Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 119# Penyesalan


__ADS_3

Alex melangkahkan kaki perlahan menuju sebuah ruangan besar di lantai satu rumah keluarga Dinata. Dengan perasaan gugup ia mengetuk pintu kayu bercat coklat muda yang mengkilat. Sejak tinggal di rumah Kakeknya ini, ia sudah beberapa kali melewati pintu ini. Namun, sayangnya hal itu pasti selalu berakhir dengan buruk. Jika ia sampai dipanggil ke ruangan ini, berarti ia sudah melakukan kesalahan yang membuat Kakeknya naik darah. Membuat satu trauma tersendiri, membayang dikepala pemuda yang genap berusia tiga puluh dua, tahun ini.


Alex mengetuk pintu itu ragu, memikirkan apa alasan yang akan ia lontarkan pada Kakeknya karena kedapatan kembali pada kebiasaan buruknya, mabuk-mabukan di kelab hingga dini hari. Tak lama ia mendaratkan kepalan tangannya pada pintu, sebuah sahutan dari dalam memerintahkan Alex segera memasuki ruangan.


"Selamat siang, Kek," sapa Alex saat Kakeknya memperhatikan dirinya dengan seksama dari balik meja kerjanya di ujung ruangan.


Lelaki paruh baya itu kemudian meletakkan sebuah buku yang tengah dibaca ke atas meja, lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa Chesterfield tak jauh dari meja kerjanya.


"Kemarilah," perintah Bayu dengan suara serak khas orang tua menjawab sapaan Alex.


Lelaki yang sudah sepuh itu tampak tersenyum ramah. Tak ada guratan marah atau kecewa di wajah lelaki yang seluruh nya sudah ditutupi keriput, lantaran dimakan usia. Membuat Alex bergeming menatap wajah lelaki yang memberikan sumbangsih gen dalam darah yang mengalir di tubuh Alex.


"Baik Kek." Alex sempat menganggukkan kepala menjawab perintah Bayu untuk mendekat padanya, sebelum ia tenggelam dalam pikiriannya sendiri.


Menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh Kakeknya itu. Wajah Bayu terlihat tenang dan tak ada sedikitpun guratan emosi membayangi. Beda halnya saat ia masih lebih muda dari saat ini. Wajah itu akan langsung meampilkan kilatan amarah sejak Alex membuka pintu ruang kerja Bayu.


"Duduklah," perintah Bayu sesaat setelah lelaki renta itu mendaratkan tubuhnya di sofa panjang sembari menepuk bantalan sofa di dekatnya. Hal itu ia lakukan sebagai tanda agar Alex memilih duduk didekatnya.


Alex duduk di sofa yang ditepuk oleh sang Kakek. Pandangan mereka berserobok sebelum Alex kembali menundukkan pandangan.


"Tidak usah tegang. Kakek memanggilmu kemari hanya ingin berbincang."


Alex tak menyahuti perkataan Kakeknya. Ia masih berkutat dengan pikirannya sendiri, alasan apa yang mendasari sang Kakek tiba-tiba meminta Alex menemuinya.


"Lex, kamu sudah cukup dewasa." Bayu memulai percakapan. "Sudah saatnya kamu serius memikirkan masa depan mu," lanjut Bayu membuat Alex hampir menerbitkan senyumnya.


"Sepertinya kemampuan ceramah Ravka di dapat dari Kakek," Batin Alex teringat perkataan Ravka dini hari tadi. Bahkan bukan hanya perkataan yang sama. Pemilihan waktunya pun sangat berdekatan.


"Umur Kakek mungkin tidak lama lagi. Kakek berharap bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang, saat melihat cucu-cucu Kakek bisa menjalani hidupnya dengan baik."


Perkataan Bayu membuat Alex tersentak. Meski ia tidak begitu menyukai Kakeknya karena merasa sang Kakek pilih kasih, tapi ia tetap menyayangi lelaki tua dihadapannya ini. Alex mengangkat kepalanya menatap wajah teduh sang Kakek. Tidak ada ketakutan membayangi matanya saat berbicara kematian, seolah ia sudah siap menghadapinya. Tapi Alex bisa menangkap kekhawatiran di manik mata yang mulai terlihat keperakan karena penglihatan Bayu yang semakin memburuk karena usia.

__ADS_1


"Kakek jangan berbicara seperti itu. Aku yakin Kakek bisa melewati usia seratus tahun," ucap Alex dengan sorot mata sendu.


Bayu terkekeh mendengar ucapan Alex. Mungkin ia masih berharap bisa menyaksikan kelahiran cicit-cicitnya di usia senja. Namun, komplikasi yang menyerang tubuhnya mengatakan seolah ia hanya akan menyusahkan anak dan cucu di masa tuanya. Bayu berharapa dalam doanya, Tuhan segera mencabut nyawanya sebelum ia terkapar di tempat tidur tak mampu berbuat apapun, bahkan pada tubuhnya sendiri. Ia tak mau menjadi beban bagi siapapun nanti.


"Parkinson yang Kakek derita sudah memasuki stadium tiga. Penyakit ini tidak akan pernah bisa disembuhkan. Hanya bisa diperlambat. Tapi sekarang usia Kakek sudah tidak mendukung lagi untuk menjalani serangkaian terapi."


"Aku lihat Kakek masih kuat. Kakek jangan terlalu berpikiran jauh."


"Kakek sudah lebih banyak makan asam garam dibanding kalian. Membohongi diri sendiri, itu pekerjaan yang sia-sia. Sama seperti yang sedang kamu lakukan sekarang."


"Aku tidak mengerti yang Kakek Maksudkan."


"Apa kamu sadar? Kamu sedang membohongi diri sendiri dengan menghindar dari masalah. Masalah itu untuk dihadapi, Lex. Bukan untuk dihindari," lanjut Bayu berucap dengan nada penuh kelembutan.


Alex menautkan kedua alisnya mencerna ucapan Kakek Bayu yang seolah menyudutkannya. Selama ini Ia hanya seperti seorang cucu yang tak punya rasa tanggung jawab di pundak.


"Sikap kamu yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan memendamnya seorang diri, itu sama saja seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja," imbuh Kakek Bayu lagi.


"Bagaimanapun, kamu sekarang sudah menjadi seorang suami. Baik buruknya istri kamu, itu sudah menjadi tanggung jawabmu. Kakek hanya berharap kamu berikan kesempatan pada dirimu sendiri juga istri mu untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Selesaikan masalah diantara kalian sebaik mungkin. Apapun keputusan mu untuk pernikahan kalian, Kakek tentu akan mendukungmu sepenuhnya. Yang terpenting kamu sudah memikirkan baik dan buruknya."


Alex menghela nafas panjang mendengar perkataan yang dilontarkan sang Kakek. Mulutnya kelu mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hati. Ia tak terbiasa berbicara dari hati ke hati dengan keluarganya. Namun, ia menyadari suka tak suka, mau tak mau, ia harus menghadapi masalah pelik yang menjerat hidupnya.


"Apapun yang menjadi alasanmu menikahi Sherly, itu sudah menjadi bagian dari resiko yang harus kamu tanggung saat memutuskan menikahinya. Kakek tak pernah memaksamu untuk menikah dengan Sherly. Kamu secara sadar memilih untuk menikah dengannya, Lex."


"Tapi Aku tidak pernah menyangka kalau pernikahan ini hanya dijadikan sarana bagi keluarga Sherly untuk menghancurkan keluarga kita, Kek," sambar Alex tidak terima saat Kakeknya menyalahkan tindakannya mengambil alih tanggung jawab untuk menikahi Sherly.


"Mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan keluarga kita kalau bukan atas seizin Yang Maha Kuasa. Percayakan semua hidupmu pada Allah Alex, bukan hanya pada kemampuan diri."


"Aku benar-benar tidak terima dengan apa yang sudah Sherly lakukan, Kek," sergah Alex.


"Kakek menyadari Sherly bukan wanita sempurna untuk dijadikan istri. Tapi Kakek juga harus mengakui, kalau kamu juga tidak lebih baik dari Sherly. Entah jodoh kalian masih panjang atau hanya seumur jagung, Kakek cuma bisa berharap kamu memetik pelajaran dari semua kejadian yang menimpamu. Kakek juga berharap, ini semua bisa menjadikan kamu sebagai pribadi yang lebih baik untuk ke depannya," tutup Bayu mengakhiri nasehatnya.

__ADS_1


"Aku mengerti, Kek." ucap Alex tanpa semangat.


Jujur saja, rasanya ia sudah malas harus menemui wanita yang sudah menimbulkan kekecewaan yang mendalam di hati. Namun, ucqpqn Kakelnya dan Ravka benar adanya. Ia tak bisa berlarut-larut dalam masalah. Ia harus segera menyelesaika semua persoalan diantara ia dan Sherly.


"Aku akan mencari cara agar bisa menemui Sherly dan menyelesaikan semua persoalan diantara kami."


Bayu meraih tangan Alex, lalu menepuk punggung tangan itu dengan perlahan, seolah menyalurkan kekutan bagi Alex melalui tepukan itu.


"Kakek percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik. Jangan libatkan dendam dalam menyelesaikan semua persoalan yang terjadi. Dendam hanya akan membawa kehancuran. Ingatlah itu baik-baik," ujar Kakek Bayu.


"Baik Kakek. Aku akan ingat semua nasehat Kakek," balas Alex yang disambut seringai lebar diwajah tua Kakeknya.


Baru kali ini ia bisa berbicara baik-baik dengan sang Kakek. Ia menyadari bahwa Kakeknya tidak semenyebalkan yang ia pikir selama ini. Sebelum ini, ia selalu menentang semua yang diucapkan oleh Kakeknya hingga membuat Bayu naik pitam. Semua hanya berakhir dengan amarah yang mendera keduanya. Sudah saatnya ia merubah sikap kekanakannya seperti yang seringkali disampaikan oleh Ravka. Meski ia berusia lebih tua dari Ravka, tapi ia menyadari kalau pemikirannya belum sematang Ravka.


"Satu lagi, Lex," ucap Bayu seraya menarik nafas panjang sebelum memulai kembali apa yang hendak ia katakan pada Alex. "Sebelum Kakek benar-benar meninggalkan kalian untuk selamanya, Kakek ingin meminta maaf padamu. Kakek sudah salah menanggapi kenakalanmu saat remaja. Amarah Kakek malah semakin mendorong kamu berkelakuan buruk hingga menjadi tabiat yang mendarah daging. Kakek benar-benar, berdoa kamu bisa menginjakkan kakimu di jalan yang benar sepeninggalan Kakek nanti."


"Jangan berbicara seperti itu Kakek. Ini bukan salah Kakek, semua murni kesalahan ku. Aku yang terlalu keras kepala jika dinasehati. Aku juga sudah berpikiran buruk pada Kakek sehingga kesalahpahaman terus berlarut. Aku sadar akan kesalahan ku. Jadi Kakek jangan lagi menyalahkan diri sendiri."


"Bagaimanapun, apa yang terjadi pada anak-anaknya karena orangtua yang tak bisa mendidik dengan baik. Selama ini Kakek hanya menyerahkan didikanmu pada Ibumu. Padahal kamu juga butuh sosok seorang Ayah sepeninggalan Dika. Kakek terlalu fokus pada pekerjaan di masa muda. Kakek turut andil membiarkan kamu terperosok pada kemaksiatan. Untuk itu Kakek minta maaf."


"Kek .... " Belum selesai Alex bicara, Kakeknya sudah memotong ucapan pemuda iti dengan menggelengkan kepala.


"Kita tidak usah bahas yang sudah lalu. Kakek hanya inhin kamu memaafkan semua kesalahan Kakek," imbuh Bayu.


"Kakek," Alex menyergap tubuh renta dihadapannya. Memeluk erat tubuh ringkih Kakeknya yang sudah mulai sakit-sakitan.


Perasaan bersalah mendera Alex seketika. Ia yang sudah berkali-kali mencoreng nama keluarga dengan segala kelakuan buruknya saat remaja. Namun, sekarang justru Kakeknya yang meminta maaf atas kelakuannya. Sungguh ia merasa seperti pria tak tahu diri. Ia menyadari semua kejadian buruk menimpanya, tak lain karena sikap buruk yang berbalik pada dirinya sendiri. Kakek benar, ia tak lebih baik daripada Sherly, hingga merasa berhak menghujat istrinya itu.


Tak terasa bulir bening menetes dari kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca saat membawa Kakeknya ke dalam pelukannya. Sebersit penyesalan menghinggapi hati Alex menyadari kesalahannya selama ini.


"Maafkan Alex juga Kakek. Maaf atas semua kelakuan burukku selama ini. Aku janji mulai sekarang, aku akan lebih menjaga sikap. Lebih bertanggung jawab terhadap keluarga dan juga perusahaan," ungkap Alex bergetar di dalam pelukan Kakeknya.

__ADS_1


Bayu hanya mengangguk seraya menepuk punggung cucu lelaki tertuanya itu. Sebersit senyum tersungging di wajah Bayu mendengar ketulusan janji yang diucapkan oleh Alex.


__ADS_2