
"Mas .... kamu bau," ucap Alea setelah terbebas dari belaian bibir Ravka.
"Emang iya aku bau banget?" Ravka mengernyitkan hidungnya saat mencoba mencium ketiaknya sendiri.
"Bau kan .... " ucap Alea menjauhkan kepalanya dari tubuh Ravka.
"Dikit doang," ucap Ravka memanyunkan bibirnya.
"Udah sana mandi dulu gih," Alea mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam kamar.
"Mandiin dong," cengir Ravka seraya mengedipkan mata.
"Ganjen," Alea semakin mendorong suaminya menuju ke kamar mandi. "Emang kamu masih bayi, minta dimandiin"
"Emang si bayi gede kok yang minta dimandiin," kerling Ravka ke bagian bawah tubuhnya.
"Apa sih Mas. Kok kamu jadi mesum begini," ujar Alea tersipu malu.
"Yaudah aku mandi sendiri. Tapi janji yah, habis itu mandiin big baby,"
"Udah sana mandi," ucap Alea setengah menjerit karena malu.
Wajah gadis itu sudah merah padam menahan malu karena sikap Ravka yang baru ia ketahui. Ia sama sekali tak menyangka, pria yang tadinya begitu dingin ternyata otaknya mesum. Meyakinkan dia pada sebuah artikel yang mengatakan sexual pursuit pria dua setengah kali lebih besar ukurannya dari pada wanita, ditambah produksi hormon testosteron pria ternyata sepuluh kali lebih banyak dari wanita sehingga membuat pria lebih sering berpikiran mesum.
Alea kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan perasaan damai setelah melihat senyum kembali hadir di wajah suaminya. Diraihnya sebuah novel islami diatas nakas sebelah tempat tidur yang belum selesai ia baca dari kemarin, lalu tenggelam dalam rangkaian kata kaya makna.
"Pacaran ama buku mulu, punya suami ganteng malah dianggurin," sentak Ravka menarik buku dari tangan Alea.
Gadis itu terkaget karena tak menyadari sejak kapan Ravka selesai mandi. Ia hanya terdiam saat suaminya menarik buku yang tengah ia baca, kemudian menutupnya dan mengembalikkannya ke atas nakas.
Rona merah muda begitu mudah menjalar di wajah Alea, saat ia melihat suaminya berdiri begitu dekat, hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Membiarkan dada bidang Ravka dengan perut sixpack memanjakan matanya.
Rambut lebat dan hitam Ravka yang masih meneteskan air, mengkilat dibawah cahaya sinar lampu. Ravka menjulurkan Tangannya Ke dinding diatas tempat tidur. Menggapai sakelar mematikan lampu di kamarnya. Kemudian menyalakan lampu tidur diatas nakas. Pintu penghubung kamar dengan balkon, sengaja ia biarkan terbuka, membiarkan cahaya rembulan yang bersinar terang dengan sempurna, membias masuk menambah romantis suasana.
"Kalau kamu mau, kamu bisa menyentuhnya," ucap Ravka seraya meraih tangan Alea dan membawanya menyentuh perut kotak-kotak yang menggoda untuk dirasakan langsung dengan belaian tangan.
Alea menggigit bibir bawahnya merasa malu saat Ravka mendapatinya memandang tubuh suaminya itu tanpa berkedip. Alea menggeser pelan telapak tangannya diatas perut menggoda sang suami. Bergerak kaku dan ragu. Membuat Ravka menjadi gemas akan tingkah Alea. Sikap canggung Alea justru semakin menambah gairahnya untuk segera memagut bibir mungil itu dengan rakus. Membawa mereka dalam indahnya cinta yang bergelora di dada.
__ADS_1
"Hey honey .... tidurlah kalau kamu tidak mau baby bangun lagi," Ucap Ravka saat Alea menyusuri tangannya di bahu bidang sang suami setelah percintaan menggebu yang mereka lakukan.
Ravka menarik Alea semakin menempel pada tubuhnya. Menenggelamkan gadis pujaannya itu ke dalam lengannya. Diciumnya puncak kepala istrinya itu, sebelum ia mengarahkan bibirnya ke telinga Alea.
"I love you," bisik Ravka menghadirkan kehangatan di hati Alea.
"I love you too," ucap Alea sebelum terlelap di dalam pelukan suaminya.
*********
Farash berdiri di depan pintu ruang direktur operasional. Pemuda itu tak merasa kaget saat mendapat perintah menghadap ke ruangan direktur operasional setelah kejadian petang kemarin. Ia menarik nafas panjang, mempersiapkan diri menghadapi apa saja yang sedang menantinya di balik pintu itu.
"Pak Ravka meminta anda langsung masuk," ucap Bella setelah meletakkan gagang telpon di tempatnya.
Farash memutar handle pintu, dengan langkah tegap ia memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi Pak," ucap Farash saat Ravka mengangkat kepalanya memperhatikan Farash berjalan ke arahnya.
"Duduklah," perintah Ravka merujuk kursi di hadapannya.
"Apa kau tahu alasanku memanggilmu?" Ravka melemparkan pertanyaan.
"Baiklah, saya to the point saja. Saya dengar kamu mendapat perintah dari Pak Alex untuk memanipulasi data?!" ucap Ravka lugas.
Farash hanya termangu di tempatnya. Ia sama sekali tak menduga alasannya dipanggil ke ruangan ini karena soal manipàulasi data. Saat Alea mendatanginya kala itu, ia belum mengetahui status pernikahan Alea dengan Ravka. Sehingga ia sama sekali tak mengkhawatirkan hal itu bisa sampai ke telinga Ravka.
"Kau tahu, saya bisa membawa masalah ini ke dewan direksi dan membuat kalian terseret dalam masalah yang serius," ucap Ravka tenang, tapi sarat ancaman.
"Tapi aku bisa memberimu kesempatan, mengingat kau mungkin saja hanya pion catur yang dengan sangat mudah akan dikorbankan oleh kakak ku," lanjut Ravka lagi. "Aku memberimu kesempatan untuk memilih, di sebelah mana kau mau berdiri,"
Farash masih terdiam dengan peluh yang mulai menjejak di dahinya. Ia seperti berada diatas titian dengan mulut buaya-buaya lapar di bawahnya siap menerkam, jika ia sampai salah langkah. Kedua pria yang ia hadapai mempunyai kekuatan yang sama besarnya di perusahaan. Semua orang di intern perusahaan tahu, jika otak dibalik kemajuan perusahaan adalah pria yang kini sedang duduk bersedekap dihadapannya. Namun, bagaimanapun Alex memiliki posisi yang lebih tinggi dibanding Ravka, sehingga mereka bisa saja memiliki kartu truf-nya masing-masing.
"Maaf Pak, sebelum saya memutuskan, apa boleh saya bertanya hal yang bersifat pribadi kepada anda?" tanya Farash memberanikan diri.
"Kau sedang bernegosiasi dengan ku?" Ravka menaikkan sebelah alisnya tak suka. "Tapi baiklah, aku akan menuntaskan semua rasa penasaranmu," ucap Ravka dengan senyum meremehkan.
"Sebelum saya bertanya, saya ingin anda mengizinkan saya berbicara bebas. Mungkin saja anda akan menganggap saya lancang. Tapi saya harap kita bisa berbicara sebagai sesama pria dan melepas embel-embel atasan dan bawahan," ucap Farash dengan keyakinan teguh.
__ADS_1
Ravka kembali menaikkan satu alisnya. Memperhtikan dengan seksama tekad pria dihadapannya ini. Ia cukup menyukai Farash yang memiliki karakter kuat dan tak bisa dengan mudah mendapat ancaman dan tekanan dari pihak luar. Ia sepertinya pria yang berpendirian. Tak heran kalau pria itu sempat berada di dalam hati istrinya. Membuat ia patut berbangga karena memiliki saingan yang bisa dikatakan satu level dengannya secara kepribadian.
"Baiklah, kita bisa berbicara sebagai sesama pria. Aku tidak akan menggunakan jabatanku di perusahaan ini untuk membungkam mulutmu. Kau ku izinkan berbicara lancang untuk saat ini,"
"Terimakasih, aku tidak akan sungkan kalau begitu," ucap Farash menyunggingkan senyum karena mendapat kesempatan untuk mengkonfrontasi pria yang menjadi atasannya ini.
Sekarang adalah kesempatan bagi Farash untuk menuntaskan segala hal tentang perasaannya pada Alea. Ia akan membuat keputusan bulat, berkaitan dengan hatinya ketika keluar dari ruangan ini nantinya.
"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Ravka gusar ketika melihat senyum tersungging di bibir Farash.
"Aku baru tau dari Kania kalau kamu dan Alea menikah karena terpaksa," ucap Farash memulai. "Alea selama ini sudah cukup menderita. Jadi aku tidak mau kalau sampai Alea juga mendapat perlakuan tidak adil di rumahmu,"
"Kau tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu. Alea adalah istriku, jadi biarkan aku yang memikirkan apa yang terbaik untuknya. Aku tidak akan mengizinkan lelaki manapun berani memikirkan istriku," ucap Ravka tegas.
"Aku hanya ingin memberimu penawaran. Kamu bisa melepas tanggungjawab yang tidak kamu kehendaki. Aku bersedia menggantikanmu untuk menjaga Alea," ucapFarash seraya melempar tatapan tajam.
Brukk !!!
Farash hampir terjengkang ke belakang karena kaget saat Ravka tiba-tiba mengebrak meja sekuat tenaga.
"Aku mengizinkanmu berbicara lancang, bukan berarti membiarkanmu melewati batasan. Jaga bicaramu tentang istriku,"
"Baiklah. Aku anggap kamu menolak penawaranku. Aku akan menyimpulkan bahwa saat ini pernikahan kalian baik-baik saja," ucap Farash tenang tak teprovokasi dengan ketegangan yang diciptakan oleh Ravka. "Tapi aku tekankan, jika sampai aku melihat Alea menderita, aku tidak akan segan-segan merebutnya dari tanganmu," imbuh Farash dengan sorot mata tajam.
"Dan aku tidak akan membiarkan seorangpun berani mendekati istriku," hardik Ravka dengan nafas naik turun.
Ingin rasanya dia menghajar pria dihadapannya saat ini. Namun, ia terikat dengan ucapannya sendiri yang mengizinkan Farash berbicara lancang.
Farash menarik nafas panjang. Menyelisik dari reaksi Ravka, ia dapat meyakini bahwa pemuda itu mencintai Alea. Gadis kecilnya itu tak akan disia-siakan begitu saja. Saat ini ia akan mempercayai Ravka bisa menjaga Alea dengan baik.
"Baiklah, kita sudahi saja pembicaraan ini. Karena kamu adalah suami dari adikku, maka aku akan mendukungmu," ucap Farash akhirnya.
Ia sengaja menyebut Alea sebagai adiknya, mengirimkan sinyal kepada Ravka agar tak lagi khawatir akan keberadaannya di sekitar Alea. Panggilan adik, mulai kini akan ia sematkan untuk Alea. Agar selalu mengingatkannya untuk membunuh rasa cinta yang sudah mengakar dalam hati bertahun-tahun lamanya.
**********************************************
sambil nunggu up aelanjutnya biaa mampir di karya ini yah.. ceritanya seru....
__ADS_1