Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 53# Menegangkan


__ADS_3

"Lepaskan Aku Rama. Kamu mau ngapain bawa aku kesini. Disini gelap, aku takut gelap," Sandra terus meronta berusaha menarik tangannya yang dicengkram erat oleh lelaki yang menjadi pujaan hatinya beberapa bulan kebelakang.


"Udah kamu diam. Nurut aja. Siapa suruh kamu selalu bersikap sok suci. Sudah lama sekali aku memimpikan tubuhmu itu,"


"Apa maksud kamu Ram? Aku mohon jangan kelewat batas,"


"Kelewat batas kamu bilang? Jaman sekarang orang pacaran ga seperti anak SD yang cuma pegangan tangan. Kamu pikir selama ini aku mendekati kamu hanya untuk menghabiskan waktu jalan-jalan saja? Aku meginginkan tubuhmu. Kalau kamu tidak bisa memberikannya dengan suka rela, maka aku akan merenggut paksa," ucap Rama masih menyeret Sandra menuju sebuah gudang yang terletak di bagian ujung halaman belakang Villa.


Lutut Alea gemetar saat menyadari siapa muda-mudi yang sedang dia ikuti. Matanya dengan awas memperhatikan setiap detail apa yang dilakukan oleh Rama pada Sandra. Rembulan sedang mengintip malu dari atas sana. Hingga menghadirkan kegelapan yang mencekam disekitar halaman belakang Villa tanpa penerangan yang memadai. Tak seorangpun tampak berlalu lalang disana, menambah aura mencekam yang mengirimkan sinyal yang membuat bulu kuduk meremang.


"Laki-laki itu sepetinya akan berniat buruk pada Sandra. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Alea bergumam panik sendiri.


Saat ini pastilah semua orang tengah berkumpul di lapangan tennis yang terletak dibagian samping Villa mengikuti jadwal kegiatan. Suara teriakan dari lapangan Volli itu menembus hingga sekeliling Villa tak terkecuali area belakang tempat Alea berdiri saat ini. Mereka mungkin sedang melatih Vokal malam hari. Hal yang wajar bagi klub teater melakukan kegiatan olah vokal di malam hari. Sehingga tidak memungkinkan bagi Alea berteriak dari sini mencari bantuan. Tentu saja teriakannya hanya akan ditelan malam tanpa ada yang mendengar kecuali Rama yang sepertinya sedang berniat jahat.


Beruntung Alea tak pernah meninggalkan ponselnya kemanapun dia pergi. Dengan segera ia menekan tombol dial menghubungkannya dengan Kania, tapi tak kunjung mendapat jawaban dari adik sepupunya itu. Ia terus memencet tombol hijau di layar ponselnya berulang kali sembari terus mengikuti Rama yang masih menyeret Sandra.


"Ayo Kania angkat telponnya. Angkat," ucap Alea saat mendengar nada sambung telpon masih berdering menandakan orang yang dia hubungi masih belum menjawap panggilan telponnya. "Kalau aku berlari kedepan, pasti tidak cukup waktu. Keburu Sandra sudah dilukai oleh laki-laki itu. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Alea tak sabar.


Gadis itu menajamkan matanya mencari benda apa saja yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Sayangnya sang penjaga Villa mengerjakan tugasnya dengan baik. Halaman belakang villa itu sangat bersih dari sampah, apalagi batu dan kayu yang bisa Alea gunakan sebagai senjata.


"Rama... lepas. Aku mohon," tangis ketakutan Sandra membahana memecah malam.


Suara tangis Sandra membuat Alea semakin panik ditempatnya. Rama sudah membawa masuk Sandra ke dalam gudang dengan penerangan remang. Alea mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Tampak Rama sudah merobek sebagian baju adik iparnya itu. Sementara Sandra meringkuk ketakutan mencoba melindungi tubuhnya dari jamahan lelaki tak bermoral yang menjadi kekasihnya.

__ADS_1


"Hallo, ada apa kamu telpon kak?" suara yang keluar dari ponsel yang Alea jepit ditelinga, membuatnya terlonjak kaget. Seketika kelegaan menyapa hati Alea.


"Kania, ajak temen-temen kamu ke belakang Villa. Rama sedang berusaha melecehkan Sandra. Cepet Kan, cepet," sambar Alea.


"A-apa ?" tanya Kania terkejut diseberang sana.


"Buruan sebelum terlamabat. Bawa teman-teman kamu kesini sekarang," Alea berbicara cepat diburu waktu. Jantungnya seakan hendak loncat dari tempatnya ketika Rama mulai memasang aksi bejatnya.


"Aku tidak bisa menunggu yang lain datang kemari. Semua akan terlamabt kalau aku sampai menunggu mereka datang," Alea nekat menerobos masuk dan memukul Rama dengan kedua tangannya sekencang mungkin.


Namun apa daya ia hanya wanita bertubuh kecil. Meski kondisi tubuhnya bugar karena sering berolahraga, tak membuat ia mampu merobohkan Rama yang memiliki bobot tubuh hampir dua kalipat darinya.


"Brengsek," Rama memegang tengkuknya yang dihantam.


"Hey kau gadis cantik. Rupanya kau mau ikut pesta bersama kami," Senyum Rama menyeringai seperti mendapat durian runtuh.


"Hentikan kelakuan bejatmu, lepaskan Sandra dan pergi dari sini sebelum kamu menyesal," ucap Alea memberanikan diri.


"Gadis mungil sepertimu berani mengancamku? Hehh" dengus Rama kasar.


Ia menghampiri Alea yang sudah berdiri membelakangi Sandra seolah melindungi tubuh gadis yang masih meringkuk ketakutan merapat ke dinding gudang yang mengaliri suhu dingin hingga ke balik kulit gadis itu.


"Apa kau tahu, kau jauh lebih menggairahkan dari pada Sandra," Mata Rama berkilat membayangkan lekuk tubuh dibalik gaun yang dikenakan oleh Alea. "Maafkan aku Sandra, tapi kau harus menunggu giliranmu. Aku akan memuaskan gadis ini terlebih dahulu," ucap Rama dengan suara serak penuh gairah yang memenuhi segala inderanya.

__ADS_1


Alea berusaha sekuat tenaga melindungi tubuhnya dari tangan bejat lelaki yang berusaha menyentuhnya.


"Perlawananmu justru membuatku semakin bergairah. Ternyata kau kucing kecil yang malu-malu. Cakaranmu tak akan mampu membuatku kesakitan tapi justru menyemangatiku untuk menikmati tubuhmu itu," Rama terkekeh ditempatnya. "Sayangnya aku tak punya waktu untuk menemanimu bermain-main," Rama kemudian menghampiri Alea dan melayangkan tamparan keras diwajah cantik itu.


"Kak Alea," pekik Sandra di belakang Alea.


Darah segar menetes dari bibir Alea yang pecah akibat tamparan Rama. Gadis itu terhuyung ke belakang. Untung saja Sandra cepat menangkap tubuh Alea yang limbung hingga tak jadi menabrak dinding di belakangnya.


Rama sekali lagi melayangkan tamparan keras pada Alea hingga gadis itu akhirnya terhuyung menabrak tembok dan hampir kehilangan kesadarannya.


"Kak Alea," Sandra segera mengangkat tubuh Alea yang sudah terhenyak ke lantai. Air mata membajiri wajah gadis itu melihat kondisi Alea.


"Minggir kau gadis bodoh," Rama menghentakkan tangan Sandra dan mendorongnya ke belakang hingga ia tak lagi terhalang dengan tubuh Alea yang semakin tampak menggiurkan saat mulai kehilangan kesadarannya.


"Aku mohon Rama, jangan sakiti Kak Alea. Kakakku tidak akan membiarkan mu hidup tenang jika sesuatu yang buruk terjadi padaku dan juga Kak Alea,"


"Aku tidak perduli. Memangnya siapa Kakak mu ha? Aku tidak takut," ucap Rama angkuh. Selama ini dia memang tidak mengetahui latar belakang keluarga Sandra. Ia hanya tahu Sandra adalah mangsa selanjutnya. "Apa kau tahu siapa orang tuaku? Semua wanita yang melaporkan ku hanya akan berakhir dengan penyesalan. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi sebaiknya kau nikmati saja apa yang akan kuberikan padamu. Jangan takut kalian berdua akan mendapat giliran yang sama," lanjut Rama tak lagi dapat menahan nafsu bejatnya. Dengan segera dia menghampiri Alea yang sudah terbaring tak sadarkan diri.


**********************************************


Author mau berterimakasih sama kalian semua yang sudah mendoakan aku cepet sembuh.. berhubung kondisi yang masih seperti ini ga memungkinkan aku untuk ke dokter.. pak suami ga ngizinin ke dokter gigi makanya ga sembuh-sembuh sakitnya.. tapi sekarang udah ga terlalu sakit dan udah ga minum obat lagi.. makasih juga saran kalian untuk nama-nama obat sakit gigi.. lov buat kalian semua yang udah kasih semangat ke aku...


Nah buat yang kangen Ravka sabar yah... setelah ini Ravka akan muncul kok.. tapi besok ye... hehehheeee... Ravka akan dipertemukan kembali dengan Alea untuk menjawab kegalauan hati kalian. wkwkwkkkk... See u later..

__ADS_1


__ADS_2