
Alea mengerjapkan matanya perlahan saat sukma mulai menguasai raga. Isi kepalanya masih belum bersinergi dengan saraf dan otot-otot tubuhnya secara sempurna. Hingga kesadaran menghentakkannya akan sekelabat kejadian yang sudah lewat. Ia menengadahkan kepala menatap dinding yang tergantung sebuah penunjuk waktu dengan ukiran klasik. Dua jam sudah, Alea melewatkan waktu terpejam dia sofa ruang kerja Ravka. Mata Alea celingukan mencari keberadaan suaminya yang sudah tak lagi menyediakan pahanya untuk dijadikan alas kepala.
Namun, ia mendapati bahwa dirinya ditinggal sendirian di ruangan besar yang biasa digunakan oleh suaminya bekerja mengurus perusahaan. Rasa lelah dan kantuk masih menghinggapi tubuh Alea yang lemas akibat guncangan hebat melihat pertikaian berdarah di depan mata. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Baru saja hendak memejamkan mata, Alea mendapati sura pintu terbuka diiringi suara berat milik sang suami memenuhi udara.
"Jadi bagaimana keadaanya?" tanya Ravka seraya berjalan menuju meja kerjanya.
"Dia masih di meja operasi. Tapi gue rasa dia akan baik-baik aja. Dokter IGD tadi sempat bilang kalau lukanya tidak terlalu dalam."
"Mudah-mudahan Lu bener, dia ga bakalan kenapa-napa." Ravka menghenyakkan tubuhnya di balik kursi kebesarannya.
"Santai kaya di pantai Bro. Ga usah terlalu dipikirin. Lagipula, dari sudut pandang mana pun, baik Elu ataupun Debora, tidak ada yang salah. Dia yang gila. Jadi kita ga perlu ikutan gila, mikirin orang gila." Nino turut meluruhkan tubuhnya di kursi seberang Ravka.
"Masalahnya ini menyangkut nyawa, No,"
"Dia juga berniat menghilangkan nyawa Elu ataupun istri Lu. Kalau akhirnya niatan itu malah berbalik ke dia, itu namanya karma dibayar di muka. Ga pake kredit," ucap Nino santai seraya terkekeh geli.
"Elu becanda mulu ga ada serius-seriusnya."
"Kondisi sekarang udah cukup tegang, ngapain dibikin tambah tegang? Stroke yang ada," jawab Nino asal.
"Ah, serah Lu deh," Ravka mengibaskan tangan di hadapan Nino. "Tapi ada satu pertanyaan yang dari tadi ngeganjel," ucap Ravka dengan wajah tiba-tuba berubah menjadi sangat serius dengan sorot mata tajam.
"Apaan sih? Muka lu nyeremin kalau serius begitu." Nino menegakkan tubuh ikut menjadi tegang.
"Kita emang udah memperediksi kalau dia akan menyerang di kantor ini. Karena kantor ini, satu-satunya tempat yang memungkinkan bajin*an itu untuk mengintai dan melakukan penyerangan."
"Lantas dimana salahnya?" Nino menautkan kedua alisnya.
"Masalahnya, gue yakin dia akan menyerang di luar gedung. Entah itu bagaimana caranya. Tapi yang pasti, penyerangan di dalam gedung BeTrust adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak bisa terpikirkan oleh gue. Dia mungkin saja melakukannya di lingkungan kantor. Atau bisa jadi, dia lebih memilih untuk menguntit dan mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Tapi bagaimana caranya dia bisa menyerang di dalam gedung?" ucap Ravka seraya mengetatkan rahangnya.
"Gue rasa emang ada yang ga beres," jawab Nino mulai memahami kemana arah pertanyaan Ravka berlabuh, "Waktu penyerangan pertama, itu hanya serangan dadakan. Kita sama sekali tidak bisa mengantisipasi. Tapi setelah kejadian itu, kita sudah mengetatkan penjagaan."
"Lu harus mulai cek bagian security, No. Tadi aja dia langsung nyerang, dan ga nyadar kalau gue dan Alea turun dari mobil yang sama dengan Debora. Dia sama sekali tidak mengantisipasi keberadaan Debora. Itu artinya, dia sudah menunggu kedatangan gue dari dalam gedung. Begitu melihat kedatangan kita, dia sama sekali tidak mebuat perhitungan dan langsung menyerang."
__ADS_1
"Satu-satunya yang mungkin adalah, dia sudah lama ada di dalam gedung. Ga mungkin keberadaan dia ga menarik perhatian kalau dia ga ada bantuan dari orang dalem khususnya bagian security," Nino memgambil kesimpulan.
"Hati-hati No, jangan sampai orang yang membantu baji*gan itu meyadari kalau kita mengetahui ada orang dalam yang terlibat. Cari tahu juga motifnya. Kita harus menyingkirkan semua pengkhianat di dalam perusahan," geram Ravka tak menutupi segala yang mengganjal dalam hati.
Sementara, tak jauh dari tempat Ravka dan Nino berbincang, Alea masih mencuri dengar pembicaraan mereka. Gadis itu menyiapkan hatinya untuk bangkit berdiri dan menemui Ravka serta Nino. Ada satu hal yang sangat ingin dia dengar, tapi tak diungkit oleh kedua lelaki itu.
Rasa penasaran membuat Alea memaksakam diri bangun dan berjalan menghampiri sang suami dengan gemuruh di dada. Semakin ia mencoba untuk tenang, semakin membuat ia merasa gelisah.
"Kamu sudah bangun, Al?" tanya Ravka menyadari sang istri yang tengah berjalan menghampirinya.
"Bagaimana kondisi Debora, Mas?" tanya Alea langsung pada intinya dan mengabaikan pertanyaan yang dilayangkan sang suami.
"Tidak usah khawatir. Kondisinya baik-baik saja. Dia bahkan sekarang sudah kembali ke rumahnya sendiri," jawab Ravka seraya mengulas senyum.
"Pulang ke rumah? Emang dia ga perlu perawatan gitu, Mas?" Alea membelalakkan mata.
Gadis itu kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi sebelah Nino.
"Mana mau dia dirawat di Rumah Sakit hanya untuk luka seperti itu?! Itu hanya akan membaut dia tampak lemah."
"Tak perlu khawatirkan Debora. Dokter juga susah mengizinkannya untuk pulang. Dia hanya meminta untuk mengambil cuti lebih awal dari jadwal."
"Debora itu bukan perempuan biasa, jadi lu ga usah takut Al. Selesai kalian honeymoon di Maldives, dia juga pasti udah baikkan," sambar Nino membuat wajah Alea memerah saat pemuda itu mengucapkan kata bulan madu dengan santainya.
"Bukannya gue udah minta Lu buat cancel jadwal penerbangan ke Maldives sore ini?" tanya Ravka.
"Udah gue cancel kok. Tapi bukan berarti lu ga jadi berangkat, kan?! Ini tuh undangan dari Alexander, Bos. Ga mungkin kalau lu ga dateng. Kita udah kerjasama bertahun-tahun dengan Malik corporation."
"Kondisinya ga memungkin kan No. Lagian penerbangan ke Maldives itu makan waktu. Kalau gue berangkat besok, yang ada gue sampe sana acara juga udah bubar."
"Gue udah booking jet dan atur keberangkatan Lu buat besok pagi. No transit, jadi ga sampe empat jam juga udah sampe ke Maladewa. Masih keburu buat menghadiri resepsi mereka."
Ravka berdecak mendengar penuturan Nino. "Ke Maldives doang mesti sewa jet segala sih, No? Lu cari orang lain aja deh yang bisa wakilin BeTrust," tolak Ravka lagi. "Gue mau fokus sama urusan disini dulu lah."
__ADS_1
"Yah ga bisa begitu juga Bos. Ga ada orang yang paling pas buat gantiin Lu kesana. Gue juga ga mungkin minta Mas Alex buat kesana. Bagaimanapun, Mas Alex itu baru megang jabatan CEO di BeTrust. Dia juga belum pernah bertemu langsung dengan Alexander. Selama ini selalu Elu yang menangani proyek yang berkaitan dengan Malik Corporation. Jadi harus Elu yang berangkat. Lagipula Lu lupa Bos sama rencana yang mau Lu buat disana?" Nino mengerling memberi kode yang tak dapat dimengerti oleh Alea.
Sesungguhnya, Ravka sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk sang istri tercinta selama mereka disana nanti. Namun, mengingat berbagai masalah yang mereka hadapi membuat Ravka meragu untuk meninggalkan Indonesia.
"Udah, ga usah mikir kemana-mana. Percayakan semua masalah disini sama Gue. Urusan kantor juga urusan baji*gan itu gue yang akan selesaikan. Sebelum Honeymoon Lu kelar, semua masalah udah pasti beres di tangan Gue," sambar Nino mengerti apa yang menjadi kekhawatiran Ravka hingga keraguan tergurat jelas di wajahnya.
Tapi inget, kalau sampai ada apa-apa, lu harus langsung hubungi gue." Ravka memberi ultimatum tegas kepada asistennya itu.
"Lu kaya ga percaya kemampuan Gue aja sih. Ga usah mikirin semua urusan disini. Lu nikmatin aja honeymoon Lu."
"Berhubung Lu udah pesen jet, lu mending undang temen-temen buat ikut kesana deh. Anggep aja sebagai perayaan pernikahan Gue."
"Ah lu mah ga asik, semua diajak perayaan pesta kawin Lu, Gue malah ditinggal."
"Lu gimana sih? Kata lu, Gue harus nikmatin honeymoon gue. Semua urusan disini Elu yang tanganin. Sekarang lu malah minta diajak," omel Ravka sebal.
"Yah kan Gue kira, lu honeymoon berdua doang. Kalau ngajak temen-temen yang lain kan Gue juga jadi pengen ikutan." Nino ikut mengoceh sebal.
"Yah rugilah lah Gue, Lu sewa jet masa isinya Gue sama Alea doang. Lagian Gue mau ngenalin Alea ke temen-temen," jawab Ravka menghadirkan semu merah di wajah Alea.
Perasaan Alea menghangat seketika saat Ravka mengatakan akan mengenalkan ia kepada teman-temannya. Ia merasa baru kali ini memiliki status yang jelas melalui sebuah pengakuan. Baru membayangkannya saja, rasa bahagia sudah membuncah di dada. Membuat senyum bahagia mengglayut di bibir gadis itu, menghilangkan sejenak segala trauma yang mendera.
"Ga ditekuk aja muka lu udah jelek," Ravka melemparkan bolpoin di atas meja ke arah Nino yang langsung ditangkap oleh pemuda itu dengan reflek. "Gue udah beliin apartemen yang Lu mau." Ravka membuka laci mejanya dan mengambil sebuah brosur dari dlaam sana.
"Nih ambil," ucap Ravka seraya melemparkan brosur tersebut kepada Nino yang lagi-lagi ditangkap Nino dengan reflek yang akurat, "di dalamnya sudah ada kartu nama broker yang ngurusin pembelian apartemen itu," imbuh Ravka lagi.
Seringai lebar tak dapat Nino tahan mengembang di bibirnya dengan sempurna. Segera ia buka brosur apartemen di kawasan elit yang sudah lama ia incar.
"Kalau begini, biar Lu mau ngadain pesta gede sekalian disana sampe sebulan juga gue rela, Bos," cengir Nino seraya membolak balik brosur di tangannya.
**********************************************
sambil nunggu up selanjutnya silahkan intip karya yang juga seru dari temenku yah
__ADS_1