
"Kamu tidak bisa mengelak lagi Mas," ujar Ravka pada Alex setelah rekaman suara percakapan Alex, Bambang dan Farash selesai diputar.
Ravka melayangkan tatapan tajam pada Kakak sepupunya yang tengah duduk bersebrangan dalam ruang kerja Kakek Bayu di kediaman Keluarga Dinata.
Sementara Alex hanya bisa mengepalkan tangannya seraya menggertakan rahangnya. Alex mengalihkan tatapannya pada Farash yang duduk tak jauh dari Ravka. Menikam Farash melalui sorot
matanya.
"Kamu juga tidak bisa menyentuh Farash Mas. Dia dibawah perlindunganku," ucap Ravka melihat dendam membara pada kilatan mata Alex yang ditujukan untuk Farash.
Ravka memang sengaja membawa Farash menemui Kakak sepupunya itu agar bisa mengkonfrontir Alex dan Farash secara langsung. Dengan begitu Alex tak dapat mengelak jika ia tak mau mengakui pengkhianatan yang telah dilakukannya, pikir Ravka.
"Lantas apa yang kamu inginkan?" Alex membalas tatapan Ravka menantang.
"Hentikan semua niat busukmu pada perusahaan," ujar Ravka tegas.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Aku sama sekali tidak pernah berniat buruk pada perusahaan," ucap Alex tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Ravka.
"Kamu sengaja menggunakan kuasamu sebagai CEO untuk menekan seorang karyawan agar memalsukan data. Apa itu bukan niat buruk?" tanya Ravka dengan alis saling bertaut.
"Aku hanya mencoba untuk membantu perusahaan kenalanku agar bisa bekerjasama dengan BeTrust, tidak lebih. Toh kamu juga melakukan hal yang samakan?!" ujar Alex berusaha terdengar santai, meski hatinya saat ini tengah ketar ketir.
"Apa maksudmu aku melakukan hal yang sama, Mas?" tanya Ravka tak terima mendapat tuduhan balik.
"Bukankah kau turut andil membuat perusahaan temanmu bisa menjadi rekanan bisnis dengan BeTrust?!"
"Kalau yang kamu bicarakan adalah PT. Ellios, kamu salah besar Mas," sela Ravka, "aku memang berteman baik dengan pemilik PT. Ellios. Tapi Ellios adalah perusahaan yang credible dan memang layak bekerjasama dengan Dinata Group. Lagipula Ellios bisa bekerjasama dengan Dinata Group melalui tender dan prosedur sesuai standar," jelas Ravka.
"Alah bulshit. Kamu pasti ada campur tangan di dalamnya," sergah Alex tak percaya, "lagipula apa salahnya kalau aku membantu perusahaan kenalanku? toh tidak akan merugikan Dinata Group yang memiliki jaringan bisnis yang sudah menggurita."
__ADS_1
"Tidak merugikan katamu?" Ravka menghembuskan nafasnya kasar mendengar penuturan Alex sebelum ia kembali mencecar pemuda itu, "Tender ini bernilai ratusan juta dolar. Dan perusahaan yang kau sebutkan itu adalah perusahaan fiktif. Bagian mananya yang tidak akan merugikan perusahaan?" ujar Ravka dengan nada mulai meninggi.
"Perusahaan yang mau aku bantu memang masih perusahaan kecil yang butuh dukungan. Tapi bukan berarti kamu bisa menyebutnya sebagai perusahaan fiktif," bentak Alex tak mau kalah.
"Karena kenyataannya memang seperti itu kan, Mas," ucap Ravka lantang. "Kamu sengaja membuat perusahaan fiktif untuk mengelabui dewan direksi dan berniat membawanya pada rapat besok. Setelah itu dengan mudahnya kamu bisa menjalankan rencana busuk yang sudah kamu siapkan," hardik Ravka dengan suara semakin meninggi.
"Kamu keterlaluan Rav. Tuduhanmu itu tidak berdasar sama sekali." Nada suara Alex tak kalah melengking.
"Aku tdak akan bicara seperti ini, jika aku belum punya bukti kuat."
Suasana di dalam ruangan itu semakin bertambah tegang. Farash hanya bisa membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia tak akan mengeluarkan suara sepatah katapun jika tak ditanya. Kehadirannya di ruangan itu saja sudah membuat pemuda itu serba salah. Keadaan menjadi tegang di tempat ini, tak lain dan tak bukan ada andil dari dirinya. Namun, ia juga sadar betul bahwa ia tak bersalah sama sekali dalam hal ini. Namun, tetap bisa menghadirkan ketegangan di wajahnya.
Wajah-wajah tegang di dalam ruang kerja Kakek Bayu teralihkan saat mendengar suara derit pintu yang terbuka. Kakek Bayu dengan walking stick di tangannya melangkah memasuki ruang kerjanya disusul oleh Nino, Erika, serta kedua orang tua Ravka.
"Selamat malam, tuan," sapa Farash seraya berdiri dan membungkukkan badannya pada Bayu yang tengah menyelisik dirinya.
Lelaki yang sudah cukup berumur itu kemudian melangkah menghampiri kursi kebesarannya di balik meja. Sementara Erika, Derry, serta Dilla memilih duduk di sofa panjang yang berderet di sebelah Ravka serta Alex.
"Apa yang membuat kalian bertengkar hingga tak beradab di depan tamu?" tanya Bayu seraya menatap tajam Alex dan Ravka.
"Dia telah menuduhku berniat buruk pada perusahaan. Tentu saja aku tidak terima dengan tuduhannya itu, Kek," sambar Alex cepat.
"Kau ?! Beraninya kau menuduh kakak mu sendiri berbuat hal hina seperti itu?" kecam Erica tak terima.
"Aku tidak sembarang menuduh," ucap Ravka geram.
Pemuda itu bangkit dari duduknya. Berjalan menuju meja di hadapan Kakek Bayu tak jauh dari sofa yang tadi dia duduki. Ia mengambil satu berkas diatas meja dan membawanya ke hadapan Alex dan juga Erika.
"Aku sudah menyelidiki semuanya Mas. Aku tidak bisa kamu bodohi sesuka hatimu," tegas Ravka seraya membanting berkas-berkas itu ke atas meja di depan Alex.
__ADS_1
"Ravka, bisakah kamu lebih sopan kepada saudara yang lebih tua," hardik Bayu melihat tingkah Ravka.
"Aku akan bersikap sopan kepadanya selayaknya Kakakku sendiri, kalau dia juga menganggap keluarga ini adalah keluarganya, Kakek," jawab Ravka sengit.
"Beraninya kau berbicara seperti itu pada Kakakmu?!" Erika terdengar naik pitam.
"Cukup .... Apa kalian tidak punya rasa malu dihadapan tamu?" tanya Bayu membuat Ravka dan Erika hanya berani menunduk.
"Maaf Farash, kalau pertengkaran keluarga ini membuatmu jadi tidak nyaman," ucap Bayu menatap Farash.
"Tidak apa-apa tuan. Saya bisa mengerti, mungkin ada kesalah pahaman disini," ucap Farash mahfum. "Saya rasa, keberadaan saya disini sudah tidak diperlukan. Sebaiknya saya pamit undur diri," ucap Farash menangkap maksud dari ucapan Bayu.
Farash cukup sadar diri untuk tidak berada di tengah-tengah pertengkaran keluarga besar Dinata. Ditelisik dari sisi manapun, menghindar dari ruangan itu adalah jalan terbaik untuknya.
"Saya akan mengantar Farash, ke depan," ucap Nino yang sedari tadi berdiri tak nyaman di dalam ruangan itu.
Pemuda itu mengambil kesempatan secepat kilat untuk mengikuti jejak Farash mengambil langkah seribu dari ruangan itu.
Untuk urusan pekerjaan, Nino tentu akan selalu mendampingi atasan sekaligus temannya dalam medan sesulit apapun. Namun, kali ini sudah menyerempet urusan pribadi keluarga Ravka yang tentunya mereka tak ingin dicampuri oleh pihak luar.
Keduanya kemudian berjalan beriringan keluar ruangan setelah mendapat izin dari Kakek Bayu. Nino kemudian menutup pintu dibelakangnya tanpa ada sebersit rasa penasaran akan apa yang akan terjadi setelah ini.
**********************************************
sambil nunggu up selanjutnya boleh intip karya ini yah guys...
__ADS_1