
Ravka merasa senang saat Alea secara tiba-tiba melingkarkan kedua lengan melingkupi tubuhnya. Pemuda itu membalas pelukan Alea dengan senang hati. Ia memberi jeda bagi mereka saling menikmati kedekatan yang terjalin tanpa suara yang menemani.
Ravka mengangkat sebelah tangannya, membelai kepala yang terbaring lunglai di dadanya seraya memberi kecupan ringan di atas telinga gadis itu.
Ia merasa tak ubahnya drama yang sering dibicarakan para gadis, berharap waktu berhenti berputar sejenak demi menikmati syair yang sedang dimainkan hati. Menghadirkan perasaan bahagia tak terkira.
"Maaf," ucap Alea seraya melepaskan pelukannya pada Ravka setelah waktu berputar cukup lama.
"Tak perlu minta maaf. Kamu bisa melabuhkan kesedihanmu disini kapanpun kamu mau," ucap Ravka seraya menepuk dadanya.
Pipi Alea merona seketika. Menambah merah wajahnya yang masih dipenuhi jejak tangis yang belum memudar.
"Jadi.... Apa yang sebenarnya terjadi pada Yuri, Mas? Kenapa dia hanya diam saja? Apa dia sudah mengatakan hal buruk tentangku?" tanya Alea dengan nada khawatir setelah cukup waktu menenangkan diri di dalam pelukan sang suami.
"Dia mengalami Amnesia Disosiatif. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian apapun dalam hidupnya, bahkan tidak dapat mengingat siapa dirinya," jelas Ravka.
"Ba-bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Alea mendelik kaget.
"Kata Dokter Ares, mungkin itu dikarenakan trauma kepala yang terjadi saat kecelakaan yang menimpanya. Atau bisa karena stress yang berlebihan. Atau lebih parahnya, bisa saja dipicu oleh keduanya,"
"Kecelakaan? Stress?"
"Aku menemukan Yuri di rumah sakit dalam kondisi koma dua hari setelah pernikahan kita. Kondisinya cukup mengenaskan," Ravka menghela nafas sebelum menuruskan ceritanya. Ia memundurkan posisi duduknya, mengambil jarak diantara ia dan Alea.
Alea melayangkan pikirannya pada saat mereka menghadiri acara di Resor Pulau Bidadari sehari setelah pernikahannya. Saat acara berlangsung malam itu, sampai keesokan harinya Ravka tak lagi menunjukkan batang hidungnya. Malam itu Alea terpaksa menghabiskan waktu seorang diri di kamar hotel nan megah. Hingga keesokan harinya, Alea terpaksa harus diantar pulang oleh Nino ke rumah keluarga Dinata.
Jadi karena ini Mas Ravka menghilang saat acara di resor Pulau Bidadari waktu itu? - tanya Alea dalam hati. Ia kemudian mengenyahkan pikiran yang mengalihkan perhatiannya dari penjelasan Ravka. Saat ini pemuda itu masih melanjutkan bicaranya.
"Sebelum di bawa ke rumah sakit, ia ditemukan di dasar jurang dalam mobilnya. Ia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, hingga mengalami koma selama dua bulan. Tapi setelah sadar ia tak mengingat apapun,"
"Ya Allah apa yang terjadi dengan Yuri? kasihan sekali dia," ucap Alea dengan mata sendu menyiratkan perasaan kasih dari pancaran matanya.
__ADS_1
Ravka menyeringai mendengar ucapan Alea. Gadis itu betul-betul luar biasa. Sesaat lalu ia tampak emosi melihat Yuri. Namun, sekarang dengan lembutnya ia mengasihani teman yang ia anggap sudah merusak mimpinya. Tak memperdulikan lagi apa yang sudah perempuan itu lakukan kepadanya. Kebaikan hatinya itulah yang telah membuat Ravka jatuh hati pada gadis di hadapannya ini. Lebih-lebih saat ini membuat ia semakin terperosok pada lembah cinta yang dihadirkan istrinya ke dalam hatinya.
"Lantas bagaimana dengan keluarganya?" tanya Alea lagi.
"Setelah menemukan Yuri, aku dan Kakek memindahkan Yuri ke Rumah Sakit lain. Lebih tepatnya menyembunyikannya. Sehingga tidak ada satu orangpun yang mengetahui perihal kecelakaan yang dialaminya,"
"Kenapa Mas? bukankah keluarganya berhak tahu apa yang terjadi dengan yuri?"
"Aku menduga ini bukan kecelakaan biasa, tapi disengaja. Akan lebih berbahaya bagi Yuri jika ada yang mengetahui kalau dia masih hidup,"
"Di-disengaja? Maksudmu bagaimana Mas?" tanya Alea terbata.
"Yah, kurasa ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi dengan kita malam itu,"
Wajah Alea pucat pasi mendengar penjelasan Ravka. Membuat pemuda itu tergerak hati mengulurkan tangannya kembali pada wajah mungil dihadapannya seraya mengulas senyum menenangkan.
"Itulah sebabnya kami menyembunyikan Yuri hingga kondisinya mulai membaik," Alea melepaskan ketegangan yang membingkai wajahnya saat mengetahui kondisi perempuan itu sudah membaik.
"Tapi ingatannya bisa pulihkan, Mas?"
"Belum tentu. Bisa saja ingatannya pulih dengan terapi atau sebuah shock terapi saat ia bertemu dengan seseorang yang menyebabkan trauma di kepalanya selain trauma karena kecelakaan. Tapi itu tidak bisa dipastikan. Ia bisa saja kehilangan ingatannya untuk selamanya,"
Hati Alea mencelos, ia mengasihani Yuri dengan kondisi yang dialami gadis itu saat ini. Akan tetapi, kalau ia tak mendapatkan ingatannya lagi, siapa yang akan mengatakan kebenaran tentang kejadian malam itu? Bagaimana caranya ia bisa membersihkan namanya dihadapan keluarga suaminya?
"Kamu tidak usah khawatir, aku berjanji akan terus mengusut masalah ini hingga tuntas. Aku akan mencari siapa dalang yang sudah memfitnah kita dan menyebabkan kondisi temanmu seperti itu," Ravka menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Alea. Membelai wajah itu dengan kedua ibu jarinya. Seraya menatap tajam Alea, mengirimkan aura menenangkan bagi gadisnya.
Kehangatan merambati hati Alea ketika menyadari Ravka menyebutkan kita saat merujuk kata fitnah. Apa itu berarti, Ravka kini sudah mempercayainya? Apakah ia bisa bernafas lega?
"Sekarang kita sudahi dulu pembicaraan ini. Sebaiknya kamu beristirahat sekarang. Aku masih harus menemui Kakek," ucap Ravka kemudian.
Pemuda itu kembali membelai wajah manis yang tersipu saat merespon sentuhan jemarinya. Ia kemudian mendaratkan kecupan sekali lagi di puncak kepala istrinya sebelum beranjak meninggalkan Alea.
__ADS_1
Ditempatnya Alea hanya diam mematung, mencerna semua informasi yang memenuhi membran di dalam otak besarnya. Hingga gadis itu menyadari sudah lama suaminya meninggalkan dirinya berdiam diri di kamar.
Bergegas Alea beranjak dari duduknya, melangkah keluar kamar hendak menyusul Ravka. Ia sudah dapat menguasai emosinya, hingga tak kan lagi lepas kendali. Ia ingin mendengar lebih detail semua yang telah terjadi. Ia juga berharap bisa menjadi bagian dari rencana Ravka untuk mengungkapkan kebenaran.
******
"Bagaimana kondisinya Kek?" tanya Ravka pada Bayu saat merebahkan diri di sofa dalam ruang kerja Kakeknya itu.
"Kondisinya sudah lebih baik. Dia hanya merasa shock saat dipaksa mengingat sesuatu,"
"Apa itu berakibat fatal?"
"Untuk saat ini tidak. Tapi Dokter Ares bilang, kita tidak bisa memaksa kerja otaknya untuk mengembalikan memorinya. Hal itu justru bisa membahayakan bagi gadis itu," ucap Bayu menerangkan secara garis besar. Ia tak mungkin bisa menjelaskan secara gamblang dan mendetail seperti yang tadi dilakukan oleh Dokter Ares. "Saat ini kita serahkan soal gadis itu kepada Dokter Ares. Kita tinggal menyusun rencana baru,"
"Yah, aku rasa kita memang perlu menyusun rencana baru Kek. Melihat reaksi Alea tadi, aku yakin kalau dia memang betul-betul tidak terlibat sama sekali dengan kejadian ini,"
"Selama ini Kakek memperhatikan anak itu. Dia sepertinya memang gadis baik-baik. Mungkin saja, dia hanya berada di tempat dan waktu yang tidak tepat," Bayu menghela nafas panjang.
Pria tua renta itu memikirkan bagaimana nasib gadis itu kedepannya. Ia sudah menyeret gadis tak bersalah ke dalam pusaran masalah dalam keluarganya.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan terhadap Alea?" tanya Bayu saat menemukan Ravka hanya diam mematung seraya memijat pangkal hidungnya.
"Entahlah Kek, aku masih bingung. Sejujurnya aku merasa bersalah pada Alea. Aku kasihan padanya atas semua perbuatanku padanya selama ini," Ravka menghela nafas panjang.
Pemuda itu berupaya mengatur detak jantung saat memikirkan gadis itu. Ia sama sekali tak berniat untuk melepaskannya. Akan tetapi, ia juga tak tega melihat betapa perihnya luka yang sudah ia tanamkan dalam lubuk hati Alea. Sehingga membuat gadis itu begitu histeris mengungkapkan isi hatinya. Ia menyadari bahwa ia memang sudah menghancurkan mimpi Alea. Ia tak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan.
"Jadi?" tanya Bayu mendesak Ravka.
"Jika memang dia menginginkannya, aku akan melepaskannya Kek. Mungkin itu jalan terbaik untuk Alea," ucap Ravka dengan sorot mata sendu.
Hatinya seperti dicabik-cabik saat harus mengungkapkan hal itu kepada Kakeknya. Namun, ia menyadari bahwa kebahagiaan Alea adalah prioritasnya saat ini. Bukan lagi keegoisannya.
__ADS_1
Sementara diluar ruang kerja Bayu, Alea berdiri mematung saat mendengar percakapan Ravka dengan Kakek Bayu. Pintu yang sudah terbuka sedikit membuat ia bisa menangkap pembicaraan keduanya dengan jelas. Ia menutup kembali pintu itu. Meremas dadanya yang terasa nyeri.