
Masih menahan kesal, Alea menyelesaikan pijatannya. wajahnya bersungut-sungut ingin memuntahkan lahar panas untuk suaminya yang menyebalkan itu. Namun, ia tak mau menjadi istri durhaka yang memarahi suami karena kesalahan yang mungkin sama sekali tak disadari oleh makhluk paling tidak peka di muka bumi ini.
Setelah mengembalikan living oil pada tempatnya, Alea bersiap-siap menarik selimutnya kembali. Baru menarik ujung selimut, Ravka sudah menahan tangan gadis itu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ravka mengerutkan dahi.
"Mau tidur lah. Mau ngapain lagi emangnya? kan udah pijitnya," jawab Alea agak ketus.
"Kamu kenapa sih? Suami baru pulang kok malah ga seneng?" tanya Ravka mulai hilang kesabaran.
Tanpa disadarinya, Ravka sudah mengucapkan mantera yang sudah ditunggu oleh Alea sedari tadi. Ia sudah berharap Ravka menanyakan sikapnya yang sengaja diperlihatkannya dengan gamblang.
"Kamu tanya kenapa, Mas? Emangnya kamu ga nyadar aku kenapa?" sembur Alea memuntahkan larva di hati.
"Kamu marah?"
"Tuh tau?!"
"Yah marah kenapa? Emang aku kenapa? Tadi aja aku pulang kamu masih senyum-senyum seneng ngeliat aku," desis Ravka yang sesungguhnya memang tak menyadari letak kesalahannya.
Entah apa yang membuat sang istri tiba-tiba marah. Apa karena kelakuannya dan Nino yang kekanakan?
"Ah masa gara-gara itu sih Alea marah?" berulangkali ia menyingkirkan pikirannya itu.
Ia tak habis pikir kalau memang hanya karena sikapnya dan Nino sebelum makan membuat gadis itu berang. Karena ia sungguh tak memahami sebab Alea menjadi sebal padanya.
"Kamu tuh ga bisa jaga sikap Mas. Aku malu sama Mama, sama Papa," sembur Alea menciptakan kerutan di dahi Alea.
"Kenapa malu sama Mama, sama Papa?"
Alea menarik nafas panjang menyadari bahwa sang suami, memang sama sekali tak menyadari kelakuan konyolnya. "Kamu tuh bisa ga sih, jaga sikap kalau depan orang tua? Ga usah nempel-nempel kaya tadi. Udah gitu bicaranya dijaga Mas. Malu aku tuh, kamu ngebahas yang enggak-enggak di depan Papa."
"Kalo ngomong itu yang jelas istriku sayang. Aku ga ngerti kamu ngomongin apa."
__ADS_1
"Pokoknya, kalau di depan orang tua itu ngomongnya mesti dijaga, Mas," ultimatum Alea tak mau dibantah.
"Aku selalu menghormati orang tua kok, ga pernah tuh ngomong yang aneh-aneh," elak Ravka lagi.
Alea sontak menggeram kesal. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur, kemudian meringkuk membelakangi Ravka dengan wajah dilipat seribu.
"Salah lagi gue," keluh Ravka dalam hati.
Ia baru menyadari bahwa perempuan itu memang makhluk yang rumit. Persis seperti yang dikatakan oleh kebanyakan kaum satu gender dengannya. Hal-hal sepele saja bisa dibuat panjang kalau tak sesuai dengan kata hati mereka. Tak ada gunanya ia bersikukuh pada pendapatnya. Kalau tidak mau berakhir dengan diabaikan sepanjang waktu.
Ravka mendekati sang istri, memeluknya erat dari belakang. Tangan kanannya melingkar di tubuh Alea, sementara tangan kirinya menumpu bobot tubuhnya yang setengah berbaring di atas ranjang.
Ravka mendaratkan bibirnya pada telinga Alea seraya berbisik lembut, "Maaf yah istriku sayang. Aku ngaku salah deh. Besok-besok aku akan jaga bicara di depan Mama dan Papa."
Alea berbalik perlahan. Menatap manik coklat lembut yang memancarkan kasih sayang. Seulas senyum membingkai bibir gadis itu mana kala melihat suaminya menatap penuh permohonan.
"Janji yah, ga ngulangin lagi?!" ucap Alea kemudian.
"Udah, gini doang nih?" gumam Ravka dalam hati.
"Tau gini, dari tadi deh gue minta maaf." Ravka membatin. Tak berani menyuarakan isi hati di depan gadis yang amarahnya sudah mulai menguap. Ia tak mau jika bara api itu kembali menyala.
Seperti yang dikatakan oleh Nino. Cukup diam dan katakan iya, semuanya akan langsung beres seketika.
"Satu lagi," ucap Alea mencetak kerutan di dahi Ravka.
Pria itu berpikir semua masalah sudah selesai. Namun, ternyata si gunung berapi belum memuntahkan semua larvanya. Ia harus kembali memasang tampang pasrah, siap menerima omelan sang istri.
"Kalau di depan Tiara sama Sandra, kamu juga harus jaga sikap Mas. Bagaimanapun mereka itu masih belum menikah. Ga seharusnya kita mesra-mesraan depan mereka," lanjut Alea yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
Ravka ikut mengubahbposisinya menjadi duduk berhadapan dengan Alea. Lelaki itu memasang wajah serius menanggapi protes Alea.
"Kita kan ga melewati batas?! Masa peluk-peluk aja ga boleh?" balas Ravka tak mau kalah.
__ADS_1
"Cewek itu baperan Mas. Kalau gara-gara liat sikap kamu ngebuat mereka juga pengen diperlakukan mesra begitu, gimana?"
"Gampang, nikahin aja mereka kaya kita," jawab Ravka santai.
"Mas aku serius. Kamu kira nikah maen-maen apa? Sandra aja masih sekolah. Mereka itu masih muda, daftar impian mereka masih panjang untuk diwujudkan."
"Kamu juga waktu aku nikahin belom lulus kuliah. Lebih muda lagi dari Tiara."
"Tapi kita itu nikahnya karena terpaksa. Kamu dipaksa untuk bertanggung jawab pada apa yang ga pernah kamu lakuin. Sementara aku harus nerima kamu yang menganggap aku wanita murahan," ucap Alea membuka kembali luka lama yang sudah tak berbekas.
Ravka menarik kedua tangan Alea ke dalam genggaman tangannya. Meremas kedua tangan itu perlahan dengan penuh perasaan.
"Maaf .... Maaf atas semua sikapku yang sudah lalu. Maaf karena mulutku ini berkali-kali merendahkan martabatmu sebagai seorang perempuan. Maaf atas segala penghakimanku yang tak berdasar. Maaf atas hari-hari buruk yang sudah kamu lalui selama menikah denganku. Maaf untuk se... "
Dengan impulsif Alea menyapu bibirnya pada bibir Ravka yang tak berhenti mengucapkan kata maaf. Ia tak bermaksud menyinggung sikap Ravka terdahulu. Alea tak ingin lagi mengingat masa suram yang pernah ia pijaki selama menjadi istri seorang Ravka Mahendra Dinata. Ia hanya ingin merekam perlakuan manis yang kini kerap ditunjukkan oleh sang suami, ke dalam setiap sel saraf di kepalanya.
Bibir Alea hanya menempel pada bibir sang suami. Ia baru menyadari sikapnya yang di dorong oleh naluri tanpa melibatkan logika. Saat Alea hendak menarik bibirnya kembali, Ravka dengan segera menahan tengkuk wanita itu. Ia kembali meneriakkan seribu kata maaf melalui tarian bibir dan lidah diatas bibir Alea. Mengirimkan perasaan hati yang kini menggerayangi. Lelaki itu berharap, pagutan lembut dengan segenap perasaan yang ia salurkan dapat menembus hati terdalam milik gadis itu. Betapa kini ia mencintainya dengan sepenuh hati.
"Aku mencintaimu Alea Prameswari. Sangat dan teramat mencintaimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah terlanjur aku lakukan," ungkap Ravka terengah-engah setelah ia memerdekakan bibirnya dari pertautan dengan gadis pujaan.
Alea tampak berkaca-kaca saat matanya saling mengunci dengan mata sang suami yang menatap dengan penuh cinta. Tangan Ravka menangkup kedua sisi wajah Alea, menarikan ibu jarinya di pipi mulus milik gadis yang telah menggoreskan nama dihati lelaki itu. Senyum manis merekah di kedua bibir sepasang kekasih yang sudah terikat janji suci.
"Aku adalah salah satu perempuan yang beruntung di dunia ini, Mas. Aku bersyukur dengan takdir yang memaksaku menikah denganmu. Aku bahagia menjadi istri seorang Ravka Mahendra Dinata," ucap Alea dari hati terdalam.
Ravka kembali membenamkan bibirnya pada bibir gadis itu. Mereguk manisnya desir halus yang tercipta dari penyatuan hati dua insan yang ditakdirkan bersama. Menikmati indahnya perasaan terdalam yang menyeruak di dada.
**********************************************
Hallo ha... Aku boleh minta semangatnya ga dari kalian semua?? Kasih semangat aku dong buat nulis.. dengan kalian like tiap part dan jangan lupa tinggalkan jejak meski cuma next..
dukungan kalian ke aku kendor, semangat aku ikutan kendor nih.. hehheee.. peace...
Levelku nyungsep lagi nih.. makanya dukung aku dunkzz, cuma dengan like n komen kalian udah cukup membantu loh.. tapi ga wajib kok... heheheee
__ADS_1
Aku juga mau bilang seribu maaf kalau belum bisa memberikan performa terbaik lewat tulisanku.. tapi aku terimakasih kalian tetap setia mengikuti perjalanan cinta Alea dan Ravka... Happy reading all....