Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 131# Menghangat


__ADS_3

Alea menarik wajahnya cepat dari Ravka dengan rona merah muda mulai menjalar di pipi. Matanya melirik ke kursi di sebelah yang dipisahkan oleh lorong kabin pesawat.


Ekor matanya menangkap Kania yang membuang muka menghadap ke luar jendela pesawat yang sudah terbuka, menampilkan hamparan luas landasan pacu dengan deretan pesawat yang di parkir di sebelah pesawat yang mereka tumpangi.


Begitupula dengan tiga lelaki lainnya yang berusaha membuang tatapan agar tak bertubrukan dengan pemandangan memalukan yang disuguhkan oleh sang suami. Hanya saja salah satu lelaki disana masih memasang wajah terkejutnya. Membuat Alea semakin tak enak hati.


"Mas, bersikaplah dewasa. Tak pantas kita mempertontonkan kemesaraan di depan umum." Alea mengingatkan sang suami.


"Disini kan bukan ruang publik, jadi ga masalah dong. Lagian mereka semua teman-temanku dan sudah pada dewasa tentunya. Tidak ada salahnya kita berciuman, toh kita sudah menikah," elak Ravka tak mau mengalah.


"Tapi kamu melupakan adab, Mas. Tanpa kamu mempertontonkan kemesraan, tak ada yang bisa mengubah status kita sebagai pasangan sah secara hukum dan agama," sindir Alea yang bisa membaca isi kepala Ravka.


Lelaki itu merunduk malu dengan ucapan istrinya. Ia menyadari sikapnya yang kekanakan dan tak pantas.


"Maaf Al, aku salah. Aku tidak akan mengulanginya. Aku hanya kesal saat melihat Zai memegang tanganmu," ucap Ravka seraya mendengus.


"Zai hanya berusaha mencegahku pergi. Ia merasa ga enak hati sama aku dan Kania, saat aku mau meninggalkan meja tadi, karena ulah kedua perempuan yang tak tahu malu itu."


"Memangnya apa yang sudah mereka katakan sampai istriku ini jadi kesal?" tanya Ravka dengan tatapan mata lembut. "Seharusnya kamu membiarkan aku memberikan mereka pelajaran," gerutu Ravka.


"Tidak ada gunanya meladeni orang seperti mereka. Ga penting juga untuk diperpanjang. Aku tidak mau kamu berurusan lagi sama mereka. Jauhi mereka," ketus Alea.


"Istriku ini bisa cemburu juga sepertinya," ucap Ravka terlihat senang menyadari betapa bahagianya dicemburui oleh Alea.


"Aku pernah sekali melihat mereka merayumu dan kamu justru menanggapi. Apa kamu lupa kejadian di speeboat waktu itu?" Alea membuang tatapan dari manik coklat penuh binar terpancar disana.


"Sayangku, waktu itu aku bukannya kemakan rayuan murahan mereka. Aku hanya sengaja membuatmu kesal."


Alea memukul lengan suaminya manja mendengar pengakuan sang suami. "Mulai sekarang, awas kalau kamu berani berbuat seperti itu lagi. Banyak cara membuat ku kesal dari pada kamu berbuat hal menjijikkan seperti itu."


"As you wish darling," ujar Ravka seraya mengukir senyum di wajah tampannya. Lelaki itu mendekatkan bibir ke telinga Alea. "Aku sedang ingin membuatmu kesal," bisik Ravka hampir mendaratkan bibirnya di bibir mungil istrinya.


Dengan sigap, Alea mendorong tubuh sang suami menjauh. "Kamu lupa sama janji yang baru saja kamu ucapkan?"


"Kamu bilang aku bisa membuatmu kesal asal bukan dengan cara yang menjijikkan," jawab Ravka asal seraya tergelak.


"Sama saja. Aku tidak mau jadi manusia tidak memiliki adab gara-gara kekonyolanmu."


"Baiklah, ada cara supaya permintaanku terlihat lebih beradab." Kerling menggoda yang Ravka perlihatkan membuat Alea bergidik geli, "Bagaimana kalau kita ke belakang. Disana ada kabin yang disulap menjadi sebuah kamar dengan ranjang king size yang sayang jika tidak dimanfaatkan." Ravka mengedipkan sebelah mata.


Alea tergelak seraya memukul lengan suaminya berkali-kali. "Itu sama aja, Mas. Kamu mau membuat orang-orang di dalam pesawat ini berpikiran yang aneh-aneh?"


"Biarkan saja mereka berpikiran yang aneh-aneh, itu urusan mereka. Yang pasti kita tak melangar norma kan?!" bujuk rayu Ravka layangkan seraya menahan senyum yang berusaha menyeruak di bibirnya.

__ADS_1


Menggoda istrinya menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi Ravka. Melihat wajah kesal atau pipinya yang merona sungguh menggemaskan.


"Berhentilah menggodaku," ucap Alea seraya mencubit perut sang suami.


"Hey, ga pake cubit-cubit juga dong," Ravka berkilah menahan tangan sang istri agar berhenti melayangkan serangan dengan kedua jari gadis itu yang memelintir kulitnya.


Dua sejoli itu hanyut dalam senda gurau yang menularkan senyum di wajah-wajah yang menyaksikan canda tawa mereka tanpa mereka sadari. Canda tawa yang membuat kebersamaan mereka bahkan terlihat lebih mesra daripada ciuman sekilas yang dipertontonkan oleh Ravka beberapa saat lalu.


Baru sepertiga perjalanan, Alea sudah tampak mengantuk. Pesawat saat ini sudah melewati batas ketinggian minimum di tiga puluh lima ribu kaki. Tak ada lagi pemandangan menakjubkan yang dapat dia lihat dari balik kaca jendela peawat. semua hanya tampak gumpalan awan yang sesekali memecah setelah mereka tubruk. Semakin tinggi pesawat menukik ke atas, gumpalan awan tersebut semakin tipis dan menghadirkan hamparan biru langit.


"Kamu ngantuk?" tanya Ravka melihat ujung mata Alea yang berair setelah menguap.


Entah mengapa, Alea selalu dilanda raaa kantuk saat harus menempuh perjalanan jauh. Entah itu menggunakan mobil ataupun pesawat, ia tak bisa menepis rasa kantuk tersebut.


Ia sudah memakan kudapan yang disuguhkan oleh pramugari yang sedari tadi hilir mudik menawarkan beragam jenis minuman dan makanan yang bisa mereka nikmati selama perjalanan. Bahkan dua gelas soft drink sudah Alea seruput habis. Namun, rasa kantuk itu tak juga memudar.


"Kamu pindah ke belakang gih, tidur di kamar. Nanti kalau sudah mau landing aku bangunin," ujar Ravka memberi saran.


Alea menyipitkan mata curiga menatap suaminya. Ravka pasti berniat melakukan yang tidak-tidak dengan memintanya tidur di dalam kamar. Dengan cepat, gadis itu menggeleng kepala.


Sontak Ravka menjepit hidung istrinya dengan punggung jari telunjuk dan jari tengahnya. "Ga usah negatif thinking, aku beneran mau nyuruh kamu tidur. Ajak Kania sana. Dia pasti seneng bisa kamu ajak mencoba empuknya kasur di kelilingi awan," ujar Ravka seraya terkekeh.


Alea hanya membalas kekehan sang suami dengan cengiran kuda. "Maaf udah suudzon. Habis belakangan ini kamu otaknya mesum," ujar Alea ikut terkekeh.


"Hmmm .... " gumam Alea seraya mencebik. "Tapi ga apa-apa nih, aku tinggal tidur? Aku ngantuk," ucap Alea dengan nada manja.


"Iya istriku sayang. Tapi sebelum itu, ayo aku kenalkan kamu dengan teman-temanku." Ravka berdiri dan mengulurkan tangannya membawa Alea dalam gandengan.


Sembari memeluk erat pinggang Alea, Ravka menghampiri teman-temannya di mulai dari Beni yang duduk satu deretan kursi dengan Zai. Dihadapan Beni dan Zai, Rifzan duduk bersebelahan dengan Kania yang dipisahkan meja keramik diantara mereka.


"Cie ... yang sekarang udah move on," ledek Rifzan saat melihat Ravka memeluk erat istrinya.


"Yoi bro, dunia ga selebar daun kelor. Patah tumbuh hilang berganti," jawab Ravka angkuh.


Gelak tawa membahana dari seisi pesawat mendengar ungkapan lelaki yang memancarkan binar bahagia di wajahnya.


"Sombong ... sejak kapan lu jadi sok puitis begitu?" sambar Beni di sebelahnya.


"Itu pepatah oon bukan puitis," Zai menyikut tubuh Beni di sebelahnya.


Lelaki itu sekarang tampaknya sudah bisa menguasai keterkejutannya melihat kemesraan Alea dengan Ravka. Meski hati sedikit kebas mendapati Alea sudah tak lagi dapat ia raih, tapi kebahagiaan di dalam sana tak dapat ia pungkiri. Melihat betapa bahagianya Ravka kini, setelah sempat terpuruk saat ditinggal menikah oleh sang tunangan dengan Kakaknya sendiri.


"Ah, bodo lah. Ga penting pepatah kek, puitis kek, yang penting, temen kita satu ini akhirnya melepas keperjakaannya juga," ledek Beni seraya terkekeh.

__ADS_1


"Jadi liburan kita ini perayaan hilangnya keperjakaan lu ya, Rav?" teriak Dandi yang duduk di sofa panjang.


"Emang keperjakaan patut dirayakan?" tanya Ines sok polos.


"Ya iyalah, secara dia udah tua baru merasakan yang namanya surga dunia. Untung aja barangnya ga sampe karatan," celetuk Fiki "Eh, beneran ga sampe karatan kan Rav?!" ledek Fiki disambut gelak tawa seisi pesawat.


"Tanya aja nih sama bini nya. Fungsi ga tuh barang?" Sambar Beni membuat wajah Alea memerah menahan malu.


"Yah fungsi lah ya. Secara Ravka udah ga pernah lagi muncul di gym. Kirain gue kemana? Taunya tempat olahraganya beda sekarang," ujar Dandi turut ambil kesempatan meledek Ravka.


"Tempat tidur," sambar Fiki memakan umpan dari Dandi.


Gelak tawa semakin kental memenuhi seisi kabin pesawat. Ravka hanya memasang tampang datar dan cuek mendengar ledekan dari teman-temannya. Sementara Alea hanya bisa menutup mulutnya rapat seraya tertunduk dengan wajah merah padam menahan malu. Tangannya semakin mengencangkan pelukan yang melingkar di pinggang suaminya, menutup sebagian wajahnya di dada bidang Ravka dengan salah tingkah.


"Udah Kan, tutup aja kuping kamu. Ga usah di denger, polusi udara," ucap Rifzan pada Kania saat melihat gadis itu ikutan kikuk.


"Wuihhhh, pepet terus. Jangan kasih kendor," celetuk Dandi meledek Rifzan.


"Hati-hati Kania, jangan kemakan gombalan Rifzan," ujar Fiki yang mendapat tepukan di lengannya oleh sang tunangan.


"Biarin aja sih, temen lagi usaha tuh di dukung. Kan kasian dia kalau membujang seumur hidup," ucap Rizka seraya menahan senyum.


"Wah parah Fik bini Lu, masa gue di doain ngebujang seumur hidup. Udah ada Kania yang bakal nemenin aku kan?" celetuk Rifzan membuat Kania membulatkan kedua bola matanya.


Ledekan demi ledekan bergulir memecah kecanggungan yang sebelumnya sempat terjadi akibat ulah dua perempuan yang sudah di halau pergi oleh Alea. Menghangatkan suasana diantara mereka. Beruntung tak hanya Ravka dan Alea yang menjadi bulan-bulanan. Ada Rifzan yang blak-blakan mendekati Kania turut membuat wajah Kania memerah menemani kakak sepupunya.


"Udah puas ngetawain gue?" ucap Ravka dengan ekspresi tak berubah sama sekali sedari tadi. "Kalau udah, bini gue mau tidur. Ngantuk dia."


"Wah, sabar Rav. Masa lu mau indehoy di pesawat?" sambar Beni seraya berdecak.


"Ga usah ngeres otak lu. Bini gue mau tidur bareng adeknya," jawab Ravka lagi.


Ravka kemudain mengenalkan temannya satu persatu pada Alea berikut dengan menyebutkan kesomplakan masing-masing temannya. Tak satupun diantara mereka yang mendapat cap waras dari Ravka hingga memakan waktu cukup lama saat pengenalan mereka.


Setelah itu Alea berlalu bersama Kania menuju bagian belakang kabin yang sudah di sekat dan disulap menjadi sebuah kamar mewah bak kamar hotel berbintang dengan interior yang memanjakan mata. Membuat rasa malu yang menyergap keduanya sesaat lalu, menguap begitu saja. Digantikan dengan rasa syukur dan bahagia karena bisa menikmati suguhan mewah diatas ketinggian udara.


**********************************************


sambil nunggu up bisa intip ini dulu yak..



__ADS_1


__ADS_2