
Ravka sedang mengayuh spinning bike saat Alea masuk ke dalam ruang fitnes. Gadis itu meletakkan sebotol air dingin dan satu buah gelas di atas meja di dalam ruang fitnes tersebut. Ravka hanya melihatnya sekilas dan tak lagi menoleh kepada gadis itu seolah tak perduli. Namun ujung matanya terus mengekori pergerakan istrinya itu.
Sudah hampir satu minggu ini pemuda yang memiliki tubuh bugar itu tak lagi menghabiskan waktu olahraga paginya di udara terbuka. Semenjak Alea sibuk di dapur sehabis sholat subuh, semangat Ravka untuk jogging jadi mengendur.
"Tunggu," panggil Ravka kepada Alea saat gadis itu sudah menggenggam handle pintu di tangannya. "Bersiaplah lebih cepat. Mulai hari ini berangkat ke kantor bersama ku," imbuh Ravka saat Alea memutar badan menghadap kepadanya yang sudah dibanjiri dengan peluh.
Alea mematung di tempatnya. Terkejut dengan ajakan suaminya yang tiba-tiba. Mulutnya yang ceriwis membisu seketika.
"Kamu dengar tidak yang aku katakan?" tanya Ravka membuat Alea gelagapan.
"Eh i-iya Mas, dengar," jawab Alea gugup.
"Ya sudah sana cepat bersiap-siap," seru Ravka. Bibirnya sedikit melengkung ke atas. Suasana hatinya mulai membaik setelah semalaman sulit tidur.
*********
Alea menghirup nafas panjang setelah berhasil menyelinap masuk ke dalam lift. Setelah melewati ketegangan sepanjang perjalanan menuju kantor bersama suaminya, akhirnya ia dapat bernafas lega. Selama di dalam mobil tadi, ia merasa kecanggungan yang teramat sangat menerpanya. Sekelabat adegan tadi malam saat Ravka memperhatikan wajahnya lekat, melintas begitu saja tanpa diharapkan. Membuat Alea jadi salah tingkah dan tak berani bersuara selama diperjalanan tadi.
"Alea, hari ini Lu ikut Pak Farash meeting dengan salah satu vendor kita," ucap Firda saat melihat Alea menjatuhkan tubuh di meja kerjanya.
"Apa Mbak? Meeting? Aku?" Alea membelalakkan matanya.
Bagaimana mungkin ia yang baru bekerja beberapa hari sudah diminta untuk mengikuti rapat? Ini kupingnya yang salah dengar atau seniornya ini memang sengaja mau mengerjainya? Rutuk Alea dalam hatinya.
"Gila Lu Fir. Alea baru kerja, mana bisa Lu suruh dia ikut meeting?!" sanggah Vika yang duduk di sebelah meja kerja Alea.
"Pak Farash minta salah satu staf yang menangani data dengan vendor dari PT. Ellios ikut meeting. Kan dari kemaren dia yang ngerjain datanya. Harusnya ga masalah dong buat Alea ikut meeting," jawab Firda acuh.
"Ya.... tapi kan, Alea masih penyesuaian di perusahaan ini. Belum juga mengetahui seleuk beluk perusahaan, masa iya di suruh ikut meeting?" Vika kekeh membela Alea.
"Penyesuaian itu waktu training. Ini dunia kerja, ga perlu adaptasi lama. Lagi pula dia udah pasti tau lah seluk beluk perusahaan. Orang bos baru, ganteng, dia gercep kok," ujar Firda tak memperdulikan protes Vika. "Nih kamu masih punya waktu sampe nanti siang buat pelajarin berkasnya," Firda melemparkan satu map berisi berkas tebal ke atas meja di hadapan Alea.
Alea kembali menghela nafas panjang setelah Firda meninggalkan meja kerjanya. Baru saja ia merasa lega setelah lepas dari ketegangan bersama Ravka, sekarang ia dihadapkan dengan ketegangan lain menghadiri rapat dadakan. Beruntung dia duduk disebelah senior yang baik hati seperti Vika. Dengan sabar Vika bersedia meninggalkan pekerjaannya yang juga menumpuk demi untuk membantu Alea mempelajari segala bahan untuk rapat nanti siang.
"Makasih banyak yah Mbak. Aku ketolong banget sama bantuan Mbak Vika pelajarin berkas-berkas ini. Kalo enggak bisa mati kutu aku pas meeting nanti," ucap Alea lesu.
"Udah santai aja. Lagian Firda emang kelewatan sih. Ini tu kerjaan dia mestinya, malah dilempar ke staf baru," gerutu Vika lebih untuk dirinya sendiri. "Udah sana buruan jalan. Yang semangat, kamu pasti bisa," Vika menyemangati Alea.
__ADS_1
Alea hanya melemparkan senyum sebagai balasan suntikan semangat dari Vika. Gadis itu kemudian berjalan ke ruangan Farash dengan gontai. Berupaya mengumpulkan semangat agar tak terlalu gugup. Ia memusatkan fikirannya pada hal-hal yang positif agar segala sesuatunya juga berjalan dengan baik. Baru saja hendak mengetuk pintu, sang pemilik ruangan sudah terlebih dulu membuka pintu dan bersiap keluar dari peraduannya.
"Alea? Ada apa?" tanya Farash heran melihat Alea sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
"Aku diminta untuk menemani Kak Farash buat meeting," jawab Alea ragu.
"Jadi kamu yang bakalan nemenin aku meeting?!" ucap Farash dengan senyum menyeringai lebar menghiasi bibirnya.
"Iya. Tapi aku kan pegawai baru disini Kak. Takutnya malah membuat malu perusahaan," Alea mengungkapkan isi hati yang sedari tadi dipendamnya.
"Ga perlu khawatir. Kakak yakin kamu pasti bisa. Lagipula yang persentasikan aku. Kamu cukup beritahu data-data yang belum sempat aku hapalkan. Kamu tinggal bacain aja. Bawa semua berkasnyakan?" tanya Fatash lembut.
"Bawa kok," ucapa Alea seraya mengacungkan sebundel map ditangannya.
"Yaudah kalau begitu kita jalan yuk," ajak Ravka sembari menarik tangan Alea.
Dengan canggung Aela menarik tangannya dari genggaman tangan Farash. Meskipun ia sudah biasa bersentuhan dengan lelaki di hadapannya ini, tapi saat ini lelaki itu adalah atasannya. Jadi sudah selayaknya ia menjaga sikap atas nama profesionalitas.
"Emang kita mau kemana?" tanya Alea heran.
"Kita rapatnya di luar. Kebetulan vendor yang akan kita temui diwakili oleh pemiliknya langsung dan dia tidak suka meeting secara formil. Jadi dia mengajak meeting sambil makan siang di restoran," jelas Farash tanpa menghentikan langkahnya.
Setelah memarkirkan mobil di halaman restoran, Farash bergegas menemui pemimpin perusahaan rekanan BeTrust yang katanya sudah tiba sejak lima menit yang lalu.
"Selamat siang, saya Farash wakil dari BeTrust. Maaf sudah membuat anda menunggu," Farash menyodorkan tangannya dihadapan pria yang tampak santai, tapi tak meninggalkan kesan wibawa dari dalam dirinya.
"Selamat siang, saya Zainal. Mari silahkan duduk," Zai menyambut uluran tangan Farash yang mengajaknya berjabat tangan.
Alea disebelah Farash juga turut mengulurkan tangannya kepada Zai yang langsung disambut pemuda itu dengan seringai lebar.
"Senang bertemu kamu lagi Alea," ucap Zai.
"Senang juga bertemu anda Pak Zai," jawab Alea seraya tersenyum manis.
"Oh ayolah Alea, jangan sungkan seperti itu. Panggil saja Zai, seperti waktu itu," uacpa Zai dengan kerlingan mata menggoda.
Farash menautkan alisnya melihat sikap Zai kepada Alea. Kentara sekali dari sikap pria itu kalau ia menunjukkan ketertarikannya kepada Alea secara terbuka.
__ADS_1
Darimana Alea bisa mengenal Pak Zainal ya? Beberapa tahun tidak tinggal dengan Alea, dia sudah banyak berubah. Dari penampilan dan juga kenalannya semua orang penting. Kemarin dia terlihat berteman dengan Pak Nino, sekarang ternyata dia mengenal Pak Zainal? - Farash membatin.
Ada perasaan khawatir yang menyergapnya seketika. Tak dipungkiri, sejak lama ia menaruh perhatian lebih pada gadis di hadapannya ini. Namun, karena orang tuanya, ia terpaksa jauh dari Alea. Dengan segenap daya dia berusaha kembali ke jakarta, tapi mendapati gadis lugu yang terus memenuhi pikirannya kini tampak sudah berbeda.
"Berhubung sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan saja dulu sebelum memulai rapat?" ucap Zai setelah Farash menempati kursi dihadapannya, sementara Alea duduk di sampingnya.
"Tidak masalah, Pak. Saya rasa perut kenyang justru lebih fokus untuk kita rapat nanti," jawab Farash mengiyakan.
Mereka kemudian terlibat perbincangan santai sekedar berbasa basi sambil menunggu menu yang mereka pesan diantarkan oleh pelayan restoran.
"Pak Nino?" Farash terlihat kaget melihat kedatangan asisten direktur operasional ditengah perbincangannya dengan Zai.
"Maaf saya tidak tahu kalao PT. Ellios diwakili oleh anda langsung Pak Zainal," ucap Nino dengan formal.
Meski ia mengenal Zai secara personal, ia selalu bersikap formal kalau memyangkut urusan pekerjaan. Terlebih di hadapannya ada salah satu menejer di BeTrust semakin membuat Nino menjaga sikap.
"No problem. Karena disini sudah ada Nino sepertinya kita tak perlulah bersikap formal. Kami sudah berteman sejak lama," ucap Zai lebih kepada Farash.
Farash hanya menanggapi dengan senyum penuh maklum. Ia juga sudah mendengar kalo pemimpin PT. Ellios rekanan bisnis perusahaan mereka adalah teman dari Ravka, salah satu direktur di BeTrust. Tentu saja ia juga berteman dengan asisten Ravka atau lebih tepatnya jika disebut sebagai orang kepercayaan atasannya itu. Karena Nino sering mewakili Ravka dalam hal apa saja termasuk urusan pribadi maupun urusan perusahaan.
"Oh ya, Ravka nya kemana?" tanya Zai kemudian saat Nino sudah duduk persis disebelahnya.
"Pak Ravka sedang ada pertemuan yang tidak bisa diwakilkan. Tapi setelah dari sana beliau akan langsung datang kemari. Beliau menitipkan permintaan maaf karena tidak bisa langsung kemari," jawab Nino dengan nada formal, masih tetap menjaga wibawanya di depan Farash.
Tak lama setelah itu, pelayan membawa pesanan mereka. Saat sedang asik menyantap makan siang, Nino memperhatikan kalau Zai terus menatap Alea dan sibuk mencari perhatian gadis itu. Sementara disebelahnya Farash tampak kikuk dan menahan geram.
Nino tersenym jahil saat melihat sikap kedua pria dihadapannya itu. Hatinya seolah berteriak senang lantaran punya cara untuk bisa menjahili atasan yang sejak kemarin tak dapat ditebak suasana hatinya. Pagi ini Ravka datang ke kantor dengan mengulum senyum, tapi ia yakin dengan seketika senyum itu bisa berubah menjadi murka. Diambilnya ponsel dari sakunya. Dalam diam Nino memotret Zai yang tengah tersenyum memperhatikan Alea makan dengan sorot mata penuh kekaguman.
**********************************************
Hallo readers ku tercinta, author kembali menyapa nih.. btw sebelum nulis curhatan panjang lebar, aku kasih tau dulu yah part kali ini lebih panjang dari yang biasa loh.. tinggal beberapa kata nyampe 1500 words..
Berhubung aku tuh penulis baru, nulis segitu lama loh, lebih dari tiga jam.. rata-rata 1 part aku nulis yah selama itu, nyampe tiga jam dengan 1000-1200 words.. apalagi kalo aku observasi dulu bisa lebih.. karena kalo sifatnya info aku kudu observasi sama orang yang berpengalaman atau minimal mbah google biar aku ga ngasih info yang menyesatkan dan ga asal ngehalu.
nah sebelum memutuskan menulis aku juga sama kaya kalian gila baca.. apa aja aku baca pokoknya, bahkan tulisan remeh di dindingpun aku baca. Dan yah.. aku bisa ngerti gimana ga enaknya baca karya on going yang nanggung kalo up date dan up datenya ga teratur.. dari emosi yang kepotong sampe kadang jadi lupa awal ceritanya seperti apa.. tapi sekali lagi maaf yah emang kondisinya saat ini aku masih kesulitan ngatur waktu menulis dengan kehidupan real life aku.. jadinya aku up sambil nyuri-nyuri waktu yang ga bisa di prediksi kapannya..
Tapi yang bikin aku selalu nyari waktu buat up date itu yah komen komen kalian yang kaya ngasih suntikan semangat karena ternyata tulisan receh si newbie ini ada yang nungguin.. oh ya kalo boleh aku minta kalian like tiap part dong dan rajin komen walau cuma next.. karena siapa tau dengan like kalian dan komen kalian bisa naikin level aku di aplikasi yang masih betah bertengger di level 6.. siapa tau dalam sebulan ini kalian rajin like n komen, aku bisa naik mininal level 8 atau 9 lah kalo belom bisa ke level 10.. supaya semangatnya doble dari kalian para readers dan juga dari aplikasi. karena level 8 keatas yang dapet apresiasi lebih dari pihak aplikasi.. makasih yah yang udah bersedia baca curhatan ku..
__ADS_1
happy reading.. semoga kalian selalu setia sama Ravka dan alea sampai mereka bisa jadi keluarga samara.. see u later