Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 98# Pengkhianatan


__ADS_3

Alex meremas kaleng soft drink di tangannya hingga isinya tumpah berhamburan. Wajahnya sangar mengirimkan remang menakutkan mendapati kenyataan sebenarnya. Ia selalu mengira, wanita yang dinikahinya adalah wanita baik yang pantas dilimpahi kasih sayang. Namun, kenyataannya wanita itu hanyalah seekor rubah betina.


"Don, vodka .... " seru Alex pada bartender yang tampak serius dengan pekerjaanya.


"Vodka?" tanya bartender bernama Doni tersebut menaikkan sebelah alisnya.


Alex hanya menaikkan kedua alisnya sebagai tanda persetujuan.


"Did you like french martini? or moctail?" tanya Doni meyakinkan permintaan Alex.


Doni cukup heran dengan permintaan Alex kali ini. Ia sangat tahu sekali selera Alex akan alkohol. Lelaki itu biasanya lebih suka menikmati vodka dengan campuran berbagai buah segar sehingga rasanya tak terlalu pekat seperti martini atau moctail. Ditambah kadar vodka sangatlah tinggi bisa mencapai enam puluh persen. Sehingga bisa dengan mudahnya membuat peminumnya segera mabuk dan tak sadarkan diri, meski sudah terbiasa dengan minuman beralkohol.


"No .... Vodka," jawab Alex dengan pasti.


"Okay .... just a second," jawab Doni santai.


Doni mengeluarkan satu botol Vodka terbaik berlabel Smirnoff dari frezzer yang terletak di bawah counter. Smirnoff merupakan salah satu vodka terbaik yang bar tersebut miliki diantara deretan botol yang tersusun rapi di dalam bar well yang menempel pada dinding. Brand Vodka produksi inggris tersebut memang merupakan brand terfavorit di seluruh dunia. Dan Alex merupalan salah satu member high end di kelab malam tersebut, sehingga Doni hanya akan memberikan yang terbaik pula bagi Alex.


Alex langsung meneguk cairan bening yang dituang oleh Doni ke dalam seloki dengan sekali teguk. Sensasi terbakar di langit-langit mulutnya membuat Alex mengernyitkan kedua matanya.


"Once more .... " ucap Alex setelah ia menelan sempurna alkohol yang mulai menghangatkan tenggorokannya.


Alex bukannya tak mengetahui cara elegan menikmati minuman satu itu. Namun, ia sedang tak ingin menikmati aroma padi dan gandum saat membuang nafasnya. Ia hanya menginginkan minuman itu untuk mengenyahkan segala keruwetan yang mengacaukan kepalanya.

__ADS_1


Alex langsung meneguk minuman bening yang baru saja disodorkan oleh Doni Hingga tak terasa sudah lebih dari enam seloki kosong berjajar di depan matanya.


"Calm down, Lex," ucap Andri seraya menepuk bahu pemuda yang wajahnya sudah mulai memerah.


Alex mengangkat seloki kosong di tangannya, meminta Doni memberikannya lagi seloki yang sudah terisi kembali. Namun, Andri mengangkat tangannya memberi isyarat pada Doni untuk tak memenuhi permintaan Alex.


"Mending lu ikut gue deh. Dion lagi open table di VIP. Dia lagi ada party sama yang lain. Gabung sama mereka biar lu ga suntuk sendirian disini," ucap Andri mengalihkan perhatian Alex yang mulai tampak sempoyongan.


Andri menarik paksa Alex bangkit dari duduknya dan setengah menggeret Alex menuju bilik yang terletak di bagian belakang kelab tersebut. Mereka melewati dinding kaca yang memisahkan dance floor dekat bar dengan beberapa bilik VIP bagi para pelanggan high end kelab tersebut.


"Halo bro .... kemana aja lu?" sapa Dion saat melihat Alex berjalan sempoyongan dan menghempaskan tubuhnya di footstool seberang sofa berbentuk U yang tengah di dudukinya.


Alex sama sekali tak menjawab sapaannya. Ia langsung meraih cocktail glass ware diatas meja dan langsung menenggaknya.


"Sorry .... gue bakal ganti minuman lu," ucap Alex menceracau.


"Gimana caranya lu mau ganti?" tanya wanita itu seraya menarik sebelah alisnya melihat Alex yang sudah mulai mabuk.


Tanpa tedeng aling, Alex langsung menghampiri wanita tersebut dan menciumnya dengan kasar.


"See .... Lu udah dapet minuman lu lagi kan?!" kekeh Alex melihat wajah wanita itu tampak memerah.


Alex kira wanita itu akan menamparnya. Ah ... Alex tak perduli. Mungkin satu tamparan akan cukup baik untuknya malam ini. Namun, tanpa diduga wanita itu justru merengkuhnya dan mendaratkan ciuman yang cukup menuntut di bibir Alex.

__ADS_1


"Gue kembaliin .... " ucap wanita itu.


"What the hell .... " ucap Alex sebelum membenamkan bibirnya dengan sempurna pada bibir penuh menggoda milik wanita itu, sebelum wanita itu berhasil menjauhkan kepalanya dari kepala Alex setelah ia merasai bibir Alex di bibirnya.


Ciuman panjang dan panas mereka lakoni di depan semua orang di ruang VIP tersebut. Namun, tak satupun diantara mereka menggubris dan memperdulikannya. Mereka seakan tak terusik dengan kelakuan dua anak manusia yang baru bertemu tapi sudah bisa saling memagut dengan membara.


"Oh .... come on. Lu buka kamar kek. Jangan disinilah," ucap Lexi yang mulai jengah melihat pasangan yang tak tahu malu itu saling memagut dengan penuh gairah yang membakar.


Alex menadahkan tangannya meminta seseorang memberikan sesuatu ke telapak tangannya. Andri tentu saja dapat mengerti apa yang diinginkan oleh Alex. Ia segera memberi key card ke tangan pemuda yang masih asik mencecap bibir wanita yang baru saja ia temui.


"Kamar biasa," ucap Andri kemudian.


Alex langsung bangkit berdiri dan membawa gadis itu ke dalam rangkulannya. Ia berjalan menuju tempat yang dimaksudkan oleh Andri. Tempat yang sudah sangat familier bagi pemuda itu. Sebuah kamar tempat ia menghabiskan waktu dengan jala*g ataupun perempuan murahan yang mengunjungi kelab malam itu. Para perempuan yang bersedia melemparkan tubuhnya dengan sukarela ke dalam pelukan Alex.


Tubuh Alex bereaksi dengan begitu cepatnya saat minuman haram itu sudah merasuki tubuhnya. Mengambil alih semua logika dan akal sehatnya. Apalagi sudah lama ia tidak merasakan making love dengan perempuan manapun setelah menikah. Bahkan dengan istrinya sendiri. Alasan menginginkan hubungan yang mendalam, membuat Alex bersabar untuk menuntut haknya pada Sherly. Ia ingin segala sesuatunya berjalan dengan perlahan dan memberikan kesan mendalam saat mereka nantinya memutuskan untuk menjadi suami istri seutuhnya. Sayangnya, belum sampai pada tahap itu ia sudah harus dihadapkan pada kenyataan pahit tentang istrinya.


"You are so yummy, Baby," ucap Alex menggoda saat mereka sudah memasuki kamar dengan penerangan remang.


"Gue ga suka basa basi," ucap wanita itu dengan senyum penuh makna.


"You make me hurt, Babe," senyum smirk tersugging di bibir Alex sebelum ia menerjang wanita dengan balutan mini dress yang menampakkan lekukan tubuhnya dengan sangat jelas.


Wajah Sherly sempat berkelabat di pelupuk matanya saat ia mencumbu wanita itu. Namun, pengkhianatan menyakitkan perempuan itu membuat ia mengenyahkan segala perasaan bersalah yang mulai menjamah hatinya.

__ADS_1


Alex meyakinkan diri, bahwa ia sudah mencoba menjadi sosok lelaki baik sebagai seorang suami, tetapi apa yang terjadi saat ini bentuk kekecewaannya pada sang istri. Istri yang mungkin sama sekali tak pernah menganggapnya lelaki yang patut dipuja dan dihargai sebagai seorang suami. Bahkan mungkin Sherly sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai seorang suami sesungguhnya.


__ADS_2