Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 144# Rencana Resepsi


__ADS_3

"Satu lagi, Al. Aku minta, buang semua fikiran buruk tentang dirimu sendiri. Berhentilah menyuburkan rasa tidak percaya diri-mu itu. Kamu adalah wanita spesial dengan pesona yang luar biasa. Kamu memiliki begitu banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain," ucap Ravka dengan sorot mata menghujam tajam. Memaksa gadisnya agar bisa memaknai apa yang ia sampaikan.


"Jadi mulai sekarang berjanjilah untuk mengangkat kepalamu, hadapi dunia dengan segala pesonamu. Ingatlah, kamu sekarang seorang Nyonya Dinata. Kalau memang diperlukan, gunakan nama itu sebagai kekuatanmu. Karena kamu memang punya hak untuk itu," seru Ravka yakin, memgirimkan keyakinan serupa dalam diri Alea.


Wajah Alea merona bahagia saat mendengar Nyonya Dinata tersemat dalam untaian kata yang Ravka lontarkan. Begitu mensyukuri, betapa beruntung nasib dirinya yang hanya seorang gadis yatim piatu yang telah menghadapi berbagai liku, ketika berjibaku dengan jalan hidup terjal penuh duri.


Gadis itu tersenyum dengan seringai lebar, memperhatikan bibir penuh milik sang suami yang selalu bisa membawanya terbang ke awang-awang. Pikirannya melayang saat ia memperhatikan bibir itu terus bergerak komat kamit, mengoceh dengan segala kekurangan yang sangat ia sadari. Rendah diri. Sebuah rasa yang menghadirkan masalah bagi Alea dan terus mengusik ketenangannya sendiri.


"Pokoknya, mulai sekarang, aku tidak mau lagi kamu merasa rendah diri," tegas Ravka di ujung kalimatnya.


"Iya, Mas," jawab Alea seraya tergelak.


"Hei, aku lagi bicara serius kenapa kamu malah tertawa?" seru Ravka sebal saat melihat istrinya yang tiba-tiba tegelak.


"Aku baru kali ini liat kamu ngomong serius panjang lebar begini. Kamu lucu kalau lagi bawel," ucap Alea masih tergelak.


Hati Alea menghangat saat mendengar semua penuturan Ravka. Semua ragu sirna seketika, membuat bahagia dalam hati mengusir lara yang mengusik. Ia hanya ingin tertawa. Tawa bahagia mendapati hidupnya yang dilimpahi berkah.


"Aku bicara panjang lebar begini kamu hanya menanggapinya dengan tawa dan mengatai aku lucu?" geram Ravka bertambah kesal. "Aku bahkan belum sampai pada intinya."


"Kamu bicara panjang lebar seperti itu belum sampai intinya? Kamu mau bicara seberapa panjang lagi, Mas?" sambar Alea semakin tergelak.

__ADS_1


"Kamu membuatku kesal," seru Ravka seraya melengos.


"Maaf, suami ku sayang. Aku tidak bermaksud menertawakan mu. Aku hanya merasa sungguh bahagia. Apa kamu tahu, dari kemarin semua semangat ku menguap entah kemana. Tapi sekarang semua semangat itu berkumpul disini. Aku jadi tidak bisa berhenti tertawa karena bahagia," ungkap Alea dengan sorot mata memancarkan ketulusan.


Ravka hanya mencubit hidung istrinya gemas dengan tingkah konyol Alea saat merasa bahagia. Mereka bercanda tertawa melepaskan semua beban yang menghimpit.


"Sudah ah, Mas. Jangan iseng," ucap Alea saat sang suami masih saja menjadikan wajahnya sebagai pelampiasan kesal.


Setiap inci wajahnya tak lepas dari serangan tangan Ravka yang mencubit gemas saat Alea semakin menambah derai tawa.


"Kamu kan tadi bilang, bicaramu belum sampai intinya. Jadi sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alea mengalihkan perhatian Ravka yang terus mengusik wajahnya.


Pemuda berkulit putih bersih itu tahu persis, Alea enggan mengadakan resepsi yang menurutnya terlambat dan sudah menjadi tidak penting lagi. Namun, hal ini tak lagi dapat di elakkan, jika istrinya itu tak mau berakhir dengan kecewa untuk kesekian kalinya.


"Resepsi pernikahan?" desis Alea meragu.


Selama ini, ia memang tak pernah menganggap penting arti dari sebuah resepsi. Apalagi sudah banyak yang menjadi bukti, bahwa sebuah resepsi tidak serta merta membuat sebuah pernikahan itu langgeng. Bagi gadis berambut agak kecoklatan itu, selama keluarga dan teman terdekatnya mengetahui status yang disandangnya, itu sudah cukup. Ia tak pernah menginginkan hal yang terlalu muluk untuk diharapkan. Namun, kejadian kemarin cukup menohok hati. Meninggalkan bekas yang tak mudah pudar. Teman kencan, kata itu terus berdenging di telinga sejak kemarin. Ia tak mau lagi hal serupa kembali terjadi.


"Resepsi pernikahan itu tidak hanya berarti pesta dan berfoya-foya, Al. Sejatinya, kita memang harus menyebar luaskan status kita agar tidak menimbulkan fitnah dan menjadi alasan bagi orang untuk menggunjingkan kita."


"Aku rasa kamu benar, Mas. Aku tidak bisa melihat sesuatu hal yang aku anggap tak baik hanya dari perspektif ku sendiri," desis Alea menyadari bahwa setiap orang punya kehidupan yang berbeda.

__ADS_1


Apa yang baik untuk satu orang, belum tentu baik untuk orang lain. Begitu pula sebaliknya. Mau tidak mau, ia kini harus beradaptasi dengan kehidupan barunya. Menjadikan gemerlap duniawi mengiringi setiap langkahnya. Alea menarik nafas panjang sebelum kembali berucap.


"Aku salah selama ini. Sepertinya kita memang harus merayakan pernikahan kita. Karena aku juga tak mau lagi dianggap sebagai gadis Teman Kencan mu atau sebagai perempuan yang berusaha menarik perhatianmu agar bisa memiliki affair dengan mu," sungut Alea dengan wajah mencebik.


"Baiklah, sepulang kita dari sini, aku akan meminta Dimas untuk mengatur semuanya agar segera mempersiapkan resepsi pernikahan kita."


"Secepat itu?"


"Memangnya kamu mau menunggu apa lagi? Kita sudah lama menikah. Semakin cepat itu semakin baik," tegas Ravka lagi. "Lagipula apa kamu lupa kalau aku harus memeriksa beberapa cabang perusahaan kita di Asia dan Eropa? Itu akan memakan waktu satu sampai dua bulan. Aku akan menunda keberangkatan sampai resepsi kita di gelar. Aku hanya mau saat kita pergi nanti, semua orang sudah mendapatkan kabar tentang pernikahan kita."


"Baiklah, Mas, aku ikut saja. Lagipula aku rasa Dimas dan timnya bisa menangani permintaan dadakanmu ini. Aku hanya tidak mau terlalu dipusingkan dengan segala keruwetan pengaturan pesta. Kalau hanya tinggal duduk di atas pelaminan, aku tentu tidak akan keberatan," ucap Alea pasrah.


Setelah sepakat soal resepsi pernikahan, serta mendengar janji Alea untuk lebih percaya diri, mereka menghabiskan malam yang cukup lama di dalam restoran. Menikmati segala hidangan demi hidangan mewah hasil kreasi koki terbaik 5.8 Undersea Restaurant sembari menatap pemandangan indah menghampar di depan mata.


Tak hanya ikan-ikan kecil yang berenang disekitar mereka, tapi sejumlah ikan besar juga melintas di atap restoran, selayaknya mereka berada di sebuah terowongan akuarium taksasa. Wajah-wajah senang berubah terperangah saat serombongan pari melintas membuat takjub mata memandang. Namun, berubah menjadi ketegangan saat sejumlah hiu melintasi di depan hidung mereka persis, hanya berbatas dinding kaca akrilik setebal lima belas sentimeter. Hiu-hiu yang melintas itu sempat membuat ruangan di dalam restoran menjadi ramai dengan celoteh. Jeritan tertahan juga turut memenuhi udara di dalam ruangan. Entah jerit ketakutan dari para wanita, ataupun jerit takjub dari para pria.


**********************************************


yang ini juga ceritanya seru yah gaes..


__ADS_1


__ADS_2