Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 124# Menenangkan


__ADS_3

Ravka mendudukkan Alea di sofa berlapis Kain Chennile di dalam ruang kerjanya. Setelah itu ia menghampiri meja kerja tak jauh dari sofa dan menekan satu tombol di balik meja tersebut, lalu menghampiri istrinya kembali. Ravka mendaratkan tubuhnya persis di samping Alea dan membawa gadis itu ke dalam rengkuhannya.


Alea menyandarkan kepala ke dada Ravka, berusaha membuang jauh kengerian yang masih tergambar jelas di depan mata. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, demi mengusir segala ketakutan yang menguasai jiwa.


"Pemisi Pak," uacap Bella yang tampak tergesa-gesa memenuhi panggilan atasannya.


"Bel, tolong kamu siapkan teh manis hangat buat istriku," perintah Ravka lugas.


"Baik, Pak," jawab Bella yang langsung undur diri dari ruangan Ravka.


Ravka kembali fokus pada istrinya yang masih menjatuhkan bulir bening dari kedua bola mata indahnya. Ravka hanya bisa membelai rambut hitam bergelombang gadisnya dan membiarkan Alea larut dalam ketakutan yang berwujud tangisan tiada henti.


"Ba-bagaimana dengan pria itu, Mas? A-apa di-dia akan meninggal?" tanya Alea terbata.


"Tidak usah khawatir, bukankah tadi kamu mendengar ambulance sudah tiba? Para petugas medis akan melakukan usaha terbaik mereka demi menyelamatkannya," jawab Ravka seraya menyelipkan rambut Alea yang tergerai di balik telinganya.


"Walau dia lebih pantas kehilangan nyawanya," geram Ravka dalam hati.


"Apa benar dia tidak akan meninggal, Mas?" Alea kembali mengulang pertanyaannya.


Gadis itu berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa tidak akan ada yang akan kehilangan nyawa hari ini. Apalagi dengan cara tragis seperti tadi. Kalau tidak, ia tidak akan bisa membawa mimpi indah lagi dalam lelapnya.


"Aku yakin, semua akan baik-baik saja." Ravka mengecup pelipis gadis itu.


Ia lalu menyapukan kedua jempolnya di pipi Alea menghapus air mata yang masih melekat disana. Alea menghentikan isak tangisnya dan menatap Ravka dengan perasaan mendalam.


"Debora tidak apa-apa kan, Mas?" tanya Alea teringat bagaimana wajah meringis gadia berpostur jangkung tersebut.

__ADS_1


"Dia wanita yang tangguh. Dia bahkan sudah pernah terlibat dalam kondisi yang lebih buruk dari yang baru saja kamu saksikan."


Alea membulatkan bola matanya. Meski ia tahu, profesi yang Debora geluti sudah barang tentu membuat ia terlibat dalam berbagai kondisi dan situasi yang mendebarkan. Namun, Alea sama sekali tak menyangka akan menyaksikan hal itu dengan mata kepala sendiri.


"Aku berhutang budi sama Debora, Mas. Kalau tadi tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi pada kita," ucap Alea bergidik ngeri.


"Iya, kita memang harus mengucapkan terimakasih dengan cara yang benar kepadanya. Aku bersyukur dia bodyguard yang sigap sesuai dengan reputasinya." Ravka bernafas lega dengan pengawal pilihannya, meski tak sedikit uang yang digelontorkan demi memakai jasa wanita itu yang bertarif dua kali lipat dari pengawal profesional lainnya.


Ravka tak perlu banyak memberikan instruksi pada perempuan itu. Ia hanya mengatakan bahwa situasi mulai genting. Hal itu dikarenakan sejak dua hari yang lalu, Rama menghilang dari pengawasan orang suruhan Ravka, sebelum polisi berhasil meringkusnya di tempat persembunyian lelaki itu.


Hanya satu hal yang dapat Ravka pikirkan saat itu. Keselamatan keluarganya terutama Alea dan Sandra sedang terancam. Rama tampaknya sudah menyadari, bahwasanya ia sedang diawasi hingga merasa tersudut. Tentu saja hal tersebut bisa memicu lelaki tak bermoral itu berbuat nekad. Ternyata semua tak meleset dari dugaan.


Untuk itulah, Ravka meminta Debora berpenampilan biasa dan menjaga jarak dari Alea agar bisa meringkus Rama. Karena jika Debora menempel pada Alea, bisa dipastikan Rama akan bersikap waspada. Resiko terburuknya, lelaki itu bisa saja menghilang bak ditelan bumi, hanya untuk kembali membalaskan dendam dengan cara yang keji. Jika samapai hal itu terjadi, Ravka tidak akan pernah bisa merasa aman dan tentram.


"Permisi Pak, ini minumannya." Kehadiran Bella membuyarkan lamunan Ravka.


Sekretarisnya itu sudah membawakan dua gelas teh manis hangat dan meletakkannya di atas meja.


"Untuk saat ini cukup. Kamu teruskan pekerjaanmu. Jika sudah selesai kamu letakkan berkasnya di atas meja. Hari ini kamu lembur sampai jam makan siang. Jadi usahakan sebelum jam makan siang, kamu sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu."


"Baik, Pak," jawab Bella dengan ekspresi datar. "Saya permisi kalau begitu. Lanjut Bella lagi.


Meski dia merasa senang karena hari ini dia tak perlu lembur hingga seharian penuh, Bella harus menahan senyumnya menyeringai lebar. Atmosfir tegang yang dibawa oleh pasangan suami istri di dekatnya ini, membawa kegelisahan meski Bella tidak tahu apa yang mendasarinya. Yang terpenting saat ini adalah, ia segera berlalu agar tidak terlibat terlalu jauh dengan urusan bosnya.


Ravka segera meraih gelas berisi minuman berwarna coklat bening dengan harum khas yang mengepul menyentuh indra penciuman. Di dekatkannya gelas tersebut ke bibir Alea, memaksa gadis itu membuka mulutnya dan menyesap rasa manis yang memberi energi. Alea memang membutuhkan energi lebih setelah menghadapi kejadian yang meninggalkan trauma yang tak akan mudah hilang.


"Sudah, Mas," ucap Alea menepis gelas yang masih menempel di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu sudah lebih tenang?" tanya Ravka penuh perhatian.


Alea menganggukkan kepala seraya memaksakan senyum terukir di bibir. Hanya itu yang dapat Alea lakukan agar sang suami tidak semakin mencemaskan keadaannya.


"Apa tidak sebaiknya kita menyusul ke Rumah Sakit, Mas?" tanya Alea kemudian.


"Kita tunggu kabar dari Nino terlebih dahulu. Kalau tidak ada masalah serius, kita cukup tunggu disini saja. Tapi kalau kita memang dibutuhkan untuk hadir disana, kita akan langsung berangkat," jawab Ravka, "Saat ini prioritas aku adalah kamu," imbuh Ravka lagi.


"Aku tidak apa-apa kok, Mas. Aku sudah bisa menguasai diri," lirih Alea.


"Benar, kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Ravka memastikan.


Alea kembali menganggukkan kepala menjawab pertanyaan suaminya. Kejadian yang baru saja dialaminya, membuat tenggorokan Alea tercekat hingga tak mampu berucap banyak.


"Kalau kamu sudah lebih baik, kamu istirahat disini dulu yah, aku tinggal sebentar. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan," ucap Ravka seraya membaringkan Alea di sofa dan meletakkan bantal kursi di bawah kepala istrinya itu.


Lelaki itu kemudian mengangkat kaki Alea dan meletakkannya di atas sofa. Baru saja hendak beranjak meninggalkan Alea, lengan lelaki itu ditarik oleh sang istri.


"Mas, jangan tinggalin aku sendiri," rintih Alea.


Ravka hanya menarik nafas panjang sebelum menyunggingkan senyum di bibir. Ia mengangkat kepala Alea perlahan dan mengganti bantal kursi dengan pahanya sendiri. Tangannya terus membelai puncak kepala Alea dengan lembut dan penuh perasaan. Membuat ketenangan mengalir di kalbu gadis itu, hingga matanya perlahan meredup dan terpejam.


*********************************************


Hallo Ha.. aku mau menyapa lagi... karena aku lagi seneng sampe pengen salto nih liat ranking nangkring di 50 besar.. waahhh terimakasih banyak yah... Rasanya luar biasa... kalian emang the best deh pokoknya.. oh iya ada yang nanya soal poin gimana ngedapetinnya.. tar aku jelasin di part setelah ini yah.. biar aku buat dulu stepnya..


satu lagi, ada beberapa komen yang bilang males baca ceritaku karena sepotong-sepotong, ada juga yang bilang ga seru karena gantung, atau yang bilang aku ga niat nulis karena menyuguhkan cerita yang belom tamat. Nah, untuk kalian semua aku punya solusi nih, tungguin aja sampe tamat dulu yah baru tar dibaca.. ga lama lagi kok tamatnya.. sabar yah..

__ADS_1


sambil nunggu up bisa mampir karya temenku yah...



__ADS_2