
Alea membeliakkan mata menyaksikan
apa yang tengah terjadi di hadapannya yang terpapar dengan sangat jelas.
Dimana seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut halus tumbuh tak beraturan di sekitar wajahnya berteriak saat seseorang memukul bahunya dengan telak. Namun, lelaki yang tak lain adalah seseorang yang dulu pernah mencoba menyerang Alea di tempat yang sama, masih dapat mempertahankan pijakannya dan berbalik menghunus belati ke arah perempuan yang sudah memukul bahunya dengan kencang. Pergumulan di antara Rama dengan perempuan yang akhir-akhir ini sigap mengawal Alea, tak terelakkan hingga membuat Alea menjerit ketakutan dibawah lindungan lengan Ravka.
Alea menutup mata seraya menyeruak di balik dada bidang Ravka, menyembunyikan penglihatannya dari pertarungan mendebarkan dada. Namun, dengan ketangkasannya Debora bisa menghindar dari setiap serangan membabi buta yang dilancarkan oleh pria bertubuh jangkung itu ke arah gadis yang hari ini tampil anggun, tapi menakutkan bagi pria yang hendak bermain-main dengannya.
"Akh .... " pekik Alea ketika ia mencoba mengintip dari balik dada Ravka.
Di saat bersamaan dengan gadis itu mengangkat kepala dari dada sang suami, Si penyerang berhasil mengenai lengan pengawalnya yang berusaha menangkis serangan dan membalik keadaan. Gerakan terlatih Debora yang menghadang serangan bertubi justru berakhir dengan belati yang menancap di tubuh pria itu.
Teriakan lebih menyayat hati kembali diperdengarkan oleh si penyerang saat belati tajam miliknya bersarang di perutnya sendiri. Ia mengerjapkan mata berusaha fokus menatap segala yang tersuguhkan di depan mata. Dengan nafas tersengal, Rama menahan kesakitan yang menyerang perutnya dibawah pitingan perempuan yang memiliki postur tubuh jauh dibawahnya.
Beberapa petugas keamanan tampak berlari mendekati mereka dan segera mengambil alih pengamanan terhadap Rama dari Debora. Setelah Rama dirasa aman di bawah pengamanan petugas jaga di gedung BeTrust, Debora lantas memeriksa lukanya dengan seksama. Ia kemudian melepaskan blazer yang dikenakan lalu melilitkannya pada lengan yang terus mengucurkan darah segar, menyisakan tubuhnya yang terekspos menggunakan blouse tanpa lengan.
Dengan sangat taktis, petugas keamanan menggiring Rama ke dalam post penjagaan sembari menunggu pihak kepolisian menjemput lelaki yang hampir terkapar kehilangan banyak darah akibat luka tusuk di perutnya.
"Dimana?" ucap Ravka cepat saat sebuah suara menyambutnya melalui telepon genggam. "Buruan turun ke loby, sekarang," lanjut Ravka lagi memerintahkan seseorang yang ia hubungi.
Kengerian tercetak di jelas di wajah Alea saat melihat kondisi Rama yang tak berdaya. Darah yang menetes dari lengan sang pengawalpun tak luput dari perhatiannya. Mulutnya turut menganga dibalik bahu Ravka. Ia eratkan kedua lengannya di pelukan sang suami, lalu kembali menyembunyikan wajah di balik dada bidang pemuda itu.
Ravka kemudian mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana menggunakan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangan yang lain merengkuh Alea yang tengah terisak.
Dibelainya punggung Alea perlahan, menyalurkan ketenangan bagi gadisnya yang masih terguncang setelah disuguhkan pemandangan mengerikan di pagi hari.
"Bagaimana kondisimu Debora?" tanya Ravka dengan wajah tegang.
"Tidak apa-apa Tuan. Ini hanya luka kecil," jawab Debora santai masih terus menumpangkan lengan yang terluka di sebelah tangannya yang lain.
__ADS_1
"Yakin tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya kamu mendapat pertolongan pertama terlebih dahulu?" tanya Ravka khawatir melihat kondisi lengan Debora.
Darah masih terlihat merembes pada blazer yang dililitkan di lengan perempuan itu, merubah warna kuning gading menjadi merah gelap dengan secepat kilat.
"Hadi, bukankah kalian selalu menyimpan peralatan pertolongan pertama?" tanya Ravka pada kepala petugas keamanan yang berjaga hari ini.
Hadi menganggukkan kepala cepat. Lelaki paruh baya itu, tampak bingung harus berbuat apa setelah anak buahnya membawa Rama pergi. Ia hanya menunggu titah dari sang empunya kuasa di BeTrust yang tengah berdiri memeluk istrinya.
"Tidak usah, Pak," ucap Debora saat Hadi hendak beranjak dari sana. "Ini lumayan perih, saya rasa akan lebih baik jika saya menunggu Petugas Medis sampai kesini," ucap Deborah kemudian.
"Tidak usah menunggu Petugas Medis datang. Mereka akan lebih mengutamakan kondisi cecunguk itu. Kamu pergilah ke Rumah Sakit segera bersama Nino," ucap Ravka memberi perintah.
"Baik Tuan," jawab Debora sembari meringis perih.
"Dan untuk kamu Hadi. Urus segala sesuatunya saat Polisi datang kemari. Kabari saya secepatnya kalau Polisi meminta kehadiran kami."
"Baik Pak," jawab Hadi lugas.
Nino memperhatikan Alea yang tengah terisak di pelukan Ravka. Mata Nino juga menangkap genangan darah yang tercecer di lantai. Begitu pula dengan Debora yang meringis kesakitan sembari menekan blazer yang dililitkan di lengannya. Dari kejauhan tampak petugas cleaning service tergopoh-gopoh mendekati mereka sembari memegang peralatan untuk mengepel lantai.
Raungan sirine ambulance dan mobil polisi tumpang tindih dengan suara hujan yang semakin menderas membuat suasana tambah mencekam. Menghadirkan hiruk pikuk yang tak terelakkan di pagi hari yang kelabu.
"Rav?" desis Nino saat Ravka bergeming dan mengunci mulutnya rapat.
"Prediksi kita terjadi. Rama nekad," jawab Ravka singkat.
"Apa?!" Nino mendelik kaget dengan jantung tiba-tiba bergemuruh. "Dimana dia sekarang?" tanya Nino yang meningkatkan kewaspadaan.
"Sudah diamankan security. Kamu temani Debora ke rumah sakit. Aku akan menunggu di ruanganku bersama Alea."
__ADS_1
Ravka membalikkan badan, tanpa menunggu jawaban dari Nino. Ia langsung menggiring Alea berjalan mendekati lift yang hanya berjarak beberapa meter di belakangnya.
Ravka masih terus merangkul bahu Alea tanpa melepaskan sedikitpun sentuhannya pada gadis yang masih tampak terguncang. Wajahnya hanya menampilkan ekspresi datar dengan rahang mengeras. Kemarahannya pada sosok Rama sudah sampai di ubun-ubun. Namun, saat melihatnya tak berdaya di bawah kungkungan Debora, membuat Ravka ciut melabuhkan pukulan di tubuh si pria tak bermoral itu. Kepalanya berkelana, memikirkan persoalan yang menanti di depan mata akibat ulah lelaki itu yang tiada habisnya.
Bagaimanapun, ia merapalkan doa agar si penjahat kelamin itu dapat terselamatkan nyawanya. Dengan begitu, lebih mudah baginya menangani masalah ini ke depan. Tentu saja hal ini akan berimbas pada pengawal sang istri kalau sampai lelaki yang tak pantas menghirup udara dengan bebas itu, sampai meregang nyawa.
"Tenanglah, semua sudah dapat dikendalikan," ucap Ravka seraya membelai kepala Alea saat mereka sudah berada di dalam lift.
Istrinya itu masih terisak membuat hati Ravka pilu. Lelaki itu kemudian hanya merapatkan bibir, membiarkan Alea meluapkan segala katakutan yang menyergap dengan derai air mata. Ia terus membimbing Alea hingga mereka memasuki ruangan kerjanya. Menyisakan Bella yang termangu menatap Ravka melewatinya begitu saja dengan suara isak tangis sang istri menemani sepanjang jalan mereka memasuki ruangan kerja atasannya itu.
**********************************************
Hallo ha, aku menyapa lagi nih.. Hari ini aku pengen bahas soal rangking yah.. sebelumnya terimakasih yang udah doain aku masuk rangking teratas.. aamiin.. semoga doa kalian segera diijabah Allah..
Nah jadi gini yah, (buat yang belum tau aja) bagi yang merasa kenapa rangking aku merosot itu sebenernya karena emang sesuai sama kadarnyalah sepertinya..
begini, rangking itu ditentukan oleh jumlah vote kalian untuk PPA.. jadi semakin banyak yang nge-vote poin untuk PPA maka semakin tinggi lah rangkingnya.. tapi aku ga terlalu ngoyo kok sama rangking..
apa sih fungsinya rangking itu? jadi buat yang rangkingnya masuk 20 besar akan dapet hadiah tiap dua minggu sekali dari aplikasi.. nah berhubung rasanya aku jauh banget dari 20 besar, jadi ga terlalu mengharapkan.. tapi vote kalian lumayan menaikkan semangat aku juga.. saat ternyata aku beberapa kali masuk peringkat 100besar.. rasanya bangga gitu karena kalian udah relain poin kalian untuk mendukung karya aku.. seperti berasa karya aku benar2 nyantol dihati para readers semua sampi bisa menggerakkan hati kalian buat vote aku.. makasih lagi-lagi.. tapi jangan dijadikan beban.. karena aku tau ngumpulin poin itu juga butuh perjuangan.. heheheee
nah yang mudah dan tak terlalu butuh perjuangan adalah like dan komen kalian.. dan itu juga sangat besar pengaruhnya buat semangat para author kesayangan kalian loh..
garis bawahnya adalah betapa pentingnya semua kontribusi kalian buat pencapaian aku sekarang.. terimakasih banyak..
terimakasih yah buat kalian semua.. jadi jangan lupa dukung aku terus dengan gerakan jempol kalian untuk like dan komen yang banyak yah... hehhee... biar aku tambah semangat dan bisa mencapai level 10... aamiin
sambil nungguin up boleh mampir yah kesini...
__ADS_1