Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 109# Aura Mencekam


__ADS_3

Melihat kedatangan mertuanya, Alea dengan paksa melepaskan lengan Ravka yang memeluk pinggangnya. Gadis itu kemudian menegakkan punggung seraya menggeser posisi duduknya hingga memberi jarak antara ia dan sang suami.


"Eh Pak .... Bu .... " Nino yang baru saja membuka matanya lantaran mendengar suara Dilla segera bangkit dari duduknya.


Segera ia meraih tangan kedua orang tua Ravka dan menyalaminya.


"Capek banget kayanya No," ucap Derry memulai percakapan.


"Capeklah Pak. Pekerjaan yang harusnya selesai seminggu dikerjain dalam tiga hari doang. Di peres habis tenaga ku," jawab Nino menggebu, menyambar kesempatan melampiaskan kekesalannya pada Ravka yang terus mendesaknya agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaan dengan sesegera mungkin.


"Itu namanya semangat anak muda No," jawab Derry terkekeh.


"Bukan semangat anak muda Pak. Semangat penganten baru yang ga bisa ninggalin istrinya lama-lama," ledek Nino disambut tawa oleh semua orang yang sedang berada di ruang tengah rumah keluarga dinata, kecuali Ravka dan Alea yang tampak malu dan salah tingkah.


"Sial*n emang nih si Nino," gerutu Ravka dalam hati seraya mendelik tajam kepada asisten pribadinya itu.


"Oh iya No, lu jadi beli apartemen?" sindir Ravka menemukan cara membalas Nino dengan telak.


Pemuda itu mengulum senyum merasa kemenangan sudah berada di genggaman.


"Si Boss mau jatuhin gue di depan keluarganya?! Lu jual gue beli Boss," ucap Nino dalam hati seraya membalas tatapan sengit yang dilayangkan Ravka.


"Kamu mau beli apartemen No?" tanya Dilla antusias.


"Baru rencana aja Bu. Tapi ga tau jadi apa enggaknya. Orang lembur sama bonusku dua bulan ini mau dipangkas sama atasan. Yah apa boleh buat," Nino memasang tampang pasrah.


"Rav .... Maksudnya Nino apa tuh?" tanya Dilla menatap Ravka serius.


"Ah itu bisa-bisanya Nino-nya aja Ma. Orang aku malah mau beliin dia apartemen kok sebagai ganti bonus sama lemburnya," sergah Ravka cepat.


"Tapi syarat dan ketentuan berlaku," ucap Nino seraya memeragakan gerakan telunjuk yang membentuk garis horizontal layaknya iklan di televisi.

__ADS_1


"Emang syaratnya apaan Kak?" sambar Sandra cepat, "Lumayan tau kak kalo syaratnya gampang, bisa dapet apartemen," ucap Sandra dengan mata berbinar.


"Itu tuh, soal kado buat Alea. Dia yang mau ngasih kado ke istrinya, aku yang repot. Udah dibantuin nyari malah aku yang disalahin," ucap Nino sewot.


Sontak Sandra dan Tiara mengulum senyum menahan tawa yang hampir meledak.


Wajah Ravka mulai memerah. Dia yang berniat menjatuhkan Nino kenapa jadi seolah berbalik kepada dirinya sendiri, pikir Ravka kesal.


"Kalian pada ngomongin apa sih?" tanya Dilla penasaran.


"Mas Ravka kemaren kasih kado victoria's secret buat Kak Al," ucap Tiara berbisik di telinga Ibunya.


"Kamu beliin Alea Victoria's Secret Rav?" tanya Dilla terperangah. Tak percaya bahwa anaknya yang jarang dekat dengan perempuan semasa lajangnya, ternyata bisa terpikirkan membeli hadiah seintim itu untuk sang istri.


"Bukan aku yang beli kok." Ravka membela diri.


"Aku yang beli Bu," cengir Nino menyambar cepat kesempatan mengakui pembelian lingerie itu demi mendapatkan sebuah apartemen.


"Bu-bukan begitu, Bu," sambar Nino salah tingkah, tak menyangka kalau Dilla akan bereaksi seolah melihatnya dengan jijik. "Jadi aku tanya sama adekku hadiah istimewa yang ga biasa, buat istri temenku. Terus aku dapet saran buat datengin gerai itu di PIM. Terus itu juga yang pilihin pelayan tokonya kok. Aku sama sekali ga liat isinya kaya apa, suer deh," Nino berucap dengan wajah serius berusaha meyakinkan orang-orang di dalam ruangan.


"Niat ngerjain Ravka kok malah berbalik kena gue sendiri sih. Kacau ini namanya. Awas aja lu ya Rav, kalau sampe ingkar janji beliin gue apartemen," gerutu Nino dalam hati.


"Kalian ini aneh-aneh aja," omel Dilla pada Ravka dan Nino. "Kalau mau beliin Alea hadiah begitu, mending kamu pilih sendiri Rav. Masa harus asisten kamu yang membelikan. Nanti mama akan telpon salah satu gerai langganan Mama buat ngirimin kamu katalognya. Jadi kalau kamu malu dateng ke tokonya langsung, kamu bisa pilih lewat katalog."


Wajah Ravka memerah seketika saat Ibunya ternyata menanggapi serius soal lingerie sia*an itu.


Sementara Alea sudah tak dapat mengangkat kepalanya lantaran malu. Tak jauh dari duduknya Alea, Sandra dan Tiara cekikikan melihat wajah pias kakak iparnya. Derry hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya.


"Maaf Den, permisi. Makan malam sudah siap," ucap Bi Mimah menyelamatkan Alea dari rasa malu berkepanjangan.


"Alahamdulillah Bi," ucap Nino ambigu antara bersyukur akhirnya perut laparnya bisa segera diredakan dan disaat bersamaan bisa kabur dari larva panas yang siap disemburkan oleh Ravka untuknya. "Maaf Bu, ini cacing demonya udah anarkis," kekeh Nino pelan seraya menunjuk perutnya sendiri.

__ADS_1


"Yaudah sana kalian makan dulu," ucap Dilla.


"Ibu sama Bapak ga makan?"


"Kami sudah makan malam tadi," Derry menjawab pertanyaan Nino. "Oh iya No, habis makan kamu nginep disini aja. Tuh kamar kamu udah lama ga ditempati. Udah lama bagetkan, kamu ga pernah lagi nginep disini?! Lagipula kamu kelihatannya capek gitu. Ga usah dipaksain pulang. Istirahat aja dulu disini," imbuh Derry lagi.


"Iya Pak," jawab Nino merasa tak enak menolak permintaan Derry.


Nino kemudian bangkit dari duduknya dan dengan segera melangkah menuju dapur. Dibelakangnya Ravka menyusul dengan segera diikuti oleh Alea.


Ravka berjalan dengan langkah lebar mengejar Nino hingga ia dapat menjangkau pemuda itu ke dalam rangkulannya saat mereka sudah berada di dapur. Dengan sekuat tenaga pemuda itu memiting Nino di lehernya menggunakan lengan.


"Ampun Bos, ampun .... " ucap Nino seraya menepuk-nepuk lengan Ravka di lehernya.


"Lu makin di diemin makin jadi ya," bisik Ravka dengan geraman tertahan.


"Serius Bos, ampun. Lepas dong. Ga bisa nafas nih gue," ucap Nino yang wajahnya sudah mulai memerah akibat pitingan Ravka.


"Al, laki lu mau bunuh gue," teriak Nino pada Alea yang sudah mendahului kedua lelaki itu menuju meja makan.


Alea melemparkan tatapan tajam pada dua pria yang bersikap kekanakan itu. Sedari tadi ia sudah menahan amarah melihat tingkah polah keduanya yang sudah membuat gadis itu malu dihadapan Ibu dan Ayah mertua serta dua adik iparnya.


Ditatap Alea dengan sorot mata menghujam membuat nyali Ravka ciut seketika. Ia kemudian melepaskan pitingannya sembari mengembangkan senyum ragu di bibirnya.


"Kalau sampe Alea marah sama gue, habis lu besok," ancam Ravka menularkan kegugupan merambat di hati Nino.


Pemuda itu kemudian melangkah perlahan menghampiri sang istri yang sudah menguarkan aura siap menerkam lawan.


**********************************************


__ADS_1



__ADS_2