
"Tunggu," Sambar Sandra cepat seraya berlari menghampiri Alea.
Alea yang sudah membuka kenop pintu, menghentikan gerakannya. "Iya, ada apa?" Alea memutar kepalanya hingga berhadapan langsung dengan Sandra yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu istrinya Mas Ravka?" Lagi-lagi Sandra langsung melayangkan pertanyaan tanpa mau repot berbasa-basi.
"Iya, aku istrinya Mas Ravka," Entah mengapa kali ini Alea bisa dengan percaya diri mengakui statusnya kepada adik iparnya ini. Toh, adik iparnya ini akan segera tahu status barunya itu, sehingga ia merasa tidak perlu untuk menutupinya.
"Kamu masih muda banget, paling ga jauh beda umurnya sama aku. Kamu udah lulus sekolah belom sih?"
"Jangan ga sopan gitu, Dek. Bagaimanapun orang yang kamu hadapi itu adalah istri dari Mas Ravka. Tunjukan sedikit rasa hormatmu," Hardik Tiara.
"Yah Kak Ara liat sendiri, masa Mas Ravka menikah sama orang kaya dia sih? Ga pantes banget deh bersanding sama Mas Ravka," Sandra berdecak kesal merasa tidak terima perempuan yang terlihat biasa saja yang mendapatkan kakak laki-laki kebanggaannya.
"Emang kenapa? Sejak kapan kamu punya hak untuk men-justice seseorang itu pantas atau tidak pantas akan sesuatu?" Ucap Tiara mengingatkan adiknya. Namun, sesungguhnya sebuah pertanyaan juga tidak bisa ia entaskan dari hatinya. Kenapa Kakak laki-lakinya memilih perempuan yang terlihat jauh lebih muda dari dirinya untuk dijadikan istri.
"Ga apa-apa, aku bisa mengerti akan kekhawatiran Sandra. Tapi yang pasti aku sudah cukup umur untuk menikah. Dan menjawab pertanyaan Sandra tadi, iya aku udah lulus sekolah,"
"Maaf Kak Alea, Sandra sudah tidak sopan dan membuat Kakak tidak nyaman," Ucap Tiara menepis rasa penasaran akan sosok perempuan dihadapannya.
"Ga apa-apa kok, aku bisa mengerti. Aku rasa kamu ga perlu panggil aku Kakak. Sepertinya umurku bahkan lebih muda dari kamu," Ucap Alea kepada Tiara.
__ADS_1
"Yah bagaimanapun kamu adalah istri Kakak ku, jadi walaupun kamu lebih muda aku harus tetap memanggilmu kakak," Ucapan Tiara seketika membuat hati Alea membuncah senang. Merasa akhirnya seseorang bisa menerima kehadirannya. Sorot mata gadis itu memancarkan kebahagiaan, mengirim kehangatan melalui tatapan kepada Adik suaminya itu.
"Dek, kamu duluan gih ke bawah. Aku mau ngomong dulu sama Kak Alea," seru Tiara kepada Sandra.
"Ish, kenapa ga bareng aja sih Kak," Ucap Sandra enggan mengikuti kemauan Kakaknya.
"Udah sana, kamu temenin Mama buat nyiapin makan malam. Nanti aku nyusul,"
"Yaudah deh. Aku ke bawah duluan," Meski berat, tapi Sandra akhirnya menuruti perintah Kakaknya.
"Aku tidak ingin mengajarkan hal yang tidak baik kepada sandra. Jadi aku harap Kak Alea juga melakukan hal yang sama," Ucap Tiara membuat Alea menautkan kedua alisnya.
"Tidak perlu bingung, aku hanya ingin mengatakan kalau aku sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahanmu dengan Mas ravka," Ucapan Tiara memghujam tepat ke jantung Alea. Membuat darah seolah tersendat mengalir ke wajahnya dan membuat wajah Alea pias.
"Aku tidak masalah siapa kamu atau darimana kamu berasal. Selama kamu dapat membuat Mas Ravka bahagia aku akan mendukung keberadaanmu disini. Tapi kalau sampai kehadiranmu hanya membebani Mas Ravka, maka aku akan jadi orang pertama yang akan membuat kamu angkat kaki dari rumah ini," Tiara lemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Alea dengan wajahnya yang pias setelah mendengar penuturan Tiara.
Hilang sudah harapan yang sempat terbersit dihatinya mendapat dukungan dari salah seorang anggota keluarga Dinata. Meski sakit, tapi Alea merasa bersyukur karena ia sudah tidak lagi meneteskan air mata mendapat perlakuan buruk setelah pernikahannya. Hatinya seolah sudah mulai dapat berkompromi dengan situasi yang terus menerus memojokkan dirinya.
Alea bergegas memasuki kamar dan mempersiapkan diri untuk kejadian yang mungkin bisa lebih buruk memukul batinnya.
***************
__ADS_1
Alea duduk di ujung meja, memperhatikan bagaimana keluarga Ravka saling bercengkrama dan saling bersenda gurau. Namun, dari sekian banyak yang dapat Alea perhatikan selama makan malam berlangsung, matanya hanya tertuju pada leher Sherly. Dimana sebuah kalung menempel disana dengan anggun nan mewah. Kalung yang kemarin sempat memenuhi ruang pikirannya.
Arah pandangan Ravka yang duduk disebelahnya juga tak luput dari perhatian Alea. Suaminya itu masih seringkali mencuri pandang pada perempuan yang tertawa penuh kebahagiaan dengan sorot mata yang memuja. Sherly pantas bahagia di tengah keluarga yang menyambut hangat kehadirannya. Sementata dirinya seperti terpinggirkan. Baik ia maupun Ravka hanya menikmati makan malam dalam diam.
"Baiklah, Kakek sepertinya harus kembali ke kamar dan beristirahat. Kalian lanjut saja makannya," Ucap Kakek Bayu setelah menghabiskan makan malam.
"Mama harus menyiapkan obat yang harus diminum Kakek sebelum beristirahat," Ucap Dilla kepada suaminya. Ia juga beranjak dari kursi dan meninggalkan meja makan.
Begitupula dengan suaminya yang langsung mengikuti jejaknya meninggalkan meja makan. Diikuti oleh Tiara dan Sandra yang turut memberikan alasan untuk meninggalkan meja makan.
"Alex, sebaiknya kamu juga ajak istrimu untuk beristirahat. Bukankah besok kalian akan pergi berbulan madu ke Spanyol? Jangan membuang-buang waktu kalian dengan orang yang tidak penting disini," Ucap Erika dengan penekanan setiap katanya. Wanita paruh baya itu melirik Ravka yang tidak bergeming dengan provokasinya.
Sejak kehadiran Erika di rumah ini, wanita itu memang selalu mencari celah untuk memprovokasi keponakan mendiang suaminya itu. Ia tidak bisa menutupi rasa iri atas perlakuan istimewa mertuanya kepada Ravka yang tidak didapat oleh putra semata wayangnya.
"Mama Betul, Ayo sayang kita kembali ke kamar," Alex mengulurkan tangan kepada Sherly yang disambut dengan suka cita oleh perempuan itu. Alex kemudian melingkarkan tangan di pinggang istrinya, memperlihatkan kepemilikannya terhadap gadis cantik itu.
"Huhhh...." Dengus Ravka kesal melihat sikap yang ditunjukkan Alex. "Sungguh kekanak-kanakan. Kau tidak perlu bersikap senorak itu, aku tidak tertarik untuk merebutnya darimu," Maki Ravka kesal.
"Kau tidak tertarik merebutnya dari ku, tapi sedari tadi aku perhatikan kau terus saja melirik istriku," Ucap Alex yang masih dapat menangkap makian yang Ravka lontarkan.
"Maaf Mas Alex, tapi aku rasa Mas Alex tidak perlu khawatir. Setelah ini akan aku pastikan suamiku hanya akan melihat kepada ku," Alea mencoba membela Ravka saat menyadari Ravka hanya diam membisu tidak dapat membalas perkataan Alex.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pastikan apa yang kau ucapkan itu benar-benar terlaksana," Dengus Alex seraya beranjak meninggalkan Alea dan Ravka tanpa menyadari disebelahnya Sherly menahan kesal mendengar ucapan Alea.