Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 146# Rutan Kejagung


__ADS_3

"Kita kenapa kesini, Mas?" tanya Alea saat menginjakkan kakinya di pelataran parkir Kantor Kejaksaan Agung Jakarta Selatan.


Ravka hanya membisu dan mengajak gadis itu memasuki gedung yang terletak agak di bagian belakang komplek perkantoran Kejaksaan Agung. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, keduanya diminta untuk menunggu.


"Mas?" Seribu tanya nampak menggayuti wajah Alea.


"Kita akan menemui orang yang bertanggung jawab terhadap kondisi Yuri saat ini," jawab Ravka akhirnya mengisi kekosongan sebelum orang yang akan mereka temui dihadirkan di sana.


"Aku sama sekali tidak mengerti, Mas," ucap Alea menuntut penjelasan lebih.


"Kita akan menemui seseorang yang sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Yuri. Saat ini berkas kasusnya sudah dilimpahkan ke kejakasaan. Dia tinggal menunggu waktu persidangan, setelah kejaksaan melengkapi berkas dan menyelesaikan penyelidikan terhadap kasus ini."


Hati Alea berdegup kencang saat menyadari bahwa sebentar lagi ia akan dipertemukan dengan seseorang yang membangkitkan emosi dalam dirinya. Tak pernah twrbayangkan oleh Alea, bagaimana seseorang bisa setega itu mencoba menghilangkan nyawa orang lain.


Sekelabat bayangan kondisi Yuri melintas begitu saja. Terakhir kali suaminya mempertemukan dirinya dengan teman semasa sekolahnya itu, Yuri masih dalam kondisi tak baik. Keretakan di tempurung kepalanya membuat gadis itu divonis sulit untuk mendapat ingatannya kembali, karena otaknya tak bisa dipaksa bekerja terlalu berat.


Alea hanya bisa berdoa bahwa Yuri akan semakin membaik dan bisa beraktivitas seperti sedia kala meski harus melewati serangkaian perawatan yang akan memakan waktu. Ia berharap, Yuri masih akan diberi kesempatan kedua untuk menjalani harinya. Saat ini, gadis malang itu sudah mulai dipertemukan dengan keluarganya, meski ia tak mengingat satupun anggota keluarganya.


"Untuk apa kalian kemari?" sebuah suara sinis menelusup gendang telinga Alea.


Aura dingin penuh kebencian, terpancar dari kedua bola mata perempuan yang mengenakan rompi tahanan berwarna merah. Dengan sangat terpaksa, perempuan itu duduk di bangku di hadapqn Ravka dan Alea yabg dipisahkan sebuah meja.


"Kamu?" desia Alea menatap wanita yang sedang duduk seraya melempar tatapan tajam menusuk.


Wanita yang pernah membuat Alea terkagum dengan penampilan anggun nan glamor yang dilengkapi dengan tutur kata halus dan ramah, kini tampak sayu dan berantakan. Wajahnya polos tanpa polesan make up, semakin membuat wanita itu terlihat pucat. Ditambah lingkaran hitam dengan kantung mata nampak begitu jelas membingkai matanya. Kelelahan juga menggelayut di sana membuat hati Alea terenyuh iba.

__ADS_1


Namun, emosi seketika menguasai diri Alea manakala ia menyadari bahwa perempuan dihadapannya inilah yang membuat kondisi Yuri menjadi seperti sekarang. Membuat rasa iba itu menguap tak berbekas. Alea lantas membalas tatapan tajam perempuan itu dengan tatapan sengit yang serupa.


"Iya ini saya, orang yang sudah menjebak kamu," timpal perempuan itu tanpa basa-basi dengan tatapan menantang.


Tak ada sesikitpun rasa bersalah tercetak di wajahnya. Ia hanya ingin melampiaskan amarah karena sepasang anak manusia dihadapannya itu telah menghantarkannya ke penjara. Belasan tahun bergelut dengan dunia kriminal, membuat ia semakin ahli menjalani profesi sebagai pembunuh bayaran. Semua jenis pekerjaan kotor selalu bisa ia tuntaskan dengan bersih tanpa meninggalkan jejak hingga selalu berhasil lolos.


Namun, ia tak menyangka pekerjaan dengan bayaran melimpah kali ini, justru membawanya mendekam di balik jeruji besi. Ia sangat sadar, sekali tertangkap tak akan ada celah baginya untuk lolos. Bahkan ketakutan akan kasus lama yang akan kembali dikuak terus menghantui.


"Aku tidak menyangka wanita cantik yang nyaris sempuran seperti mu sanggup membunuh seseorang," desis Alea.


"Aku bahkan masih sanggup menghabisi satu nyawa wanita lemah sepertimu, kalau saja aku tidak ditahan disini," balas wanita itu.


"Jaga bicaramu," ucap Ravka seraya mengetatkan otot rahangnya.


Kalau saja ia tak ingat masih harus mengorek informasi dari wanita bejad di hadapannya ini, tentu Ravka sudah menghamburkan emosinya mendengar ancaman yang dilayangkan wanita tak tahu malu dihadapannya ini.


"Kau pikir aku tidak tahu, bahwa tak seorangpun yang akan menghiraukan keberadaan mu dan menemui mu di tempat terkutuk ini. Jadi berhentilah sok kuasa di depan ku. Kau membutuhkan belas kasihanku untuk membuat mu tidak divonis hukuman mati," seru Ravka memberi tekanan pada setiap kata yang terucap.


"Aku akan sangat senang menghadapi vonis hukuman mati," tantang wanita itu tak mau terintimidasi dengan gertakan Ravka.


"Apa salah Yuri padamu, hingga kamu tega ingin membunuhnya?" sambar Alea tak mau memperpanjang perdebatan wanita itu dengan suaminya.


Ia butuh mendengar segala penjelasan akan kejadian malam itu.


"Tak ada, dia hanya tidak bisa diatur. Aku sudah memberikan uang yang banyak agar ia mau menuruti semua perintahku. Tapi, gadis bodoh itu tak hentinya berucap menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Aku hanya tidak ingin mengambil resiko rencana ku berantakan karena ulahnya," jawab wanita itu santai tanpa penyesalan yang terselip dalam nada bicaranya.

__ADS_1


"Kamu memang tidak punya hati," ucap Alea dengan nada suara mulai meninggi.


"Pekerjaan yang aku geluti ini memang tidak memerlukan hati, Nona. Aku rasa kau yang terlalu polos. Kau bahkan membela seseorang yang sudah menjebakmu? Sungguh ironi," ucap wanita itu dengan tawa mengejek yang membahana.


"Setidaknya orang yang kamu sebut gadis bodoh itu, masih memiliki hati. Apa kamu tahu, kamu tidak hanya berusaha menghilangkan satu nyawa. Tapi kamu juga sudah merenggut seorang anak dari Ibunya. Seorang Kakak yang menjadi tumpuan adik-adiknya." Alea semakin menajamkan tatapannya.


Ale menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan hati yang semakin memanas. Ia tahu betul, Yuri adalah tulang punggung keluarga setelah kepergian Ayahnya yang menghilang entah kemana. Meninggalkan Ia dan Ibunya beserta tiga orang adik yang masih bersekolah.


Hal itulah yang membuat Alea sempat dekat dengan Yuri. Kesamaan bahwa mereka harus banting tulang untuk menghidupi diri mereka sendiri. Namun, Yuri lebih beruntung dengan postur tubuh yang tinggi memudahkannya menjadi model, hingga bisa mendapat pekerjaan yang lebih menghasilkan pundi-pundi yang besar untuk menghidupi diri dan keluarganya. Ia tak menyangka, kehidupan Yuri akan berakhir tragis seperti sekarang.


"Kau sangat lucu," ucap Wanita itu seraya terbahak. "Kau bahkan lebih bodoh dari gadis itu. Apa kau tahu apa yang sudah dia lakukan terhadapmu? Dia menjualmu padaku. Aku memberinya imbalan yang cukup besar untuk membawa mu kepada ku. Dan sekarang kau justru membelanya. Kau benar-benar bodoh." Tawa wanita itu semakin menggema.


"Setidaknya menjadi bodoh jauh lebih baik dari pada menjadi wanita kejam tak berhati sepertimu," desis Alea.


"Sudah selesai ceramahnya? Kalau sudah aku mau kembali ke sel ku," ucap wanita itu acuh.


"Aku punya satu penawaran untuk mu," sambar Ravka cepat sebelum wanita itu beranjak dari duduknya.


**********************************************


boleh kepoin karya temenku yah...



__ADS_1



__ADS_2