Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 69# Tidak Marah


__ADS_3

Alea duduk membisu di kursi penumpang. Pemandangan pepohonan dari kaca jendela mobil yang biasa menarik perhatiannya, kini tak mampu menghipnotis. Gadis itu lebih banyak tertunduk diam sembari mencuri-curi pandang pada sang suami yang tampak fokus pada keruwetan jalan yang sedang padat merayap. Ia seolah diburu waktu ketika beberapa kali mencoba menyalip kendaraan di depannya dan terus membunyikan klakson meminta diberi jalan. Membuat Alea tak berani memulai kata.


"Al tolong hububungi Nino," ucap Ravka mengagetkan Alea.


"Eh iya Mas," ucap Alea hendak mengambil ponselnya di dalam tas.


"Pake Hp-ku aja. Dia sekarang lagi sibuk, ga akan ngangkat telpon kecuali dari nomor ku," imbuh Ravka lagi.


Alea mengambil ponsel Ravka yang tergeletak di dashboard mobil kemudian mencari nama Nino disana. Hanya selang beberapa detik ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, suara Nino sudah menjawab panggilan telponnya.


"Kasih tahu Nino untuk temuin Pak Hendro di Disch Cafe Kemang. Aku ga bisa kesana sekarang. Bilang dia untuk kasih tau Pak Hendro secara detail apa yang tadi udah kita bahas," ucap Ravka cepat masih dengan fokus terhadap jalanan di depannya.


Alea mengulang kembali apa yang diucapkan oleh suaminya yang hanya dibalas singkat oleh Nino, tanpa basa basi atau guyonan receh ala Nino seperti biasanya.


Sepertinya mereka sibuk banget - gumam Alea dalam hati. Ia menghela nafas panjang dan tak lagi mencoba mencari cara untuk meminta maaf kepada Ravka soal makan siang.


Alea akhirnya terlelap di kursi penumpang, tak menyadari bahwa Ravka sudah menghentikan laju mobil di sebuah SPBU di tanjung barat.


Melihat istrinya terlelap di kursi penumpang, Ravka bergeas turun dari mobil perlahan. Sengaja tak membangunkan sang istri agar cepat menyelesaikan urusannya segera. Baru saja keluar dari mobilnya seorang pria berjaket denim menghampiri Ravka. Pria itu memegang dua amplop coklat di dalam genggamannya.


"Ini boss, kita belom bisa dapet yang lebih rinci dari ini. Tapi saya rasa ini bisa jadi pembuka jalan," ucap pria itu penuh keyakinan sembari menyerahkan satu buah amplop coklat ke tangan Ravka.


"Bagaimana dengan keluarga gadis itu? sudah ada perkembangan?" tanya Ravka tak sabar.


"Devina masih menempel sama mereka boss. Tapi sepertinya mereka memang tidak tahu apa-apa. Mungkin karena itu mereka masih aman-aman saja,"


"Lanjutkan kerja kalian sebaik mungkin. Saya tidak mau ada kata gagal,"


"Baik boss,"


"Untuk sementara sebaiknya kamu jangan temui saya di kantor atau di rumah dulu. Jangan juga membahas hal sensitif melalui telpon. Hubungi saya langsung kalau ada yang penting. Untuk sementara, kita ketemu di luar," perintah Ravka tegas.


"Baik boss. Soal Jenderal itu gimana? Apa mau dimainkan sekarang? Saya sudah punya amunisi yang cukup untuk memulai," pria itu berhenti bicara. Memberi jeda bagi ia, melihat ekspresi Ravka dihadapannya.


"Ini semua data yang berhasil saya dapat. Cukup memberi efek kejut buat dia sekeluarga," imbuh pemuda itu seraya menyerahkan amplop coklat yang satu lagi ke tangan Ravka.


"Lakukan secepatnya dengan cara yang cantik. Buat dia tahu siapa yang melakukan itu tapi jangan sampai meninggalkan bukti," ucap Ravka menghadirkan anggukan di kepala pemuda di hadapannya.


"Kalau begitu saya permisi boss," ucap pemuda itu seraya berlalu dengan segera.

__ADS_1


Ravka kembali masuk ke dalam mobil dan mendapati Alea masih terlelap. Ia menghembuskan nafas lega karena tak perlu menjelaskan apapun kepada istrinya itu terkait pertemuan dengan orang suruhannya.


Ravka kembali menyusuri jalan menuju rumahnya. Beruntung jalanan cukup lengang tak sepadat tadi, sehingga ia bisa melajukan mobil dengan leluasa.


****


Bunyi klakson mobil menyadarkan Alea dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Merasa kaget saat melihat Rudi salah seorang satpam di rumah keluarga Dinata tengah membuka pintu pagar rumah.


Kok langsung pulang sih? Bukannya tadi Mas Ravka bilang mau menemui seseorang? - tanya Alea dalam hati.


Alea sama sekali tak menyadari bahwa mereka sempat berhenti di tengah jalan. Rasa lelah karena bekerja seharian, ditambah lapar karena belum makan sejak tadi siang, membuat kantuk menyerangnya cukup hebat. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Membiarkan matanya beradaptasi dengan bias cahaya remang di kegelapan malam.


Ravka menghentikan mobil tepat di depan pintu. Saat memsuki rumah, seperi biasa bi Mimah sudah menyambut mereka dengan sigap. Ravka memberikan kunci mobil kepada Bi Mimah, kemudian terus melaju dengan langkah cepat ke lantai dua menuju kamar miliknya tanpa berkata-kata.


"Malam Non," sapa Bi Mimah pada Alea yang membiarkan suaminya berjalan terlebih dahulu.


"Malam Bi. Oh ya Bi, sepertinya malam ini aku agak capek. Minta tolong siapkan makan malam untuk aku dan Mas Ravka yah," ucap Alea lembut.


Perasaan hati yang tidak tenang membuat Alea malas bermain-main dengan peralatan dapur. Ia ingin berendam air hangat agak lama agar bisa rileks.


"Baik Non," ucap Bi Mimah.


"Makasih yah Bi," ucap Alea sebelum meninggalkan Bi Mimah menyusul Ravka.


"Mas, kamu mau mandi sekarang?" tanya Alea ragu, khawatir mengganggu sang suami yang terlihat fokus dengan berkas-berkas di tangannya.


"Kamu mandi dulu aja," ucap Ravka.


Alea tak membantah, lagipula ia memang ingin segera menyiram air di permukaan kulitnya yang berasa lengket. Setelah beberapa waktu menyegarkan diri, Alea keluar kamar mandi. Melihat suaminya masih asik bekerja.


"Mas kamu ga mau mandi dulu?" tanya Alea lagi.


"Nanti aja," jawab Ravka singkat.


"Mau makan sekarang?"


"Kamu duluan aja,"


Jawaban Ravka yang singkat dan padat membuat Alea kembali memikirkan kejadian tadi siang.

__ADS_1


Apa Mas Ravka marah sama aku ya? - tanya Alea dalam hati. Ia tak berani menyuarakan pertanyaan itu pada sang suami yang masih fokus pada pekerjaannya.


Alea menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Duduk menyandarkan punggung di kepala dipan dengan kaki menjulur ke depan. Dipeluknya bantal dengan kedua lengannya yang mungil. Wajahnya tampak murung dan tak bersemangat. Hatinya seolah diremas kencang karena pikiran jelek terus berputar-putar di kepalanya.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Ravka yang sudah berdiri dihadapan Alea tanpa gadis itu sadari.


"Eh, Mas?" Alea terlonjak kaget mendapati suaminya sudah berdiri didekatnya.


"Sejak di mobil aku perhatikan wajahmu murung. Sekarang kamu bahkan melamun dengan wajah yang kusut," ucap Ravka ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Alea.


"Kamu marah sama aku yah Mas?" sambar Alea cepat menyuarakan isi hati yang sedari tadi terus mengganggu pikirannya.


"Aku marah? Marah kenapa?" Ravka mengerutkan dahi tampak heran.


"Tadi aku lupa membawakanmu makan siang. Pas aku ke ruangan kamu, sekretarismu bilang kamu ga bisa diganggu,"


Ravka tersenyum lepas menyadari apa yang menjadi penyebab wajah sayu istrinya itu.


"Aku ga mungkin marah hanya karena hal sepele seperti itu Al. Yah aku sempet kesel sih, habis aku kelaperan kamunya ga datang-datang," ucap Ravka seraya mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kamu ga telpon aku habis itu? Aku nungguin kamu, malah aku disuruh pulang naek taksi. Udah gitu dari tadi aku dicuekin terus," ucap Alea memelas.


"Haduh istriku sayang, kamu ga liat dari tadi aku sibuk?" ucap Ravka menghadirkan rona merah di wajah Alea.


Baru kali ini Alea mendengar Ravka menyebutnya dengan panggilan sayang. Membuat perasaan Alea luluh seketika.


"Aku kira kamu sengaja sibuk karena marah sama aku," ucap Alea dengan suara bergetar malu.


"Maaf kalau aku sudah buat kamu salah paham. Tapi hari ini ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan sekaligus. Jadi menyita perhatianku sampai tak sempat menghubungi kamu," ucap Ravka lembut.


Dia mengulurkan tangannya menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya. Melihat wajah cantik merona di bawah belaian tangannya membuat pikiran Ravka melayang. Semua kerumitan urusan kantor menghilang bak ditelan kegelapan malam. Digantikan pendar cahaya dari wajah merona dibawah belaian tangannya. Harum vanila dari rambut Alea menusuk penciuman Ravka, mendorong naluri kelelakiannya untuk menyentuh puncak kepala gadisnya. Memberikan ciuman lembut disana seraya menghirup aroma rambutnya dengan rakus.


"Kamu wangi banget," ucap Ravka bergetar diatas kepala Alea.


Setelah puas mencium aroma vanila yang menguar dari puncak kepala Alea, Ravka menjauhkan kepalanya dari gadis itu. Mengalihkan pandangannya pada wajah istrinya yang tertunduk malu. Dibelainya pipi Alea hingga gadis itu mengangkat kepala menengadah menatap Ravka. Dua pasang mata itu saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Sampai keduanya tak menyadari kalau mereka semakin merapatkan diri, mendekatkan kepala satu sama lain hingga tak memberi jarak bagi keduanya.


**********************************************


Maaf yah ga bermaksud nanggung.. author ada panggilan terpaksa karena ada kejadian di luar dugaan.. adek author harus operasi caesar.. jadi harus ke rs sekarang.. minta doanya aja yah..

__ADS_1


nanti dilanjutkan.. lagipula ini proses mikirnya masih lama soalnya adegan selanjutnya bingung menggambarkan dengan kata-kata tapi aku ga bisa nulis yang vulgar.. heheheee...


ditunggu aja kelanjutannya.. tapi belom bisa janjibkapannya..


__ADS_2