Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 147# Memaafkan


__ADS_3

Wanita berusia akhir tiga puluh tahun tersebut, mengurungkan niat beranjak dari tempatnya. Ia melemparkan tatapan meremehkan kepada Ravka. Ia tahu apapun tawaran lelaki itu tentu tidak akan bagua untuknya. Dia adalah seorang profesional yang menjunjung rahasia. Dia hidup tanpa perduli apapun kecuali prinsip profesional yang dipegangnya erat. Namun, rasa penasaran akan tawaran anak muda itu menggelitiknya untuk terus diam mendengarkan lelaki itu bicara.


"Katakan dimana keberadaan Bambang. Aku tahu kau masih intens berkomunikasi dengannya sebelum orang ku menangkap mu. Katakan juga siapa saja yang terlibat dengan usaha percobaan pelenyapan Yuri. Maka aku akan membicarakan soal tuntutanmu kepada jaksa yang akan menabgani kasus mu."


Wanita itu lagi-lagi tergelak seraya melemparkan tatapan mengejek yang sangat kentara.


"Bukankah kau hebat. Kalau kau bisa menemukanku harusnya kau biaa menemukan keberadaan cecunguk itu. Jangan cari dia melalui aku. Aku tidak mau lagi dihubungkan dengan pria brengs*k itu. Satu lagi, persetan dengan semua tawaran mu."


Ravka mengepalkan tangannya kencang. Meski ia tahu bahwa akan menemui jalan buntu jika meminta kerjasama wanita di hadapannya ini, rasa kesal tetap memnuhi rongga dadanya.


"Aku tudak akan melepaskan kalian berdua jika aku sampai keluar dari sini," desis wanita itu kembali melayangkan ancaman.


"Kupastikan kau tidak akan keluar dari penjara sampai kau meregang nyawa. Kau tahu, Alea bisa menjadi saksi bahwa kau yang bersama Yuri sebelum gadis itu mengalami kecelakaan naas yang sengaja kau ciptakan." Ravka yerdiam sejenak, melemparkan tatapan menusuk ke kedalaman manik hitam pekat dihadapannya sebelum kembali meneruskan bicaranya.


"Lagipula kami sudah menyimpan sidik jari di sekitar lokasi kejadian serta pada puing-puing mobil yang sudah meledak di dalam jurang. Kami hanya tinggal mencocokkan dengan milikmu. Selama ini kami kesulitan mencari pemilik sidik jari itu. Tapi dengan keberadaan mu di sini, itu tak lagi menjadi sesuatu hal yang mustahil. Aku juga sudah berhasil menghubungkan transferan dalam jumlah besar antarau Kau, Bambang dan juga Yuri. Jadi kau tidak bisa mengelak lagi," ucap Ravka panjang lebar dengan nada semakin mengintimidasi.


Wajah wanita itu sempat memucat beberapa saat sebelum ia akhirnya bisa menguasai diri dan mendatarkan ekspresinya kembali.

__ADS_1


"Aku ucapkan selamat kalau begitu," ucap wanita itu dengan nada sedikit bergetar.


"Jadi aku akan memberimu kesempatan sekali lagi untuk menerima tawaran ku. Aku tahu, Kalian berdua yang telah membuatku berada di kamar hotel itu, setelah membuatku kehilangan kesadaran, bukan begitu?!"


Sebelum mengetahui belang mantan direktur keuangan di perusahaan milik Kakeknya itu, Ravka sama sekali tak pernah mencurigai lelaki paruh baya itu. Sore sebelum kejadian itu terjadi, ia sedang melaksanakan rapat di sebuah restoran tak jauh dari Mulia Hotel. Saat itu Ravka rapat bersama Bambang dan juga seorang klien besar.


Belum selesai pembahasan rapat mereka, Bambang sudah meninggalkan restoran karena suatu alasan mendesak yang menyangkut keluarganya. Setelah menyelesaikan rapat, Ravka hendak meninggalkan restoran. Namun, tiba-tiba kepalanya diserang sakit yang teramat sangat, hingga ia kehilangan kesadarannya dan terbangun di kamar hotel bersama Alea. Setelah itu ia kesulitan menyusun puzzle yang menyebabkan penjebakan itu terjadi.


"Kalau kau sudah tahu, tak ada gunanya lagi kau bertanya padaku," ucap wanita itu melengos seraya meninggalkan Ravka dan Alea yang masih duduk di ruang jenguk Rutan Kejagung.


"Bersiaplah menerima hukuman seumur hidup. Bahkan aku akan meminta jaksa menuntut mu dengan hukuman mati." Suara Ravka sedikit meninggi karena wanita itu sudah berjalan menjauhi mereka.


Alex memang pernah mengatakan, bahwa orangnya sudah menemui titik terang keberadaan Bambang. Hanya saja, bukti yang berhasil dikumpulkan hanya pengkhianatan terhadap perusahaan. Membuat lelaki itu hanya akan dijerat dengan pasal yang ringan. Padahal jika wanita tadi mau mengakui kerjasama mereka ia bisa membuat Bambang mendekam lama dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Aku tidak menyangka, bahwa Yuri ternyata mencoba menjualku," lirih Alea dengan wajah menerawang jauh setelah wanita tadi menghilang dari pandangan.


Meski tadi ia sempat membela Yuri, tapi tak dapat dipungkiri, rasa sakit itu meninggalkan perih di hati menyadari temannya bisa melakukan hal tega seperti itu terhadapnya.

__ADS_1


"Semuanya sudah lewat, Al. Tidak usah kamu pikirkan lagi. Saat ini Yuri juga sudah membayar perbuatan buruknya terhadapmu," ucap Ravka seraya mengusap kepala Alea menyalurkan ketenangan dalam jiwa gadisnya yang sedang terguncang menghadapi kenyataan pahit.


"Memaafkan dan mengikhlaskan yang telah lalu akan jauh lebih baik bagi kita agar bisa melangkah ke depan dengan ringan," imbuh Ravka lagi menghadirkan senyum di wajah istrinya.


"Kamu benar, Mas. Setidaknya aku sudah mengetahu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Dan aku juga tidak ingin menyimoan dendam. Lagipula selalu ada hikmah dari setiap kejadian," ucap Alea seraya menerbitkan senyum diwajahnya.


Perlahan Alea menghembuskan nafas. Mencoba membuang segala beban yang menghimpit dada. Ravka benar ia harus mengikhlaskan apa yang sudah dilakukan oleh Yuri. Toh saat ini, gadis itu sedang menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.


"Apakah ada orang lain yang terlibat dengan apa yang terjadi pada Yuri, Mas?" tanya Alea seraya mengikuti Ravka yang mulai beranjak dari ruang jenguk Rutan Kejagung.


"Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, hal itu dilakukan oleh wanita itu tanpa perencanaan. Kemungkinan hal itu terjadi secara spontan karena menginginkan kesempurnaan dalam pekerjaannya. Tapi aku tidak tahu, apakah Bambang terlibat atau tidak. Karena seperti kamu dengar sendiri. Dia sama sekali tidak mau bicara."


"Aku rasa sebaiknya kita tutup buku saja untuk masalah ini. Biarkan kasus ini berjalan seperti adanya. Percayakan saja semuanya pada pihak berwajib. Aku tidak mau hal ini sampai mengganggu keluarga kita nantinya."


"Kamu benar, lebih baik kita fokus pada keluarga kita saja," ucap Ravka seraya mencium puncak kepala istrinya kemudian membawa gadis itu kedalam gandengannya. Berjalan bersama menuju parkiran dan bersiap melangkah maju tanpa menengok lagi ke belakang.


*********************************************

__ADS_1


Sudah tuntas semua konflik yang membelit Ravka dan Alea yah.. Setelah ini tinggal satu episode resepsi pernikahan Ravka Alea ya manteman sebelum tutup buku... semoga semua pertanyaan terjawab sudah.. Dan ga ada lagi yang mengganjal...


__ADS_2