
Dengan kepala tegak kedua wanita beda generasi itu melangkah pasti. Tak ada sedikitpun keinginan untuk menoleh ke belakang. Saatnya meninggalkan masa kelam di belakang sana. Tanpa sedikitpun terbebani dengan apa yang tertinggal.
"Sher, bagaiman dengan Alex?" tanya Ibunya saat mereka sudah berada di luar pekarangan rumah mewah yang puluhan tahun menaungi keduanya.
"Sikap Papa membuatku sadar, kalau aku tak pantas mengharapkan apapun dari Mas Alex, Ma. Meski itu hanya sebuah ucapan maaf darinya," tutur Sherly dengan perasaan mendalam.
Sebening kristal tampak menetes di pipinya. Gadis itu mengatupkan kelopak matanya seraya menarik nafas panjang. Menahan sesak yang menyeruak di dada. Baru kali ini ia tersadar akan arti sebuah penyesalan yang tak lagi punya tempat untuk sebuah kata maaf.
Sherly menghentikan langkah kakinya. Menyesap dalam-dalam semua rasa yang mengaduk hatinya. Sebuah rasa yang akan ia semat di bagian hati terdalam, hingga ia terlupa akan keberadaannya. Gadis semampai itu menghela nafas seraya membuka mata perlahan. Menyunggingkan senyum di bibir. Senyuman indah penuh luka.
"Saatnya mengubur kenangan pahit di belakang sana dan menyongsong hari baru penuh warna," ucap Sherly lamat-lamat yang dibalas senyum saling menguatkan oleh Ibunya sembari menekan kedua pipi dengan punggung tangan menyamarkan bekas tangis yang sempat menggenang disana.
Beruntung tadi dia belum sempat bertemu dengan lelaki yang berstatus sebagai suaminya. Setidaknya ia tak harus mempermalukan dirinya sendiri. Ia tak harus mengokohkan kedudukannya yang tak berarti bagi laki-laki yang sudah ia khianati kepercayaannya. Sosok yang begitu ia puja saja, hanya menjadikannya sebuah jalan untuk mencapai ambisi.
Lantas seperti apa hinanya ia di mata Alex? Lelaki yang sudah ia permainkan dengan mengatasnamakan sebuah ikatan yang harusnya menjadi ikatan sakral sepanjang hayat. Ah, rasanya gadis itu sudah tak lagi punya muka berhadapan dengan Alex. Sherly menghenyakkan semua bayangan akan Alex yang menari-nari di pelupuk mata. Membuang jauh sebuah asa yang mulai membara.
"Apa yang sekarang akan kita lakukan, Ma?" tanya Sherly baru menyadari seburuk apa kondisi mereka.
__ADS_1
Berada di jalanan tanpa sepeserpun uang ditangan membuat langkah Sherly mulai meragu. Saat ini, ia tak memiliki apapun yang bisa dijadikan pijakan. Hanya selembar baju di badan yang tak bisa memberikan solusi untuk menghadapi kerasnya kehidupan jalanan.
"Tenanglah, Mama tahu apa yang harus kita lakukan." Shinta merogoh saku celana kulot yang dikenakannya.
Kerutan di dahi Sherly tercetak dalam saat ia melihat Ibu nya mengeluarkan sebuah ponsel lawas dari dalam saku celananya. Sebuah ponsel model flip berwarna merah muda dengan brand yang sudah tampak memudar.
Shinta tampak menekan beberapa tombol angka pada ponsel yang baru saja ia nyalakan. Perempuan paruh baya tersebut berbicara sangat lembut dan sopan pada lawan bicaranya di seberang sana. Entah siapa yang sudah di hububgi olleh Ibunya. Namun, yang tertangkap dengan jelas oleh Sherly, sebuah permintaan maaf karena pada akhirnya ia menggunakan telepon genggam tersebut dan meminta bertemu di sebuah taman tak jauh dari tempat mereka sekarang berpijak.
"Mama menghubungi siapa?" tanya Sherly tak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang nyata terlihat diwajahnya, saat melihat Shinta sudah menyelesaikan bicaranya dengan seseorang yang tidak bisa Sherly tebak.
Ibunya itu tak memiliki banyak teman selama ini. Wanita yang sudah mulai terlihat kuyu dan semakin menua tersebut seolah tertutup dari dunia luar. Bukan karena ia tak pandai bergaul, tapi Sherly tau itu adalah titah lelaki yang menjadi suami Ibunya yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Lelaki bernama Ferdi Adijaya itu menekankan agar Shinta tak terlalu banyak berinteraksi dengan orang luar kecuali atas seizin dirinya.
"Dia adalah teman lama Mama sewaktu di panti. Kamu tahu semua gerak gerik Mama selalu dipantau oleh Papa mu. Jadi Mama tak pernah menemui teman Mama ini. Mama sengaja menyimpan HP ini tanpa sepengetahuan Papa mu. Ini adalah tiket menuju kebebasan yang selalu Mama simpan dengan baik sampai saatnya tiba untuk digunakan." Senyum Shinta membuat Sherly semakin mengerutkan keningnya lebih dalam.
Ia tak mengerti bagaimana kehidupan sesungguhnya yang telah dilewati oleh wanita yang telah berjuang melawan maut demi melahirkannya ke dunia ini. Bagaimana bisa perempuan yang tampak harmonis dengan sang suami di hadapan publik telah menyiapkan diri untuk lari dari keluarganya. Ia sadar Ayahnya cukup keras dalam beberapa hal. Namun, ia tak mengira bahwa Ibunya ternyata menjalani hidup dengan penuh derita hingga merencanakan sebuah pelarian.
"Simpan pertanyaan yang ada dibenakmu. Setelah ini, Mama akan punya banyak waktu untuk menjawab semuanya. Yang terpenting sekarang, kita harus mencari tempat persembunyian sampai ada yang menjemput kita nantinya." Shinta menggandeng lengan Sherly yang masih mengguratkan banyak tanya di wajahnya.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu di pojokan taman tak jauh dari rumah yang masih mereka tempati beberapa waktu lalu. Kedua ibu dan anak itu memilih duduk di dekat bangku yang agak tertutup di balik pepohonan. Orang-orang yang berlalu lalang disana tak akan menyadari keberadaan mereka, jika bukan karena sengaja memperhatikan dengan seksama.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama," sebuah suara membuat jantung Sherly berdetak cepat.
Cerita sekilas dari Shinta, Ayahnya tak akan membiarkan mereka pergi begitu saja. Lelaki itu akan menggunakan segala cara untuk memaksa mereka kembali. Meski wanita paruh baya yang sedari tadi duduk gelisah di sebelahnya tak menjelaskan lebih terperinci maksud ucapannya. Namun, tetap membuat gadis itu meningkatkan kewaspadaan.
Sherly menoleh ke asal suara. Tampak seorang pria paruh baya berdiri disana dengan senyum menawan tersungging di bibirnya. Sherly dapat menangkap binar bahagia terpancar di kedua mata pria itu saat menatap Ibunya dengan mendalam. Pun dengan wajah Ibunya yang seperti menahan perasaan. Menghadirkan berjuta tanya dalam jiwa. Namun, Sherly menepis semua pikiran buruk yang bercokol di kepala. Saat ini, menjauh dari tempat ini menjadi prioritas yang harus ia lakukan sebelum menentukan langkah kedepan.
"Tidak apa-apa, Mas. Maaf sudah merepotkanmu," jawab Shinta dengan tutur kata lembut.
"Tak perlu berterima kasih. Aku hanya membalas budi baikmu padaku," ucap pria itu dengan kelembutan serupa, "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Kita bicara di dalam mobil saja," lanjut pria itu tergesa.
Sherly hanya membisu menyaksikan interaksi keduanya seraya mengekori Ibunya saat mengikuti derap langkah pria itu yang menuntun mereka meninggalkan taman dalam kegelapan.
**********************************************
sambil nunggu up bisa intip karya temenku yah...
__ADS_1