
"Heh .... ngapain kamu disini?" hardik Ravka pada seorang perempuan berperawakan serius di depan dinding kaca.
Mata perumpuan itu menyorot tajam pada seorang gadis manis lainnya yang tengah asik menekuni layar komputer.
"Ah .... eh .... tuan," gelagap perempuan itu seperti sedang tertangkap basah melakukan perbuatan kriminal.
"Ah eh .... ah eh .... Saya tanya kamu lagi ngapain disini?" tanya Ravka tak sabar.
"Lagi ngawal Non Alea, Tuan," ucap perempuan itu yang tak lain adalah Debora.
"Apa yang kamu kawal disini?" Ravka menaikkan sebelah alisnya.
Aura mengintimidasi dari Ravka, membuat bulu kuduk Debora meremang.
"Maaf Tuan, Non Alea minta saya ngawalnya dari sini. Saya ga boleh masuk ke dalem," jawab Deborah terbata-bata.
"Terus kalau kamu disuruh pulang, kamu mau?"
"Maaf Tuan, soalnya Non Alea bilang kalau saya berani masuk ke dalam, saya akan dipecat," ucap Deborah seraya bergidik ngeri. "Non Alea minta saya untuk mengawasi orang-orang yang mau menorobos masuk kemari," jelas Debora lagi.
"Berani ngancem juga ternyata istri gue." Ravka menyeringai senang saat Alea ternyata tak selemah yang dia kira. Meski ia seorang istri yang patuh pada suami, tapi ia tak bisa di intimidasi begitu saja.
"Bagaimana kalau ternyata di dalam ada yang berniat jahat sama istri saya? gimana caranya kamu masuk ke dalam?" ucap Ravka dengan sorot mata menusuk.
Debora tergugu di tempatnya. Dia sama sekali tak terpikirkan kalau istri majikannya itu akan mengalami kejadian buruk di dalam sana lantaran Alea mengatakan jikalau semua orang yang berada di dalam adalah temannya. Sehingga tak akan ada yang berani macam-macam. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Kalau sampai hal itu terjadi, ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Dinding kaca yang memisahkan dirinya dengan Alea sangatlah tebal. Bahakan jika ia berniat memecahkannya akan sangat memakan waktu.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama istri saya, kamu tidak hanya saya pecat. Tapi karir kamu akan saya buat tamat untuk selamanya," ancam Ravka semakin membuat Debora bergidik ngeri.
"Gila nih suami istri kok demennya ngancem-ngancem sih?! Serba salah kan gue," rutuk Debora dalam hati seraya tertunduk dalam karena tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Ravka.
"Sekarang, kamu pergi ke HRD. Minta buatkan akses untuk keluar masuk ruangan ini," titah Ravka kemudian.
"Cepat sana .... pergi," seru Ravka saat melihat Debora tak bergeming dari tempatnya.
"Ma-maaf Tuan, HRD nya di sebelah mana?"
"Kamu mau minta saya antarkan sekalian?" ucap Ravka lembut tapi dengan aura dingin mencekam.
"Tidak Tuan, saya pergi sekarang. Permisi Tuan," ucap Debora seraya mengangkat kakinya secepat kilat dari hadapan Ravka sebelum jantungnya terlepas dari tempatnya. Ravka tergelak melihat Debora yang lari terbirit-birit karena ketakutan.
Ravka kemudian menempelkan ID Card-nya yang merupakan kartu pass untuk semua ruangan di dalam gedung BeTrust. Dengan perlahan ia berjalan menuju kubikel yang ditempati oleh Alea. Dari kejauhan matanya sudah berbinar senang memandang wajah manis di balik komputer itu.
Wajah serius Alea saat bekerja membuat Ravka semakin jatuh hati. Ravka memperhatikan bibir mungil yang tak mau berhenti bergerak. Alea memajukan bibirnya sembari memainkan tools komputer. Tak lama kemudian memiringkannya ke kiri, kadang ke kanan masih sambil memajukannya. Terkadang menggigit bibir bawahnya, membuat Ravka semakin gemas untuk merasai bibir itu sekarang juga.
__ADS_1
Kalau tidak ingat dimana ia sekarang, pasti Ravka sudah menerjang gadis itu dan memagut bibirnya sepuas hati. Namun, jangankan mengikuti pikiran mesum yang menggerayangi kepala, memasuki ruangan ini saja sudah menarik perhatian beberapa karyawan di dalam ruangan itu. Hanya istrinya saja yang terlihat fokus pada apa yang tengah dikerjakannya.
"Serius banget kerjanya," ucap Ravka lembut seraya menumpangkan kedua tangannya diatas pembatas kubikel.
Alea mengangkat kepalanya dari layar komputer memastikan pendengarannya. Matanya terbelalak kaget saat mendapati suara yang mengusik telinganya ternyata benar milik sang suami.
"Eh Mas? Kok kamu disini? Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Alea salah tingkah dihampiri suami tercinta saat tengah bekerja.
Ravka hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum manis. Sesaat tadi ia tiba-tiba tergelitik ingin memperhatikan istrinya saat sedang bekerja. Karena itulah ia berada disini sekarang. Ternyata apa yang ia lakukan tak sia-sia. Alea terlihat begitu menggemaskan saat sedang serius menekuni sesuatu. Apalagi sekarang wajah itu memerah salah tingkah, semakin membuat istrinya itu terlihat imut dan menggairahkan.
"Oh Shit .... kenapa sekarang gue jadi ngeres mulu ya liat Alea," maki Ravka dalam hati pada dirinya sendiri.
Alea mendelik seraya menautkan alisnya mendapat ravka hanya tersenyum melihatnya. Membuat ia semakin salah tingkah.
"Bukannya kamu ada meeting pagi ini Mas?" tanya Alea seraya menggigit bibir bawahnya, membuat ia terlihat semakin sexy di mata Ravka.
"Meeting-nya di undur. Paling bentar lagi mulai," jawab Ravka sekenanya.
"Terus kamu kesini mau ngapain?" tanya Alea lagi.
"Mau ngeliat kamu," ucap Ravka santai.
"Apa sih Mas," ucap Alea seraya melirikkan matanya ke kiri dan ke kanan memperhatian rekan kerja di sekitarya.
Wajahnya kian memerah menyadari ternyata semua mata sedang menatap mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Liatin apaan sih Mas? orang lagi kerja ga ada yang bisa diliatin lah," Alea menundukkan wajahnya malu-malu.
"Perasaan kalo lagi kerja, kamu ga jadi ninja tuh. Aku masih bisa liat dari tadi."
"Ih bukan gitu maksud aku. Kalau Mas Ravka ga ada perlu, mending balik keruangan kamu aja sana," bisik Alea perlahan takut suaranya di dengar oleh rekan kerjanya.
"Kok gitu? Kamu ngusir aku?"
"Siapa yang berani ngusir kamu sih? Orang kantor ini punya kamu. Tapi aku risih diliatin," rengek Alea manja masih sambil berbisik pelan.
"Yaudah deh, sini bekal aku," ucap Ravka seraya menadahkan tangannya.
"Belom juga waktunya makan siang, Mas," ucap Alea heran seraya menarik alisnya ke atas.
"Ga apa-apa. Meeting kali ini kayanya bisa sampe sore. Jadi tar biar aku makan di ruang meeting."
"Hmmm .... masa mau bawa bekal ke ruang meeting sih, Mas? Ga malu apa? lagian kalo meeting-nya sampe sore, bagian CC juga pasti bakalan nyiapin makan siang," ujar Alea.
__ADS_1
"Enakan makan siang buatan kamu. Beberapa hari kemaren kan, aku makan siang di luar terus. Kangen makan siang buatan kamu," ucap Ravka santai.
"Yaudah deh, terserah kamu," Alea mengeluarkan box makan siang yang sudah disiapkannya untuk Ravka yang diletakkan dalam loker di bawah laci meja kerjanya.
Ia menyerahkan makan siang itu kepada Ravka dengan senyum mengembang. Ada persaaan senang saat suaminya begitu menghargai jerih payahnya berkutat di dapur dari sehabis subuh, demi menyiapkan sarapan dan bekal untuk Ravka. Bahkan pemuda itu tanpa rasa malu akan membawa bekalnya ke ruang rapat dan memakannya dihadapan para petinggi perusahaan. Membuat rasa bangga mengalir di lubuk hatinya.
"Oh iya Al, bekal kamu mana?" tanya Ravka kemudian.
"Bekal aku? buat apa? Mau dikasihin ke Nino?"
"Buat akulah. Ngapain kasihin ke Nino?! Keenakan dia yang ada,"
"Lah itu porsinya lumayan banyak loh, Mas. Emangnya kamu sanggup ngehabisin dua sekaligus?"
"Buat tar sore yang satu lagi," ucap Ravka seraya meraih pepper bag kedua yang diserahkan oleh Alea.
"Itukan aku masaknya dari pagi. Udah ga seger dong kamu makannya sore."
"Belum bakalan basi kan?"
"Kalo basi sih enggak. Kalo sampe malem mungkin baru basi," jawab Alea.
"Yaudah aku habisin pas sore."
"Tapi kan udah ga enak Mas."
"Pasti tetep Enak. Soalnya habis ini aku bakalan kangen sama masakan kamu. Aku nanti malem ga pulang yah. Aku ada urusan di luar kota. Mungkin dua sampai tiga hari," ucap Ravka dengan wajah sendu.
Alea seketika terhenyak saat Ravka mengatakan akan pergi keluar kota. Ia sudah terbiasa tidur dipeluk sang suami tercinta. Namun, malam ini ia hanya akan dipeluk rindu.
"Jangan cemberut gitu dong. Nanti aku bakal sering-sering telpon kok," ucap Ravka seraya mengulurkan tangannya melewati pembatas kubikel menyentuh pipi mulus istrinya.
Dibelainya pipi Alea seraya menyesap wajah cantik yang sudah merah semerah tomat yang matang di pohonnya. Ditatapnya wajah itu itu lamat-lamat dan disimpan ke dalam memori kepalanya. Ia akan sangat membutuhkan menyimpan kemudian mencetak jelas wajah manis itu di kepalanya untuk membunuh sepi saat harus berjauhan dari sang istri.
"Love you," ucap Ravka tanpa suara sebelum menghempaskan tangannya dari pipi mulus Alea.
Alea hanya tersenyum dengan binar bahagia saat melihat gerakan mulut sang suami. Namun, ia tak berani membalas ucapan Ravka dibawah tatapan rekan kerja yang masih asik mencuri pandang pada mereka.
Alea menghembuskan nafas lega saat Ravka sudah menghilang sempurna di balik dinding kaca. Ia menepuk pipinya perlahan menetralkan kerja jantung yang memompa aliran darahnya berkali lipat dari biasanya. Senyuman manis tak bisa ia enyahkan begitu saja dari bibirnya. Meski sedih saat mengetahui Ravka harus meninggalkannya beberpa hari, tapi ia senang Ravka lebih memilih untuk memberitahukannya secara langsung ketimbang memberitahunya melalui ponsel.
**********************************************
sambil nunggu up boleh nih di intip karya temenku yah...
__ADS_1