
Ravka mengetuk pintu ruang kerja Kakek Bayu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk ruangan tersebut dengan perasaan gugup yang menggelayuti. Disebelahnya Alea juga merasakan hal yang sama dengan suaminya. Tangan gadis itu gemetar di dalam genggaman tangan Ravka.
Alea mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan tersebut. Tampak Kakek Bayu tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya berkemeja biru tua. Alea mengenalinya sebagai dokter pribadi kakeknya. Seorang dokter saraf yang selama ini menangani parkinson yang menyerang Bayu tiga tahun kebelakang.
Di seberang Kakek Bayu, Alea melihat seorang perempuan dengan rambut panjang sebahu duduk membelakangi pintu masuk.
"Kemarilah Nak," panggil Bayu kepada cucu, juga cucu menantunya.
Ravka melangkah ragu seraya menggandeng istrinya. Detik-detik yang bisa mempengaruhi keputusan yang akan ia ambil untuk keberlangsungan rumah tangganya dengan gadis disampingnya saat ini.
"Yuri...." Alea tergugu saat menyadari siapa gadis yang duduk di hadapan kakek Bayu.
Alea melepaskan genggaman tangan Ravka. Dengan segera Alea menghampiri Yuri. Matanya berkilat penuh emosi yang berusaha ia tahan. Bibirnya gemetar, hendak menghamburkan seluruh pertanyaan dihadapan gadis yang tengah duduk diam tak terpengaruh akan kehadirannya.
"Kamu tau aku mencarimu kemana-mana?! apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Cecar Alea saat sudah berada tepat dihadapan gadis itu.
Gadis yang disapa Yuri itu bangun dari duduknya, berdiri menghadap Alea dengan ekspresi bingung.
"Katakan, apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?" seru Alea dengan nada yang semakin meninggi.
"Jawab, kenapa kamu hanya diam saja? Katakan pada semua orang disini bahwa aku tidak pernah menjebak siapapun. Justru aku yang dijebak disini," Alea semakin emosi saat mendapati gadis itu hanya diam saja.
"Jawab, Yuri. Bicaralah! kenapa kamu hanya diam saja?! Katakan apa salahku padamu, ha? Apa aku pernah menyakitimu hingga kamu sampai tega melakulan ini padaku? Jawab Yuri... jawab," Alea mencengkram bahu yuri, mengguncangnya keras untung membuat gadis itu mau membuka mulutnya.
Alea sudah tidak memperdulikan lagi tatakrama dihadapan Kakek Bayu dan tamunya. Ia sudah dipenuhi emosi saat mendapati Yuri hanya mematung dengan ekspresi tak mengerti apa yang Alea bicarakan. Mata Alea memerah dipenuhi kilat emosi. Mata itu kini mengalirkan bulir bening yang kian menderas. Tak hanya matanya, air juga turut mengalir dari hidungnya yang juga sudah memerah.
"Bicara Yuri, jangan hanya diam saja. Jawab aku. Katakan padaku apa yang sudah aku lakukan hingga kamu tega menghancurkan hidupku, menghancurkan mimpi-mimpi dan masa depanku?" Alea mulai berteriak histeris mendapati Yuri tak bergeming di tempatnya.
Gadis itu mengusap wajah dengan punggung tangannya. Menghapus air mata yang tumpah ruah tak terbendung. Isak tangisnya sesenggukan menyayat hati. Ravka hanya terdiam menyaksikan reaksi istrinya saat dipertemukan dengan perempuan yang masih diam mematung menatap heran sikap Alea tanpa perlawanan. Membiarkan Alea menumpahkan segala emosi yang menghimpitnya.
__ADS_1
"Aku.... aku....." Yuri berucap terbata-bata. Tiba-tiba gadis itu memegang kepalanya.
Memijit kepala yang dihantam rasa sakit tak terperi.
Tubuh Alea bergetar. Ia bertahan pada sandaran sofa karena tubuhnya seakan lunglai. Kakinya serasa tak mampu berpijak. Melihat kondisi Yuri yang seperti itu, membuat Alea semakin terguncang.
"Kenapa? Aku hanya ingin tahu, kenapa aku?" Alea terisak pelan ditempatnya.
Dada gadis itu turun naik dengan nafas pendek tak beraturan. Jiwa gadis itu tengah rapuh. Emosi marah, kecewa, sakit hati, tak berdaya semua berbaur menjadi satu.
Melihat Alea seperti akan limbung, Ravka bergegas merengkuh Alea ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dari belakang dan menyandarkan kepala gadis ayu itu pada dada bidangnya. Hatinya ikut tersayat mendengar betapa pilu isak tangis Alea.
"Tenanglah Alea, tenang," Bisik Ravka ditelinga Alea seraya memberikan kecupan menenangkan di puncak kepala gadis berkulit putih itu.
"Mana bisa kamu minta aku untuk tenang? Dia pasti tahu apa yang terjadi dengan kita malam itu. Aku butuh mendengar penjelasannya," ucap Alea sendu masih dengan isak tangis yang menyertai.
Ravka semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan segala perasaan melalui rengkuhannya. Berharap Alea bisa menenangkan dirinya yang hanyut dalam kepedihan. Lama dia membiarkan Alea menangis dengan posisi seperti itu.
"Kek, aku akan bawa Alea kembali ke kamar," ucap Ravka saat melihat kondisi di ruangan itu semakin tidak terkendali.
Bayu mengangguk sebagai jawabannya. Wajahnya ikut tegang menyaksikan Dokter Ares memeriksa Yuri. Ia juga melihat betapa kacau kondisi mental Alea yang histeris dipertemukan dengan Yuri.
Ravka melonggarkan rengkuhannya pada Alea. memindahkan posisi gadis itu kesampingnya tanpa melepaskan sebelah tangan pada bahu istrinya. Ia menggiring Alea dalam rengkuhannya keluar dari ruangan kerja kakeknya. Ia memeluk bahu Alea seraya mengusap lembut bahu gadis yang masih bergetar karena isak tangis.
Saat tengah berjalan menuju kamar, Ravka berpapasan dengan Ibunya. Wanita paruh baya itu terperangah menyaksikan kondisi Alea yang tampak kacau. Pandangan matanya kosong dengan mata merah hingga ke alisnya, serta hidung yang juga memerah.
"Apa yang terjadi?" tanya Dilla tanpa suara kepada putranya.
Ravka hanya menggeleng. Menjawab dengan isyarat matanya untuk tak menanyakan kondisi Alea saat ini. Ia melanjutkan jalannya meninggalkan Dilla dengan kerutan di dahinya.
__ADS_1
Ravka mendudukkan Alea di tepi ranjangnya perlahan. Membelai pipi mulus gadis itu yang dibanjiri air mata. Bibirnya mendekat kepada dahi Alea. mendaratkan kecupan yang dalam disana seraya membelai rambut indah bergelombang milik Alea.
"Sekarang kamu istirahat dulu. Aku akan ambilkan air untuk kamu," ucap Ravka seraya melepaskan tangannya pada rambut Alea.
"Tunggu Mas," ucap Alea seraya menarik tangan Ravka menahan kepergiannya.
Alea mendongakkan wajahnya menatap Ravka dengan sendu. Tatapan mata yang mengiris hati Ravka. Ia tak menyangka bahwa kepedihan gadis ini begitu mendalam.
"Ada apa?" tanya Ravka seraya memaksakan seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Bagaimana kamu bisa menemukan Yuri? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia sama sekali tak berbicara apa-apa?" rentetan pertanyaan Alea layangkan.
"Aku akan menceritakannya padamu setelah kamu bisa menenangkan diri. Saat ini kondisi kamu sendiri sedang tidak baik, jadi beristirahatlah," Ravka kembali mengulas senyum. Ia hendak melepaskan genggaman tangan gadia itu.
Alea menggelengkan kepalanya seraya menambah erat genggaman tangannya pada Ravka. Kali ini ia tidak mau mendengar perintah suaminya, ia harus mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Melihat tekad yang terpancar di mata gadis itu, Ravka ikut merebahkan tubuhnya duduk di samping Alea. Meraih tangan gadis itu yang satu lagi, hingga ia membawa kedua tangan Alea ke dalam genggamannya.
"Aku sendiri belum tahu banyak. Tapi aku akan menceritakan apa yang aku ketahui. Hanya saja, saat ini kamu butuh sesuatu untuk menenangkan diri agar bisa mendengar apa yang aku sampaikan dengan baik," Ravka memgangkat tangannya. Membelai pipi gadis itu lagi untuk menghapus sisa air mata yang menjejak disana. "Aku tinggal sebentar membawakanmu minuman," imbuh Ravka.
"Aku cuma butuh kamu untuk menenagkan diri," ucap Alea impulsif. Ia kemudian merengkuh Ravka, memeluk suaminya dan mendaratkan wajahnya di dada bidang milik Ravka. Sesaat tadi terasa menenangkan saat Ravka memeluknya. Emosinya yang mulai tak terkendali bisa mereda dengan pelukan dari tubuh kekar itu. Ia merasa terlindungi sehingga menghadirkan kenyaman bagi hatinya. Kali ini bolehkan ia merasakannya lagi? Bolehkan ia terus merasakan pelukan hangat yang diberikan suaminya?
**********************************************
Jangan bilang dikit.. ini 1200 kata loh ya.. emang segini tiap part nya 😣😣
aku nulisnya 1200 - 1500 kata itu diluar catatan kecil yang aku buat untuk kalian loh..
Jangan bilang lama juga.. ini author bela-belain up date loh.. dari tadi pagi sakit gigi cenat cenut.. baru mendingan tadi sore.. mendingan loh ya, belom sembuh..
awas auto galak soalnya kalau lagi sakit gigi... wkwkwkkkk...
__ADS_1
Jangan lupa like n komennya tetep dikencengin yah.. happy reading...
see u later..