
"Apa mungkin orang yang sudah mencoba menjebak kita waktu itu Mas Alex?" gumam Ravka yang masih dapat ditangkap oleh telinga Alea.
"Maksud Mas Ravka, Mas Alex yang sudah bekerjasama dengan Yuri?" tanya Alea tak yakin.
"Entahlah Al, tapi siapapun orang dibalik semua itu, dia bermain sangat cantik. Dia hampir tak meninggalkan jejak. Sementara Yuri sampai detik ini masih belum pulih ingtannya," Ravka sudah menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Masalah yang bertubi membuat Ravka melupakan kemolekan tubuh istrinya. Pikirannya sudah melayang jauh, mencoba menghubungkan tiap kepingan kejadian yang terus mondar mandir di kepala.
"Sebetulnya aku pernah melihat seseorang yang bersama Yuri di kantor, Mas. Tapi aku kehilangan jejaknya waktu itu," ucap Alea seraya mengingat kembali kejadian waktu dia baru mulai bekerja di BeTrust.
"Apa kamu bertemu dengan seseorang selain Yuri waktu di hotel malam itu?" tanya Ravka penasaran.
"Iya Mas, waktu itu Yuri mengatakan akan mempertemukan aku dengan seseorang yang akan memakai jasaku sebagai asisten make up artist. Aku sempat bertemu dengan seorang perempuan, malam itu. Tapi aku belum sempat berkenalan dengannya," jelas Alea.
"Apa kamu yakin pernah melihatnya di kantor?" tanya Ravka lagi.
"Aku rasa begitu,"
"Berarti kamu akan mengenalinya jika melihatnya sekali lagi?" desak Ravka tak sabar.
"Aku masih ingat betul wajah perempuan itu Mas," ucap Alea yakin.
"Kalau begitu kita bisa memulai dengan melihat CCTV kantor," usul Ravka dengan penuh semangat.
"Berarti, hari ini aku boleh bekerjakan Mas?" tanya Alea dengan senyum mengurai di bibirnya.
"Hmmm.... Baiklah, asal kamu tidak lupa lagi membawakanku makan siang," ucap Ravka kemudian seraya menarik Alea kembali kedalam pelukannya.
"Mas, kita sudah terlambat. Ayo kita turun dan sarapan bersama yang lain," ajak Alea seraya melepaskan pelukan Ravka.
Sebelum gadis itu meninggalkan suaminya, ia sempat menyapukan bibirnya pada pipi Ravka dengan malu-malu. Membuat Ravka terbelalak dan menyeringai senang atas apa yang dilakukan oleh Alea. Pemuda itu kemudian berlari menyusul istrinya. Meraih jemari gadis itu dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.
Alea memasuki ruang makan dengan senyum yang tak pernah surut dari wajahnya. Tangannya masih digenggam erat oleh Ravka, membuat gadis itu berjengit malu ketika berpasang-pasang mata menatap tautan jemari Ravka dan Alea dengan berbagai ekspresi.
__ADS_1
Namun, ada sepasang mata yang membuat Alea risih. Ia bisa melihat bagaimana Sherly menahan geram saat melihat Ravka menggandengnya. Alea berusaha menepis ketidak nyamanan akibat tatapan mantan tunangan suaminya itu. Ia tahu betul kemana hati Ravka berlabuh saat ini, sehingga tak perlu menggubris sikap Sherly yang membuat jengah.
"Duh mesranya anak Mama, jadi inget waktu kita muda yah, Pa," ucap Dilla meledek Ravka.
"Emang sekarang kita udah ga mesra?" tanya Derry memanggapi ucapan istrinya.
"Yah bedalah Pa. Kamu ga liat apa aura bahagia yang terpancar dari pasangan pengantin baru ini?" timpal Dilla lagi.
"Pengantin baru? Orang nikahnya udah kapan tau juga," sambar Tiara.
"Tapi kan belom pernah bulan madu Kak, kaya Mas Alex dan Kak Sherly," Sandra ikut nimbrung.
"Anak kecil sok tau," ucap Tiara menghadiahkan sentilan di dahi Sandra.
"Tapi bener loh kata Sandra. Kalian kan belom pernah bulan madu. Kalau begitu kapan Mama punya cucu?" ucap Dilla seraya melayangkan tatapan tajam pada Ravka.
"Sabar lah Ma. Tar kita juga bakalan ngasih cucu," jawab Ravka santai.
Sontak wajah Alea memerah mendengar ucapan Ravka. Ia kembali teringat dengan pergulatan panasnya semalam. Sementara di seberangnya Sherly menyipitkan mata menatap Alea. Wajah perempuan itu seolah hendak menerkam dan mencabik-cabik Alea. Tentu saja Alea dapat merasakan hal itu, tapi ia mencoba untuk tak memperdulikannya.
"Mama tenang saja, walau tanpa bulan madu sekalipun, pernikahan kami akan baik-baik saja," ujar Ravka.
"Tapi tetap saja, kalian harus pergi berbulan madu. Bagaimana kalau Mama saja yang menyiapkan semuanya. Kalian tinggal menyediakan waktu dan tinggal membawa diri," usul Dilla dengan wajah penuh kemenangan karena berhasil menelurkan ide yang tidak akan bisa dibantah oleh putranya.
"Tapi sekarang aku sedang sibuk Ma," ucap Ravka memprotes Ibunya.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kalian berdua harus meluangkan waktu. Mama masih bisa terima kalau kalian tidak mau mengadakan resepsi. Tapi untuk kali ini kalian harus menuruti Mama," ucap Dilla tegas.
Ravka hanya bisa menghela nafas pasrah. Dibalik kelembutannya, Dilla adalah orang yang berkemauan keras. Ketika dia sudah memutuskan sesuatu, maka tak seorangpun dapat mengubah pendiriannya. Akan menyulitkan bagi Ravka nantinya kalau ia sampai menentang Ibunya.
"Terserah Mama sajalah," ucap Ravka pada akhirnya.
"Bagus kalau begitu, Mama akan menyiapkan bulan madu spesial untuk kalian. Duhh .... Mama udah ga sabar kepengen nimang cucu," ucap Dilla seraya terus melebarkan bibirnya dan menampilkan deretan gigi putih bersih.
__ADS_1
******
"Al, ada hubungan apa lu sama Pak Ravka?" cuit Vika saat Alea baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerjanya di kantor.
"Yang kemaren itu Pak Ravka kan?" berondong Vika lagi saat Alea hanya menjawab pertanyaannya dengan senyuman.
"Mbak, suara kamu bisa menarik perhatian semua orang," ucap Alea santai setelah mendaratkan tubuhnya di kursi putar dekat meja kerjanya.
Alea mulai mengeluarkan beberapa berkas di laci meja tanpa terusik dengan pertanyaan yang Vika layangkan. Melihat sikap Alea yang tampak biasa, membuat Vika semakin penasaran. Diseretnya kursi beroda yang tengah dia duduki lebih mendekat kepada Alea.
"Ish .... lu tuh Al, gue lagi nanya kok malah ga dijawab sih?"
"Mbak Vika mau nanya apa sih?" Alea malah balik bertanya membuat Vuka semakin gregetan.
"Lu sama Pak Ravka pasti ada sesuatu kan?" bisik Vika khawatir suaranya di dengar oleh orang lain.
Bagaimanapun yang sedang dia bicarakan adalah salah satu direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Ditambah lagi dia adalah salah satu pewaris perusahaan tersebut. Membuat Vika harus berhati-hati jika ia masih ingin terus berkarir di salah satu perusahaan terkemuka se-Asia dengan gaji yang besar tentunya.
"Sesuatu gimana Mbak maksudnya?" Alea masih mencoba memberi jawaban yang berputar-putar.
"Ga usah sok ga ngerti deh apa yang gue tanyain ke elu. Lu ga lagi main api sama Pak Ravka kan?" tanya Vika seraya menaikkan sebelah alisnya. "Yah okay, Pak Ravka itu emang perfect man deserve to be hunted. Udah ganteng, tajir melintir lagi. Tapi lu kan udah nikah Al," Vika mengingatkan gadis itu akan statusnya.
"Yang bilang aku belom nikah siapa?" sanggah Alea dengan santai.
"Alea ..... " desis Vika kesal.
Alea hanya tergelak melihat reaksi Vika. Sedikit hiburan di pagi hari sebelum mulai bekerja cukup menyenangkan, pikir Alea. Dan menggoda Vika ternyata bisa selucu ini.
"Udah Mbak ah, ga usah terlalu dipikirin. Yang pasti aku ga akan berbuat sesuatu yang melanggar norma. Baik itu norma sosial apalagi agama. Jadi Mbak Vika ga usah khawatir yah," ujar Alea menenangkan Vika.
"Ish .... elu tuh ya. Gue itu bukan cuma khawatir, tapi kepo juga tau. Lu ga tau apa? belakangan santer gosip Pak Ravka lagi deket sama salah satu staf dari divisi analys. Itu elu kan?!"
"Emang iya apa Mbak, ada gosip begitu?" Alea menautkan alisnya heran.
__ADS_1
"Itu gosip udah dari minggu kemaren wara wiri di kantor. Tapi anak analys ga ada yang percaya. Habisnya ga ada kandidat yang memungkinkan gosip itu bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi ngeliat lu kemaren, gue yakin itu bukan cuma isapan jempol,"
Alea hanya mengedikkan bahunya. Ia masih belum berniat membuka jati diri yang sebenarnya. Apalagi hubungan ia dan Ravka baru saja memulai babak baru. Ia hanya ingin, Ravka sendiri yang mengakuinya sebagai istri. Bukan ia yang mengaku-aku sebagai istri seorang direktur operasional. Tak mungkinlah ia bisa se-percaya diri itu.