Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 105# Memulai Kembali


__ADS_3

Erica bertopang pada westefel di depannya sembari menatap wajahnya sendiri di balik cermin. Wajah kuyu dengan mata yang sembab. Hidung tak ubah badut yang diberi pemerah dengan lingkaran mata panda. Sudah hampir dua puluh empat jam dia mengurung diri di dalam kamar. Menangisi kebodohan yang dilakukannya selama ini.


Air masih menetes dari wajah yang sudah berkali-kali ia basuh, tapi tak dapat menghilangkan aura kesedihan dan penyesalan yang menggelayut disana.


"Maafkan Mama Lex, semua ini salah Mama. Mama yang udah ngehancurin hidup kamu. Kesalahan Mama di masa lalu, harus kamu yang menanggungnya. Maafkan Mama, Lex," rintih Erica dengan air mata yang kembali tumpah ruah.


Dibasuhnya sekali lagi wajah yang digenangi air mata sebelum ia keluar dari kamar mandi. Jam di dinding kamar, menandakan bahwa saat ini sudah hampir tengah malam. Ia seperti tak perduli akan waktu yang terus berputar. Sejak kemarin malam, ia sudah tidak keluar dari kamar, barang sejenak. Perih di lambung sama sekali tak membuat ia bergeming. Namun, sekarang ia sudah kehausan. Menguras air mata membuat ia akhirnya dehidrasi. Kerongkongannya sudah terasa kering. Membuat Erica mau tak mau harus melangkahkan kaki menuju dapur.


Ia mengambil air dari cerek yang selalu disediakan oleh asisten rumah tangga diatas meja bar dekat dapur. Ia memghempaskan tubuh rentanya pada kursi bar, lalu menengguk air mineral yang sudah ia tuangkan ke dalam gelas.


"Mbak Erica," sapa Dilla, mengagetkan saudara iparnya itu.


Erica hanya menoleh sekilas. Ia sudah tak punya tenaga untuk bertegang urat dengan perempuan yang selalu ia musuhi selama ini.


"Mbak ga apa-apa?" tanya Dilla saat melihat wajah sembab Erica.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Erica. Wanita yang biasa tampil sempurna dengan riasan menutupi kerutan yang menjejak di wajahnya itu, tampak mematung. Dilla kemudian menarik kursi disebelah Erica dan menjatuhkan tubuh disana. Dia ikut menemani Erica yang larut dalam sedih di keheningan malam. Lama mereka duduk bersisian, melarutkan malam yang semakin kelam.


"Aku minta maaf Mbak, atas perkataan ku kemarin," ucap Dilla memecah keheningan yang membalut keduanya.

__ADS_1


"Kamu tidak salah. Disini aku yang salah," ucap Erica dengan suara bergetar.


Dilla semakin salah tingkah. Tak menyangka bahwa Erica akan mengatakan hal demikian. Mulut Dilla kelu tak tahu bagaimana harus mencairkan kecanggungan diantara mereka.


Bertahun-tahun tinggal bersama dengan salaing sindir membuat Dilla sulit untuk memulai obrolan dari hati ke hati. Namun, melihat wajah Erica saat wanita itu berjalan memasuki dapur, membuat Dilla memberanikan diri duduk di sampingnya. Erica sungguh tampak kacau. Dilla yakin saat ini wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya ini tengah butuh seseorang untuk berbagi.


"Aku minta maaf," ucap Erica membuat Dilla tersentak, "Aku memang orang yang tidak tahu diri," lanjut Erica dengan bulir bening yang kembali menetes.


"Mbak .... " Reflek Dilla merangkul Erica ke dalam pelukannya. Membenamkan wajah yang tampak lelah itu bersandar di bahunya.


"Aku seharusnya memkirkan semua tindakan ku. Sekarang aku menuai dari apa yang sudah kutanam selama ini," ucap Erica sesenggukan, "Rasanya jauh lebih sakit dari pada karma itu berbalik pada ku. Tapi karma itu justru kulimpahkan dengan tanganku sendiri pada Alex." ucap Erica masih terus terisak.


"Tapi jika aku tak terobsesi mendapat pengakuan Papa atas Alex, aku tak akan memaksa putraku menikahi Sherly. Aku selalu beranggapan buruk pada kalian semua. Tapi justru pikiran buruk ku sendiri yang membutakan mata dan hati ku."


"Yang sudah berlalu, biarkan berlalu, Mbak. Tak ada gunanya berlarut-larut dalam penyesalan. Aku yakin Alex bisa melewati semua ini."


"Tapi aku tak hanya menghancurkan masa depan putraku sendiri. Karena rasa Iri dengki ku juga menyebabkan perusahaan dalam masalah," ucap Erica seraya melepaskan pelukan Dilla.


"Mbak ga usah khawatir," imbuh Dilla seraya menarik kedua telapak tangan Erica dan menggenggamnya erat. "Percayakan semuanya pada Ravka dan Alex. Aku yakin, mereka bisa memperbaiki keadaan dengan bimbingan Papa juga Mas Derry," lanjut Dilla dengan senyum tulus tersungging di bibir.

__ADS_1


"Kamu baik Dil, ga salah Papa begitu menyayangi mu."


"Papa juga menyayangi mu Mbak. Karena bagaimanapun, kamu sudah memberikan seorang cucu untuk Papa. Ia hanya tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa sayangnya. Dia sangat perduli pada Mbak Erica dan juga Alex. Hanya saja, terkadang caranya yang terlalu keras seakan menunjukkan hal yang sebaliknya, sehingga sangat mudah untuk di salah artikan."


"Aku baru menyadari, sebetulnya aku yang terlalu kekanakan. Aku yang sudah berbuat salah, tapi aku justru berharap kalian yang menyanjung ku. Mungkin selama ini Allah sudah berusaha menegur ku. tapi aku terlalu angkuh untuk menyadari tegurannya. Hingga aku mendapat tamparan keras dari kejadian ini."


"Kita tak mungkin mengubah yang sudah lalu. Tapi kita bisa memperbaiki apa yang akan datang," ucap Dilla seraya menatap Erica penuh kelembutan.


Segala amarah dan kesal pada tingkah polah Erica selama ini menguap begitu saja, demi mendapat tatapan sendu yang menggenang di pelupuk mata wanita itu. Selama ini komunikasi yang tidak baik diantara mereka, membawa kepahitan mendera Erica hingga membuat wanita itu selalu membuat ulah. Usia dewasa tidak serta merta mematangkan cara berpikir mereka selama ini. Mereka hanya membiarkan rasa benci menguasai hati, hingga terus bergulir seperti bola salju yang semakin membesar. Rasa benci yang tak ada gunanya dan hanya membawa pada kehancuran.


"Mulai sekarang bisakah kita melupakan masa lalu? Kita tata kembali keluarga ini dan saling mendukung sebagaimana mestinya. Meski terlambat, setidaknya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali," imbuh Dilla lagi.


Erica hanya menganggukkan kepala. Tak ada kata yang dapat dia ucap. Kata yang mampu mewakili kelegaan yang menyeruak di dalam hati. Setidaknya kali ini, ia tak mau mengulang kesalahan yang sama, kesalahan karena memupuk penyakit yang bersarang di hati.


"Sekali lagi maafkan aku Dilla. Untuk semua hal yang sudah ku lakuan. Baik saat kita masih muda hingga selama ini kita tinggal bersama," ucap Erica tulus seraya membenamkan pelukan di tubuh Dilla.


"Sama-sama Mbak. Maafkan juga atas khilaf ku dan sikap yang kekanakan," ucap Dilla serayang mengangkat tangannya merengkuh Dilla untuk membalas pelukannya.


Pelukan yang hanya sekejap mata, tapi meluruhkan segala emosi yang terpendam di dada.

__ADS_1


__ADS_2