
Mentari pagi ini tengah bersembunyi malu-malu di balik awan kelabu. Alea duduk di balik kursi penumpang, di kabin belakang, seraya memperhatikan siluet pepohonan yang seolah berjalan cepat. Cuaca mendung membuat Alea menengadahkan kepala menatap langit kelabu. Ia dapat melihat dengan jelas gumpalan awan yang siap menumpahkan rinai hujan. Entah kenapa, hari ini hatinya merasakan mendung seperti cuaca di luar sana. Seolah tangis alam yang siap tumpah ruah menyapa bumi, bersenandung mengikuti irama hati. Alea mengenyahkan pikiran buruk yang menggelayut di kepala dengan bersenandung mengikuti suara merdu penyanyi kenamaan ibukota melalui radio yang dinyalakan oleh sopir yang membawa mereka memecah jalanan Jakarta di pagi hari ini.
Disebelahnya Ravka tersenyum mendengar senandung pilu yang sedang didendangkan kekasih hati. Seolah menjadi musik pengiring gerimis yang mulai menghujam bumi, membasahi tanah serta aspal jalan. Diperhatikannya wajah cantik yang masih sangat belia itu tengah menerawang dengan sorot mata sendu.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Ravka membuyarkan lamunan Alea.
"Hmmm?" Alea menaikkan kedua alisnya. Menyadari sang suami tengah menyapa.
Namun, pikirannya yang melayang entah kemana tak menyadari pertanyaan yang dilontarkan oleh Ravka.
"Kamu lagi mikirin apa?" Ravka mengulang pertanyaannya.
"Enggak kok, Mas. Lagi ga mikirin apa-apa. Aku hanya merasa heran, kenapa pagi ini aku tak menyukai hujan? Padahal biasanya aku suka sekali melihat hujan dipagi hari. Saat ia mulai membasahi tanah, memercikan harum yang sungguh berbeda. Harumnya seolah bisa menyejukkan hati. Tapi hari ini kenapa terlihat berbeda yah, Mas?" Alea memajukan bibirnya seolah sedang memeras isi kepala.
"Berbeda bagaimana, Al?" tanya Ravka lagi.
"Entahlah. Guyuran hujan biasanya terlihat seperti limpahan ramhat dari Allah. Tapi hari ini perasaanku tak enak. Hujan malah terlihat seperti alam yang sedang menangis," ucap Alea seraya membuang nafasnya dengan kasar.
Ravka menggeserkan tubuhnya mendekat dengan Alea hingga tak menyisakan jarak diantara mereka. Ia melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Alea dan menumpangkan dagunya di bahu gadis itu. Matanya sejurus dengan mata istrinya yang melemparkan pandangan keluar jendela mobil yang tertutup rapat. Turut menyaksikan guyuran rintik-rintik hujan yang membasahi Bumi.
__ADS_1
"Mungkin kamu hanya gugup karena kita akan berangkat nanti malam. Kamu tidak usah memikirkan yang macam-macam, semua pasti akan baik-baik saja. Kamu juga tadi sudah menyiapkan semua keperluan kita selama disana kan?" ucap Ravka menjeda kalimatnya. "Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kita tinggal berangkat dan bersenang-senang selama disana." Ravka mencoba menenangkan hati Alea yang terlihat sedang tidak baik dari air wajahnya yang terlihat sendu.
Alea menumpangkan tangannya diatas tangan sang suami yang merengkuhnya erat. Hatinya menghangat dengan perlakuan lembut Ravka yang membuat ia seolah membumbung tinggi. Pun dengan tubuhnya yang turut menghangat saat dingin mulai merayapi kulit hingga ke tulang belulang.
"Iya kali. Aku mungkin hanya terlalu khawatir berlebih."
"Sekarang buang jauh-jauh semua pikiran buruk. Pikirkanlah apa yang akan kita lakukan saat hanya berdua saja," ucap Ravka seraya mendaratkan kecupan ringan di pipi Alea sambil mengerling jahil.
Reflek Alea menepuk pelan punggung tangan Ravka yang menempel erat di perutnya. "Mas, malu ah. Di depankan ada Debora dan pak Dito," bisik Alea dengan semburat merah muda kembali membias di pipinya.
"Yah emang kenapa? aku kan cuma cium pipi kamu. Masa ga boleh cium pipi istri sendiri?" protes Ravka balik membalas protes sang istri atas aksi cium pipi yang hanya sekejap mata.
Ravka hanya menjawab dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara, menyetujui segala titah sang Tuan Putri.
Hari ini Ravka sengaja berangkat ke kantor diantar oleh Dito lantaran ia harus menghemat tenaga demi mempersiapkan diri untuk keberangkatan ke Maldives nanti malam.
"Debora, untuk satu minggu ke depan, kamu bisa ambil cuti. Setelah itu kamu berangkat menyusul kami ke Jerman bersama Nino," ucap Ravka yang sudah menengakkan punggung dan mengangkat kepala dari bahu sang istri.
Ravka baru ingat akan Debora, sesaat setelah Alea menyebutkan nama pengawal sang istri yang duduk di balik kursi penumpang di kabin depan mobil yang sedang mereka tumpangi.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Debora yang hari ini tampil agak berbeda.
Kali ini, wanita yang hampir menginjak kepala tiga tersebut tidak menggunakan baju kebesarannya yakni long black safari beserta celana bahan yang juga berwarna hitam seperti Safari-nya. Hari ini Debora tampak sedikit berbeda. Gadis itu terlihat cantik dengan blouse peach yang dibalut blazer kuning gading serta celana slim fit berwana senada. Membuat tubuhnya semakin terlihat jenjang dan mempesona.
"Ingat untuk selalu menjaga jarak dan bersikap senatural mungkin," titah Ravka saat ia melihat di kejauhan, gedung BeTrus menjulang tinggi.
"Baik Tuan," jawan Debora lagi.
Selang beberapa saat, Dito memasuki pelataran gedung BeTrus yang hari ini tampak senyap. Tak banyak memang yang akan memaksakan diri berangkat ke kantor di waktu akhir oekan seperti sekarang. Apalagi cuaca yang dingin akibat guyuran hujan, tentu saja membuat siapa saja lebih memilih bergelung di balik selimut daripada harus berangkat bekerja. Hanya mereka yang berdedikaai tinggi lah yang akan memaksakan diri mengayunkan tu uh mereka untuk berjalan menuju kantor. Atau mereka-mereka yang memang terpaksa berangkat ke kantor untuk berbagai alasan.
Tak beda halnya dengan Ravka yang sejujurnya merasa enggan menggerakkan kaki ke kantor. Kalau tak ingat bahwa ia akan menghabiskan malam panjang berdua di pulau romantis nan eksotis, Ravka sudah pasti kembali menyeret istrinya bersembunyi di balik selimut sembari saling menghangatkan. Ah, Ravka kembali menepis pikiran yang selalu melantur saat memikirkan Alea.
"Ayo kita turun dan menyelesaikan pekerjaan dengan segera. Setelah ini aku akan mengajakmu makan siang di tempat Favorite ku. Kamu pasti menyukai tempatnya," ucap Ravka saat Dito menghentikan mobil tepat di depan loby gedung.
Ravka langsung menyambar tangan istrinya saat mereka sudah menuruni mobil. Ia kemudian berjalan melewati pintu kaca yang terbuka otomatis sembari menggandeng Alea. Hari ini gedung tampak lengang, bahkan penjagaan tidak begitu ketat di pintu masuk maupun di loby. Tidak banyak memang petugas keamanan yang berjaga saat akhir pekan seperti saat ini.
"Awas Pak Ravka," ucap seorang petugas keamanan dari kejauhan yang melihat ke arah mereka. Petugas keamanan itu seceoat kilat berlari menghampiri Alea dan Ravka.
Sontak Ravka menoleh melihat ke arah pandang petugas keamanan yang berteriak memperingatinya. Dengan segera ia menarik Alea ke dalam pelukannya. Berusaha melindungi gadisnya dari serangan tiba-tiba.
__ADS_1
"Arghhh ..... " jeritan panjang memecah kesunyian di dalam gedung yang membuat wajah Alea pucat pasi.