Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 130# Private Jet


__ADS_3

"Ayo Mas, kita berangkat," ajak Alea mengalihkan perhatian Ravka yang melihat Zainal masih penuh dengan tanda tanya.


Ravka melingkarkan tangannya pada pinggang Alea. Merapatkan tubuh mungil gadis itu hingga tak berjarak dengannya. Diraihnya koper dari tangan Alea dan beranjak mengikuti petugas yang membawa mereka menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.


Di belakangnya, Kania mengerutkan alis melihat perubahan sikap suami kakak sepupunya itu. Ini adalah kali ketiga Kania bertemu dengan Ravka. Pertama kali Kania bertemu Ravka adalah prosesi Akad Nikah mereka. Saat itu, Kania bisa melihat betapa dinginnya pemuda itu. Bahkan bisa membekukan hati orang jika yang menjadi pendampingnya bukanlah seorang Alea. Gadis itu terlalu banyak menyimpan kehangtan hingga Ravka tak mampu membekukan hatinya. Namun, justru pemuda itulah yang kini mencair.


"Aku tidak menyangka kalau Mas Ravka bisa seposesif itu terhadap Kak Al," gumam Kania sembari mengekori mereka. "Tapi Kak Al emang pantes ngedapetin itu semua. Dengan kebaikan dan kesabaran dia selama ini, emang sudah seharusnya ia dilimpahi cinta sebegitu besarnya," ucap Kania seraya mengembangkan senyum.


Dia sudah mendapat cerita bahagia dari Alea beberapa waktu belakangan. Betapa sang suami mulai melimpahkan cinta dan kasih sayangnya. Namun, rasanya sangat sulit mempercayai cerita Alea jika saja ia tak melihatnya dengan mata kepala sendiri seperti saat ini.


"Hei, Kan, itu seriusan yah Kakak kamu nikah sama Ravka?" Rifzan mensejajari langkah Kania.


"Iya lah. Masa nikah bohong-bohongan sih Kak," jawab Kania asal.


"Yah habis kita kok ga ada yang tau kalau dia udah nikah?!" Rifzan seolah masih tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.


"Nikahnya sederhana, Kak. Cuma keluarga aku sama beberapa orang doang yang hadir."


"Kakak kamu ga tekdung duluan kan?" Keraguan terdengar jelas dari nada suara Rifzan saat mempertanyakan penyebab pernikahan yang dirahasiakan oleh temannya itu.


Rifzan tahu betul bagaimana prinsip Ravka selama ini terkait hubungan antara perempuan dan laki-laki. Meski ia bagian dari generasi muda masa kini, tapi ia memiliki batasannya sendiri yang tak pernah ia lewati. Sementara gadis yang menjadi istri Ravka juga terlihat seperti gadis baik-baik dan sederhana. Agak terasa aneh, kalau mereka ternyata tak lebih dari generasi muda yang terjerembap pergaulan bebas.


"Ya enggaklah, Kak. Ngaco. Mereka itu nikahnya aja udah lama. Emang Kak Alea keliatan seperti perempuan hamil?" balas Kania cepat.


"Emang mereka nikah udah berapa lama?" tanya Rifzan penasaran.


"Udah hampir setengah tahun deh kayanya."

__ADS_1


"Apa?!" Pekik Rifzan seraya membekap mulutnya sendiri.


Di belakangnya, baik Zai dan juga Beni yang berjalan merapat dengan Kania dan Rifzan turut kaget lantaran ikut mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Berarti waktu meeting itu mereka udah nikah dong?! Pantesan Nino selalu ngehalangin gue ngedeketin Alea. Tapi kenapa mereka merahasiakan pernikahan mereka yah?" gumam Zai tak habis fikir.


Tak hanya merasa patah hati, perasaan kesal menyempil di hati lantaran Ravka tak pernah menceritakan hal sepenting itu kepada para sahabatnya. Ia bahkan hampir saja menjadi sosok pria kurang ajar yang mencoba merayu dan memikat istri orang. Lebih parahnya istri dari sahabatnya sendiri.


"Ravka pasti punya alasan Zai. Gue rasa sekarang kenapa dia ngajak kita liburan bareng, ada hubungannya sama pernikahannya itu. Buktinya ia sama sekali tak menutupi statusnya di depan kita kan?!" Zai hanya mengangguki ucapan Beni yang dirasa ada benarnya.


Mereka kemudian menyudahi obrolan mengenai pernikahan rahasia sahabatnya itu. Saat ini yang terpenting adalah menikmati kebersamaan mereka. Kalau saja Nino tak membuat liburan kali ini terkesan miserius, mungkin mereka tak punya alasan untuk menciptakan kesempatan untuk berkumpul dan liburan bersama, seperti saat-saat mereka masih remaja dulu. Masa dimana hidup mereka tanpa beban dengan segala problematikanya.


*********


Karena lengangnya jadwal penerbangan di Bandara Halim Perdana Kusuma membuat Bandara ini menjadi pilihan utama untuk bepergian menggunakan pesawat pribadi atau carteran. Namun, fasilitas yang disiapkan oleh bandara tidaklah selengkap Bandara Soekarno Hatta. Seperti saat ini misalnya, mereka terpaksa harus berjalan kaki di runway landasan pacu demi mencapai pesawat yang akan mereka tumpangi, tanpa melewati Passenger transfer Vehicle yang biasa digunakan di Bandara Soekarno Hatta.


"Wow, gila ini pesawat keren banget," ucap Kania tak dapat menutupi kekagumannya melihat pesawat megah tersebut.


Gadis itu tak lagi memperdulikan kesan udik yang bisa saja ditangkap oleh teman-teman Ravka melihat reaksinya yang berlebihan. Cengiran dilayangkan Rifzan saat gadis itu terlihat menggemaskan dengan kepolosannya.


"Kamu belum pernah naik private jet?" tanya Rifzan kemudian.


"Belom. Ini pertama kali. Makanya aku excited banget," jawab Kania dengan mata berbinar penuh semangat.


"Selamat menikmati kalau begitu," ucap Rifzan yang memang berasal dari kalangan jet set hingga sudah terbiasa dengan segala kemewahan yang mengikuti sejak kecil.


Begitupula dengan Zainal, Fiki dan juga Beni. Hanya Dandi lah satu-satunya diantara mereka yang berasal dari rakyat biasa. Namun, berteman dengan para konglomerat itu membuat lelaki yang berprofesi sebagai Personal Trainer itu kecipratan menikmati segala fasilitas mewah yang di berikan secara cuma-cuma oleh teman-temannya.

__ADS_1


Di depan pintu masuk pesawat sepasang pramugari dan pramugara mengatupkan dua tangan mereka di depan dada menyambut kedatangan Ravka dan rombongan. Seorang pramugara dengan sigap mengambil alih koper dari tangan Ravka dan meletakkannya di kompartemen pesawat.


"Mas, ini keren banget sih pesawatnya," lontar Alea tak dapat menahan kekaguman saat menyaksikan interior pesawat yang didominasi kulit serta veneer kayu halus menyambutnya.


Sebuah meja dari keramik tampak menghiasi interior di badan pesawat. Tak hanya meja yang terbuat dari keramik. Bahkan lantai pesawat itupun berlapis keramik.


Ravka membawa Alea ke sebuah kursi berlapis kulit berwarna putih tulang yang terletak di bagian depan kabin, tepat di hadapan sebuah layar televisi sebagai akses hiburan di dalam pesawat itu.


"Kak, kita selfi yuk," ajak Kania yang sudah menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi di tak jauh dari kursi yang Alea tempati.à


Diikuti oleh Rifzan yanh duduk di sebelahnya. Kemudian Zai dan Beni yang duduk di hadapan mereka. Sementara Fiki dan Dandi yang tengah asik dengan pasangannya masing-masing, memilih duduk di sofa panjang di belakang kursi yang di duduki oleh Ravka dan Alea.


Baru saja Alea hendak beranjak memenuhi keinginan Kania, Ravka menahan tangan Alea dengan kencang hingga ia akhirnya kembali mendaratkan tubuhnya di sebelah sang suami.


"Tar aja deh, Kan. Kamu selfi duluan aja," ucap Alea dengan wajah memberengut.


"Ah Kak Al mah ga asik," ucap Kania yang turut memberengut.


"Kamu mau ganjen sama temen-temenku?" delik Ravka menciutkan nyali Alea.


"Ih kamu mikirnya kejauhan sih, Mas. Aku cuma mau ambil foto sama Kania itu aja kok."


"Kalau cuma foto, kita juga bisa foto berdua kan. Lagian kita juga belom pernah foto bersama selain saat akad nikah kita dulu."


"Eh iya, ya ... Kalau begitu kita foto dulu yuk," Alea kembali menampilkan wajah ceria dan penuh semangat.


Ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangan yang di bawanya. Kemudian asik memasang pose menempelkan tubuhnya pada Ravka mencari angle terbaik untuk berfoto. Saat tengah asik menjepretkan kamera ponselnya beberapa kali dengan berbagai angle berbeda, Ravka tiba-tiba mendaratkan binirnya pada pipi gadis itu. Alea yang terkejut justru menoleh pada Ravka yang malah membuat bibir mereka bertemu.

__ADS_1


Ravka tak melepaskan kesempatan itu untuk memagut bibir merekah yang menanamkan rindu membara di hatinya. Membawa Alea kedalam rasa yang ingin ia sampaikan sejak tadi. Rasa posesif yang memperlihatkan kepemilikan pada orang sekitarnya.


__ADS_2