Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 52# Cisarua


__ADS_3

"Kamu yakin dek, aku ga apa-apa kalau ngikut kamu?" tanya Alea untuk kesekian kalinya saat mereka sudah di dalam perjalanan ke kampus Kania keesokan harinya.


"Ga Kakak cantik. Ga apa-apa beneran," cubit Kania gemas di pipi Alea, karena selalu mepertanyakan hal yang sama berulang kali. "Cuma nanti, aku ga akan bisa nemenin Kak Al setiap waktu. Perhitungannya kita akan sampai cisarua sebelum tengah hari. Nah lewat jam makan siang ada kegiatan yang tidak bisa aku tinggalkan sampai jam sembilan malem. Terus besok ada lagi kegiatan sampe jam makan siang. Selebihnya aku bebas," Kania menjelaskan.


"Iya aku ngerti. Kamu disana ada kegiatan club jadi hanya bisa nemenin aku di jam kosong kegiatan,"


"Oia selama aku masih ada kegiatan, kalau Kak Al bosen, Kakak bisa jalan-jalan sendiri atau baca buku. Aku udah minta bawain temen aku buku bacaan buat kakak biar ga suntuk selama disana,"


"Kamu tuh emang adek paling the best deh pokoknya," ucap Alea tulus.


"Eh kita dah mau sampe tuh," Kania menunjuk sebuah banguna bertingkat dari dalam monil yang mereka tumpangi. "Pak masuk ke dalemnya aja yah pak. Berenti di area parkir sebelah sana," perintah Kania pada supir takai online yang mengantarkan mereka ke kampus dari Labera hotel.


"Baik Neng," jawab si supir taksi mengarahkan mobil yang dikendarainya memuju tempat yanh ditunjuk oleh penumpangnya.


Setelah mobil berhenti sempurna, keduanya dengan segera menuruni mobil dan mebayar biaya perjalan kepada sang supir raksi online. Kemudian keduanya berjalan menuju ke bagian dalam area kampus.


"Hey Kan, baru dateng lu?" sapa teman Kania yang berpapasan saat memasuki area kampus.


"Eh La, iya nih baru nyampe gue. By the way, lu ngeliatin Adri ga?"


"Ada tuh di dalem, baru nyampe juga. Bawa barang banyak banget dia," ucap Lala memberi informasi yang audah diduga oleh Kania. "Laki kok barengnya segambreng gitu cuma buat pergi dua hari satu malam," Lala menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah ah, gue buru-buru. Lu masuk duluan. Bentar lagi jadwal keberangkatan," lanjut Lala seraya meninggalkan Kania dan juga Alea.


Kania hanya mengangguk dan mengulum senyum. Dia berniat menjelaskan kalau barang yang dibawa oleh Adri adalah barang-barangnya yang ia minta ambilkan di rumah tadi pagi kepada temannya satu itu. Namun, mengingat waktu yang semakin bergulir gadis itu mengurungkan niatnya dan menyegerakan diri untuk bergabung dengan yang lain.


"Woi, baru dateng lu. Ni barang-barang lu. Gila banyak banget sih? Gue dikira mau pindahan tau ga bawa barang-barang lu," ucap seorang pemuda saat Kania sudah menginjakkan kakinya di ruangan klub yang digunakan sebagai titik kumpul seraya menyerahkan satu buah ransel besar yang terisi penuh.


"Heheee, sory Dri," cengir Kania sok imut. "Beberapa juga ada barang yang diperlukan buat kegiatan. Ga semuanya barang gue pribadi tau," Elak Kania. Dia semalam memang meminta Farash untuk membantu Mbok Minah menyiapkan seluruh kebutuhan yang akan ia bawa hari ini, lantas meminta Adri mampir kerumah untuk membawanya ke kampus.

__ADS_1


"Emang Lu semalem kemana sih? Pake ga pulang segala. Repot gue ngeboong ke Bonyok Lu. Nyusahin mulu emang Lu,"


"Yaelah Dri, segitu doang udah ngeluh. Udah pada siap belom?"


"Udeh,"


"Anak-anak angkatan baru gimana?"


"Beres semua, tinggal cuss kita. By the way, lu ngajak siapa sih? Dari tadi gue tungguin, ga dikenalin juga," sambar Adri seraya memperhatikan Alea yang yerlihat kikuk di sebelah Kania.


"Oia, ini Kakak sepupu gue, Alea. Kak ini temen aku Adri," Kania mengenalkan Alea dengan temannya.


"Kiko," sambar seorang pemuda yang tak jauh dari tempat Alea berdiri menyambut uluran tangan Alea kepada Adri.


"Alea," ucap Alea agak sungkan.


"Adri,"


"Alea," ucap Alea mengulang namanya.


"Danil," ucap pemuda yang lain lagi memdekati serombongan pria yang ausah mulai mengeliling Alea.


Kania buru-buru menepis tangan Danil dan menarik Alea ke belakangnya.


"Heeeh... Lu pada ga usah sok kegantengan deh. Gue kasih tau yah ini Kakak gue namanya Alea. Udah titik. Ga ada lagi yang sok-sokan ngajak kenalan. Lu semua pada bau kencur, bukan tipenya kakak gue," cerocos Kania panjang lebar.


"Yaelah Kan, pelit amat lu. Lagian punya Kakak cakep mah jangan di kekepin kali. Kakak lu biar kata lebih tua, mukanya imut tau. Masih panteslah gandengan ama gue," sambar Kiko yang sedari tadi menunjukkan ketertarikannya pada gadis manis yang baru saja ia jumpai.

__ADS_1


"Elu yang ga antes buat Kakak gue. Dia udah kerja di perusahaan besar, ga punya modal lu semua kalau mau ngegebet Kak Alea," sambar Kania lagi.


"Apa sih Kania," Alea menepuk lembut lengan adik sepupunya itu.


Kegaduhan antara Kania dan teman-teman prianya masih terus berlanjut. Namun, perhatian Alea kini tertuju pada seorang pria yang turut memperhatikannya dari kejauhan. Yang lebih membuat Alea meringis jijik adalah ketika pria tersebut, mengedipkan sebelah matanya menggoda dari kejauhan. Padahal disebelahnya ia tengah menggandeng mesra seorang cewek yang sudah sangat Alea kenal.


Apa Sandra ga ngeliat aku yah? Atau emang sebenenrnya dia ngeliat tapi memilih untuk pura-pura tak mengenaliku? - Alea mengangkat sebelah alisnya heran.


Namun, gadis itu lebih memilih untuk tak terlalu menghiraukannya. Ia akan membiarkan saja mereka seolah tak mengenal satu sama lain jika memang Sandra menginginkan hal itu. Lagi pula saat ini Alea sedang malas beramah tamah dengan siapapun. Ia hanya ingin menenggelamkan diri dengan nasib malang yang menimpanya. Kemalangan menjadi seorang istri yang tak diinginkan oleh sang suami. Ia tak mau memusingkan hal lain dan hanya akan memanfaatkan acara kampus Kania untuk bisa keluar sejenak dari rutinitas hariannya.


"Hayo siap-siap berangkat," ucap mukhlis, Ketua klub yang saat ini merangkap jadi ketua panitia kegiatan.


Dengan sekejap keributan semakin terdengar memenuhi ruangan klub. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri dan bergegas mencari tempat ternyaman yang bisa mereka temukan di dalam bis yang akan membawa mereka berangkat ke Cisarua. Selama perjalanan pria bernama Rama itu masih terus mengamati Alea, hingga membuat gadis itu jengah.


Bener kata Kania. Tu cowok bukan cowok baik-baik. Kasian Sandra - Alea menghela nafas pasrah karena merasa tak bisa memperingati Adik iparnya itu.


Alea tak mungkin ujug-ujug memperingati seorang gadis yang bahkan tidak menyukainya. Ia hanya biaa mendoakan semoga Sandra cepat menyadari kekeliruannya dekat dengan lelaki hidung belang macam Rama. Lelaki yang nampaknyaerlalu pede dengan penampilan fisik semata.


*******


Alea meregangkan tubuhnya. Setelah berjam-jam menenggelamkan diri dengan buku bacaan di tangannya. Tadi siang, sesampainya di Villa, Alea sempat mengikuti rombongan panitia berkeliling lokasi penginapan agar mengetahui seluk beluk Villa demi menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah itu para panitia itu beristirahat sejenak dan melanjutkan kegiatan mereka seusai sholat dzuhur. Sementara Alea memilih masuk ke dalam kamar dan membaca. Kecanggungan Alea berkurang saat berada di tengah-tengah kegiatan klub kampus Kania. Karena seperti yang Kania sampaikan kegiatan kali ini bukanlah kegiatan resmi kampus, sehingga banyak dari mereka yang mengajak pacar atau gebetannya yang berasal dari luar kampus mereka.


Alea melihat jarum-jarum yang bergerak di pergelangan tangannya. Saat ini sudah pukul setengah sembilan malam. Seharuanya sebentar lagi Kania selesai dengan kegiatannya. Akan tetapi, rasa bosan sudah kadung menyergap Alea hingga ia rasanya malas kalau harus berdiam diri di kamar hingga Kania kembali. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejelank seraya menikmati dinginnya malam di lereng tebing Cisarua.


"Huhh... dingin banget yah ternyata," ringis Alea seraya bersedekap.


Ia tak membawa persiapan yang memadai untuk menginap di puncak karena memang tidak berencana akan bepergian ke daerah yang suhunya tak jauh dari dua puluh derajat celcius saat malam hari. Ia berjalan-jalan seorang diri hanya dengan gaun sederhana paduan katun dan chifon tipis yang membalut tubuhnya. Tentu saja gaun itu tak mampu menghadang dinginnya malam menusuk kulitnya hingga menembus ke dalam tulang. Sebelum dia semakin kedinginan, Alea memutuskan untuk kembali kedalam Villa. Namun dari kejauhan ia melihat siluet seorang pria yang menyeret paksa seorang gadis mengikutinya. Tanpa sadar Alea turut menyeret kakinya mengikuti sepasang muda-mudi yang sepertinya adalah bagian dari rombongan mereka.

__ADS_1


__ADS_2