Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 83# Dokter Ganteng


__ADS_3

"Apa betul tidak akan meninggalkan bekas, Dok?" tanya Alea sekali lagi pada Dokter pria muda nan tampan yang sedang berjalan menuju kursi tempat ia menerima pasien untuk berkonsultasi.


Alea menuruni ranjang periksa di dalam ruangan itu. Ia berjalan mengekori dokter yang baru saja selesai merawat lukanya, menuju meja konsultasi dan mendaratkan posisi duduknya di sebarang sang Dokter tampan. Disebelahnya Ravka juga setia mengikuti langkah sang istri dan menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah Alea.


Dokter itu tersenyum manis menanggapi pertanyaan Alea untuk kesekian kalinya. Sebagai Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika, pria yang bernama Edo itu sudah terbiasa menghadapi pasien yang selalu menanyakan hal serupa berulang kali.


"Kamu itu dari tadi nanya nya di ulang-ulang terus sih?" omel Ravka sebal.


Pemuda itu sudah tak sabar ingin mengakhiri sesi konsultasi dengan Dokter dihadapannya ini. Ia sudah merasa kegerahan berada di dalam ruangan periksa Dokter Edo. Bukan lantaran pengapnya udara yang membuat Ravka merasa kegerahan, karena pendingin di ruangan itu bekerja dengan sangat baik. Namun, senyum yang seringkali mengembang di bibir sang Dokter tampan itulah yang membuat Ravka kalang kabut.


"Tidak apa-apa kok, Pak. Saya sangat mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ibu. Hampir semua pasien yang mengalami hal serupa akan mengkhawatirkan hal yang sama seperti Ibu. Jadi saya bisa memaklumi," lagi-lagi senyum di bibir Dokter Edo yang ia tepiskan saat mengutarakan pengertiannya atas sikap Alea membuat Ravka jengah.


"Aku hanya takut kalau ternyata lukanya membekas dan tidak bisa hilang," ucap Alea dengan wajah sendu.


"Sayang ..... Kamu itu cantik. Mau bekas lukanya hilang atau tidak, kamu itu akan tetap cantik," seru Ravka dengan nada dibuat selembut mungkin.


Wajah Alea memerah antara senang dan malu bercampur menjadi satu. Rasanya sangat menyenangkan saat Ravka memanggilnya sayang. Namun, ia juga tak dapat menutupi rasa malunya dihadapan Dokter Bedah yang menahan senyum mendengar nada bicara Ravka. Ia jadi merasa seperti remaja alay yang bisa membuat orang disekitar merinding geli.


Sementara Ravka sediri sengaja menunjukkan sikap manis yang berlebihan di depan Dokter Edo, demi menutupi sikap posesif yang mulai muncul ke permukaan setelah selama ini terpendam di dalam dirinya.


Ravka sama sekali tak mengira bahwa dokter yang akan mereka temui masih muda dan memiliki wajah rupawan. Sebelum ini, ia mengira bahwa dokter spesialis yang ditahbiskan sebagai dokter terbaik, sudah berumur. Baru kali ini ia menemui dokter spesialis terbaik masih berusia muda. Bahkan jika diperhatikan, umur dokter itu tak jauh berbeda dengannya. Membuat kecemburuannya menyembul ke permukaan saat Alea terlihat betah berlama-lama berada satu ruangan dengan dokter muda itu.


"Mana ada orang cantik dengan bekas luka diwajahnya," ucap Alea sembari mengerucutkan bibirnya.


"Tadi kan Dokter sudah mengatakan kalau luka itu belum tentu akan menimbulkan bekas yang permanen," sambar Ravka tak sabar.


"Begini saja, Bu Alea tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk saat ini," ucap Dokter Edo menghentikan perdebatan sepasang suami istri yang jika dibiarkan tidak akan ada habisnya.


"Kita lihat saja kondisinya tiga hari lagi. Jika selama masa inflamasi tidak terjadi infeksi, maka kecil kemungkinan luka itu membekas permanen," jelas Dokter Edo dengan sabar sembari menggoreskan pena diatas secarik kertas.


"Berarti kita masih harus kesini lagi Dok?" Ravka menaikkan sebelas alisnya merasa tak senang.


"Saat ini kita sudah memakai modern dressing agar kondisi luka Bu Alea tetap lembab sampai lukanya menutup sempurna. Namun, selama masa itu perban Bu Alea harus diganti setiap tiga hari sekali,"


Ravka menghela nafas perlahan saat menyadari dia harus menahan nafasnya berada di ruangan ini setiap tiga hari sekali.

__ADS_1


"Setelah lukanya menutup sempurna, akan terbentuk jaringan parut yang menimbulkas bekas luka. Tapi bekas itu akan memudar. Selama proses itu kolagen akan tumbuh untuk meregenerasi sel-sel kulit. Kita akan membantu pembentukan pigmen baru melalui makanan yang banyak mengandung kolagen, vitamin C dan juga Vitamin E. Setelah itu kita bisa memeriksa bekas lukanya. Kalau memang pada akhirnya bekas itu terlihat cukup mengganggu buat bu Alea, kita bisa mendiskusikan beberapa metode yang cukup aman dilakukan untuk menghilangkan bekas luka tersebut," lanjut Dokter Edo panjang lebar.


"Berapa lama?" tanya Ravka singkat.


"Kalau yang Bapak maksud berapa lama proses setiap tahapannya saya tidak bisa mengatakan waktu pastinya. Umumnya pemulihan luka seperti yang dialami Bu Alea bisa sembuh sekitar satu sampai dua minggu. Sementara untuk melihat bekas lukanya, kita harus menunggu hingga tiga minggu baru bisa menentukan apakah diperlukan tindakan atau tidak,"


"Apa tidak bisa kalau anda mengirimkan seseorang ke rumah saya untuk merawat luka istri saya?" sambar Ravka cepat.


Mengingat kondisi kantor yang cukup genting, ia tidak bisa sering meninggalkan kantor demi mengantar istrinya ke Rumah sakit untuk perawatan lukanya. Namun, ia juga tak akan rela jika harus membiarkan Alea menemui Dokter Edo tanpa ia dampingi sendiri.


"Untuk tiga hari mendatang, Bu Alea tetap harus datang kemari. Karena kita perlu memeriksakan kondisi lukanya. Jika tidak ada yang serius, saya rasa tidak ada masalah kalau kedepannya kita menjadwalkan perawat dari sini untuk mengunjungi Bu Alea pada sesi berikutnya,"


"Baiklah Dok, saya mengerti," ucap Ravka tak sabar mengakhiri pertemuan kali ini.


"Hmmm .... " Alea membungkam mulutnya seketika manakala Ravka memberikan tatapan tajam yang langsung mengirimkan sinyal dikepala untuk menghentikan ucapannya.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan, Bu?" tanya Dokter Edo tampak sabar dan tenang.


"Tidak Dok, kami cukup mengerti apa yang sudah dokter jelaskan. Kami permisi," sambar Ravka tak memberi kesempatan bagi Alea menjawab pertanyaan yang dilayangkan Dokter Edo.


********


"Kamu tadi sengaja berlama-lama di ruangan dokter?" tanya Ravka tajam di dalam mobil.


Sejak tadi Ravka sudah menahan rasa gatal dihati untuk segera menginterogasi istrinya itu. Namun, gadis yang duduk di balik kursi penumpang itu terlihat mengerutkan dahinya tak mengerti. Ravka memutar tubuhnya menghadapa Alea, menunda keinginannya untuk melajukan mobil.


"Pasti karena dia ganteng jadi menarik perhatian kamu sampai tak mau keluar dari ruangan itu," Ravka menaikkan sebelah alisnya sembari menatap tajam Alea.


"Kamu cemburu sama Dokter Edo?" Alea semakin memperdalam kerutan di dahinya.


Dengan segera Ravka memalingkan wajahnya dari pandangan Alea. Pemuda itu terlihat salah tingkah saat kedapatan bersikap kekanankan.


"Siapa yang cemburu? Apa perlunya aku cemburu sama Dokter yang membuat istriku terpesona sampai tak mau berpaling melihat wajah tampannya," racau Ravka menahan kesal.


Sontak Alea tergelak melihat kelakuan Ravka. Ia sama sekali tak menyangka kalau Ravka bisa cemburu dengan hal-hal tak masuk akal. Jelas-jelas tadi dia sedang mengkhawatirkan luka di wajahnya. Suaminya itu malah berpikir ia sengaja berlama-lama lantaran terpesona dengan sang Dokter.

__ADS_1


"Kamu kenapa jadi ketawain aku sih?" seru Ravka makin keki.


"Habis Mas Ravka lucu sih. Masa iya cemburu sama Dokter?!"


"Siapa yang cemburu? Aku itu kesel karena kamu itu fokus banget ngelihat itu dokter sampe ga mau ngedip," ujar Ravka masih berusaha mengelak.


Itu sih namanya juga cemburu Mas - keluh Alea dalam hati.


"Aku itu betul-betul takut luka ini ngebekas Mas, mana sempat aku mikirin dokter itu apalagi sampe terpesona segala. Aku itu justru mikirin kamu. Kamu itu tinggi, ganteng, tajir lagi. Masa iya punya istri kecil, pendek, sekarang ditambah wajahnya cacat," sungut Alea ikut kesal pada suaminya.


Bibir Ravka melengkung keatas saat mendapat pujian dari Alea. Membuat hati yang sempat mendidih, luluh seketika.


"Emang kenapa kalau kamu pendek? Orang aku sukanya yang pendek. Terus wajah kamu apanya yang cacat sih? orang udah sempurna begitu," ucap Ravka santai.


Meski diucapkan dengan santai, Alea menyadari apa yang dikatakan oleh sang suami untuk menenangkan hatinya yang gundah.


"Kalau beneran ga bisa ilang gimana?" tanya Alea ragu.


"Aku kan udah bilang istriku yang cantik jelita, mau lukanya ngebekas apa enggak kamu tetep paling cantik buat aku. Tapi kalau bekas itu ngeganggu buat kamu, kita bisa pergi ke korea, thailand, amerika, jerman, terserah, kamu tinggal sebutin aja. Kita cari dokter terbaik di dunia biar bisa menghilangkan bekas luka itu," Ravka berucap perlahan dihadapan wajah istrinya sembari menatap intens gadis itu.


Ucapan Ravka cukup menenangkan hati Alea, mengusir gusar yang tercetak jelas di raut wajahnya.


"Bila perlu kita langsung aja cari dokter lain, yang lebih baik mungkin," ucap Ravka sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Kamu masih cemburu sama Dokter Edo?" tanya Alea.


"Makanya besok-besok mukanya biasa aja kalau liat cowok lain," ujar Ravka sewot.


"Iya Mas iya .... Maaf yah .... " ucap Alea mengulum senyum.


*********************************************


Mohon dimaklumi yah author hanya manusia biasa yang adakalanya tepar... Beberapa hari menghilang karena badanku remuk redam, kepala juga lagi di samperin bintang-bintang.. muter aja terus tuh diatas..


kalau aku ga up itu berarti aku lagi bener2 ada kesibukan atau kadang bisa juga karena lagi menemukan kebuntuan dalam merangkai kata. Seperti beberapa hari ini contohnya.. aku lagi tak enak body yang ngebuat aku susah buat ngerangkai kata. Tiap mau nulis tuh bintang joged2.. Makanya baru bisa up sekarang dengan chapter yang ga aku edit ulang... kalau ada kritikan boleh yah... tapi dengan bahasa halus.. nanti aku perbaiki yang salah...

__ADS_1


__ADS_2