
"Haahhh," desah Alea lega setelah menyeruput habis satu gelas jus jeruk.
Hari ini betul-betul melelahkan pikir Alea. Bagaimana tidak, satu harian penuh ia menemani Ibu mertuanya berbelanja dari satu butik ke butik lain di dalam salah satu Mall tebesar di Jakarta. Parahnya lagi selalu saja ada yang dibeli dari sebuah gerai yang mereka singgahi. Hingga Alea tak dapat lagi menghitung jumlah tas belanjaan mereka.
"Udah ah Ma, habis ini kita pulang aja yuk. Sandra capek," rengek Sandra seraya memijat betisnya.
"Segitu aja capek. Kamu tuh emang ga bisa Mama andelin buat nemenin Mama belanja," omel Dilla pada putri bungsunya itu.
"Sandra tu habis dari sekolah langsung nyusul Mama sama Kak Alea kesini tau. Ne, seragam Sandra aja belom ganti. Capek tau Ma," keluh Sandra.
"Tapi belanjanya udah kan Ma?" tanya Alea pada Ibu mertuanya dengan mata mendelik.
"Kamu juga mau bilang capek?" ucap Dilla mengerucutkan bibirnya.
"Lumayan," cengir Alea lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
"Lagian Mama ga capek apa, tiga hari berturut-turut shoping, nyalon, shoping lagi?" cerocos Sandra.
"Ih Mama tuh udah lama ga shoping tau San. Mumpung ada kakak mu yang nemenin Mama. Kamu kan susah kalo di suruh nemenin Mama. Ada maunya aja, baru mau nemenin Mama. Tiara apa lagi, sibuk sama kerjaannya mulu," omel Dilla lagi sembari menyeruput jus alpukat pesanannya.
Alea meringis sendiri dalam hatinya. Memang butuh tenaga ekstra meladeni hobi belanja ibu mertuanya itu. Kalau dipikir-pikir enak juga sesekali menghabiskan waktu dengan memilih barang yang disukai tanpa harus melihat barcode harga yang tertera. Mungkin saking seringnya Dilla berbelanja, kasir-kasir di Mall tersebut seperti sudah tahu SOP melayani Dilla. Tak perlu menyebutkan nominal harga yang harus dibayar. Mereka cukup menggesekkan kartu kredit berwarna hitam yang diserahkan oleh Dilla ke tangan mereka.
Pernah hari pertama setelah pulang berbelanja bersama Ibu mertua dan kedua adik iparnya, Alea melilirk barcode celana jeans yang dipilihnya. Ia hampir saja berteriak kaget saat mengetahui harga sebuah celana jeans yang ia pilih, setara dengan biaya semesteran sewaktu kuliah dulu. Sebuah harga yang terlalu mahal bagi seorang Alea untuk satu buah celana. Setelah itu Alea memilih untuk tidak perlu mengetahui berapa nominal yang dihabiskan Dilla dalam tiap kantong belanjaan yang mereka gotong demi kesehatan jantungnya.
__ADS_1
"Tunggu aja, bentar lagi juga Kak Al bakal ngeluh nemenin Mama belanja. Orang hobi belanjanya Mama itu parah banget. Itu juga pasti ujung-ujungnya bakal di kasih-kasihin orang aja belanjaannya, bukan buat di pake sendiri,"
Benar saja ucapan Sandra, pikir Alea. Ia tak akan sanggup jika menjadikan belanja sebagai salah satu kegiatan favorite-nya. Untuk sesekali mengisi waktu senggang dan mengusir bosan, memanjakan diri dengan berbelanja dan mempercantik diri di salon sungguh menyenangkan. Lebih dari itu sepertinya ia akan sependapat dengan adik iparnya itu.
"Udah belanjanya?" sebuah suara muncul tiba-tiba mengagetkan Alea. Bahkan Dilla yang duduk disebelahnya sampai terbatuk-batuk saking kagetnya.
"Mas Ravka?" tanya Alea setelah memutar kepalanya memastikan suara yang menyapa. "Kok bisa tau kita ada disini?" tanya Alea heran.
Padahal seharian ini Ravka tidak menghubunginya. Tahu-tahu pemuda itu sudah muncul dihadapannya, membuat Alea sungguh terkejut.
"Tuh," tunjuk Ravka pada Sandra dengan bibirnya.
"Mas Ravka nanya, yah aku jawablah. Mana tau dia bakal nyusul kesini," ucap Sandra tak mau disalahkan saat melihat wajah Ibunya memelototinya.
"Mau jemput istri Ravka," ujar Ravka santai.
Pemuda itu menarik kursi kosong di sebelah Alea dan langsung menjatuhkan tubuhnya disana.
"Ngapain pake di jemput segala sih?" tanya Dilla tak senang.
"Mama sudah memonopoli Alea tiga hari full. Dia Ravka tidak izinin kerja supaya bisa istirahat di rumah. Ini malah di ajak jalan sama Mama sampai malam setiap hari," sungut Ravka kesal.
Setelah pulang dari dokter tiga hari yang lalu, Dilla memang selalu mengajak Alea bepergian hingga malam hari. Dikarenakan dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari luka yang dialami Alea dan tentunya ditambah dengan Power Of Mom, membuat Ravka tak dapat menolak permintaan ibunya itu.
__ADS_1
"Istrimu juga pasti bosan kalau menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Jadi yah Mama mengajaknya jalan-jalan untuk menghargai kalian para lelaki," ucap Dilla santai.
"Menghargai kami para lelaki?" tanya Ravka seraya mencetak kerutan dalam di dahinya.
"Yah kalian kan pasti lelah, setiap hari sudah bekerja keras. Jadi kami harus menghargai kerja keras kalian dengan membelanjakan uang yang kalian hasilkan. Bukan begitu Al?"
Alea hanya tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Yah, tidak salah sepenuhnya sih ucapan Ibu mertuanya itu. Untuk apa para suami bekerja keras kalau uangnya tak digunakan sama sekali.
"Baiklah, Mama memang selalu tidak pernah salah," Seru Ravka seraya menghela nafas pasrah. "Sekarang Ravka mau mengajak Alea pulang. Mama pulang sama Sandra aja," ucap Ravka seraya beranjak dari kursinya dan menggandeng tangan Alea agar ikut beranjak dari kursinya.
"Yasudah sana pulang. Mama juga sudah selesai belanjanya. Lagipula Mama pinjam Alea cuma sampai hari ini doang kok. Besok Mama sudah harus kembali berkutat dengan seluruh pekerjaan di Yayasan," ucap Dilla seraya mengibaskan tangan menyuruh anak dan menantunya berlalu dari sana.
"Baguslah kalau begitu, jadi Ravka tidak perlu mencari keberadaan istri Ravka yang selalu menghilang setiap hari," ucap Ravka tak kalah sewot. Alea menepuk pelan lengan Ravka, memgingatkan suaminya itu agat berbicara lebih sopan pada ibunya.
"Al pulang bareng Mas Ravka dulu yah Ma," ucap Alea tak enak hati pada mertuanya itu.
"Makasih yah sayang sudah nemenin Mama belanja. Nanti lain kali kita jalan-jalan bareng lagi yah," senyum merekah di bibir Dilla.
"Rav, ini belanjaannya Alea kok ditinggal sih?" seru Dilla sedikit berteriak saat menyadari anak dan menantunya pergi begitu saja.
"Minta Pak Dito aja bawainnya. Siapa yang mau nge-date bawa-bawa barang begituan?!" jawab Ravka juga agak meninggikan suaranya.
Dengan langkah ringan Ravka menggandeng Alea meninggalkan Ibu dan Adiknya yang hanya tersenyum melihat tingkah pemuda itu. Dilla menghela nafas lega saat melihat hubungan kedua pasangan suami istri itu mulai berjalan semestinya. Ia menyadari bagaimana selama ini baik Ravka dan Alea selalu tampak tertekan menapaki kehidupan baru mereka. Akan tetapi kini ia bisa bernafas lega dan tidur nyenyak setiap harinya. Tak ada lagi hal yang harus ia khawatirkan terkait rumah tangga anaknya. Ia hanya perlu memasrahkan jalan takdir pada Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dia-lah yang mengetahui segala rahasia kehidupan ini.
__ADS_1