
"Aku tidak mungkin membawa ini pada rapat direksi besok," gelegar suara Alex memenuhi seluruh sudut ruang kerjanya seraya membanting sebuah map ke atas meja.
Pria yang sedang duduk di kursi tepat dihadapan Aleax berjengit kaget. Rona merah menahan amarah menjalar di kedua pipinya. Ia hanya mampu mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga giginya bergemeletuk di dalam sana. Berusaha agar makian tak lolos dari sela-sela giginya, mendapati seorang anak kemarin sore berani dengan lantang menghamburkan bentakan tanpa segan.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti alasan Pak Alex meragukan data yang sudah rampung. Saya sudah memeriksanya sendiri, tak ada kesalahan sedikitpun yang dapat memancing curiga," jawab Pria paruh baya itu menantang.
"Ya, datanya memang dikerjakan dengan sangat sempurna," Alex yang tengah berdiri memunggungi pria yang tengah memainkan tangannya gusar, segera berbalik menghadap kepada pria tersebut.
Alex membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada meja dihadapan pria paruh baya itu. Tatapannya semakin mengintimidasi.
"Tapi kau begitu bodoh sudah melibatkan manajer analys bussines itu dalam pekerjaan ini," geram Alex seraya mendelik tajam pada pria yang tak lain adalah Bambang, Direktur keuangan BeTrust.
"Dia kandidat yang paling tepat untuk melakukan pekerjaan ini, Pak. Lagipula hasil kerjanya selalu memuaskan," ucap Bambang bersikukuh pada pendapatnya.
Bruk !! Alex menggebrak meja dengan kedua tangannya. Menghadirkan ketegangan di wajah pria yang keseluruhan rambutnya mulai tampak memutih.
"Apa kau pernah memeriksa latar belakang pria itu, ha?" tanya Alex mulai kehilangan kesabaran.
Pria tua itu hanya mengernyit bingung, memikirkan kesalahan apa yang telah ia lewatkan, sehingga Alex begitu murka.
"Apa kau tahu bahwa Farash itu adalah saudara dari istrinya Ravka?" tanya Alex mengungkapkan sebab amarahnya. "Kalau aku memaksa membawa ini pada rapat besok, itu sama saja aku menceburkan diri ke dalam jurang," seru Alex lantang.
"Farash adalah saudara dari istrinya Pak Ravka?" gumam Bambang dengan raut wajah yang mulai tampak memucat.
"Dan kau masih berharap, aku bersedia membawa sampah ini ke dalam rapat besok, ha?!" Alex mengetukkan telunjukknya dengan kencang pada berkas yang sudah berserakan diatas meja.
"Bu-bukan begitu Pak, saya .... saya .... "
__ADS_1
"Kau mau mengatakan kalau kau baru mengetahui hal ini ha? Basi .... " potong Alex cepat.
"Itu sebabnya aku mengatakan kau bodoh. Kau sadar itu? Sekarang aku harus bagaimana menghadapi istriku, ha? Aku sudah berjanji akan membantu perusahaan saudaranya. Tapi kau malah mengacaukan semuanya," Maki Alex lagi.
"Maaf Pak, tapi saya bisa meminta maaf langsung pada Bu Sherly,"
"Tidak perlu .... Sekarang keluarlah. Aku akan pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini,"
"Tapi Pak .... "
"Aku bilang keluar. Mukamu bikin aku tambah emosi," ucap Alex ketus.
"Baik Pak," Pria itu hanya dapat menelan ludahnya sendiri seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sementara hatinya bergemuruh menyimpan dendam. Matanya meruncing dengan geraham yang saling bergemeretak. Masih mencoba menahan emosi yang mulai membeludak di dada. Bagaimana tidak, ia bisa menjadi salah satu direktur di perusahaan sebesar BeTrust bukan perkara mudah. Sudah banyak halang rintang yang harus ia lalui. Tentu saja ia pantas mendapat penghormatan untuk segala kerja kerasnya hingga di posisi itu, bukan malah mendapat cacian dari anak ingusan yang begitu mudahnya dibodohi.
Bambang melangkah keluar ruangan Alex dengan mata merah berkilat. Dadanya masih turun naik tak terima dengan perlakuan Alex yang memakinya sesuka hati. Kalau saja bukan karena rencana yang sudah tersusun matang, ia tak akan rela diperlakukan sedemikian rupa oleh anak ingusan yang lebih pantas mendapat makian yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.
Saat hendak membuka handle pintu, pria itu berpapasan dengan seorang perempuan yang lebih dulu membuka pintu ruangan Alex dari luar.
"Selamat siang Pak," sapa Sherly seraya menautkan alisnya melihat aura gelap yang terpancar dari pria dengan wajah dipenuhi jambang serta janggut tipis yang sudah mulai memutih seperti rambutnya.
"Siang Bu," jawab Bambang seraya menganggukan kepalanya perlahan. "Saya permisi dulu," lanjut Bambang kemudian berlalu begitu saja dari ruang kerja Alex.
"Ada apa Mas? Apa kamu baru saja bertengkar dengan Pak Bambang?"
"Tidak ada yang serius, dia hanya tidak becus bekerja," ucap Alex acuh. "Ada apa kamu kemari?"
__ADS_1
"Aku kesini mau menanyakan soal kerjasama dengan perusahaan Kakak sepupuku. Tidak ada masalahkan Mas? Soalnya aku sudah berjanji akan membantu perusahaannya kali ini," ucap Sherly manja.
"Maaf Sher, tapi kurasa kerjasama itu akan sedikit tertunda," ucap Alex pelan.
"Tertunda bagaimana Mas? kesempatan yang paling tepat itu ya sekarang-sekarang ini. Kalau kali ini dia tidak berhasil mendapat kerjasama dengan BeTrust, perusahaannya bisa hancur dalam sekejap. Ayolah Mas, kamu kan CEO disini, masa begini saja kamu tidak mau bantu?" ucap Sherly tampak kesal.
"Aku memang CEO disini, Sherly. Tapi semua keputusan harus ditentukan dalam rapat dewan direksi. Ini bukan kerjasama kecil. Ini menyangkut investasi ratusan juta dolar," ucap Alex tak kalah kesal.
"Halah .... bilang aja kalau kamu ga mau bantu. Kamu itu udah janji sama aku Mas,"
"Aku bukannya ga mau bantu Sher. Aku hanya mengatakan waktunya belum tepat. Lagipula perusahaan saudaramu itu sebetulnya tidak layak untuk bekerjasama dengan perusahaan sebesar BeTrust,"
"Kalau perusahaannya sudah mandiri, dia juga tidak akan memohon bantuan padamu Mas. Nyesel aku udah dateng kesini," ucap Sherly seraya berbalik arah berniat keluar dari ruangan suaminya.
"Sherly tunggu dulu. Dengarkan aku Sher," jerit Alex tertahan.
Namun, Sherly tak menghiraukan panggilan suaminya. Ia berlalu begitu saja dari ruang kerja Alex dengan emosi tertuang di wajahnya.
"Damn it .... " umpat Alex kesal setelah Sherly menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Pemuda itu menggebrak meja melampiaskan amarahnya. Ia tak ubahnya sedang dihadapkan pada buah simalakama. Ruang geraknya sangat terbatas dengan Ravka yang tak akan melepaskan pengawasannya baik pada perusahaan dan begitu pula kepada dirinya. Namun, dilain pihak ia tak ingin mengecewakan Sherly.
Pernikahan mereka bukanlah pernikahan pada umumnya. Bukan atas dasar cinta dan juga paksaan. Akan tetapi, ada banyak kesepakatan yang sudah ia buat untuk mempertahankan keberlangsungan pernikahan yang saat ini masih seumur jagung. Meski pernikahannya berawal dari sebuah kesepakatan, tapi Alex tak pernah berniat mempermainkan pernikahan. Segala cara ia coba untuk membuat pernikahan itu berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja pernikahan yang didasari ego semata, ternyata sangat tak mudah untuk dijalankan.
******************************************** sambil nunggu up boleh mampir ke karya temenku yah...
__ADS_1