Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 138# Kegelisahan Hati


__ADS_3

Alea masih tampak membisu.


Perjalan yang berlangsung selama empat puluh menit dari Four Season Resort menuju Hurawalhi Island Resort dihiasi keheningan. Meski mata perempuan itu masih memperlihatkan percikan kebahagiaan, tapi ia tak dapat menutupi kegundahan yang memancar pada kedua sorot matanya.


Ravka lagi-lagi meraih tubuh Alea ke dalam rengkuhannya saat mereka sudah tiba di sebuah villa apung yang dibangun diatas lautan. Tak ada semangat yang memancar dari diri gadis itu untuk mengeksplor kamar berukuran seratus delapan meter persegi tersebut. Kamar yang di dominasi warna coklat dari warna alami kayu yang di veener tak mampu membuat Alea tergugah.


"Aku tidak suka melihatmu seperti ini," bisik Ravka di telinga gadis itu.


"Maksud Mas Ravka?" Alea mendongakkan kepala.


Kali ini ia memberanikan diri menatap kedalaman manik coklat di hadapannya yang memancarkan kelembutan penuh cinta. Menatap teduh netra itu membuat semua gundah menguap entah kemana. Semua kesal, marah dan kecewa seolah sirna seketika hanya dengan menatap wajah tampan pemilik hatinya. Jantung Alea berdegup kencang mendapati tatapan penuh damba sang suami.


"Aku merindukan keceriaanmu," Ravka mendaratkan bibirnya pada pipi Alea, mengirimkan desiran halus merayap hingga ke sanubari. "Aku tidak suka jika kamu menyimpan semua rasa sendiri. Katakan saja apa yang ada di hatimu," lanjut Ravka tanpa menjauhkan bibirnya dari wajah alea.


Memindahkan bibir itu dari satu titik ke titik lain diwajah Alea seraya mengirimkan nafas hangat menyapu wajah gadis bermata sayu kala Ravka mengeluarkan suara. Alea hanya bisa merapatkan kelopak mata. Menikmati sensasi keintiman yang dikirimkan Ravka melalui sentuhan bibir lembutnya.


Puas mengeksplor wajah Alea dengan sentuhan bibirnya, Ravka menghentikan aksi yang semakin membuatnya tak terkendali. Ia menjauhkan wajah dari sang istri. Memberi celah bagi keduanya yang sudah menempel tak memberikan jarak yang tersisa.


"Bersiaplah, yang lain sudah menunggu kita untuk bersenang-senang," ucap Ravka masih menatap Alea dengan intens. "Aku sangat mencintaimu, Al," lanjut Ravka dengan suara serak menahan nafas yang kian memburu.


Alea merebahkan kepala di atas dada suaminya. Membenamkan wajahnya disana seraya menghempaskan semua ragu yang menyapa. Mengingatkan diri, betapa cinta bisa mengalahkan segala tanpa perduli rupa dan warna. Mungkin ia hanya terbawa perasaan saat menyaksikan betapa sempurna pasangan pengantin kemarin, tampak begitu serasi hingga menghadirkan kerendahan diri yang menguasai hati.


Rasa kepercayaan diri yang rendah membuat Alea terus memutar rekaman ucapan tak enak hati, hingga sulit membuangnya pergi dari benak yang terus mematri. Gadis itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Ravka, berharap semua rasa melebur disana. Meyakinkan diri dengan pernyataan yang baru saja meluncur dari mulut sang belahan jiwa.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas," balas Alea.


Ia menengadahkan kepala. Menampilkan senyum indah yang membuat Ravka terpaku menatapnya.


"Ayo kita temui yang lain," ucap Alea membuat Ravka menekan hasrat yang menggebu menatap wajah imut nan menggemaskan.


Wajah istrinya yang mulai menghadirkan kecereriaan seindah cerahnya mentari di luar sana, membuat Ravka turut menepis senyum di bibirnya yang merekah. Ditahannya sekuat tenaga deru nafas yang memburu. Hari ini ia ingin membuat semua tampak sempurna sebelum menggiring Alea melakukan apa yang akan ia minta.


Ravka membawa tangan mungil Alea ke dalam genggaman tangannya. Menggiring gadis itu keluar villa mereka untuk bertemu teman-teman yang sudah menunggu sejak tadi. Melewati titian kayu yang kokoh di atas deburan ombak, membuat keduanya tampak romantis dari kejauhan. Angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambut Alea menambah syahdu suasana. Di ujung sana, beberapa orang sudah berkumpul seraya melemparkan tatapan kepada dua sejoli yang saling melemparkan tatapan mesra penuh damba.


"Woiii, lama amat sih. Ditungguin juga dari tadi. Panas nih," omel Fiky saat keduanya berhasil mencapai lokasi teman-temannya berada.


"Indehoy mulu yah lu berdua? Sampe lupa waktu," celoteh Beni menambah ramai suasana.


Ravka berdecak mendengar cibiran teman-temannya. "Bisa ga sih otak lu ga usah pada ngeres. Lu kira gue kesini buat gituan doang? Kalau cuma mau gituan doang ngapain jauh-jauh kesini?!"


Mereka kemudian berjalan bersama. Kania hanya sempat bertegur sapa sebentar dengan kakak sepupunya itu. Ia tak mau mengganggu kebersamaan Kakak tersayangnya dengan sang suami yang terlihat begitu manis. Membiarkan mereka menikmati bulan madu meski di kelilingi oleh para sahabat.


Peraturan tak boleh menggunakan alas kaki di Huruwalhi island resort, membuat Alea merasakan kakinya diselimuti pasir pantai yang halus lembut seputih salju yang semakin membenamkan jari jemari di setiap derap langkahnya. Pasir-pasir halus itu terasa menggelitik lembut telapak kakinya yang telanjang, menghadirkan sensasi tersendiri yang membuat Alea ketagihan melangkahkan kakinya kesana kemari memainkan butiran halus yang melewati sela-sela jari.


Beruntung cuaca tak terlalu menyengat meski matahari masih bersinar dengan gagahnya. Ditambah pohon rimbun yang menaungi tepi pantai menyembunyikan mereka dari cercaan sinar mentari.


"Kita main ayunan disana yuk," tunjuk Ines pada ayunan yang didirikan di atas laut.

__ADS_1


"Ga ah yang, panas ini. Makin keling aku yang ada," jawab Dandy menolak ajakan kekasihnya.


"Ih kamu mah gitu. Udah item juga. Ngapain takut item segala sih?" desis Ines menggerutu.


"Sama aku aja yuk kak," ajak Kania penuh semangat.


"Ayok," sambar Ines cepat seraya berlari ke pantai.


"Yang, panas ini. Item tar kamu. Aku kan mau perbaikan keturunan punya cewek putih mulus." Dandi berteriak mencoba menghentikan niat kekasihnya yang tak di gubris oleh Ines.


Ines menghentikan larinya, seraya berbalik dan melanjutkan jalan dengan melangkah mundur. "Ga apa-apa, Babe. Aku ga bakalan item kaya kamu kok. Paling agak kecoklatan dikit biar eksotis," teriak Ines seraya terkekeh kemudian kembali berlari menyusul Kania yang sudah sampai di ayunan.


"Yang, kamu ga usah ikut panas-panasan deh. Tar kalau kamu iteman aku pusing dengerin kamu ngoceh-ngoceh. Bulan depan kita ada jadwal foto prewed loh." Fiki langsung memperingati tunangannya.


"Iya, siapa juga yang mau panas-panasan. Mendingan disini. Adem," ucap Rizka yang sudah menjatuhkan tubuhnya di atas Hammock dekat tepi pantai.


Alea turut menjatuhkan tubuhnya di atas hammock di sebelah Rizka. Kemudian berbincang hangat ala perempuan. Lebih tepatnya, Rizka mencerca Alea dengan pertanyaan bertubi seputar pernikahannya. Gadis itu tampak menghkawatirkan pernikahannya sendiri yang akan dilangsungkan beberapa bulan mendatang.


Sementara Rifzan tampak tak mau melepas kesempatan sedikitpun mendekati Kania. Pemuda itu segera menyusul Kania dan Ines yang tengah asik memainkan ayunan seraya menggerakkan kaki di air laut yang membenamkannya hingga sebatas paha. Membuat basah seluruh celana dan baju yang kedua gadis itu kenakan tanpa mereka perdulikan.


**********************************************


jangan lupa mampor dimari yah man teman.. siapa tau suka.. ceritanya juga seru

__ADS_1




__ADS_2