
"Kak, kamu cantik banget," binar mata Kania terlihat membara.
Lelehan haru tak dapat gadis itu tepis menggenang di pipi. Ini kali kedua ia melihat Alea dalam balutan pakaian pengantin. Hanya saja penampilan kali ini jauh berbeda dengan penampilan kali pertama. Waktu itu perasaan tertekan tampak nyata menggelayuti wajah Alea saat akan menghadapi babak baru dalam kehidupannya. Kesederhanaan penampilannya kala itu dihiasi kepedihan menyayat hati. Kini senyum ceria terus menghiasi bibir mungil itu. Menghadirkan kebahagiaan yang terpancar nyata dari sorot matanya.
"Hei, nanti Make up Artist-nya bakalan marah kalau aku sampai ikutan nagis seperti kamu," desis Alea seraya mengusap punggung Kania yang sudah menghambur ke dalam pelukannya.
"Aku seneng banget, Kak. Akhirnya perjuangan Kak Al selama ini dibayar setimpal. Kak Al memang layak dilimpahi cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari keluarga suami Kakak," ucap Kania penuh haru.
Sebagai seseorang yang menjadi saksi perjalanan hidup gadis manis yang tengah dipeluknya dengan erat ini, tentu Kania bisa merasakan seluruh emosi yang kini bergemuruh dalam hati Alea. Perasaan bahagia yang membuncah di dalam dada tak dapat Alea sembunyikan dari ekspresi yang terukir di wajah.
"Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa merasakan kebahagiaan seperti yang Kak Al rasakan sekarang," lirih Kania di dalam pelukan Alea.
"Setiap orang pasti akan menemukan kebahagiaannya sendiri jika ia selalu mensyukuri apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena Jika kamu bersyukur, maka Allah akan melipat gandakan nikmat yang kamu rasakan. Begitupun sebaliknya, jika kamu terus mengeluh, maka Allah akan cabut nikmat hidupmu," ucap Alea seraya melepaskan pelukan Kania.
Ditatapnya intens wajah adik sepupu yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya, tapi sudah ia anggap seperti adik sendiri. Seseorang yang begitu berarti dalam hidup Alea. Menemani perjalannya dalam suka dan duka.
"Aku yakin, kamu pasti akan menemukan kebahagiaan mu juga. Tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat, jagalah hati mu dan sertakan Allah disetiap nafas dan langkah mu. Maka kedamaian akan mememenuhi relung hatimu. Jiwa yang bahagia adalah jiwa yang dipenuhi kedamaian," bisik Alea penuh kelembutan.
Kania mengangguk pasti. Ia menyelip semua nasehat Alea dalam hati terdalam. Menyimpannya untuk dijadikan pegangan hidup. Sebuah contoh nyata terpampang di hadapannya. Bagaimana seorang gadis mungil yang terlihat lemah, tapi justru menyimpan kekuatan besar dengan ketulusan hati yang ia miliki. Bagaiamana kelembutan justru mengalahkan segala amarah yang menguasai jiwa.
"Bolehkah aku meminta mempelaiku?" Sebuah suara menginterupsi kedekatan Alea dan Kania.
Kania buru-buru mengelap sisa genangan air mata di pipi dengan punggung tangannya seraya menyunggingkan senyuman lebar kepada Ravka sembari mengangguk.
Lelaki yang tampak gagah dalam balutan jas pengantin itu berjalan perlahan menghampiri Alea dan menekuk lengan di hadapan mempelainya, mempersilahkan Alea menyambar lengan tersebut dan membawanya menuju tempat resepsi yang sudah disediakan.
"Are you ready My princess?" bisik Ravka ditelinga Alea.
"Off course My Lord," kekeh Alea pelan seraya melingkarkan lengannya di lengan Ravka.
__ADS_1
Di belakangnya Kania setia mengikuti dengan perasaan haru membendung dalam jiwa.
"Wah anak Mama cantik sekali," sambar Dilla saat Alea sudah berada di ujung lorong taman yang disulap menjadi area resepsi pernikahan yang mengusung tema Pesta Kebun bergaya Rustic.
"Terimakasih, Ma," jawab Alea membalas pujian ibu mertuanya.
"Kak, Make up kamu beneran keren deh. Flawless.... kelihatan natural tapi tetep memukau," ucap Sandra dengan wajah terpesona.
"Itu bukan karena make up nya doang. Kecantikan Kak Al itu dari dalem sini," ucap Tiara menyentuh dadanya, "Ada plusnya sih, plus aura penganten yang bikin Kak Al keliatan sempurna," jawab Tiara sok tahu.
"Idih sok tau," sambar Sandra.
"Emang aku tau kok. Temen-temen aku yang udah nikah, semuanya emang kelihatan beda waktu jadi penganten. Cantiknya jadi berkali lipet," jawab Tiara pongah.
"Kalau gitu aku juga kepengen jadi penganten, biar aura nya keluar," celetuk Sandra yang dibalas toyoran di kepala oleh Tiara.
"Anak kecil ga usah sok-sokan pengen manten ya ... Aku aja belom nikah," sewot Tiara.
Tak kurang dari seratus meja bulat dikelilingi enam buah kursi ditata dengan epik memenuhi area taman di sebuah venue yang dikhususkan sebagai tempat untuk melangsungkan acara outdoor. Diatas meja tersebut sudah tersusun berbagai peralatan makan dengan mawar putih di dalam vas terletak di tengah meja, menambah kesan romantis dan penuh kehangatan dalam resepsi pernikahan Ravka dan Alea.
Kursi-kursi tersebut ditata sedemikian rupa di atas hamparan rumput dengan atap terbuat dari kaca akrilik yang dipenuhi tanaman merambat. Sinar mentari sore hari diatas sana menyembul dan membias melalui atap kaca di sela-sela sulur tanaman rambat. Sinar yang membiaskan cahaya terang, tapi tak lagi menyengat kulit.
"Ayo kita temui para tamu," ajak Dilla pada anak dan menantunya.
Dilla mengandeng menantunya, sementara Bibi Alea yang wajahnya hari ini terlihat berseri, menggandeng Ravka memasuki area resepsi.
Berpasang-pasang mata mulai menyadari kehadiran sepasangan pengantin yang nampak begitu serasi dalam balutan gaun pengantin yang tidak terlalu mencolok, tapi tetap memancarkan aura kecantikan dan ketampanan yang mampu membuat mereka takjub dan iri melihat keserasian mereka.
Gaun krem tua berbahan tule yang jatuh dan ringan dengan tambahan aksen brokat serta taburan permata dibagian atas yang tidak terlalu ramai, membalut tubuh gadis itu dengan sempurna. Sangat serasi dengan pakaian empat potong yang dikenakan oleh Ravka. Pemuda itu terlihat mempesona dengan kemeja putih dibalut vest coklat muda serta jas berwarna khaki yang senada dengan celana yang dikenakannya.
__ADS_1
Pakaian pengantin yang mereka pilih terlihat santai dan memudahkan mereka berbaur dengan para tamu. Tentu saja semakin terlihat menyatu dengan dekorasi bergaya Rustic yang mendominasi area resepsi sehingga menampakkan kesederhanaan yang menghadirkan kehangatan.
Suara MC masih bergema memberikan kata sambutan manakala Ravka dan Alea berjalan memasuki area resepsi.
"Dan kita sambut pasangan yang saat ini tengah berbahagia, Ravka Mahendra Dinata dengan Alea Prameswari," ucap MC tersebut melebarkan sebelah tangannya pada Ravka dan Alea yang berjalan menghampirinya.
Semua mata yang tadi belum menyadari kehadiran Ravka dan Alea mengalihkan pandangan pada pasangan pengantin itu. Setelah tepat berada di sebelah MC, Dilla beserta besannya berjalan menghampiri meja yang sudah ditempati oleh suami mereka. Disana juga terlihat Kakek Bayu serta Erica yang bergabung dalam meja yang sama. Sementara Kania, Sandra, serta Tiara menghampiri meja sebelahnya yang sudah ditempati oleh Nino, Farash, dan Alex.
Tak ada pelaminan yang disiapkan untuk pengantin seperti resepsi pada umumnya. Di bagian depan sudah ada dua meja besar dengan delapan kursi di tiap meja untuk ditempati oleh keluarga kedua mempelai. Hal itu memungkinkan Ravka dan Alea duduk dimana saja yang mereka inginkan. Sebuah konsep pernikahan yang membumi menjadi konsep resepsi berbeda yang keduanya inginkan. Hal itu tak lain agar mereka mudah berbaur dengan para tamu.
"Terimakasih untuk kehadiran Bapak dan Ibu yang terhormat pada resepsi kami yang agak terlambat ini," ucap Ravka memulai kata saat MC sudah menyerahkan microphone kepadanya. "Pada kesempatan ini, saya terkhusus mengadakan acara ini untuk mengenalkan seorang wanita istimewa yang berdiri di sebelah saya, dia adalah istri saya, Alea," lanjut Ravka seraya melemparkan tatapan penuh cinta tepat ke manik mata Alea.
Rangkaian kata meluncur dengan mulus dari bibir Ravka memberikan kata sambutan. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih satu persatu pada orang terdekat yang sudah berjasa dalam hidupnya hingga berada di posisi saat ini. Sebagai lelaki berbahagia yang dianugerahkan seorang pendamping berhati tulus.
Setelah itu suara emas Rossa, penyanyi papan atas Ibu Kota yang membawakan A Thausand Years milik Christina Perri menambah syahdu suasana. Ravka secara spontan memberikan tangannya untuk disambut oleh sang istri, membawa gadis itu mengikuti alunan lembut suara indah Rossa.
"Aku berharap kebahagiaan hari ini akan terus mengiringi pernikahan kita sampai maut memisahkan," bisik Ravka di telinga Alea sembari berdansa.
"Aamiin. Aku juga berdoa, semoga Allah melimpahkan ramhat-Nya yang besar dalam rumah tangga kita, Mas."
"Terimakasih sekali lagi, Al, karena bersedia bersabar menghadapiku selama ini."
"Terimakasih juga, Mas, karena sudah membuka hatimu untuk menerima pernikahan kita," balas Alea dengan senyum yang tersungging di bibir.
Senyum yang menggambarkan perasaan terdalam gadis itu. Begitu banyak cinta dalam hati yang ingin selalu ia perlihatkan hanya untuk seseorang yang juga memberinya tatapan serupa. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang tulus.
**********************************************
Nah sambil nunggu cerita selanjutnya yang maaih di oret-oret bisa mampir dulu ke karya temen aku yah gaes..
__ADS_1