Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 73# Problematika Hidup


__ADS_3

Ish, inimah aku ngantor tapi tetep aja ga kerja - gerutu Alea dalam hati.


Diperhatikannya jemari Ravka yang sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya. Tanpa ia sadari rasa nyaman berada di dalam pelukan Ravka membuat ia menyandarkan kepala pada kepala Ravka di bahunya. Membuat lengkungan bibir Ravka mengarah sempurna ke atas.


Namun, suara ketukan di pintu, membuyarkan kedekatan keduanya. Spontan baik Ravka dan Alea menegakkan punggung mereka.


"Mas ada yang dateng," ucap Alea seraya menurunkan lengan Ravka yang masih mengungkungnya.


Dengan segera Alea meloncat dari pangkuan Ravka dan berjalan menjauhi suaminya.


"Masuk," ucap Ravka sembari melirik Alea dengan tatapan tak rela.


"Permisi Pak, ini rekaman CCTV dalam kurun waktu yang disebutkan bu Alea," ucap Damar sesaat setelah berada tepat di depan meja Ravka seraya menyerahkan sebuah flashdisk. "Saya bisa saja menghubungkan monitor di ruang kontrol dengan laptop di ruangan Pak Ravka, hanya saja tadi Pak Ravka meminta supaya tidak ada yang tahu mengenai ini. Jadi saya memindahkan file-nya ke dalam flashdisk supaya pegawai yang bertugas di ruang kontrol tidak menyadari kalau Pak Ravka sedang mencari sesuatu melalui CCTV dari sini," jelas Damar.


"Saya mengerti. Kamu sudah boleh pergi. Nanti saya hubungi lagi kalau butuh sesuatu,"


"Baik Pak, saya permisi," ucap Damar seraya meninggalkan ruangan Ravka.


Sepeninggalan Damar, Alea dan Ravka memutar flashdisk di laptop milik Ravka. Kali ini mereka memilih duduk di sofa berdampingan dekat Nino.


Untungnya sepasang suami istri itu memutuskan fokus pada apa yang mereka cari dalam rekaman CCTV, sehingga tak membuat Nino seperti cacing kepanasan. Merasa kegerahan dengan tingkah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


"Ini perempuan itu Mas," pekik Alea membuat Ravka berjengit menjauhkan kepalanya.


Nino pun turut mengangkat kepala dari berkas yang tengah ia periksa. Memanjangkan lehernya memperhatikan telunjuk Alea yang menempel pada layar laptop.


"Lu kenal No?" tanya Ravka kemudian.


"Ga Boss. Gue belum pernah liat deh kayanya. Emang dia karyawan sini?" tanya Nino lebih kepada dirinya sendiri.


"Coba lu cek dibagian personalia, ada.... "

__ADS_1


"Jangan Mas," sambar Alea memotong ucapan suaminya, menghadirkan kerutan dalam di dahi Ravka maupun Nino. "Kak Farash bilang, manipulasi data yang dia lakukan untuk balas budi. Dia bisa menduduki jabatan di kantor pusat atas bantuan menejer personalia yang didukung oleh direktur keuangan. Jadi aku rasa, personalia juga sudah disusupi oleh orang yang berniat buruk pada perusahaan," jelas Alea.


"Pekerjaan kita semakin berat Boss kalau begitu," celetuk Nino.


Ravka kembali memijat pangkal hidungnya menghadapi situasi rumit yang mengepungnya. Saat ini tak ada yang bisa ia percaya di dalam perusahaannya sendiri selain Nino dan juga Alea. Membuat ia serasa mati langkah.


"Mas, udah selesaikan?! Aku balik keruangan ku dulu yah. Ga enak kelamaan ngilang. Nanti aku balik lagi, sekalian bawain kamu makan siang," ucap Alea ragu.


Mata gadis itu tak henti melirik jam yang menempel di dinding ruangan kerja suaminya. Ternyata dua jam sudah ia menghabiskan waktu di ruangan Ravka.


Ravka hanya menganggukkan kepala. Saat ini ia sudah dipusingkan dengan informasi yang baru didapat dari istrinya itu.


Alea berjalan tergesa menuju ruangannya. baru saja gadis itu hendak memasuki lift, ulu hatinya tiba-tiba serasa membelit. Tanpa sadar ia menarik nafas panjang, menetralisir perasaan yang mulai tak nyaman akan tatapan benci yang dilayangkan oleh wanita dihadapannya. Alea berusaha mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya.


"Ngapain lu disini?" hardik Sherly seraya menarik paksa lengan Alea.


"Seharusnya pertanyaan itu kamu tujukan untuk dirimu sendiri. Disini bukan Mall, tempat orang bebas berkeliaran keluar masuk sesuka hati," jawab Alea dengan senyum menghiasi bibirnya seraya menghentakkan lengannya dari tangan Sherly.


"Maaf, aku harus kembali ke ruanganku," ucap Alea tak menggubris Sherly.


"Tunggu .... Lu ga usah bersikap sok di depan gue. Lu itu cuma cewek rendah yang terpaksa dinikahi oleh Ravka," ucap Sherly tajam.


Lagi-lagi Alea menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tak lagi mau terprovokasi dan menjadi sedih hanya karena mendengar ucapan Sherly. Sudah cukup ia menangis karena wanita dihadapannya ini. Karena sikap egois Sherly yang membuat impian Alea hancur. Dan sekarang ia tak akan membiarkan keegoisan wanita dihadapannya ini menghancurkan kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Alea berlalu begitu saja dari hadapan Sherly, tak mau mebuang-buang waktunya yang berharga dengan hal yang tidak penting.


Sementara Sherly tampak semakin murka melihat sikap Alea yang sama sekali tak bergeming dengan ucapannya. Sherly mengatupkan rahangnya geram seraya meremas pegangan tas di dalam genggaman tangannya.


*******


Alea memejamkan matanya setelah berhasil mencapai meja kerjanya. Diaturnya nafas yang memburu karena sudah terprovokasi dengan ucapan Sherly. Meski ia menyadari sikap Ravka sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya, tetap membuat gadis itu merasa kesal mendengar ucapan mantan tunangan suaminya itu. Diambilnya botol air mineral yang selalu tersedia di meja kerjanya. Diteguknya dengan cepat air di dalam botol itu sampai tandas hampir setengahnya dalam sekali teguk. Ia perlu menyejukkan hatinya dengan air dingin setelah bertemu dengan Sherly. Perempuan itu seakan terobsesi dengan suaminya.


Kalau ia begitu menginginkan Mas Ravka, kenapa waktu itu dia sampai menolak menikah dengan Mas Ravka dan malah memilih menikahi Mas Alex? Sherly sungguh tak masuk akal - gerutu Alea kesal dalam hatinya.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim," Alea berisitighfar menenangkan hati seraya mengelus dadanya perlahan, tak berniat meneruskan pikiran negatif yang melintas di kepala.


"Kamu kenapa?" tanya Vika memperhatikan tingkah Alea.


"Ga apa-apa kok Mbak," geleng Alea sembari tersenyum. Vika hanya mengedikkan bahunya acuh. Tak mau turut campur terlalu dalam pada privacy seseorang.


Baru saja Alea mendaratkan tubuhnya pada kursi, seseorang sudah kembali membuat gadis itu menarik nafas panjang.


"Enak banget kerja kaya elu yah. Masuk kerja sesuka hati. Di kantor bebas keluyuran di jam kerja," sindir Firda seraya melemparkan satu bundel map ke atas meja Alea.


Bunyi bedebum diatas meja membuat Alea memundurkan kursinya lantaran kaget. Irma dan Sasya yang duduk di seberang kubikel Alea ikut mendongakkan kepala.


"Lu itu niat kerja disini atau cuma pengen ngegaet bos-bos di perusahaan ini sih?" sindir Firda sirik.


Firda menyelisik Alea dengan seksama. Gadis itu memang terlihat manis dan cute. Tapi ia merasa tak kalah cantik dengan Alea. Bahkan ia ditunjang dengan postur tubuh yang tinggi semampai serta berisi pada area yang tepat. Membuat ia seharusnya tampak lebih memikat karena tubuhnya jauh lebih seksi dibanding Alea. Tapi mengapa baru sebentar bekerja, Alea sudah lengket dengan pria lajang yang memiliki jabatan bagus diperusahaan itu. Kecemburuannya sudah begitu besar saat Farash memperlihatkam ketertarikannya pada Alea. Pagi ini ia bahkan melihat Nino, cowok incarannya terlihat akrab dengan Alea. Sementara ia sendiri paling tinggi ditaksir oleh head department yang bahkan sudah beristri.


"Lu peletnya kurang canggih sih Fir," celetuk Sasya sembari terkekeh diseberang meja Alea.


"Atau bisa jadi lu kurang ganjen," celetuk Irma yang juga merasa iri dengan Alea.


"Woi .... ini jam kerja. Kalau mau gosip apalagi berantem, tunggu tar jam istirahat. Bawa masalah pribadi kalian ke luar kantor. Jangan disini," teriak salah seorang pegawai pria yang jengah melihat kelakuan para wanita di dalam kantor yang menurutnya sangat tidak profesional.


Dihardik oleh salah seorang pegawai senior di ruangan itu, membuat Firda ambil langkah seribu dari hadapan Alea. Ia kembali ke meja kerjanya dengan wajah yang ditekuk. Sementara Alea hanya menghela nafas panjang pada semua kejadian yang baru ia alami.


Hidup memang tak akan semulus jalan tol - gumam Alea pasrah.


Ia ingat betul akan ucapan seniornya di kajian kampus semasa kuliah dulu.


Selama kita hidup, selama itu pula kita akan bertemu dengan problematika kehidupan. Selesai satu ujian akan datang ujian lainnya dalam hidup. Tinggal bagaimana kita menyikapi ujian tersebut.


Alea kemudian mengambil map yang dilemparkan oleh Firda dan mempelajari berkas tersebut. Mengenyahkan segala pikiran buruk yang bisa merusak kesehatan jiwa.

__ADS_1


__ADS_2