Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 59# Cinta Karena Kasihan?


__ADS_3

"Mas, kamu bilang cinta bukan karena kasihan padaku kan?" ucap Alea seketika.


Sekelabat obrolan Ravka dengan Kakek Bayu dengan mudahnya meredupkan binar bahagia yang ditunjukkan oleh gadis yang kini tertunduk lesu. Ia menautkan jari jemrinya, mengalihkan gugup yang tak dapat ditutupi. Ia tak ingin hanyut dalam kebahagian semu. Kebahagian yang hadir atas dasar kasihan.


"Lihat aku Al," Ravka kembali menarik dagu Alea mendongak menatap wajahnya yang berdiri jangkung dihadapannya.


Digenggamnya jemari Alea dan menuntun gadis itu agar bangkit dari duduknya di tepi kasur. Lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Alea. Merapatkan tubuhnya hingga gadis itu bisa merasakan debaran jantungnya yang diakibatkan oleh gadis itu. Dituntunnya tangan Alea ke dada bidangnya, hingga menempel pada dadanya sebelah kiri.


"Apa kamu bisa merasakannya Al. Jantungku tak akan berdetak sekencang ini kalau aku hanya kasihan padamu. Aku tidak tahu sejak kapan. Tapi yang pasti, saat aku menyadari, kamu sudah memaksa masuk kedalam sini," ungkap Ravka seraya menepuk punggung tangan Alea yang masih menempel di dadanya.


"Tapi kenapa Mas? Kenapa kamu bisa mencintaiku? Bukankah kamu sangat membenciku?" Alea masih mencoba memasang kuda-kuda. Ia merasa tak boleh lemah pada perasaannya. Ia tak akan membiarkan siapapun masuk dan mengacak-acak hatinya yang rapuh. Alea sangat menyadari bahwa ia hanyalah gadis cengeng yang akan terpuruk jika ia menyerahkan hatinya begitu saja.


Tidak... tidak... tentu tidak. Ia tak akan luluh dengan mudahnya sebelum meyakini, bahwa pemuda tampan yang memenuhi mimpinya itu sungguh mencintainya dari lubuk hati. Bukan sekedar rasa semu karena kasihan kepadanya.


"Apa cinta butuh alasan Al?" Ravka menjawab pertanyaan istrinya dengan sebuah pertanyaan.


Tentu saja Mas. Cinta butuh alasan. Aku mencintaimu karena kamu suamiku - ucap Alea dalam hatinya.


Terdengar klise bagi gadis itu jika mendengar cinta tak butuh alasan. Cinta punya alasannya sendiri. Setiap orang berbeda dalam memaknai cinta. Berbeda pula alasannya mencinta. Jika tak ada alasan, atas dasar apa mereka akan bertahan mengarungi badai yang menghadang?


"Aku mendengarnya sendiri saat kamu berbicara dengan Kakek Bayu kalau kamu kasihan padaku," sambar Alea memutuskan mengatakan apa yang didengarnya.


"Jadi kamu menguping pembicaraanku dengan Kakek?" ucap Eavka seraya tersenyum maklum. "Aku memang kasihan padamu karena sikapku selama ini. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu Al," Ravka mencoba kembali meyakinkan Alea.


Gadis itu hanya menampakkan raut wajah penuh tanya. Tak meyakini dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ravka. Kepercayaan diri yang rendah membuat ia merasa tak layak dicintai. Ia hanya menerima penghinaan dan makian sejak kecil. Penolakan yang dilakukan oleh Paman dan Bibi serta teman-teman semasa kecil, membuat gadis itu sulit untuk bisa mempercayai ketulusan yang diberikan untuknya.


"Apa cukup jika aku katakan kalau aku mencintaimu karena kebaikan hatimu telah menggetarkan hatiku? Atau ketabahan dan kesabaranmu menghadapi sikapku telah membuat aku luluh? Atau jika kukatakan, aku mencintaimu karena kepolosan mu itu yang sudah membuat orangtuaku kembali melimpahkan cintanya padaku?" Ravka terdiam sejenak mengatur deru nafas yang memburu setelah jeda beberapa saat. "Apa kamu butuh alasan lagi?" tanya Ravka seraya menatap tajam Alea.


Jantung Ravka berdetak kencang saat melihat Alea masih diam membisu dibawah tatapannya. Akan tetapi saat ini Ravka bisa melihat ketegangan mulai memudar dari wajah manis Alea. Gadis itu mulai menurunkan pertahanannya. Matanya mulai menyipit dengan bibir melengkung ke atas. Menerbitkan sedikit harapan dilubuk hati pemuda itu. Apakah Alea akan menerima perasaannya? ataukah ia sedang mencari kata untuk menolak dengan senyuman menghanyutkan yang kini mulai menghiasi wajah cantiknya?


Ravka menatap lama bibir itu. Bibir yang sejak lama ingin sekali dilahapnya. Dibelai dengan segenap perasaan cinta yang tak bisa lagi ia pendam di hati.

__ADS_1


Tanpa ia sadari kepalanya semakin mendekat kepada bibir ranum menggoda itu, hingga kini jarak bibir Ravka dengan Alea hanya setipis kertas. Perlahan tapi pasti, ia mulai menyesap rasa dari bibir Alea, berupaya menyampaikan apa yang ada dihati, tapi tak bisa diungkapkan kata. Betapa ia mendamba.


"Sttt..." desisan Alea menghentikan kegiatan yang begitu menghanyutkan bagi Ravka meski hanya berlangsng sejenak.


Ravka menatap Alea yang meringis sakit. Pemuda itu baru menyadari, bahwa ia terbawa suasana hingga mengabaikan luka di sudut bibir Alea.


"Maaf," ucap Ravka penuh rasa bersalah.


Alea menggelengkan wajah dengan tersipu malu. Pipi gadis itu memang tak memerah lantaran lebam yang mendominasi disana. Namun, tak memudarkan ekspresi malu yang terpatri jelas diwajahnya.


Ravka mengusap lembut sudut bibir Alea yang kembali memerah karena luka yang mulai mengering kembali terbuka.


"Sekarang katakanlah Al, apa kamu masih meragukanku?" Ravka kembali menatap Alea tajam. Mencari jawaban dari rona wajah yang kini mulai menjalar di setiap inchi wajah gadis itu.


Alea kembali menggelengkan kepalanya seraya menyeruak ke dada Ravka. Menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu ke dada bidang milik suaminya. Hatinya dipenuhi kehangatan saat irama jantung Ravka menggelitik ditelinga. Mengajak serta jantungnya memainkan simfoni ceria.


Ravka tersenyum lega saat tangan Alea melingkar dipinggangnya. Ia dapat memahami bahwa istrinya itu adalah gadis pemalu yang tak berani menunjukkan perasaannya.


"Tunggu masih ada satu masalah lagi yang belum dituntaskan," ucap Ravka tiba-tiba dan melepas pelukannya pada Alea.


Alea hanya menautkan alisnya bingung. Tak dapat menerka apa yang telah mengusik kedekatan mereka yang tengah Alea nikmati.


"Kenapa kamu bisa ada di Cisarua?" tanya Ravka menyelisik Alea.


"Aku minta maaf untuk itu Mas. Maaf aku tidak meminta izinmu pergi ke Cisarua," ucap Alea gugup. Ia menggigit bibir bawahnya karena rasa bersalah yang menyergapnya tiba-tiba.


"Aku bertanya kenapa kamu bisa ada disana?" Laki-laki itu tak akan membiarkan pertanyaannya dijawab layaknya komidi putar.


"Aku diajak Kania menginap disana," ucap Alea menghadirkan kerutan di dahi Ravka.


Ia sama sekali tak menyadari kalau disana ada Kania, adik dari pria yang membuat ia sempat tak bisa tidur nyenyak kemarin malam.

__ADS_1


"Kania? bukannya kamu pergi bersama lelaki yang tadi memegang tanganmu?" sindir Ravka menghadirkan kerutan serupa di dahi Alea.


"Aku tidak mungkin jalan dengan lelaki lain selama statusku masih sebagai istrimu Mas," jawab Alea mengerucutkan bibirnya.


Sebegitu rendahkah penilaian Ravka terhadap dirinya? Ia bukanlah perempuan sembarangan yang bisa dekat dengan lelaki yang tidak punya hak berada didekatnya.


"Tapi kamu lebih memilih menghabiskan waktumu bersama Kakak sepupumu itu dari pada menghabiskan waktu dengan ku," sambar Ravka.


"Aku hanya bertemu Kak Farash di kantor, dan itupun urusan pekerjaan. Aku sama sekali tidak pernah berduaan dengan Kak Farash. Bagaimana kamu bisa mengatakan aku lebih memilih menghabiskan waktu ku bersama Kak Farash?" Alea tak habis pikir apa yang membuat Ravka berpikir demikian.


"Bukankah kamu sengaja pulang ke rumah bibimu agar bisa bersama dengan lelaki itu? Selama kita menikah baru kali ini kamu minta pulang ke rumah bibimu," tuntut Ravka.


"Aku... aku sebenarnya tidak ke rumah Bibi Mas. Aku kemarin menginap di hotel bersama Kania," jawab Alea terbata.


Ia benar-benar khawatir kalau Ravka akan kecewa dengan sikapnya. Padahal baru saja ia bisa merasakan cinta sang suami yang selalu ia damba. Alea sungguh mengutuki kebodohannya, karena bersikap impulsif dan kekanakan.


"Menginap di hotel?" Ravka merasa ada yang salah dengan ini.


"I-iya Mas. Aku kemarin sebenarnya merasa sedih saat mendengar kamu mengasihaniku. Aku pikir kebaikanmu selama ini hanya karena kasihan. Maka itu aku butuh waktu untuk menenangkan diri," Alea kembali menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang kerap kali gadis itu lakukan tiap kali ia merasa gugup.


"Hmmm... jadi kamu sedih saat mengetahui aku hanya kasihan padamu? jadi sebenarnya apa yang kamu harapkan?" goda Ravka menyadari bahwa kepergian Alea hanya karena salah paham padanya. Dan yang paling utama adalah, gadis itu tidak pergi untuk menemu lelaki lain, membuat hati Ravka lega. Beban yang sejak kemarin menghimpitnya, sudah bisa ia singkirkan sejauh mungkin dari sana.


"Kamu tahu apa yang aku harapkan," ucap Alea kembali tersipu.


"Memangnya aku cenayang yang bisa mengetahui isi hati seseorang?" sambar Ravka.


"Sudah malam Mas, aku lelah. Aku mau istirahat dulu," ucap Alea mengalihkan pembicaraan. Ia langsung berbalik dari hadapan Ravka. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dan bersiap untuk memasuki alam mimpi. "Ayolah Mas, sudah larut dan kamu juga pasti capek. Sebaiknya kita tidur," ucap Alea ketika melihat Ravka tak bergeming dari tempatnya berdiri.


Ravka menatap Alea sendu. Ia sebenernya masih ingin mencecar gadis itu hingga mau mengakui perasaannya secara gamblang. Namun, Alea benar tubuhnya saat ini butuh istirahat. Dua hari ia memaksa tubuhnya terjaga hanya karena gadis yang sekarang ada dihadapannya. Gadis yang kini dapat ia rengkuh kapanpun ia menginginkannya tanpa canggung dan gengsi yang menghalangi.


Ravka kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. membalikkan tubuh hingga menghadap pada istrinya. Ravka kemudian meletakkan tangannya di perut gadis itu hingga ia terlelap di peluk malam.

__ADS_1


__ADS_2