Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 61# Sarapan Bersama


__ADS_3

Alea kemabli ke kamarnya setelah ia menyiapkan sarapan dan bekal untuk di bawa ke kantor. Saat memasuki kamarnya, ia melihat Ravka tengah asik bercengkrama dengan laptopnya.


Ia membiarkan suaminya itu menyibukkan diri dengan laptop di pangkuannya. Alea sempat melirik Ravka saat melewatinya ketika hendak mengambilkan pakaian di dalam lemari. Seperti biasanya Alea akan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi ketika Ravka sedang berada di kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya Ravka seraya mengangkat kepalanya dari barisan kata di layar laptop.


Ravka mengalihkan tatapan tajamnya dari keruwetan mengenai laporan keuangan yang dikirimkan Nino pagi ini. Ia kini menatap Alea tak kalah tajam.


"Mau ke kantor," ucap Alea heran dengan pertanyaan suaminya.


Gadis itu sudah mengganti pakaian rumahannya dengan rok span dan blouse yang dilapisi blazer casual. Mengesankan formal namun tetap santai.


"Siapa yang ngizinin kamu berangkat ke kantor?" sambar Ravka.


"Loh bukannya aku diizinkan bekerja?" tanya Alea meragu.


"Tentu saja kamu masih boleh bekerja, kalau kamu sudah sembuh betul," tutur Ravka lagi.


"Tapi aku kan ga sakit Mas?!"


"Apanya yang ga sakit? Baru kucium sedikit saja kamu sudah kesakitan," ucap Ravka santai.


Pemuda itu sudah kembali tenggelam dalam deretan tulisan dan angka yang dikirimkan oleh Nino. Ravka sama sekali tak menyadari bahwa perkataanya barusan sudah membuat wajah Alea kembali memerah karena malu. Gadis itu tak terbiasa membicarakan hal intim seperti itu dengan begitu santainya. Meskipun yang dibicarakan hanyalah sebuah ciuman.


Tanpa disadarinya Alea menggigit bibirnya saat ciuman yang diberikan oleh Ravka kemarin malam melintas di kepalanya, membuat gadis itu semakin tersipu malu. Ia senyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana rasanya ciuman itu akan berlangsung jika bibirnya sedang tidak terluka. Buru-buru ia menepis pikiran mesumnya sendiri seraya menggelengkan kepala menyingkir segala pikiran melanturnya sepagi ini.


Alea kemudian duduk ditepi ranjangnya, menunggu Ravka menyelesaikan pekerjaanya. Bagaimanapun ia harus membicarakan perihal pekerjaannya. Belum satu bulan dia bekerja, jadi rasanya tak mungkin kalau Alea harus meminta izin tidak masuk bekerja. Sebagai karyawan baru, Alea juga belum mendapat jatah cuti. Jadi mau tak mau ia harus tetap berangkat ke kantor. Lagipula Alea merasa baik-baik saja, selama ia tidak terlalu sering bicara dan menggerakkan wajahnya. Toh pekerjaannya juga tidak mengharuskannya banyak bicara dan berinteraksi dengan orang lain.


"Kamu dari tadi sengaja nungguin aku?" tanya Ravka membuyarkan lamunan Alea.


Alea mengangkat kepala menatap suaminya yang sudah bersidekap di hadapannya. Laptopnya ternyata sudah berpindah le dalam tas kerja Ravka. Entah kapan lelaki itu memindahkannya, Alea tak menyadarinya.


"Aku boleh berangkat kerja hari ini kan Mas?" tanya Alea memelas.


"Tidak. Kamu tidak boleh bekerja sampai kamu betul-betul sembuh," jawab Ravka tegas.

__ADS_1


"Tapi Mas, aku kan karyawan baru. Masa iya baru beberapa minggu belerja sudah minta izin,"


"Apa perlu aku yang bicara dengan atasan kamu?"


"Tidak Mas, tidak perlu," sambar Alea cepat.


Mana mungkin ia membiarkan Ravka berbicara dengan atasannya yang tidak lain adalah Farash. Bisa timbul masalah baru kalau mereka dibiarkan bicara berdua. Sampai detik inipun dia masih belum mengatakan hubungannya dengan Ravka pada Farash.


"Yasudah terserah. Yang pasti kamu tidak boleh bekerja hari ini," seru Ravka tegas.


"A-aku sebetulnya tidak enak sama orang kantor kalau tiba-tiba tidak bekerja. Apa yang akan dikatakan karyawan lain kalau aku sampai bolos. Padahalkan aku masih baru mulai bekerja,"


"Siapa yang berani membicarakan kamu di kantor? Kamu mau bekerja atau tidak, tidak ada urusannya sama mereka. Kamu itu bukan karyawan biasa, kamu itu istri salah satu direktur disana. Jadi tidak usah pedulikan apa yang orang lain katakan," imbuh Ravka lagi.


Alea menghela nafas kasar. Tidak tahu bagaimana harus meluluhkan Ravka agar mengizinkannya untuk bekerja. Sejujurnya saja ia bukan tak senang diakui sebagai istri oleh Ravka. Hanya saja kalau tiba-tiba orang kantor tahu yang sebenarnya pasti akan terasa canggung. Padahal ia masih mau bekerja selayaknya karyawan biasa. Ia juga berharap bisa dikenal dan diakui karena kinerja kerjanya bukan karena statusnya sebagai istri Direktur Operasional.


"Ayo, temani aku sarapan," ujar Ravka seraya menarik tangan Alea ke dalam genggaman tangannya.


*********


Di meja makan itu tergeletak beraneka ragam jenis makanan disana. Setiap orang menyantap sarapannya dengan menu yang berbeda-beda. Begitulah cara makan di keluarga Dinata setiap harinya. Setiap orang bebas memilih menu layaknya di hotel ataupun restoran bintang lima. Terkecuali jika mereka sedang tak meminta pesanan khusus, barulah koki akan memasakkan menu yang sama untuk satu keluarga. Karena itu setiap harinya, Alea hanya menyiapkan makanan untuk Ravka. Terkadang ia membuat lebih, siapa tahu anggota keluarga yang lain juga menginginkan masakannya. Toh jikapun mereka tak mau, akan ada banyak pekerja di rumah itu yang bersedia melahap habis makanan buatannya.


"Aku dengar semalam ada pahlawan kesiangan rupanya?" sindir Erika saat Alea tengah menyantap sarapannya.


Apa karena ni semuanya berkumpul pagi-pagi sekali seperti ini? - Alea membatin.


"Habiskan saja sarapanmu. Tidak usah memulai pertengkaran di meja makan," seru Bayu berniat membungkam mulut menantunya itu.


"Aku tidak bermaksud memulai pertengkaran, Pa. Aku hanya penasaran bagaimana seorang perempuan bersuami bisa ada di acara anak kuliahan seperti itu? Seperti kurang kerjaan saja. Apa kata orang kalau tahu menantu keluarga Dinata datang ke acara club kampus yang tidak penting seperti itu," cerocos Erika merasa mendapat kesempatan untuk menyindir keluarga adik iparnya itu.


Sherly menyunggingkan senyum meremehkan, tatkala mendengar ibu mertuanya menjatuhkan Alea di hadapan keluarga besar Dinata. Ia sedari tadi sudah merasa jengah dan kesal saat melihat Ravka menggandeng Alea. Sherly masih meyakini kalau Ravka masih perduli padanya dan menjadikan perempuan kelas rendah seperti Alea hanya sebagai alat untuk membuatnya cemburu.


Kamu memang pantas dipermalukan di depan Ravka. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu merebut Ravka dari genggamanku. Tunggu saja tidak lama lagi, kamu akan ku tendang keluar dari sini - gumam Sherly dalam hatinya seraya menatap tajam Alea.


"Setidaknya jauh lebih baik datang ke acara club kampus, dari pada menghadiri pesta-pesta liar di club malam," sambar Dilla di ujung meja, tepat di seberang Erika.

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Erika menahan geram.


Erika meyakini bahwa Dilla sedang menyindirnya. Sementara disebelah Erika wajah Sherly pias merasa ikut tersindir.


"Saya sudah katakan, jangan ada pertengkaran saat sedang makan. Simpan argumentasi kalian di kepala kalian masing-masing," seru Bayu tegas.


Seketika meja makan menjadi sunyi. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu diatas piring yang saling beradu memenuhi udara ruang makan tersebut.


"Oh ya, Kak Alea hari ini berangkat kerja?" tanya Tiara memecah suasana mencekam di meja makan.


"Sepertinya aku akan berada di rumah saja hari ini," jawab Alea.


"Bukan cuma hari ini, tapi beberapa hari ke depan," ujar Ravka di sebelah Alea.


Sontak gadis itu menolehkan kepala kehadapan Ravka, memastikan pendengarannya.


"Beberapa hari Mas?" tanya Alea.


"Iya beberapa hari, sampai kamu betul-betul sembuh,"


"Tapi Mas...."


"Ravka betul Al, kamu harus banyak istirahat dulu. Nanti kalau kamu sudah sembuh baru kamu bisa mulai kerja kembali. Hari ini Mama temani kamu ke dokter memeriksakan kondisi kamu barengan Sandra ya,"


"Tidak usah Ma. Alea tidak apa-apa kok. Tidak perlu diperiksa dokter segala," tolak Alea cepat.


"Kamu harus ikut Mama dan Sandra untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja,"


"Tapi Mas aku betul-betul tidak apa-apa,"


"Kamu bukan dokter. Yang bisa memastikan kamu itu baik-baik saja atau tidak, itu dokter,"


"Baiklah Mas," Lagi-lagi Alea menghela nafas pasrah. Sepertinya ia mulai mengetahui salah satu sifat suaminya yang suka sekali memerintah dan tidak mau dibantah.


**********************************************

__ADS_1


bucin-bucinan nya nanti yah.. sabar dulu.. tar ada waktunya sendiri.. wkwkwkwkkkk


__ADS_2