
Ravka kemudian bersedia diajak duduk di sofa ruang tamu tersebut bersama dengan Nino yang baru memasuki Villa setelah memarkirkan mobil. Tak jauh dari Sandra yang masih berada di dalam pelukan Tiara. Dia mendengarkan dengan seksama cerita Mukhlis, pemuda yang menjadi ketua club sekaligus orang yang bertanggung jawab terhadap kegiatan club mereka di Cisarua. Bagaimana seorang Rama tanpa mereka duga bisa berbuat nekad ditengah kegiatan mereka. Untung saja seorang gadis memberitahukan apa yang terjadi melalui panggilan telpon dan turut menjadi korban karena berusaha menolong Sandra.
"Dimana gadis itu sekarang?" tanya Ravka setelah mendengar semua cerita Mukhlis.
"Dia sedang di obati di dapur, dia terluka cukup serius dibandingkan Sandra," jawab Mukhlis.
Ravka beranjak dari duduknya, menghampiri adik kecil kesayangannya yang sudah mulai tampak lebih tenang.
"Sandra, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ravka lembut saat sudah berdiri tepat disamping gadis itu.
"A-aku tidak apa-apa Mas. Kak Alea yang kondisinya lebih parah daripada Aku," ucap Sandra terbata masih sesenggukan disela ucapannya.
"Alea? Alea siapa maksud kamu?"
"Kak Alea, Mas. Alea kita, istri kamu," Sandra menengadahkan kepalanya menatap Ravka.
"Jadi gadis yang menolong kamu itu Alea? Aleaku?" Ravka terdiam jantungnya seakan berhenti berdetak.
"I-iya Mas," ucap Sandra dengan mata sayu.
"Katakan padaku dimana dia sekarang?" hardik Ravka panik.
"A-aku tidak tahu Mas, tadi aku dibawa kesini dan..." ucapan Sandra menggantung begitu saja saat menyadari Ravka meninggalkannya begitu saja.
Pemuda itu berbalik menghampir para Mahasiswa dan Mahasiswi yang menahan nafas saat melihat raut murka yang dilayangkan Ravka.
"Katakan dimana istriku?" tanya Ravka mendelik tajam pada Mukhlis.
Suara pemuda itu tidak melengking, memukul gendang telinga. Ravka berbicara dengan suara bariton pelan penuh penekanan, namun dengan aura membunuh. Membuat aura kegelapan disekitar Ravka memekat menghadirkan remang disekujur tubuh yang mendengar. Serupa auman sang raja hutan menggertak musuh-musuhnya.
"Aku akan mengantar Mas Ravka kebelakang," jawab Mukhlis cepat.
Ketenangan yang sedari tadi diperlihatkannya kini tampak goyah. Iya meyakini bahwa kali ini ia tak akan bisa mengendalikan situasi. Setengah berlari, Mukhlis berjalan cepat menuntun Ravka menuju ruang dapur di dalam Villa tersebut.
*******
__ADS_1
"Shhh," Alea meringis saat Kiko membersihkan luka pada siku tangannya.
"Maaf, aku akan lebih pelan," ucap Kiko berusaha melembutkan gerakan tangannya.
Alea sebenernya lebih memilih membersihkan lukanya sendiri. Namun, kepalanya yang tadi sempat terbentur dinding masih menyisakan perih yang membuat ia sedikit pusing. Belum lagi perih di kedua pipi dan bibirnya yang masih terasa. Sementara Kania yang turut tegang melihat kondisi Alea justru gemetar di tempatnya duduk. Kondisi adik sepupunya itu bahkan lebih shock daripada dirinya sendiri. Jadilah Kiko bak pahlawan kesiangan menawarkan diri membersihkan luka Alea dengan senang hati.
"Lepaskan tanganmu dari istriku," hardik Ravka saat melihat Kiko memegang tangan Alea.
Sontak Kiko mematung kaget mendengar gelegar suara Ravka. Tak hanya pemuda itu yang terkaget. Alea yang tengah dudukpun menahan nafas saat mendengar suara yang dirindukannya memenuhi udara di dalam Villa itu.
Perasaan senang mendengar Ravka mengakui ia sebagai istrinya membuat hati Alea meleleh. Namun, disisi lain rasa bersalah juga menyeruak di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa ia berada ditempat yang tidak seharusnya. Ia sama sekali tak meminta izin suaminya untuk berada ditempat itu saat ini, membuat gadia itu tak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya bisa tertunduk lesu. Jantung gadis itu seakan hendak meloncat menyadari pantofel Ravka semakin melesak mendekatinya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ravka lembut seraya menarik dagu Alea menghadap padanya.
Diliriknya kedua pipi Alea yang mulai membiru. Ujung bibirnya yang pecah tak luput dari perhatian Ravka, membuat pria itu mengatupkan kedua rahangnya menahan geram. Sebelah tangannya terkepal menahan emosi yang mulai memuncak di ubun-ubunnya. Diusapnya lembut pipi lebam gadis yang terus memenuhi ruang hatinya menggunakan punggung tangannya.
"Shhh...." desis Alea terkesiap saat tangan lembut itu menyentuh pipinya yang masih terasa perih.
Rama dengan bobot tubuhnya yang besar tinggi memang sudah memukul Alea dengan sekuat tenaganya hingga meninggalkan bekas yang tak mudah pudar.
Pemuda itu langsung berbalik kepada Kiko yang berdiri tak jauh darinya. Dengan langkah tergesa ia menghampiri Kiko yang tiba-tiba merasa terancam dengan wajah Ravka yang siap menerkam.
"Siapa yang sudah berani memukul Istriku?" seru Ravka dengan teriakan tertahan menghambur dihadapan Kiko.
"Bukan saya Mas," sambar Kiko seraya mengangkat kedua telapak tangannya memberi isyarat menyerah pada amukan Ravka. "Itu semua Rama yang sudah melakukannya. Cuma dia pria yang berani berbuat kejam sama perempuan," imbuh Kiko lagi.
"Bawa bajing*n itu kemari sekarang!" murka Ravka yang tak lagi bisa menahan diri.
"Maaf Mas, tapi Rama sudah dibawa oleh polisi tadi," Mukhlis yang merasa bertanggung jawab akan semua kondisi terjadi pasang badan menghadapi kemurkaan Ravka.
"Apa kamu tahu, yang jadi korban disini adalah Istriku dan adikku. Bisa-bisanya kalian membawa bajing*n itu tanpa seizinku?" geram Ravka.
"Maaf Mas, tapi apa yang sudah dilakukan oleh Rama sudah masuk krimininalitas. Jadi itu sudah masuk ranah kepolisian," jawab Mukhlis lagi.
Bruk!!
__ADS_1
Suara meja digebrak membuat semua orang yang sedang berada diruangan itu terlonjak seketika. Tak terkecuali Alea dan juga Kania yang semakin gemetaran duduk dekat meja makan yang baru saja dipukul oleh Ravka.
"Apa kau bisa menjamin keluargaku bisa mendapat keadilan dengan menyerahkan dia ke kantor polisi, ha?" Ravka memdelik tajam kepada Mukhlis membuat lelaki itu tak berani bergerak barang semilimeterpun. "Apa kau tahu hukum di negara ini sangat mudah diperjual belikan," imbuh Ravka dengan deru nafas memburum.
"Aku yang akan membalas perbuatan bajing*n itu dengan tanganku sendiri,"
"Maaf Mas, sebetulnya aku sudah tahu sepak terjang Rama selama ini. Dia sudah seringkali melakukan perbuatan buruk kepada para gadis. Aku sebetulnya sudah memperingati dia untuk tidak mengganggu anggota Club. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan menjalankan aksinya dengan membawa gadis dari luar kampus," jelas Mukhlis.
"Aku tidak perduli dengan Club mu ini. Aku mau dia dibawa sekarang juga kehadapanku. Ini urusan dia denganku bukan dengan polisi,"
"Aku tahu Mas kalau seharusnya kami menunggu pendapat keluarga Mbak Alea dan juga dik Sandra terkait masalah ini. Hanya saja tadi tak selang berapa lama setelah kejadian itu, beberapa polisi datang kemari dan membawa paksa Rama dengan dalih hukum yang tidak saya mengerti sepenuhnya. Tetapi yang saya tahu, Rama adalah anak salah satu petinggi polisi dengan tanda bintang di bahunya. Aku rasa karena itulah ia selama ini selalu bebas melakukan tindakan bejatnya," jelas Mukhlis lagi.
"Ohh... jadi dia mau cuci tangan setelah berani berbuat hal buruk kepada keluarga Ravka Mahendra Dinata? Baiklah kalau itu yang dia mau," Ravka menurunkan nada bicaranya, tapi dengan aura kemarahan yang semakin mengental.
"No, cari tahu semua tentang petinggi polisi itu. Aku sangat yakin kalau dia pasti memiliki catatan hitam, kalau dia sampai berani melindungi kelakuan tak bermoral anaknya," ucap Ravka kepada Nino yang selalu setia mengekorinya.
"Aku rasa tak sulit menemukan catatan hitam manusia-manusia tak bermoral seperti itu," ucap Nino memahami apa yang akan dilakukan oleh Ravka.
"Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Aku akan menghancurkan keluarganya hingga ke akar-akarnya. Akan kubuat dia merangkak memohon pengampunan kepada Alea dan Sandra," ucap Ravka dengan penekanan.
Ravka kemudian kembali menghampiri Alea, menarik Alea dari kursinya dan merangkul gadis itu ke dalam pelukannya.
"Sekarang, ayo kita pulang," ucap Ravka lembut ditelinga Alea.
Mendengar suara lembut itu menggetarkan hati Alea. Hingga gadis itu akhirnya berani mendongak menatap mata kelam milik suaminya.
"Mas... Aku mau minta maaf," ucap Alea memberanikan diri.
"Kita bicarakan ini nanti. Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Ravka membungkam Alea.
**********************************************
Mohon maaf yah bagi yang merasa ceritanya membosankan, bertele-tele dan juga ga jelas.. karena hanya seginilah yang author mampu.. author masih dalam tahap belajar. maklum penulis amatiran tanpa belajar tentang kepenulisan selain otodidak.. hanya berdasarkan dari suka membaca coba-coba ngehalu sendiri.. yang suka alhamdulillah, terus semangati aku yah supaya bisa jadi penulis yang baik.. yang belum menyukai karya ku tolong doakan semoga kedepannya aku bisa menulis dengan alur dan gaya kepenulisan yang lebih baik..
kalau ada kritik dan saran aku sangat terbukan loh.. karena menyadari kalau aku masih harus belajar banyak.. makasih untuk semua dukungan, kritik, dan saran.. dengan itu semua aku berharap bisa meraih sukses kedepannya.. makasih yah untuk kalian semua.. salam sayang selalu dari aku untuk readersku tercinta...
__ADS_1