malem loh gue lembur. Harusnya gue dapet lembur tiga kali lipat dari biasanya. Masa lembur gue malah di potong?" Nino mulai panik.


"Lembur lu ga dipotong, tapi minus. Jadi bulan depan lu harus lembur setiap hari, untuk nutupin minus lembur lu tanpa di bayar."


"Wah, wah, wah .... Mana ada di perusahaan peraturan yang begitu Bos?"

__ADS_1


"Adalah gue Bossnya suka-suka gue dong," balas Ravka seraya bersedekap.


"Yah lu mah gitu, maenannya anceman," wajah santai Nino mulai tampak tegang.


Wajah datar Ravka tak bisa ia baca maknanya. Entah temannya itu hanya mempermainkannya ataukah serius karena kesal padanya.


"Lu ga serius kan Rav?" tanya Nino mulai semakin panik.


"Gawat ini, bisa-bisa batal punya apartemen dong gue." Nino membatin.


Selama ini Nino selalu memikirkan keluarganya terlebih dahulu. Enam tahun sudah ia bekerja dengan Ravka, sejak ia dan Ravka menyelesaikan studi pasca sarjana mereka dan terjun kelapangan menangani perusahaan milik Kakek Bayu. Selama itu pula, Nino berhasil mengumpulkan uang untuk membelikan keluarganya sebuah rumah yang nyaman untuk ditempati. Setelah perusahaan Ayahnya mengalami kebangkrutan, mereka terpaksa tinggal dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Hingga ia bisa sesukses sekarang, memenuhi segala kebutuhan kedua orang tua beserta dua orang adiknya. Hingga kini kedua adiknya bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi.


"Ayo dong Rav, lu cuma bercanda kan?! Masa dua bulan gue ga terima lembur dan bonus? Kan lu tau, gue lagi mau beli apartemen? Rav .... " bujuk Nino seraya mendekati Ravka dan memgguncang lengannya.


"Ih apaan sih lu, pegang-pegang? jijik gue. Gue masih doyan cewek ya," ucap Ravka seraya menepis tangan Nino.


"Tapi lu ga seriuskan sama anceman lu tadi?" rengek Nino.


"Tergantung. Mulai sekarang lu harus bikin gue seneng, biar gue ga hangusin lembur sama bonus lu. Satu lagi, akuin ke Alea lu yang beliin itu lingerie. Di depan Tiara ama Sandra," Ravka menaikkan sebelah alisnya seraya menatap tajam Nino.


"Yah ga gitu juga Rav. Masa iya gue ngomongin begituan di depan Tiara? kalo lu mah wajar, lu lakinya kalau beli begituan buat Alea. Nah kalo gue, yang ada adek lo bakalan ngira gue mesum ama bini orang."


"Urusan lu itu. Bukan urusan gue. Pikirin sendiri. Kalo lu berani ngakuin itu, gue beliin apartemen buat lu sebagai gantinya."


"Bener ye. Awas lu kalo boong. Satu lagi, gue yang pilihin apartemennya," sambar Nino cepat.


"Gila lu ya, laki kok matre banget? Duit aja lu cepet. Bini gue aja yang cewek ga matre kaya elu."


"Suka-suka gue lah. Kapan lagi kan gue bisa morotin elu," ucap Nino kemudian ngeloyor pergi begitu saja dari kamar Ravka.


**********************************************


Haalo ha... author kembali menyapa.. Kali ini daku mau berterimakasih atas dukungan kalian semua. Berkat doa dan dukungan kalian cerita ini bisa sampai sini.. Makasih untuk like, komen, dan vote baik poin maupun koin dari kalian semua yah..


oh ya, bagi kalian yang mungkin ada niatan interaksi denga author langsung bisa cuss masuk ke dalam group aku yah.. disitu biasanya aku sering infokan update atau enggaknya..


sekali lagi terimakasih untuk kalian semua yang udah bersedia meluangkan waktu membaca cerita recehku sampai di tahap ini..


see u letter.. happy reading all


oia sambil nunggu up nya boelh diintip karya baru temen aku yah...

__ADS_1




__ADS_2